
"kakak Raka, ayo kita jalan-jalan ke wonosalam, aku ingin makan durian," mohon Rania.
"lah ... kok sama kakak, kamu sekarang punya ayah dan ibu loh Rania," kata Raka karena malas.
"hiks .... hiks... kakak sudah tak sayang Rania," kata gadis kecil itu sedikit terisak.
"aduh jangan marah dong cantik, kita pergi tapi bawa motor aja ya, kakak Malas bawa mobil sedan ayah mu," kata Raka pada adiknya itu.
"siap kakak," jawab Rania senang berlari pulang.
"hati-hati ya Raka kalau berkendara, terlebih Rania masih seusia itu," kata Mak nur memberi wejangan.
"siap eyang ku sayang, tak ada yang lain," kata Raka memeluk sang eyang.
"jangan lupa kalau pulang bawa pete yang banyak ya," kata Mak nur tersenyum.
"ujung-ujungnya minta di beliin Pete dong," kata Raka tertawa dan mendapat cubitan maut dari Mak nur.
Raka pun memasukkan jas hujan dua untuk berjaga-jaga karena iklim di daerah sana tak bisa di tebak.
Rania sudah datang dengan jilbab, bahkan jaket begitu tebal dan berbulu, Raka melihat adiknya itu kaget.
"om ... domba mu lepas nih," kata Raka tertawa melihat Rania.
"kakak!" teriak gadis itu protes.
"iya iya bukan deh, ini gadis kesayangan kakak Raka, jadi sekarang ayo kita berangkat ya sayang," ajak raka mulai berkendara.
mereka berdua pun menuju ke daerah Wonosalam, Rania begitu senang dengan perjalanan yang naik turun dan berkelok
bahkan Raka tertawa setiap Rania berteriak dan dia akan protes jika raka mengendarai motor dengan pelan.
saat sampai di wisata sumber biru, rania begitu senang bukan main, dia pun buru-buru melepaskan jaketnya.
kemudian mengandeng tangan Raka untuk segera ke kafe aliran sungai. Rania suka karena bisa bermain air meski hanya kakinya saja.
"Rania mau makan apa?"
"mie dengan telur dan sosis minumnya es teh, dan keripik ya kak," kata gadis itu.
Raka memberi isyarat pada pelayan, dan ibu warung datang membawa menu.
"ibu aku mau mie goreng saru, dengan telur ceplok mata sapi, sosisnya tiga, es teh dua kripik mbote satu bungkus dan kerupuk udangnya satu bungkus ya," pesan Raka.
__ADS_1
"baik den, di tunggu ya, oh ya kawasan ini bebas rokok ya," kata si ibu penjaga warung.
"saya tidak merokok buk, kasihan putri saya," kata Raka menunjuk Rania.
"wah masih muda, anaknya sudah besar ya mas," kata si ibu
"iya Bu, gak papa, mumpung masih kuat," Jawab Raka tak peduli.
"kakak, Rania mau foto dong, nanti kirim ke bunda ya, air terjunnya terlihat kan," kata Rania.
"oke sayang, duduk di sana dan sempurna," kata Raka mengambil foto dan mengirimkan pada Adri.
Adri pun saat membuka pesan Raka senang melihat Rania begitu bahagia bersama Raka.
"ada apa mas?" tanya Nurul
"lihatlah putrimu kalau di foto pasti posenya mengemaskan begini," kata Adri.
"dua memang sangat lucu loh mas, kalau di sekolah juga," jawab Nurul.
"kamu gak mau nambah anak lagi sayang, karena umurku juga tak muda lagi," lirih Adri
"kamu belum empat puluh kok mas, masih muda, lagi pula masih belum bisa karena masih palang merah," kata Nurul tersenyum melihat Adri yang langsung pura-pura sedih.
makanan mereka datang, Rania begitu senang, sedang Raka memilih makan cemilan karena sudah di pastikan kalau Rania tak habis maka itu gilirannya menghabiskan makanan Rania.
tapi tanpa di duga, bocah kecil itu menghabiskan mie satu piring plus telur ceplok.
sedang sosis Raka yang mengambilnya meski Rania tak protes karena kurang baik jika bocah itu yang memakannya.
"bagaimana, setelah ini mau kemana dek?" tanya Raka.
"ayo ke hutan Pinus kakak, terus beli durian dan Pete pesanan eyang," usul Rania.
"kenapa beli, kita mah tinggal ngambil lagi, orang kebun ayah juga ada kok, kebetulan kemarin pak Slamet bilang durian sedang panen raya," kata Raka.
"oke, tapi aku masih ingin disini dulu ya," kata Rania memohon.
"baiklah, habiskan dulu semuanya kalau gitu,"
mereka bahkan menjadi pusat perhatian, tak sengaja karena kursi penuh, dua gadis menghampiri Raka dan meminta izin untuk duduk bersama.
"maaf mas, bisakah kita berbagi kursi?" tanya gadis itu dengan sopan.
__ADS_1
"Monggo mbak," jawab Raka merangkul Rania.
dua gadis itu terlihat begitu riang, satu di antaranya sangat cantik tapi memiliki tubuh yang berisi.
sedang yang satu lagi cantik dan manis, dengan kulit hitam dan suara yang cukup keras saat berbicara.
"Tante yang pakai baju pink cantik, terus Tante yang baju hitam jangan keras-keras kalau bicara?" kata Rania pada kedua wanita di depannya.
"kata kakak Raka nanti Tante kuntinya keganggu dan marah, terus kalian di bawa," kata Rania.
tiba-tiba gadis yang berbadan berisi itu merasa bulu kuduknya berdiri, "aku benci ini, itu sebabnya aku tak suka pergi ke tempat seperti ini," katanya pad sahabatnya itu.
"Wulan tenanglah, mereka tak akan menganggu," kata gadis yang bertubuh kecil.
"tapi tubuhku sudah merasa berat Irma, dia di belakang ku bukan," kata Wulan ketakutan.
"tenanglah, dia itu teman ku yang datang karena Rania memanggilnya, maaf ya sekali lagi, maaf atas ulah adikku, kalau boleh tau nama kalian siapa?" tanya Raka mengulurkan tangannya.
"Irma, dan ini sahabat ku Wulan, dia memang sensitif terhadap mahluk ghaib," kata Irma
tak lama pesanan dari keduanya datang, Rania melirik pisang goreng milik Wulan.
"mau adek? ambil saja, mbak udah kenyang kok," kata Wulan
"terima kasih kakak cantik," kata Rania mengambil pisang goreng itu.
"kamu yakin sudah kenyang, kamu baru makan separuh loh itu," kata Raka tak enak.
"tenang mas, aku minum air ku kenyang, tapi aku tak tau kenapa aku tak bisa kurus kayak temen baikku satu ini meski makanya banyak tapi tetap kurus," kata Wulan.
"tapi kamu cantik kok mbak, jangan minder ya, untuk masalah Ten kamu yang sensitif aku bisa membantu, tapi menunggu saudara kembarnya dulu, no monta nomor ponselnya," kata raka yang sedikit tertarik dengan gadis itu.
wulan menuliskan nomor ponselnya di ponsel Raka, setelah itu keduanya akan pulang.
tapi Rania malah mengenggam tangan Wulan, "mbak suka duren?kalau Pete," tanya Rania.
"wah kebetulan itu kesukaan orang tua kakak loh, memang kenapa?" tanya Wulan pada bocah kecil itu.
Irma ingin membayar tapi raka membayar semuanya anggap saja sebagai permintaan maaf tentang maslah kunti tadi.
"kakak Raka, bolehkah kakak cantik ini ikut kita?" tanya Rania yang sudah di gendongan Wulan.
"tanya kakaknya dong, mau apa tidak," jaeb raka.
__ADS_1