
Wulan sedang menyusui kedua putranya yang sudah hampir sebulan, tak lama terdengar tangisan dari Faraz, bayi dua bulan itu juga sedang haus rupanya.
"sini-sini minum susu dari Amma dulu ya," kata Wulan mengendong bayi itu dan kemudian menyusui bayi itu juga.
beruntung bagi Wulan karena asi miliknya sangat lancar, bahkan bobot tubuh Wulan juga sudah turun sepuluh kilo dalam beberapa Minggu.
Raka dan Rafa sedang bermusyawarah dengan para petinggi desa, pasalnya akhir-akhir ini di kampung lain.
terdengar kabar jika banyak bayi yang di culik dan hilang tanpa jejak, terutama bayi yang baru lahir.
Rafa tau jika ini bukan perbuatan orang, melainkan ini perbuatan iblis yang sedang mengumpulkan kekuatan besar.
"saya belum bisa melawannya, karena ilmu yang aku miliki tak sebesar itu," jawab Rafa
"tapi nak Raka sudah pulang, apa kalian tak bisa membantu kami..." mohon pak RW.
"tetap saja pak, karena tak akan mudah untuk menghadapinya," jawab Raka.
suasana sore itu begitu hening, Wulan ingat jika hari mulai senja, dia harus menggendong kedua putranya.
tak sulit untuknya yang mulai terbiasa mengendong kedua putranya, dan juga faraz. Mak nur yang melihat pun membantu untuk mengendong salah satu.
"Jasmin mana nak?" tanya Mak nur.
"sedang di kamar mandi eyang, oh ya eyang kalau bisa jangan keluar malam ya, Wulan takut jika nanti eyang kenapa-napa, terlebih beberapa desa terus terteror,"kata wulan menginggatkan.
"iya nak, eyang tau,"jawab Mak nur.
rombongan Rafa dan Raka pun pulang setelah menghadiri acara musyawarah desa
jasmin memang sedang kurang enak badan dari siang, Wulan pun bahkan sempat membuatkan bubur untuk kakak iparnya itu.
terlihat tiga bayi sedang bermain dan tertawa, Ternyata Sesnag dan Ki Antaboga yang sedang menjaga ketiganya.
Rania pun ngeri melihat ranjang bayi di lingkari oleh tubuh ular siluman itu.
bahkan saat bayi Aryan bersin, tiba-tiba ada seekor ular kecil jatuh di pangkuan Wulan
"loh ada ular dari mana ini?" katanya bingung.
Ternyata ular itu melata turun, dan menuju ke kaki Aryan, bayi itu tertawa senang.
Wulan terkejut melihatnya, "ada apa dek?" tanya Raka mengejutkan isterinya.
"ini mas, tadi ada ular kecil tapi ular itu malah diam dan menjilat kaki Aryan kemudian pergi menghilang," jawab wulan.
"putra mu itu bisa mengendalikan ular jadi jangan terkejut, itu adalah kelebihannya," jawab Rafa.
Wulan dan Raka pun tak mengira jika putranya itu bisa memiliki kekuatan yang begitu hebat.
begitu pula dengan Wulan, dia tak mengira jika putra pertamanya itu akan sangat kuat.
sedang Arkan mewarisi keris milik Raka, setelah Magrib mereka sedang makan malam bersama.
saat tiba-tiba terdengar gaduh di belakang, karena penasaran mak nur pun berjalan ke belakang tanpa curiga sedikitpun.
dia melihat ada sesuatu yang menggelinding ke kakinya, Mak nur pun mengambilnya.
ternyata itu sebuah kepala seorang pria, tenyata dia kaget karena melihat Azizah yang sedang berburu itu.
"halo nenek tua Bangka, kau pasti kaget ya aku gadis yang kau ingin jadikan cucu menantu, tapi kalian yang sudah mengecewakan ku, maka aku akan mengirimmu ke neraka terlebih dahulu, dan tenang saja aku juga akan mengirim semua keluargamu bersama kamu nantinya," kata Azizah dengan mulut penuh darah.
Mak nur pun membaca ayat kursi dan mantra yang dia ketahui untuk memusnahkan jin.
Azizah pun melempar tubuh wanita tua itu hingga hatuh menabrak dinding rumah.
Wulan yang kebetulan dari kamar mandi melihat pintu belakang terbuka dan bergegas lari keluar.
"eyang!" teriaknya melihat tubuh Mak Nur yang tegletak di tanah.
tapi tak di duga Wulan yang ingin menghampiri nak nur tanpa sadar masuk kedalam jebakan.
Azizah pun langsung melompat ke belakang tubuh wanita itu, Wulan mengambil golok milik Rafa.
"binoso ..." lirih Azizah menyeringai.
"gak sak Iki," kata Wulan berbalik dan langsung menyerang Azizah, kedua wanita itu kini bertarung dengan sengit.
__ADS_1
Rafa yang sadar langsung berlari kebelakang, di ikuti Raka, dan Jasmin di minta untuk menjaga ketiga bayi itu.
Rafa dan Raka kaget melihat tubuh Mak nur, sedang Wulan tengah berjuang sendiri.
Rafa mengeluarkan tasbih miliknya dan kemudian membantu Wulan beserta Raka.
Azizah sudah tak bisa jika harus menghadapi ketiga orang itu, akhirnya dia memilih melarikan diri.
terlebih tubuh Azizah terluka parah karena serangan Wulan yang membabi buta.
Wulan pun kelelahan di pelukan Raka saat semua selesai, sedang Rafa langsung memeriksa tubuh wanita yang sudah menjaganya itu.
Rafa pun langsung memeluk tubuh renta itu sambil menangis, "eyang!!!" teriaknya saat mengetahui jika Mak nur sudah tak bernyawa.
Raka pun lemah, Wulan pun menangis karena tak bisa menyelamatkan Mak nur, yang harus tewas di tangan Azizah.
Adri dan Rizal yang mendengar teriakan Rafa yang begitu keras pun bergegas keluar, betapa terkejutnya mereka melihat ketiga orang itu sudah menangis sambil memeluk tubuh lemah sang ibu.
"Mak!!!!" teriak Adri dan Rizal yang melihat jenazah mak nur.
Jasmin hanya bisa menangis tanpa bisa meninggalkan ketiga bayi itu yang kini juga ikut menangis.
malam itu duka begitu menyelimuti seluruh keluarga dari Mak nur. Aira dan keluarga tak mungkin bisa pulang karena mereka sedang berada di Jepang.
jadilah hanya keluarga terdekat yang datang, Wulan tak mengira jika dia tak bisa melindungi Mak nur.
"maafkan aku ... seandainya aku datang lebih cepat, eyang pasti masih hidup," lirih Wulan dengan air mata yang tak berhenti menetes.
"sudah nak, ini bukan salah mu, mungkin ini takdir Allah," kata Vera menenangkan keponakannya itu
nurul menghampiri Adri dan Rizal yang sedang sibuk, "mas ... tolong beri pengertian pada Wulan, dia terus menyalahkan dirinya, aku takut itu akan membuatnya tertekan dan bisa berpengaruh pada bayi-bayinya," mohon Nurul.
"biar aku saja Adri, kamu persiapkan untuk memandikan jenazah Mak, dan minta siapa pun yang siap dan sanggup untuk memangku tubuh Mak," perintah Rizal.
"iya bang," jawab Adri.
Rizal pun berjalan menemui Wulan, wanita itu bahkan tak berhenti menangis.
"nduk sudah ya, ingat kamu punya bayi, jangan sedih seperti ini, mungkin ini memang takdir Allah, kita harus tabah ya, kamu kuat kok, jika kamu seperti ini, kamu tak akan bisa memandikan eyang untuk yang terakhir kali," bujuk Rizal.
"jika bukan kamu, Jasmin dan juga mbak Luna kalau begitu siapa, aku mohon tenangkan dirimu Wulan," kata Adri yang juga datang.
ternyata tak ada yang sanggup untuk memangku jenazah Mak nur, karena semua Perbuatan baiknya, hingga orang-orang tak bisa menahan tangisnya.
sebelum pergi, Bu mut memberikan sawan pada ketiga wanita itu yang memang memiliki bayi.
Bu mut mengoleskan kunyit di dahi, dada dan kaki ketiganya. Luna duduk di bagian kaki.
kini jasmin dan Wulan saling pandang, "dek bisakah kamu yang berada di kepala, aku tak siap jika harus memeluk bagian atas," lirih Jasmin
"iya mbak," jawab Wulan.
Raka yang melihat istrinya pun memberikan kekuatan, pasalnya Wulan masih begitu rapuh saat ini.
"kamu yakin sayang, kamu tak boleh menangis di depan eyang," lirih Raka.
"iya mas, aku tau," jawab wulan.
akhirnya ketiganya duduk berjajar, tak lama terlihat Adri, Raka, dan Rafa yang membopong tubuh dari mak Nur dan meletakkan di pangkuan dari ketiga wanita itu.
Wulan dengan hati-hati langsung memeluk jenazah mak nur, kemudian ibu Mudin mulai menggunting baju yang di kenakan oleh jenazah.
wulan sekuat hati menahan air matanya agar tak jatuh, bahkan dia bisa melihat wajah mak nur yang begitu berseri.
tanpa di duga Wulan dan Jasmin merasakan seseorang menyentuh bahu mereka.
"kedua menantuku memang yang terhebat, bunda bangga bisa memiliki menanntu seperti kalin berdua, jangan sedih lagi ya, eyang sudah bahagia bersama kami, dan bisa bertemu dengan belahan jiwanya," kata Akira yang kemudian berdiri bersama Mak nur di kejauhan.
Wulan dan Jasmin pun tersenyum melihat kedua orang yang begitu di cintai oleh suami mereka itu.
setelah di mandikan, jenazah langsung di kafani dan akan di langsung di makamkan malam itu juga.
di bawah sinar bulan yang begitu terang, Rafa, Raka, Adri dan Rizal mengangkat keranda berisikan jenazah Mak nur.
pemakaman begitu lancar tanpa halangan sedikitpun, bahkan bis di bilang begitu mudah.
bu mut pun memilih untuk menemani kedua wanita yang masih nampak syok itu, bahkan putrinya Wulan tak bisa menghentikan air matanya.
__ADS_1
"sudah ya nak, eyang akan sedih jika kalian tetus seperti ini, kalin tidak sendiri, masih ada ibu yang akan ada untuk kalian," kata Bu mut.
"iya Bu," jawab keduanya.
di sebuah rumah, Azizah sudah kesakitan bahkan dia tak mengira jika Wulan sendiri sekuat itu.
bagaimana dia bisa menang jika Raka membantu wanita itu, belum lagi Rafa.
tapi dia butuh bayi merah lagi untuk menyembuhkan semua luka-lukanya.
dia pun pergi ke sebuah rumah sakit, benar saja ada tiga bagi yang lahir malam itu.
dengan kekuatan terakhirnya dia pun menculik semua bayi itu dan mulai memakannya, tak butuh eaktu lama untuk bisa pulih.
Wulan sedang menidurkan kedua bayinya di ranjang, saat dia ingin ganti baju Raka masuk dan tanpa sengaja melihat luka di tubuh istrinya itu.
"dek ini luka apa?" tanya Raka khawatir.
"maaf mas, sebenarnya luka ini aku dapat saat aku melawan azizah," jawab Wulan.
Raka pun langsung memeluk istrinya itu, luka itu begitu banyak, tapi Wulan diam dan banyak merasakan bahkan dia rela tersiram air dingin.
Raka pun mengobati luka itu, setelah itu meminta istrinya untuk beristirahat, sedang dia akan begadang menunggui wulan.
Raka masih takut jika akan terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan dua anaknya itu.
sedang di ruang tamu, Rafa, Adri dan Rizal masih menemani beberapa tamu, bahkan ustadz Arifin dan ustadz Hasan tak percaya dengan segala yang terjadi.
keesokan harinya, beredar berita menggemparkan pasalnya banyak bayi dan orang-orang yang hilang tanpa jejak.
hingga berita itu pun sampai ke telinga keluarga Rafa dan Raka. keduanya tak mengira jika Azizah benar-benar mencari tumbal warga desa.
"mas Rafa dan mas Raka, kalian harus mulai berburu wanita itu, jika dalam tiga hari dia berhasil mendapatkan dua puluh bayi merah sebagai santapannya, kita tak mungkin bisa mengalahkannya, terlebih-lebih dia sekarang jika sedang terluka," kata Wulan pada kedua saudara itu.
"tapi nak, kamu harus memiliki tombak Cokro Geni untuk membunuh sing bahu rekso," kata ustadz Hasan.
Wulan pun menutup mata dan mengangkat tangannya, dia pun membaca sesuatu dan sebuah tongkat kini berada di tangannya.
tongkat dengan ukiran ular bahkan dengan mata tombak terbuat dari emas yang berkilau.
"aku sudah bisa memilikinya," kata Wulan pada ustadz Hasan.
ustadz Hasan diam, bukan karena terkejut, melainkan dia sedih karena yang dia tau adalah jika seseorang mengambil tombak itu.
dan ingin mempergunakannya, maka dia harus siap ikut mati dengan musuhnya.
"mas Rafa kamu yang akan membunuh sing bahu rekso karena itu takdirmu, kami akan melakukan apapun untuk membantumu," kata Wulan melihat Raka.
sebenarnya yang tidak di ketahui oleh ustadz Hasan, jika bukan hanya Wulan, tapi Raka juga semalam bergabung dengan istrinya untuk mengambil tongkat itu.
"baiklah, tapi bagaimana denhan pengajian eyang," kata Rafa.
"percayakan kepada kami, dan Arifin bantu Rafa dan yang lain untuk memusnahkan semua malapetaka ini," kata ustadz Hasan.
"baik Abi," jawab ustadz Arifin.
Wulan pun masuk kedalam rumah, dia melihat Jasmin sedang bercanda dengan ketiga bayi itu.
"mbak Jasmin, aku bisa berbincang berdua dengan mu?" kata Wulan.
"tentu dek, kaku mau ngomong apa? oh ya Aryan begitu lucu ya, lihat dia punya lesung pipi seperti mu," kata Jasmin begitu menyayangi kedua keponakannya itu.
"mbak, jika aku dan mas Raka tidak bisa selamat dalam perburuan ini, aku titip kedua putra ku, aku tau ini akan merepotkan tapi hanya mbak dan mas Rafa yang bisa membimbing mereka berdua," lirih Wulan.
"jika seperti itu, lebih baik jangan lakukan, kamu dan Raka harus kembali dengan selamat, terlebih putra kalian pasti membutuhkan kalian," kata Jasmin sedih.
"insyaallah jika kami bisa, kami akan kembali,tapi aku mohon titip keduanya," kata Wulan
"baiklah, tapi kamu harus kembali, karena kamu adik mbak yang begitu mbak sayangi," kata Jasmin memeluk Wulan.
Luna yang tak sengaja mencuri dengar pun tak mengira kalau semuanya akan berakhir seperti ini.
apa ini karena dirinya yang lupa tentang apa yang minta di sampaikan oleh Wulan, kini malah membuat keluarganya begitu sedih dan berantakan.
di rumah di adakan acara doa tiga harian dari Mak nur, semua orang datang untuk mendoakan, bahkan Rafa juga meminta mendoakan semua orang yang jadi korban.
acara berjalan sangat lancar, bahkan doa begitu hikmat, tak lupa keluarga Rafa juga sudah menyiapkan semua bingkisan untuk para orang yang datang untuk mendoakan Mak nur agar tenang di sana.
__ADS_1