Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Apakah Perlu Alasan?


__ADS_3

Felix mempersilahkan teman-teman kerjanya untuk masuk. Mereka berkumpul diruang tengah yang cukup luas.


Tidak lama kemudian, Sherli datang membawa nampan yang berisi biskuit dan beberapa jus kaleng.


Sherli segera meletakkan nampan tersebut diatas meja.


"Silahkan!" ucap Sherli. Ia segera menghampiri Felix dan duduk merapat disebelahnya.


Salah satu teman Felix yang bernama Brien menyenggol tubuh Glen. Membuat lelaki itu menoleh dengan mengangkat satu alis penuh tanya.


Brien menunjuk Sherli yang tengah menempel pada Felix dengan dagunya.


Glen segera menoleh pada pasangan yang baru resmi tersebut.


"Ehm! Yang lagi hangat-hangatnya kasmaran!" ejek Glen pada Felix.


"Uwu ...." Sorak teman-teman Felix tertawa.


Sherli yang merasa malu segera menggeser posisi duduknya. Namun, Felix segera menahannya.


"Kalian!"


Felix memandang tajam kearah teman-temannya. Membuat mereka terdiam mengulum senyum.


Brien berdiri untuk mengambil minuman kaleng. Ia membolak balikkan benda tersebut dengan mengeryit.


"Kau tumben beli jus, Felix? Biasanya juga minuman bersoda?" ucap Brien.


"Tentu saja! Sekarang ada sosok yang berusaha ia jaga kesehatannya, makanya kebiasaannya juga berubah," ucap salah seorang teman Felix yang bernama Fino.


"Uwu ...." sorak mereka lagi.


Felix menoleh pada Sherli yang tengah menunduk malu. Tangan Felix mengelus lembut lengan gadis itu.


"Sudah cukup! Kau membuat Sherli malu!" ucap Felix kesal.


"Baiklah-baiklah! Maafkan kami, Nona Sherli!" ucap Fino.


Sherli hanya memandang mereka sekilas dan segera menunduk.


"Aku dengar kau baru menikah secara agama, Felix. Apa itu benar?" tanya Glen.


"Iya! Dua bulan lagi setelah Sherli berumur 18 baru aku baru mengurus surat-suratnya," jawab Felix.


"Memangnya kenapa hingga kau harus terburu-buru menikah, Felix?" tanya teman Felix yang bernama Gavin.


Felix dan Sherli saling menatap seolah saling bertanya, apakah harus ia ceritakan.


Felix kembali menatap pada teman-temannya. "Tidak apa-apa! Bukankah lebih baik seperti ini?" jawab Felix.


Brien mengeryit curiga.


"Kau tidak menghamili, Nona ini kan Felix?" tanya Brien.


Felix menghunuskan tatapan tajam. "Tentu saja tidak! Kau jangan berbicara sembarangan! Aku bahkan belum menyentuhnya!" ucap Felix kesal.


Teman-teman Felix menahan senyumnya.


"Hahaha!" tawa Glen yang kelepasan.


"Kasian sekali dirimu, Felix! Nona! Kau harus memberikannya, lihatlah! Dia begitu tertekan!" ejek Glen.


Teman-teman Felix tertawa reyah karena lelaki itu keceplosan.


Felix terdiam, ia begitu malu karena telah kelepasan bicara. Ia berfikir jika semakin banyak bicara, teman-temannya akan semakin mengejeknya.

__ADS_1


Sherli melirik kilas wajah Felix. Ia termenung akan fikirannya sendiri.


"Apakah yang dikatakan Kak Glen benar? Apa Kak Felix tertekan?" batin Sherli.


"Sudah teman-teman! Jangan mengejek mereka terus! Bagaimana jika kita menonton Film saja?" ucap Fino.


"Ide bagus!" ucap Brien.


Felix pun menyetujuinya, ia lebih memilih menonton Film dari pada harus menjadi bahan olokan teman-temannya hingga nanti.


Felix segera memutarkan film bergenre fantasi untuk teman-temannya. Mereka pun fokus pada film yang diputar dengan hidangan yang Sherli sajikan dihadapan mereka.


Felix dan Sherli duduk dibelakang mereka yang tengah duduk melingkar dilantai.


Felix yang menyadari istrinya terdiam dari tadi segera mendekatkan kepalanya.


"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" bisik Felix kawatir.


Sherli menoleh pada Felix dengan pandangan sendu.


"Apa benar Kakak merasa tertekan?" tanya Sherli pelan.


Felix mengerutkan keningnya karena tidak dapat mendengar ucapan Sherli dengan jelas.


Ia segera mendekatkan telinganya pada gadis itu.


"Apa?"


"Apa benar Kakak merasa tertekan?" ucap Sherli ditelinga Felix.


Felix tersenyum mendengar ucapan Sherli. Ia tidak mengira gadis itu akan memikirkan ucapan temannya tadi.


"Apa kamu cemas?" tanya Felix berbisik.


"Jangan mamasang wajah seperti itu! Aku takut kelepasan disini!" bisik Felix serak.


Sherli mendatarkan wajahnya. Pandangannya segera ia fokuskan pada film yang sedang berputar. Ia tidak ingin membuat masalah baru untuk lelaki disebelahnya itu.


*


Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Teman-teman Felix segera berpamitan untuk pulang.


"Kami permisi, Felix! Maaf karena menganggu waktu kalian! Dan terimakasih atas suguhannya, Nona!" ucap Gavin tersenyum.


Sherli tersenyum pada mereka.


"Terimakasih kembali! Sering-seringlah berkunjung!" ucap Sherli ramah.


Felix menoleh kesal pada Sherli, membuat gadis itu memandangnya tidak mengerti.


Teman-teman Felix menahan senyumannya melihat reaksi Felix.


"Sepertinya itu tidak mungkin, Nona! Suamimu tidak akan mengizinkan kami untuk itu," ucap Brien.


"Sudah-sudah mari kita pulang! Jangan mengejek mereka terus!" ucap Glen yang langsung menarik teman-temannya pergi.


"Hati-hati!" ucap Sherli sedikit berteriak.


Felix mendengus akan sikap Sherli. Ia segera masuk tanpa menghiraukannya. Membuat gadis itu bertanya-tanya.


Sherli segera menutup pintu dan mengikuti Felix. Ia mendudukkan tubuhnya disamping Felix yang tengah duduk disofa.


Lelaki itu tak bergeming dengan pandangan kesembarang arah.


"Kakak marah padaku?" tanya Sherli. Namun, Felix tetap tidak bergeming.

__ADS_1


"Kak?" ucap Sherli mengguncang pelan lengan Felix. Namun, lelaki itu tetap diam saja.


Sherli merasa sangat sedih akan sikap Felix yang mendiamkan dirinya. Ia terdiam dan langsung melelehkan airmata.


Felix menoleh saat mendengar isakan gadis itu. Ia merasa menyesal karena telah terbawa emosi.


"Jangan menangis, Sayang!" tangan Felix terangkat mengelus lembut rambut Sherli.


Sherli menoleh pada Felix dengan airmata yang membasahi pipinya.


"Jangan mendiamkan aku, Kak!" ucap Sherli langsung berhambur memeluk erat tubuh Felix.


"Iya maaf! Aku hanya sedikit kesal karena kau terlalu baik pada teman-temanku!" ucap Felix mengelus punggung Sherli.


"Kenapa aku terbawa emosi sih? Dia tadi baru saja tenang karena masalah kemarin! Aku sungguh menyesal."


Sherli mengangkat wajahnya dari dada Felix. "Aku baik pada mereka agar mereka juga baik kepadamu, Kak!" ucap Sherli.


"Iya, Sayang! Maafkan aku!" Felix menghapus airmata gadis itu dan segera mendaratkan ciuman dikeningnya.


"Bahkah ia melakukan itu untukku! Kenapa aku jadi pencemburu begini?" batin Felix.


Felix kembali memeluk tubuh Sherli karena menyesal. Setelah lega ia segera melepaskan pelukannya.


"Kakak mau makan?" tanya Sherli saat ekor matanya melihat jam yang telah menunjukkan pukul delapan malam.


"Iya ayo kita makan!" Ajak Felix.


Felix segera menarik tangan Sherli menuju meja makan didapur.


Saat telah mendudukkan tubuhnya, Felix terdiam tanpa menyentuh makanan dipiringnya. Membuat Sherli menatap heran padanya.


"Kenapa tidak dimakan, Kak?" tanya Sherli.


"Aku malas! Mau suapi aku?" ucap Felix memelas.


Sherli tersenyum melihat tingkah manja suaminya tersebut. Ia segera beranjak dari tempatnya dan pindah dikursi samping Felix.


"Baiklah, aku akan suapi, Kakak!"


Sherli menarik piring Felix dan segera memotong steak daging dengan pisau. Setelah terpotong, gadis itu menusuknya dengan garpu dan menyodorkan pada Felix.


"Aaa!" suara Sherli.


Felix segera membuka mulutnya menyambut suapan daging dari tangan istri terkasihnya.


Pug!


Felix menjatuhkan kepalanya dibahu Sherli. Gadis itu sontak menoleh kearahnya.


"Kakak manja sekali? Ada apa?" tanya Sherli tersenyum.


Felix menelah makanan dimulutnya terlebih dahulu sebelum menjawab ucapan Sherli.


"Apakah perlu alasan untuk bermanja dengan istri sendiri?" tanya Felix yang langsung memeluk perut Sherli dari samping.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan like, coment, vote dan rate.


Terimakasih atas dukungannya ❤.

__ADS_1


__ADS_2