
pagi hari, Rafa dengan senyum mengembang membuat semua orang tak bisa berhenti mengejeknya.
"mari kolean ya," ejek Raka.
"gak papa dong, aku kan kolean servis enak semalam, kasihan deh yang belum nikah," balas Rafa makin menyebalkan.
"hu ... cocot e, njaluk do kaplok cik," maki Raka.
"eyang! Raka bicara kasar padaku, aku sedih eyang," adu Rafa yang memeluk tubuh Mak nur.
"tidak eyang, aku cuma kesal saja, habis mukanya nyebelin banget," bela Raka tak ingin kena hukuman dari Mak nur.
"kalian itu kalau udah begini pasti lupa segalanya, Rafa cepat siap-siap bukankah kalian harus segera ke Surabaya, kasihan mertua mu menunggu," kata Mak nur.
"tidak eyang, kami tidak memberitahu mereka jika kami datang," jawab Rafa mengusap kupingnya yang merah
"kami bawa mobil apa?" tanya Raka.
"bawa mobil ayah aja ya, kami bawa yang Avanza ya, aku bawa yang Toyota Hilux," jawab Rafa
"sejak kapan pengusaha sukses, naik mobil of road sih, bikin malu lu bang," ledek Raka.
"biarin, toh istriku tak malu tuh, lagi pula aku tak suka mobil sedan om Adri, kayak pendek aja gitu," jawab rafa tersenyum.
Jasmin sudah siap dengan barang-barang mereka, Rafa memasukkan koper itu ke mobil.
sedang Anis tak sabar menunggu kedatangan putranya itu dan juga Jasmin, pasalnya Rafa tak pernah main ke Surabaya.
dia bahkan sudah memasakkan makanan kesukaan Rafa dan juga Jasmin.
bahkan di juga membuat kue untuk mereka, sedang Fandi binggung melihat istrinya itu.
Jasmin dan Rafa berangkat ke Surabaya bersama Steve, tapi Steve minta turun di daerah Sidoarjo.
setelah itu, metrka melanjutkan perjalanan, "istriku sayang, kita mau kemana dulu?"
"kita ke rumah ibu Anis ya mas, kemarin aku sudah berjanji Padanya," jawab Jasmin melihat suaminya
"baiklah sayang, kalau rumah ibu sudah dekat dari sini, dan aku yakin sekarang ayah Fandi pusing dengan semua makanan yang ibu siapkan," kata Rafa.
benar saja saat mobil berhenti, Ersa sudah berteriak-teriak, "bunda kakak Rafa dan mbak Jasmin sudah datang,"
__ADS_1
rafa langsung memeluk bocah yang beranjak dewasa itu, pasalnya sekarang Ersa sudah lima belas tahun.
Ersa pun lepaskan diri setelah mengigit tangan Rafa, kemudian berlari memeluk Jasmin.
Jasmin pun tersenyum melihat tingkah keduanya, "assalamualaikum ibu, ayah," sapa Jasmin sopan.
"waalaikum salam, menantu ibu yang cantik, Rafa kamu ya kok jarang banget sih ke sini, padahal ibu juga ingin sering bersama menantuku ini," kata Anis.
"maaf ya ibu, aku selalu sibuk di kampung, karena suka suasananya," jawab Rafa.
"kamu itu selalu kok ya, ya sudah ayo masuk Rafa Jasmin, Ersa jemput adikmu di rumah ibu Nina ya, dan katakan jika kakak Rafa disini," perintah Fandi.
"siap ayah," jawab Ersa.
Anis merangkul Jasmin dan mengajaknya masuk kedalam rumah, dan Jasmin menyukai rumah kecil tapi begitu nyaman.
karena rumah Anis tidak ada sofa, hanya bantal dan karpet tebal untuk alas duduk.
dan itu sangat menyenangkan menurut Jasmin, karena itu Rafa langsung tidur berbantalkan paha istrinya.
"mas kok langsung tiduran sih, bantu ibu gih," kata Jasmin pada suaminya.
"gak mau ah ... aku lelah tau, apalagi semalam istriku sangat buas, dan membuatku lemas," jawab Rafa berbisik.
Anis dan Fandi mengeluarkan semua masakan yang sudah di persiapkan, benar saja Jasmin di buat bengong melihatnya.
"ibu kenapa masak begitu banyak, apa akan ada tamu lain?" tanya Jasmin.
"tidak nak, ini semua untuk kalian berdua, habis jarang kalian kemari, jadi ibu menyiapkan ini spesial," jawab Anis.
"inilah kenapa aku takut kesini, takut gemuk karena ibu kalau masak semua makanan kesukaan ku," kata Rafa.
"sudah-sudah ayo makan, kalian hadis di sini sampai malam, toh ayah David kalian belum datang, jadi wajib menunggu," kata Anis tanpa bisa di bantah.
Ersa datang dengan Rio, dan juga nina serta ketiga putranya. katena kebetulan Omar sedang liburan dari kuliahnya.
"assalamualaikum..." sapa Nina.
"waalaikum salam ... ayo mbak masuk," panggil Anis.
Jasmin diam saat meligt pria di belakang wanita itu, pasalnya dia adalah pacar pertama Jasmin yang hampir merenggut kehormatannya.
__ADS_1
oamr pun tak bisa berkata-kata, dia takut jika jasmin mengatakan segalanya di depan Nina.
karena Omar adalah putra kebanggaan dari David dan Nina, dan jika itu di lakukan Jasmin, bisa di pastikan jika Omar dalam masalah besar.
jamsin langsung mengenggam tangan Rafa dengan erat, Rafa pun tau jika istrinya itu sedang ketakutan.
"ibu, bisakah aku pinjam kamar, sepertinya istriku kelelahan, jadi bisakah kami beristirahat sebentar," kata Rafa.
"pakai kamarku saja kak, kebetulan tadi sprei ya juga baru aku ganti kok," jawab Ersa.
"terima kasih ya dek, permisi ya semuanya," pamit Rafa.
saat masuk ke dalam kamar, Omar terus melihat sosok Jasmin yang bersama Rafa.
kamar milik Ersa ini begitu ramai dengan segala poster dan photo card, bahkan semua jenis pernak pernik boy band asal korea selatan itu.
Jasmin tidur di samping Rafa, "ada apa sayang? apa kamu ingin bicara padaku, jika tak ingin aku tak memaksa kok," kata Rafa mengusap kepala jasmin.
"aku tak suka melihat kedatangan pria itu mas, dia dulu adalah orang yang paling melukaiku, dia dulu hampir merenggut kegadisan ku dengan semua teman-temannya, beruntung aku melompat ke sungai dan akhirnya aku koma," jawab Jasmin sedih.
"apa dia Omar dek?" tanya Rafa.
Jasmin hanya mengangguk lemah, Rafa tak mengira apa yang telah di lakukan oleh Omar pada jasmin.
padahal David dan Nina begitu membanggakan putranya itu, Rafa pun tak suka dengan perlakuan Omar.
"tenang sayang, sekarang ini dia tak mungkin bisa melukaimu lagi, ada aku yang akan melindungi mu," kata Rafa.
Jasmin pun mengangguk, setelah Jasmin tertidur, Rafa menaruh Al-Qur'an dan jiga tasbihnya di atas kepala Jasmin.
Rafa pun memutuskan keluar dan menemui yang lain, tapi wajah rafa yang tegang membuat semua orang bingung.
tanpa bicara Rafa menyeret Omar ke belakang rumah, ingin rasanya rafa menonjok pria di depannya itu.
tapi dia tak bisa melakukan itu karena ingat jika Jasmin tak mengizinkan suaminya melukai siapapun.
"kau selamat jika tidak, kau mati hari ini, dan jangan pernah berani mengusik istriku lagi mengerti," ancam rafa.
"itu tak mungkin bung, dia terlalu menggoda untuk di lupakan," jawab Omar dengan wajah mengejek.
Rafa berjalan menjauh, Rafa membaca mantra dan tak lama tubuh oamr terasa terbakar api.
__ADS_1
"sakit!!! panas!!! tolong!!!!," teriak pria itu dengan suara kesakitan tanpa tepi.