Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
bertemu Rania.


__ADS_3

Wulan sedang duduk membantu mendengarkan setoran hafalan bersama pak Irfan.


satu persatu murid maju dan terdengar sangat baik karena ini surat pendek.


giliran Rania yang maju, gadis kecil itu dapat giliran ke arah pak Irfan, dan gadis itu sudah takut.


"sekarang mulai baca," kata pak Irfan dengan nada suara yang keras.


baru juga bismilah, pak Irfan sudah mulai membenarkan, dan Rania makin ketakutan bukan main.


suara gadis kecil itu sudah mulai terdengar bergetar, beruntunglah hanya tinggal dua murid.


Wulan pun mendengarkan keduanya dengan seksama dan saat selesai, Wulan menghampiri pak Irfan yang sedang menatap gadis kecil itu.


"permisi pak, boleh saya saja yang memeriksa bacaan dari ananda Rania, bapak bisa menerangkan tentang masalah tajwid yang salah," kata Wulan memberanikan diri.


"baiklah, kamu urus gadis ini," kata guru itu yang nampak begitu kesal.


Rania pun duduk di depan Wulan dan mulai mendengarkan bacaan gadis itu sambil tersenyum.


Rania pun mulai membaca surat Al-Ikhlas dan An-Nas, Wulan pun terus tersenyum kearahnya.


"bagaimana mbak, bacaannya bagus?" bisik gadis kecil itu.


"bagus sayang, tapi nanti minta bunda untuk memberitahu Rania lagi tentang bacaan yang salah ya nak, cuma sedikit kok," kata Wulan dengan ceria.


"terima kasih mbak, maaf tadi Rania takut," kata Rania.


"minta maaf sama bapak guru dong sayang," bisik Wulan.


Rania pun menghampiri pak Irfan yang akan pergi setelah menerangkan pada murid-muridnya.


"permisi bapak, saya mau minta maaf karena tadi saya menangis, karena takut," kata Rania memberanikan diri.


"iya nak, lain kali tak usah takut ya, bapak cuma ingin kalian benar dan baik dalam membaca Al-Qur'an," kata pak Irfan mengusap jilbab Rania.


Wulan pun memberikan jempolnya pada gadis itu, kini giliran kelas enam yang harus di periksa bacaan Al-Qur'an nya.


akhirnya sesi itu juga berjalan dengan lancar, selama membantu mengajar Wulan belum mendengar para murid celometan atau berisik.


sekarang jam istirahat, Wulan mengambil mukenah dan berjalan ke masjid yang terletak di sekitar kawasan sekolah.


"eh Zuzun mana Wulan, kok gak kelihatan?" tanya Irma yang baru datang.


"dia sedang ke masjid mau sholat Dhuha, dia sedang puasa katanya," jawab Zuzun.


"alah meski puasa setiap hari pun dia tak akan kurus tuh, yang ada makin gembrot iya, ha-ha-ha," katar Irma tertawa.


"kamu kok gitu sih, dia itukan temen kita, kamu kok jahat banget sih," kata Zuzun membela Wulan.

__ADS_1


"kan bener, habis jadi orang sok kecantikan mulu, gak sadar berat badan apa, sudah kayak gajah gitu," kata Irma yang ingin pergi.


tapi saat berbalik badan dia kaget saat melihat Nurul, "ini untuk kalian berdua, selamat istirahat ya," kata Nurul tersenyum sambil memberikan roti dan air minum.


"terima kasih Bu Nurul," jawab Irma yang menerima itu.


Zuzun dan Irma saling pandang, "kira-kira Bu Nurul dengar kita gak ya, aku takut," kata Zuzun.


"buat apa sih takut, toh yang kita katakan itu kebenaran, udah nih makan aku mau keluar sebentar," kata Irma yang pergi begitu saja.


sedang Zuzun merasa tak suka dengan sikap dari Irma yang begitu keterlaluan.


apalagi dengan menjelekkan sahabat mereka sendiri, sedang Nurul langsung menuju ke ruangan Raka.


"wes ... kalau bentukannya Tante begini, pasti ada yang buat marah," kata Raka menggoda Nurul


"gak ada," kata Nurul ketus.


"heh mending sholat dulu aja lah, dari pada jadi sasarannya," kata Raka keluar dari ruangannya.


sedang Rania masih melihat Nurul yang marah, "bunda marah sama kakak Raka?" tanya gadis itu.


"bukan sayang, bunda gak marah sama kakak. tapi hanya sedikit kesal saja," jawab Nurul


"owh..." kata Rania yang asik makan kue coklat.


"Rania beli dimana?" tanya Nurul.


Raka mengambil wudhu dan kemudian masuk kedalam masjid, ternyata sudah ada yang Shalat tahiyatul masjid.


Raka pun melakukan hal yang sama, kemudian dia melihat ke arah jama'ah wanita itu.


"apa mau shalat Dhuha berjamaah?" tawar Raka yang masih belum bisa melihat wajah gadis itu.


"boleh," jawab Wulan mendongakkan kepalanya.


Raka pun langsung tersenyum melihat gadis itu, tapi kemudian mengalihkan pandangannya.


"kalau begitu mari," kata Raka yang menggeser pembatas kain agar dia bisa berdiri di tengah.


ternyata pak Irfan dan pak Satyo juga datang untuk shalat Dhuha. jadi mereka shalat berjamaah.


setelah shalat mereka berempat menyempatkan untuk berdzikir sebentar.


pak Irfan dan pak Satyo undur diri terlebih dahulu, kemudian Wulan yang juga melipat mukenanya.


"Alhamdulillah, kamu begitu anggun saat berjilbab Wulan," puji Raka.


"terima kasih mas, ah maaf ... terima kasih bapak," kata Wulan malu-malu.

__ADS_1


Raka masih melihat wanita itu yang membenarkan letak benda kecil untuk merapikan jilbabnya menutupi bagian dada.


"sadar Raka, belum muhrim," bisik Rafa.


Raka pun kaget ternyata pria itu memang ada di masjid tempatnya, "bikin kaget saja," kesal Raka.


"maaf pak Raka, dan pak Rafa, saya permisi karena masih harus membantu pak Irfan, assalamu'alaikum," pamit Wulan sopan.


"waalaikum salam ..." jawab keduanya.


Rafa pun menyenggol Raka, "sudah shalat Sono, aku ada kelas hari ini, nanti aja kalau mau ngomong," kata Raka yang juga meninggalkan Rafa.


"aduh yang lagi jatuh cinta, selalu terlihat begitu romantis," gumamnya sebelum sholat.


Wulan pun masih menemani kelas pak Irfan sampai jam mengajar ke tiga, setelah itu dia membantu Nurul mengawasi beberapa kelas yang ulangan.


sebelum pulang mereka semua beserta murid sekolah melaksanakan shalat dhuhur bersama di masjid.


setelah selesai Nurul akan membahas evaluasi dari tiga guru yang tadi di bantu oleh ketiganya.


Nurul sedikit harus menenangkan diri saat harus menghadapi Irma yang dapat catatan merah.


"Irma, bisa tolong volume bicaranya di kurangi, tadi kata bu Sholihah kamu terlalu keras, karena suara juga aurat wanita jadi tolong di kurangi, dan ada tambahan jangan terlalu galak saat menerangkan, apa paham?" kata Nurul.


"iya Bu, besok saya akan perbaiki," jawab Irma.


"sedang untuk Wulan, jangan terlalu baik pada murid, dan yang lain tidak ada catatan," kata Nurul menutup evaluasi ketiganya.


dia tak mengira jika Zuzun tak dapat koreksi, bahkan Wulan saja yang biasanya selalu sempurna dapat catatan.


ketiganya akan pulang, bertepatan dengan Adri yang menjemput Nurul pulang bersama Rania.


"assalamualaikum juragan Adri ..." sapa Wulan sopan.


"waalaikum salam ... kalian baru mau pulang, apa mau beli bakso dulu di dekat sekolah, kebetulan nih jarang-jarang kan," tawar Adri pada ketiga gadis itu.


"maaf saya harus pulang untuk membantu ibu menjaga adik-adik saya," kata Zuzun


"saya juga harus pulang karena harus membantu ibu jaga toko, dan terima kasih atas tawarannya," jawab Wulan.


"saya juga harus segera pulang, permisi," pamit Irma.


"mbak Wulan tunggu, boleh minta coklatnya lagi," panggil Rania.


Wulan pun memberikan cokelat yang di bawanya tinggal dua, "maaf tinggal dua, tapi kamu gak boleh makan coklat banyak-banyak ya, nanti giginya bolong ada ulat ya, hi... serem terus jelek," kata Wulan.


"kalau gitu Rania makannya besok saja ya," kata Rania menyimpan coklat itu.


"tenang Bu Nurul, itu saya buat sendiri, dan tidak mengunakan gula yang banyak," kata Wulan sebelum pergi.

__ADS_1


Irma sudah pergi terlebih dahulu, sedang Zuzun bersama Wulan.


__ADS_2