
Hongli mendudukkan tubuhnya di samping Sherli, ia memandang sekilas gadis itu.
"Sher boleh aku bertanya?" ucap Hongli ragu.
"Apa, Kak?" jawab Sherli menoleh.
"Kenapa kamu menerima pacarmu? Bukankah aku lebih mengenalmu terlebih dahulu?"
Sherli terpaku mendengar ucapan Hongli seketika. Ia merasa bingung harus mengatakan apa.
"Kenapa diam?" sela Hongli.
Sherli memandang arah lain.
"Apakah itu penting untuk ku jawab, Kak? Apakah jawabanku nanti tidak akan melukaimu?" tanya Sherli balik.
Hongli menghela nafas.
"Mungkin akan sangat menyakitkan untukku mendengarkan jawaban langsung dari ucapanmu. Namun, biarkan aku tahu alasanmu menerimanya, agar aku mudah melepaskanmu meskipun menyakitkan."
Sherli menundukkan kepalanya.
"Apa yang harus aku katakan, akupun dulu kurang mengerti apa itu cinta, dan jika aku salah mengatakan alasannya yang tepat kepada kak Hongli, ia pasti akan merasa sakit lagi. Dan aku juga tidak menyela jika perasaanku sekarang telah dipenuhi oleh kak Felix, oh tuhan apa yang harus aku katakan."
"Sher?"
Sherli terbuyar akan fikirannya sendiri, ia memandang Hongli sendu.
"Emmm Kak! Entah aku dapat menjawab pertanyaanmu dengan benar atau tidak, intinya aku sudah bersama dengan kak Felix jadi tolong lupakanlah aku! Aku sedih jika Kakak sakit karena aku."
Hongli menundukkan kepalanya, hatinya serasa sakit. Didalam benaknya yang ia tangkap sekarang, Sherli benar-benar tidak memiliki perasaan kepadanya walaupun setitikpun.
"Sher, apa jika aku manusia kamu juga akan lebih memilih pacarmu?" Sherli kembali bimbang akan perasaannya, ia sungguh tidak ingin menghianati sang kekasih yang bahkan rela dirinya harus berkunjung dikediaman pria lain. Tapi didalam lubuk hatinya Hongli juga berarti untuknya.
Sherli berusaha memilah jawaban yang tepat agar tidak menyakiti hati pria disampingnya.
"Kak! Masalah engkau manusia ataupun bukan jika engkau takdirku pasti tuhan akan memberikan kita jalan," jawab dengan tulus.
Hongli memandang dalam Sherli, ia merasa masih terdapat kesempatan yang tersirat pada setiap untaian kata gadis tersebut.
Perasaannya sedikit merasa tenang, ia berfikir meskipun harapan yang ia miliki hanya setitik debu ia akan memperjuangkannya.
Senyuman tulus menghiasi wajah tampannya membalas ucapan Sherli.
"Baiklah! Sampai kapanpun aku pasti akan menunggumu."
Sherli merasa sakit akan perkataan terakhir Hongli, namun ia hanya bisa membalas dengan senyuman karena tidak ingin melanjutkan pembahasan tersebut.
"Sher? Aku hanya ingin melindungimu walaupun engkau tidak bisa menjadi milikku, ingatlah perkataanku ini! Jika kau dalam kesulitan dan tidak ada seorangpun yang menolehmu untuk menolong, ucapkanlah namaku dan pegang kalung dariku ini, aku pasti akan langsung dihadapanmu," Hongli menunjuk kalung yang terpasang dileher gadis itu.
__ADS_1
Sherli menganggukkan kepalanya, lagi-lagi ia dibuatnya merasa bersalah oleh pria disampingnya.
Waktu terus bergulir, tidak terasa sore hampir tiba. Hongli bersiap untuk mengantarkan Sherli kembali dikediamannya. Mereka bergegas keluar dari kamar dan berpamitan pada ibunda Calista.
"Bibi Sherli pulang dulu ya, terimakasih karena aku diizinkan datang kembali" pamit Sherli.
Ibunda Calista memandang lembut gadis itu, ia menarik Sherli dipelukannya dan membisikan sesuatu pada gadis itu. Hongli mengeryit memandang ibundanya.
"Ma ada apa? Kenapa sampai bisik-bisik? Aku kan juga ingin tau" ucapnya mendekat.
Namun, kedua wanita tersebut telah usai akan perbisikannya. "Jangan ikutan ini urusan perempuan," ucap ibunda Calista.
Hongli merasa kesal pada ibundanya karena ia tidak pernah bermain rahasia dengan ibundanya tersebut.
"Baiklah Kak, ayo kita pulang!" ucap Sherli tersenyum lucu memandang wajah kesal Hongli, Hongli pun mengiyakan.
Mereka segera keluar dari kastil tersebut dan menuju pohon bambu di dekat kastilnya. Hongli segera menarik salah satu batang pohon bambu tersebut dan terbukalah pintu penghubung antar dimensi.
Sherli menghela nafas saat baru sampi di dunianya.
"Aku rindu aroma ini" ucap Sherli memejamkan mata.
Hongli menggandeng Sherli hingga didepan pohon kenanga milik gadis itu.
"Baiklah, Kak! Aku pulang dulu terimakasih sudah menjagaku" Sherli segera berbalik untuk masuk.
"Ini ambilan!" Hongli menyodorkan dua papper bag pada Sherli.
"Apa ini, Kak?" ucap Sherli heran.
Ia tidak dapat melihatnya karena kotak buah yang memenuhi tangannya.
"Bukalah nanti dirumah, ya sudah aku pulang dulu" Hongli segera berbalik kearah pohon bambu dan menghilang sebelum Sherli mendapat jawabannya.
Setelah dirasa sosok Hongli tidak terlihat oleh pandangannya, Sherli segera masuk kedalam rumahnya.
"Aku pulang!" ucap Sherli.
Ia tidak mendapati satupun anggota keluarganya. Ia berfikir jika orang dirumah masih belum pulang dari pekerjaannya mengingat jam masih menunjukan pukul tiga sore.
Sherli meletakkan kotak buah diatas meja makan, lalu ia segera melangkahkan kakinya menuju kamar.
Sesaat akan sampai di dekat kamarnya, ia mendengar seseorang sedang berbincang diruang tamu.
Sherli mengeryit heran, ia sungguh takut jika itu adalah pencuri, papper bag ia letakan dilantai depan kamarnya. Ia segera berjalan mengendap-endap menuju ke sumber suara. Tirai pembatas ia sibak kecil hingga manik matanya dapat melihat kondisi diseberang.
"Kak Felix dan kak Afbi?" Sherli membulatkan matanya melihat sosok Felix dirumahnya.
Terlebih ia sedang berbincang dengan sang kakak, ia sungguh takut jika Felix mengatakan hubungannya dengan sang kakak. Ia melangkahkan kakinya berniat untuk menjelaskan pada Afbi.
__ADS_1
Saat telah melewati tirai Felix dan Afbi menoleh kearahnya. Felix merasa tenang-tenang saja melihat sang kekasih yang terlihat begitu ketakutan.
"Dik, kamu sudah pulang? Ada teman kerjaku berkunjung, kenalkan namanya Felix," ucap Afbi bangkit dari duduknya memperkenalkan Felix.
Sherli tertegun mendengar ucapan Afbi. Ia sungguh merasa syok dengan situasi ini.
"Dik?" ucap Afbi membuyarkan lamunannya.
"Eh iya, Kak! Salam kenal Kak Felix terimakasih sudah sering membantu Kakakku!" sapa Sherli sopan.
Felix hanya membalas Sherli dengan senyumannya.
"Dik sebentar ya, temani Kak Felix, Kakak mau ambil pesanan makanan di rumah makan ujung jalan, tadi Kakak sudah memesannya dan sekarang tinggal diambil" Afbi meninggalkan Sherli yang mematung ditempatnya.
Saat motor Afbi telah meninggalkan area rumah, Felix berdiri dari duduknya. Ia menarik tangan Sherli yang masih terdiam, sehingga Sherli jatuh terduduk dipangkuannya.
Sherli memandang Felix dengan wajah penuh tanya seakan meminta penjelasan.
"Kamu terkejut, Sayang? Aku pun juga, kakakmu adalah temanku di kantor, karena perjalanan kerjaku diluar kota usai lebih cepat, aku diundang oleh kakakmu mampir dirumahnya. Awalnya aku juga tidak menyangka saat berhenti di rumahmu dan waktu kami berbincang, aku bertanya saat melihat fotomu itu, lalu Afbi mengatakan jika foto disampingnya adalah adiknya yang ternyata adalah dirimu" jelas Felix menunjuk salah satu figora foto yang menampilkan wajah Sherli dan sang kakak.
"Aku sungguh khawatir, Kak! Aku fikir kamu mengatakan hubungan kita pada kak Afbi" ucap Sherli dengan raut wajah cemas.
"Tentu saja tidak, Sayang! Aku tidak akan mengatakan hal yang akan membuatmu terkena masalah" ucap Felix.
Sherli bangkit dari pangkuan Felix, ia memindahkan tubuhnya disamping pria itu karena takut jika Afbi akan datang tiba-tiba.
"Kamu baru pulang dari kediaman mahluk itu?" tanya Felix.
Sherli menganggukan kepalanya, ia tau benar perasaan sang kekasih sekarang sehingga tidak mampu mengucapkan sepatah katapun.
"Apa dia menyakitimu? Apa kamu menjaga hatimu untukku?"
Sherli memberanikan diri mentap sang kekasih.
"Aku menjaga hatiku untukmu, Kak!" ucapnya lembut.
Felix tersenyum kepada Sherli, ia tidak ingin tidak percaya pada sang kekasih yang begitu ia cintai. Sehingga fikiran positif selalu ia tancapkan dihatinya.
Tak lama kemudian motor Afbi terdengar, Sherli sedikit menjauhkan dirinya dari samping Felix.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
Terimakasih yang telah membaca :).
__ADS_1