Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
sebenarnya kekuatan apa itu?


__ADS_3

"Bagaimana bisa, korban sebanyak ini tapi tak pernah ada laporan orang hilang, itu mustahil," kata pihak kepolisian.


"itulah pak, sepertinya tak mungkin, kecuali jika memang tumbal adalah satu keluarga," kata Raka.


pihak kepolisian pun mengerti dan mengucapkan terima kasih atas bantuan keduanya.


akhirnya para arwah menyebrang dengan tenang, sedang para pedagang yang mengunakan penglaris dari dukun Suryo mulai kelabakan.


karena dagangan mereka mulai tak laku, apalagi setelah penglaris juga sudah musnah beserta dukun hitam itu.


Wulan sedang duduk di kamar, pasalnya dia merasa sedikit lelah, apalagi Raka yang semalam tak melepaskan dirinya.


karena hari libur, rumah sepi karena semua orang pergi jalan-jalan kecuali Jasmin dan Wulan.


"Wulan, kamu ingin makan siang apa?" tanya Jasmin yang baru selesai mengaji.


"tidak perlu repot mbak, tadi mas Raka bilang akan membeli nasi di luar," jawab wulan.


"padahal aku sedang lapar, y sudah aku buat untuk aku sendiri ya," kata Jasmin.


"mbak duduk saja, niat aku buatkan, memang mbak mau makan apa?" tanya Wulan.


"aku ingin makan roti goreng isi ayam sebenarnya, apa kamu tak keberatan sku repot kan," tanya Jasmin.


"iya mbak gak papa, lagi pula kita kan saudara," jawab Wulan tersenyum pada Jasmin


Jasmin pun duduk di kursi sambil melihat Wulan yang mau merepotkan diri.


gadis itu hanya mengunakan roti tawar dan di isi daging cincang dan telur, tapi aromanya sudah begitu menggoda penciuman.


tak butuh waktu lama, gadis itu sudah menyelesaikan makanannya, dan memberikannya pada Jasmin


"maaf ya mbak, ini adalah cemilan paling cepat, dari pada aku harus buat roti lagi," kata Wulan tersenyum.


"gak papa, ini bener kok roti goreng," kata Jasmin tertawa.


mereka berdua mulai makan sambil menonton tv, tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu.


Wulan melihatnya dari jendela, tapi juga tak menjawabnya, pasalnya mereka hanya berdua di rumah.

__ADS_1


apalagi Wulan tak tau siapa pria berpenampilan menakutkan itu, "siapa Wulan?" tanya Jasmin yang melihat adik iparnya kembali.


"aku tak tau mbak, lebih baik mbak ke kamar dan kunci, aku takut dia orang jahat," kata Wulan.


"apa? kalau gitu kita sembunyi bareng-bareng," kata Jasmin menarik Wulan.


"tidak mbak, tolong jangan bicara atau melakukan apapun yang memancing merekam, dan bismilah aku bisa menghadapi dia," kata Wulan.


Wulan melihat kembali, ternyata pria itu masih di depan, dan tingkahnya makin mencurigakan karena terlihat melihat kanan kiri.


Jasmin berusaha menelpon Rafa, dan beruntung telponnya tersambung.


"hallo sayang, assalamualaikum ..." sapa Rafa dengan lembut.


"waalaikum salam ... mas kapan pulang, di rumah kedatangan orang tak di kenal, terus Wulan yang menghadapinya sendiri sementara aku di minta sembunyi," tangis Jasmin lirih.


"apa, wulan dalam bahaya," kata Rafa tanpa sengaja.


mendengar ungkapan saudaranya, Raka langsung bergegas mengebut agar segera sampai di rumah.


Wulan membawa sebuah pemukul Kasur saat akan keluar, "maaf anda mencari siapa?" tanya Wulan sedikit memberanikan diri.


"maaf boleh aku masuk," kata pria itu dengan suara tegas.


karena kesal pria itu menampar Wulan dan masuk kedalam rumah, Wulan tak tinggal diam dia langsung memukuli pria itu dengan pukulan kasur yang di bawa.


tapi dia terjatuh karena terdorong pria itu. tapi Wulan menendang tulang kering kaki pria itu hingga kesakitan.


dia pun meraih bas bunga dan melemparkannya ke kepala pria itu hingga pingsan.


Wulan pun kaget melihat pria itu tak bergerak, dia pun buru-buru mencari pertolongan.


tapi saat keluar dari rumah dia melihat mobil Raka, dan raka langsung menghentikan mobilnya.


"mas tolong ..." panik wulan.


rak pun bergegas masuk dan melihat pria itu sudah berlumuran darah, terlebih pakaian hitamnya makin membuat pria itu misterius.


Rafa membalik pria itu ternyata pria tak di kenal, dia terluka dan sekarang sedang pingsan tapi dari pakaian yang dia kenakan itu adalah padepokan silat.

__ADS_1


Raka menelpon polisi dan juga ambulan untuk membawa pria itu, dia tak bisa meninggalkan istrinya.


sedang Rafa juga mencari Jasmin yang bersembunyi, tapi saat terbuka Jasmin langsung menghampiri Wulan.


"kamu terluka, sudah ku katakan Jan melawannya," kata gadis itu menangis sambil memeluk Wulan.


"aku gak papa mbak, cuma luka dikit, lagi pula aku juga kuat kok," jawab Wulan tersenyum.


"lain kali jangan seperti ini ya, terlebih kamu itu selalu membuat kami takut, dan jangan terus mengorbankan nyawa mu," kata Rafa pad adik iparnya itu.


"tapi setidaknya aku bisa melindungi mbak Jasmin dan anaknya, itu lebih baik kan?" jawab Wulan.


raka langsung mencubit pipi istrinya, "ah ... sakit," rengek Wulan.


"makanya lain gak usah sok, kamu itu juga bisa merasakan sakit, jadi kain kali jangan bukakan pintu, telpon siapapun atau berteriak," kata Raka gemas.


"maaf ... lain kali gak deh," jawab Wulan tertawa.


"tidak ada lain kali, kamu ini di bilangin kok," kata Raka yang terdengar begitu sedih.


bahkan pelukannya kali ini wulan rasa berbeda, pria itu seakan tak bisa pergi jauh dari sisi gadis itu.


Jasmin pun mencubit Rafa, karena mereka terlalu lama, akhirnya makan siang pun di putuskan untuk di luar.


Wulan dan Jasmin setuju untuk mengajak kedua suami mereka untuk jalan-jalan sekalian.


polisi menelpon Rafa dan mengabarkan semua detail siapa pria itu.


Rafa pun mengiyakan, dan akan datang memberikan keterangan nanti.


"maaf nih, nanti sebelum pulang kita ke kantor polisi untuk memberikan keterangan dulu ya," kata Rafa.


"baiklah mas, aku siap tapi kita beli baju dulu ya, aku mohon ..." kata Wulan merasa tak enak.


"baiklah sayang ku," jawab Raka.


"memang baju mu kekecilan Wulan?" tanya Rafa yang Langsung dapat pukulan dari Raka.


"itu rahasia mas ..." jawab Wulan sedikit malu.

__ADS_1


bukan baju luar yang di inginkan Wulan, tapi baju dalam karena itu yang mulai tak muat.


entahlah dia merasa ada perubahan pada bentuk tubuhnya, dan mungkin itu tak terlalu ketara.


__ADS_2