
Felix mengungkapkan perasaannya kepada Sherli. Sherli yang merasa bingung akan perasaannya menjadi bimbang ingin menerima atau menolak Felix. Namun ketika pernyataan yang Felix lontarkan menggetarkan hatinya, jika dia akan menjauh dari dirinya jika Sherli menolak. Sherli bergegas mencegah Felix dan menerima perasaannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Felix beranjak dari tempatnya, menghampiri Sherli yang tengah menangis karena ucapannya.
"Baiklah aku tidak akan meninggalkan dirimu! Ingatlah mulai detik ini kau adalah kekasihku" tegas Felix, ia segera menyeka air mata Sherli.
Sherli pun mengangguk pelan menjawab Felix, dan membiarkan perasaannya meluap didekapan Felix.
Setelah beberapa saat. Sherli sudah merasa tenang. Felix mengajak Sherli beranjak dari sana.
"Sudah merasa tenang?"
"Sudah ...." jawab Sherli dengan menundukkan kepala karena malu.
Felix memegang dagu Sherli yang menunduk.
"Kamu kenapa?"
"Aku malu, Kak?" jawabnya.
"Malu dengan siapa?" tanya Felix lembut.
"Aku malu pada, Kakak, ini pertama kalinya ada yang mengungkapkan perasaan padaku. Aku bingung harus apa," jawabnnya dengan wajah polos.
Felix tersenyum melihat wajah polos Sherli. Dia merasa bahagia dengan sikap kekanakan gadis disampingnya.
Kejujuran dan kepolosan Sherli membuat dirinya semakin ingin melindungi sang kekasih yang baru dia resmikan.
"Kamu tidak perlu malu, kamu hanya perlu menjaga hatimu untukku!" ucap Felix sambil mengelus lembut pipi Sherli. Sherli hanya menganggukkan kepala sambil memandang Felix.
"Baiklah ayo kita pergi!"
"Kemana?"
"Aku akan mengajakmu kesuatu tempat."
Felix segera bangkit dan menarik tangan Sherli untuk membantu Sherli menegakkan tubuhnya. Mereka segera menuju mobil.
Felix menarik ekor matanya melirik Sherli. Sebuah senyuman mengembang di sudut bibirnya. Dia segera mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Sherli. Sherli sontak memandang dirinya.
"Kak, fokuslah menyetir, nanti menabrak loh!" tutur Sherli.
" lIni aku sedang fokus menyetir," jawabnya.
Sherli membiarkan tangan Felix yang menggenggamnya. Seulas senyuman tipis menghiasi wajah Sherli. Dia sangat bahagia dengan sikap lembut Felix. Felix yang menyadarinya semakin merasa berbunga didalam hatinya. "Aku tidak akan membiarkanmu berpaling dariku ...."
***
Ditempat lain.
Hongli merasa hatinya sesak, entah mengapa dia sangat bingung apa penyebabnya.
"Hongli kamu kenapa?" tanya ibunda Calista yang melintasi kamar putranya. Dia melihat Hongli di atas ranjangnya memegangi dadanya.
"Tidak apa-apa, Ma! Hanya dadaku terasa sedikit sakit,"
__ADS_1
Ibunda Calista segera keluar mengambil teh Herbal untuk putra semata wayangnya.
"Minumlah ini nak sebelum semakin sakit!" perintah sang Ibu.
Hongli segera menguk cairan berwarna hijau kehitaman tersebut.
"Istirahatlah! Jangan keluar dulu!" tutur sang ibunda Calista.
"Tapi, Ma? Aku ingin bertemu dengan Sherli," ucapnya.
Ibunda Calista memandang Hongli tajam. "Hongli, sebaiknya kamu jangan keseringan bertemu dengan Sherli! Atau kamu akan semakin terjebak dalam perasaanmu sendiri. Kamu tau kan manusia tidak akan pernah bisa menjalin hubungan dengan bangsa kita? Itu menyalahi hukum!"
Hongli menghela nafasnya.
"Iya, Ma! Aku mengerti dengan batasanku. Tapi aku mohon jangan halangi aku untuk bertemu dengannya!" ucap Hongli sendu.
"Baiklah! Tapi tunggu tubuhmu sehat dulu!" ibuna Calista mengalah pada putranya. Ia pun keluar dari kamar Hongli.
"Baiklah Mama pergi dulu," Hongli mengangguk menjawab sang ibunda.
***
Felix dan Sherli telah sampai di sebuah taman hiburan. Felix memarkirkan mobilnya dan segera turun, dia membukakan pintu untuk Sherli. Sherli yang baru menyadari jika dia berada ditaman Hiburan merasa sangat bahagia.
"Wah .... Kak kita ketaman hiburan?" ucapnya masih tidak percaya.
Karena terakhir kali Sherli pergi ketaman hiburan, ketika dia duduk dibangku SD.
"Kamu suka?"
"Sher jangan lari! Nanti kamu hilang. Bagaimana jika ada yang menabrakmu tadi?" Felix menarik tangan Sherli, saat gadis itu hendak berlari.
"Maaf, Kak! Aku hanya terlalu bahagia," ucap Sherli menyesal.
Felix mengenggam jemari Sherli. "Ingat! Jangan dilepaskan!" tegasnya. Sherli mengangguk menurut.
"Baiklah! Mari kita pergi," ucap Felix sambil berjalan dua langkah didepan memimpin jalannya.
*
Mereka mengunjungi hampir seluruh wahana yang ada. Sherli merasa sangat bahagia dengan waktu yang mereka lalui. Wahana terakhir pun mereka kunjungi, yaitu sebuah rumah hantu yang lorongnya sangat panjang.
"Kita lewati saja ya Sher,"
"Enggak mau, aku mau masuk!" rengek Sherli.
"Nanti kamu takut, ini sangat panjang jalannya dan tidak bisa putar balik!" tutur Felix memberi pengertian.
"Tidak, Kak! Pokoknya kita harus masuk, ayo!" Sherli menarik tangan Felix.
Mereka segera naik kedalam kereta. Felix memilih kursi di posisi tengah. Ia berfikir rasa takut Sherli akan berkurang, mengingat didepan maupun dibelakangnya masih terdapat orang-orang.
Kereta segera berjalan, satu demi satu hantu buatan muncul. Seketika para pengunjung menjerit karena terkejut, dan ketakutan.
Namun, itu tidak berlaku pada Felix. Sherli yang sedari tadi menahan suaranya untuk tidak berteriak, tiba-tiba menarik jaket Felix.
"Kamu kenapa? Katanya tidak takut?" ucap Felix sambil berbisik. Sherli hanya memandang Felix dengan bulir air mata yang hampir terjatuh.
__ADS_1
Menyadari hal itu, Felix menarik tubuh Sherli di pelukannya, untuk memberi rasa tenang pada Sherli. "Kemarilah!" Sherli pun menurut.
Sherli meletakkan kepalanya di dada bidang Felix. Felix merasa sangat bahagia gadis itu tidak merasa canggung padanya.
*
Setelah keluar dari wahana tersebut. Felix mengajak Sherli untuk pergi makan mengingat waktu menunjukan pukul tiga sore. Setelah makan, mereka beranjak menuju mobilnya.
Felix mengendarai mobil menuju kesuatu tempat. Tidak ada pembicaraan ketika dimobil. Sherli yang merasa agak lelah, hanya memandang kearah jalanan.
Setelah hampir lima belas menit. Felix menghentikan mobilnya di suatu daerah yang sepi penghuni, dengan pemandangan sawah yang hijau didepannya.
"Kenapa kita kesini, Kak?" tanya Sherli heran.
"Aku hanya ingin berdua dan berbincang denganmu," jawab Felix.
Felix meluruskan kursinya agar bisa berpindah dikursi kebelakang. "Kakak sedang apa?" tanya Sherli.
"Kemarilah!" Sherli pun menurut, Felix membantu Sherli meluruskan sandaran kursinya agar memudahkan Sherli untuk berpindah kebelakang.
Sherli, dan Felix duduk dikursi belakang.
Felix memandang Sherli sambil mengelus puncak kepalanya. "Kamu senang hari ini?" tanya Felix.
"Iya, Kak! Aku sangat senang hari ini," jawab Sherli menganggukan kepalanya.
"Sher, boleh aku main kerumah?"
"Jangan, Ka! Aku takut dimarahi jika membawa pacar pulang, l" jawabnya polos.
Felix menahan tersenyum bahagia mendengar Sherli memanggilnya dengan sebutan pacar.
"Kenapa Sayang?" Seketika Sherli memalingkan wajahnya karena merasa panas dipipinya, ketika Felix memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Kak kenapa memanggilku begitu?"
"Kenapa? Apa salah? Pokoknya mulai detik ini, aku akan memanggilmu seperti itu!" tegas Felix tanpa ingin mendengarkan apakah Sherli setuju atau tidak.
Felix memainkan rambut Sherli yang terurai.
"Sayang? Bagaimana jika kamu berhenti saja dari ekstra?"
"Kenapa, Kak?" tanya Sherli memandang Felix
"Aku takut tubuhmu cedera, aku sudah lulus hingga sabuk hitam jadi aku sudah melalui masa-masa yang menyakitkan mengikuti silat. Aku cowok jadi fine-fine saja. Tapi kamu cewek sayang. Aku tidak mau kamu terluka!" tutur Felix menghentikan aktifitasnya lalu memandang dalam mata Sherli.
"Tapi, Kak! Aku ingin ikut, aku ingin melindungi diriku!"
"Baiklah, tapi ikut hanya sampai akhir semester saja ya! Karena setelah semester itu latihannya menggunakan benda-benda tajam! Ikut inti dasarnya saja! Oke?"
"Baiklah, Kak!" Sherli mengangguk. Ia menyetujui keputusan Felix karena tujuannya mengikuti ekstra juga seperti itu.
"Kak aku mau ...."
Sherli mau apa ya? Dan Hongli kenapa dadanya sakit? Apa Felix akan terima jika dia tau sang kekasih memiliki hubungan dengan Hongli yang berbeda bangsa dengannya?
Ikuti terus ya teman-teman! Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views :). Karena dukungan kalian sangat memberikan semangat author, terimakasih.
__ADS_1