Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
rahasia alam


__ADS_3

"tolong tetap jalan ya pak, jangan berhenti," mohon Rafa.


"itu benar, apalagi sebentar lagi gelap," jawab ustadz Mahmud.


rombongan itu pun akan segera sampai di pemakaman, saat mulai terasa berat melangkahkan kaki mereka.


bahkan Rafa tak bisa menahan semua gangguan itu, "saya mohon tetap berjalan pak," kata Rafa lagi.


saat sampai, Alfin dan Raka pun masih belum selesai dengan air yang mengenang di liang lahat pasangan itu.


Rafa mengambil kayu bunga Kamboja yang di potongnya, kemudian melemparkannya kesamping liang lahat.


dan air pun berhenti mengalir, "kenapa kamu tak membiarkan kami memakamkan jenazah keluarga kami dengan tenang," gumam Rafa.


Raka baru menyadari jika ternyata ada yang ingin menggagalkan pemakan kali ini.


Suni datang dan langsung menerkam mahluk itu dan menyeretnya pergi, pemakaman berjalan baik.


semua orang sudah pergi dari pemakaman umum, Raka sudah tak suka dengan apa yang di dengarnya.


"sudah ayo pulang, mereka sedang mempertanggung jawabkan semua perbuatan mereka selama ini," jawab Rafa.


"baiklah,"


mereka pun memasrahkan semua acara tahlilan dan doa pada ustadz Mahmud.


karena Fandi tau jika kedua keponakannya tak bisa terus terluka dengan segalanya.


sedang Vera baru sadar jika keluarganya berantakan, dia juga tak mengira jika adiknya itu seorang manusia yang bisa melakukan apapun demi uang.


Rafa merangkul istrinya yang sedang tertidur di sampingnya, sedang Raka menemani Rania yang tidur dengan berbantal pahanya.


mobil mereka pun sampai di rumah, dan saat turun mereka kaget melihat Delia sudah di depan rumah.


"mau apa gadis gila itu malam-malam kerumah kita," lirih Raka.


"assalamualaikum semuanya, maaf saya kemari di minta ayah mengantar berkat kenduri, tapi rumah sepi dan saat aku mau balik eh... ternyata kalian pulang," kata Delia.


"ada acara toh neng," sapa Mak nur


"hanya tasyakuran Mak, kalau begitu saya pamit pulang dulu ya," kata Delia yang sempat melirik Rafa.


Rafa pun membantu istrinya yang sudah terlalu lelah segera masuk kedalam rumah.


"dek, mandi dulu," kata Rafa.


"iya mas," jawab Jasmin.

__ADS_1


Mak nur pun mau menyiapkan makanan untuk semua orang, dan Rafa membantunya.


Adri dan Raka terlarut dalam pikiran masing-masing, Adri hanya tak mengira jika semua ini bisa terjadi.


orang yang melukai Akira dan Vian adalah orang terdekat mereka, "kalian sudah tenang sekarang kan, jangan khawatir Rania dan Raka aku menjaga mereka, dan lihatlah Rafa yang sudah bahagia bersama istrinya, kalian sudah bahagia di surga kan mbak ...." lirih Adri sambil mengusap kepala putrinya.


Raka pun tak bisa menjernihkan pikirannya, dia memutuskan untuk memacu motornya.


malam hari Rafa memilih memutari beberapa desa dengan motornya, dan tak sengaja melewati rumah Azizah.


dia pun menghentikan motornya, dia penasaran dengan banyak orang yang datang ke rumah itu.


"ada apa ini?" gumam Raka.


"juragan Raka, gawat itu adalah rombongan lurah Sugiono yang ingin membawa nenek dari Azizah pergi, dengan alasan mengamuk dan melukai orang kampung," lapor mang man.


"kenapa tak kasih kabar dari tadi sih," marah Raka.


dia pun langsung menerobos dengan motornya, bahkan dia terus memainkan ga motornya hingga menarik perhatian semua orang.


lurah Sugiono terkejut melihat Raka yang datang, "kau cari mati Sugiono!" teriaknya dengan keras.


Raka turun dari motornya dan menatapnya tajam, apalagi Raka melihat kondisi nenek renta itu.


"anakku Lanang," kata wanita tua itu memanggil Raka.


"siapa yang mengizinkan mu menyentuh mereka, kau lupa dengan ancaman ku yang terakhir," kata Raka menghampiri Sugiono.


"tapi wanita gila itu sudah mencelakai warga desa, aku ada saksinya," kata Sugiono membela diri.


Raka langsung memegang wajah Sugiono dan menghantamkan ke tembok rumah.


"sudah ku bilng jangan berani mengusik keluarga Mbah Sahal, tapi kalian tak mau dengar," kata Raka marah.


semua warga mundur melihat Raka yang emosi, Raka pun memeluk tubuh wanita tua itu.


para anak buah Sugiono datang dan memukul tubuh Raka dengan bambu.


tapi pukulan mereka tak menyakiti Raka yang melindungi tubuh Wanita tua itu.


Rafa datang dengan seluruh mahluk miliknya, "pingin binoso Kabeh!"


Sugiono terkejut mendengar suara itu, benar saja semua orang terpental dari tubuh Raka.


pria itu kini berdiri dan mengendong wanita tua itu, "koen golek pati mu Sugiono," kata Rafa marah besar.


"hentikan Rafa, biar mas yang menyelesaikan," Jawab Alfin yang berdiri di samping adik iparnya.

__ADS_1


Alfin pun langsung mencekik Sugiono, dan tak lama polisi datang ke rumah itu.


"kau akan membusuk di penjara Sugiono," bisik Alfin melempar pria itu hingga kedepan polisi.


"pak tolong aku pak, merka menganiaya diriku pak, tangkap mereka," tunjuk Sugiono pada Rafa dan Alfin.


"itu bisa kamu laporkan, sekarang ikut kami ke kantor polisi, kamu di laporkan atas pencabulan terhadap anak di bawah umur, dan juga kekerasan, dan pengancaman serta pemalsuan dokumen, dan juga ada pegawai KPK yang menunggu mu untuk menyita semua aset milik mu karena terbukti kamu korupsi selama menjabat menjadi lurah," kata polisi.


warga pun terdiam mendengar itu, mereka tak mengira lurah itu melakukan kasus-kasus ilegal itu.


bahkan Alfin mengirim semua korban untuk melaporkan perbuatan dari Sugiono.


dan tak hanya itu Putranya juga ikut di amankan karena kepemilikan narkoba dan juga beberapa kasus pembacokan.


sedang istrinya terlibat dengan Investa bodong dan judi online.


"dasar kelurga bobrok," kata Alfin.


Azizah dan Mbah Sahal bergegas masuk kedalam rumah, ternyata Raka sedang membuat Mbah uti tertidur dengan lelap.


"Raka ayo pulang dan kita obati luka mu," ajak Rafa menyentuh pundak saudaranya.


Raka pun bangun dan tersenyum ke arah Azizah, "jangan sungkan untuk meminta bantuan ku ya,"


"iya tuan, terima kasih," jawab Azizah.


saat berjalan, penglihatan Raka mulai buram dan samar, Alfin pun buru memeluk tubuh adik iparnya yang kemudian pingsan.


"menyusahkan..." kata Rafa kesal.


"mending bantuin ini Rafa," panggil Alfin.


mereka pun bergegas membawa Raka untuk berobat, sedang Azizah di minta tenang oleh Alfin.


untung Raka tak terluka parah, hanya memar karena hantaman bambu muda tadi.


"apa gadis itu spesial, kenapa Raka sampai seperti itu?" tanya Alfin.


"bukan lagi, entah kenapa aku bisa melihat bayangan bunda pada gadis itu, dan itupun saat Raka membantu gadis itu dan keluarganya," jawab Rafa.


"boleh aku melamarnya,"


"kau mau mati sekarang, kenapa mau memiliki istri kedua," marah Rafa.


"tidak, bukan untukku tapi untuk Raka, biarkan dia bahagia juga," kata Alfin.


"biarkan saja dia sendiri yang memutuskan, toh dia bisa memilih jalan hidupnya, karena dia masih memiliki janji yang sulit putus seperti halnya diriku," jawab Rafa.

__ADS_1


Alfin pun diam, dua tak mengira jika masalah lama itu ternyata belum selesai.


__ADS_2