
Sherli mengikuti kegiatan ekstrakulikuler untuk yang kedua kalinya. Namun, kali ini terdapat tiga guru pelatih.
Ketika sudah selesai ekstra silatnya. Sherli diminta Felix sang guru pelatihnya, untuk menemani dirinya mengembalikan peralatan silat disuatu ruangan.
Namun ketika Felix meletakan peralatan diatas, tiba-tiba bola terjatuh mengenai kepala Sherli.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Maaf ya, Sher. Aku tidak sengaja menyenggol bolanya" ucap Felix menyesal, masih memandang sorot mata Sherli.
Sherli yang merasa berdebar hatinya, karena tidak pernah mendapat perlakuan berlebihan seperti ini oleh lawan jenisnya. Berfikir keras untuk dapat lepas dari Felix.
"Duh bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan ..." Batin Sherli.
Sherli memegang tangan Felix yang masih berada di dagunya, lalu menurunkan tangannya sambil tersenyum.
"Aku sudah tidak apa-apa Kak, dan terimakasih sudah mengobatiku" ucap Sherli.
Sherli berdiri dari duduknya. Felix segera menegakkan tubuhnya mengikuti Sherli.
"Baiklah aku harus pulang, selamat sore, Kak." Ucap Sherli. Ia bergegas pergi dari hadapan Felix.
"Hati-hati, Sher!" ucap Felix berteriak, yang masih berdiri diposisinya.
"Aku heran dengan Kak Felix, kenapa dia harus mengobatiku, dan memegang daguku sih, padahal minta maaf saja kan sudah cukup, tidak perlu kontak fisik." Kesal Sherli sambil terus berjalan menuju motornya.
***
Setelah sampai dirumah, Sherli segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan dress setutut.
"Masih jam lima, aku ingin istirahat dulu" gumam Sherli sambil melihat jam di ponselnya.
Sherli merebahkan dirinya di kasur, sambil memandang langit-langit kamarnya.
"Sudah hampir tiga hari kenapa Kak Hongli tidak kelihatan ya? Padahal aku ingin cerita kejadian lalu" gumam Sherli sendu.
Sherli yang merasa ada parasaan rindu pun membuka ponselnya, dan melihat-lihat fotonya untuk melepas rindu, meskipun tidak ada sosok Hongli disana.
***
Malam pun tiba, setelah Sherli dan keluarga makan malam. Sherli membuka bukunya dan fokus mengerjakan PRnya dikamar.
"Duh soal ini lumayan sulit, jika ada Kak Hongli pasti dia akan membantuku" gumamnya pelan.
Wuss...
Tiba-tiba angin berhembus dikamar Sherli.
Bugg...
"Lisa, kamu jatuh lagi?" Sherli segera bangkit untuk mengambil boneka Lisa didepan meja riasnya. Ia segera meletakan boneka Lisa di kasurnya.
"Aneh, jendela kamar sudah kututup kenapa angin berhembus begitu kencang?" batin Sherli heran.
Pandangannya tertuju pada jendela kamarnya yang sudah terkunci.
"Ya sudahlah, aku harus segera menyelesaikan PRku" gumam Sherli, ia kembali berkutat mengerjakan PRnya.
Setengah jam telah berlalu Sherli akhirnya selesai mengerjakan PRnya.
"Syukurlah sudah selesai" gumamnya sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.
__ADS_1
Sherli segera memasukan bukunya di dalam tas. Tiba-tiba ada pesan masuk di ponselnya.
Ting!
Sherli yang masih duduk dimeja belajarnya, bergegas meraih ponselnya yang berbunyi.
"Sher?" ~ Tanpa nama.
"Siapa ya?" ~ Sherli.
"Aku Felix, gimana kepalamu masih sakit ?" jawab pesan tersebut, yang ternyata dari Felix.
"Aku, sudah baik-baik saja, Kak." ~ Sherli
"Serius sudah baikan?" ~ Felix.
"Iya, Kak!" ~ Sherli.
"Padahal aku tadi kan sudah bilang baik - baik saja, kenapa sampai menanyakan dipesan, dan lagi dari mana dia dapat nomorku" rutuk Sherli sambil melihat ponselnya.
"Kamu sedang apa?" ~ Felix.
"Habis ngerjakan tugas, Kak!" ~ Sherli.
"Besok Minggu ada waktu? Aku ingin mengajakmu keluar, sambil melihat kondisi kepalamu." ~ Felix.
"Kenapa kak Felix tiba-tiba mengajakku pergi keluar, kita kan baru kenal. Pakai alasan mau lihat kondisiku lagi. Padahal aku sudah bilang baik-baik saja." batin Sherli mengernyitkan dahinya membaca isi pesan dari Felix.
"Aku gak tau kak ada acara apa tidak, hari Minggu ..." ~ Sherli.
"Baiklah! Besok Sabtu kutanya lagi." ~ Felix.
Sherli pun hanya membaca isi pesan Felix. Kemudian segera merebahkan tubuh dikasur dan meletakan ponselnya di sampingnya.
***
Saat disekolah Sherli pun mengikuti kegiatan dengan fokus, dan tiba saatnya waktu pulang.
***
"Kak Felix?" gumam Sherli yang melihat Felix di depan gerbang sekolahnya.
Felix menghampiri Sherli yang berada di parkiran sekolah, dimana posisinya sekitar seratus meter dari gerbang sekolah.
"Sher sudah pulang?" tanya Felix sudah didepan Sherli. Sherli sudah menaiki motornya dan akan pulang.
"Iya, Kak! Baru mau pulang, ada apa ya?" tanya Sherli to the poin.
"Ikut aku sebentar yuk!"
Felix memegang tangan Sherli dengan sedikit tarikan. Sherli yang merasa ditarik tangannya oleh Felix, segera turun kembali memarkirkan sepedanya.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Sherli.
Tangannya sedari tadi masih ditarik oleh Felix. Para siswa lain pun melihat Sherli, karena tau siapa Felix.
"Jika bukan karena dia guru silat, aku tidak akan mau menyetujui ajakannya" batin Sherli kesal yang terus dilihat oleh siswa lain.
***
Mereka pun berhenti di depan mobil yang cukup mewah. Felix melepaskan tangannya yang menggandeng Sherli.
__ADS_1
"Masuklah!"
Felix membukakan pintu mobil untuk Sherli.
"Kita mau kemana?" tanya Sherli mengernyitkan dahinya heran dengan ajakan Felix yang tiba-tiba.
"Sudahlah masuk dulu, aku ada perlu denganmu!" ucap Felix meyakinkan Sherli agar mau masuk kedalam mobilnya.
Dengan ragu Sherli pun masuk, dan duduk di mobil Felix. Felix segera menutup pintu, lalu memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi, ia segera melajukan mobilnya.
"Duh dia mau mengajakku kemana, apa dia akan menculikku?"
Perasaan cemas Sherli membuat tangannya gemetar. Sherli sangat takut karena dia tidak pernah pergi jauh dengan lawan jenisnya. Yang pertama pun bersama Hongli, karena mereka hanya main disekitar rumah, maka Sherli pun menyetujuinya.
Felix melirik ke arah Sherli, ia sadar akan kecemasannya. Felix tersenyum lucu melihat Ketakutan Sherli.
Felix mengulurkan tangannya untuk membelai kepala Sherli. Dengan harapan Sherli akan merasa tenang.
"Jangan taku! Aku hanya ingin mengajakmu makan siang" ucap Felix tersenyum masih membelai puncak kepala Sherli.
Ia berusaha fokus memengang kemudi dengan sesekali melirik kearah Sherli. Mereka sampai di suatu restaurant. Felix segera turun, ia memutari mobil untuk membukakan Sherli pintu.
"Turunlah!" ucap Felix pada Sherli. Sherli yang masih terheran hanya diam saja ditempat, sambil memandang kearah Felix.
Karena melihat Sherli tak bergeming, Felix menarik tangan Sherli untuk turun, dan membawanya masuk kedalam restaurant.
"Kak, pelan-pelan tanganku sakit!" pekik Sherli yang terus ditarik oleh Felix yang bersemangat dengan langkah lebarnya.
"Maaf-maaf, aku terlalu senang hingga berjalan terlalu cepat" ucap Felix menyesal, ia segera melepaskan genggamannya pada Sherli didepan salah satu bangku paling pojok.
"Duduk lah!"
Felix menarik kursi untuk Sherli. Setelah Sherli duduk, Felix pun ikut duduk didepan Sherli.
"Mau makan apa Sher?"
"Apapun, Kak!"
"Baiklah. Pelayan!" Felix mengangkat tangannya memanggil pelayan.
"Pesan ini dua porsi, dan dua jus alpukat!" ucap Felix, pelayan segera pergi untuk menyiapkan pesanan mereka. Sambil menunggu pesanan datang, Felix mengajak Sherli berbincang.
"Sekolah kamu bagaimana Sher?" tanya Felix.
"Baik-baik saja, Kak."
"Jika ada masalah bilang padaku ya, jangan sungkan" ucap Felix sambil memegang tangan Sherli. Sherli pun menggernyitkan dahinya memandang tangan Felix.
"Jika ada masalah aku akan bilang ayahku, kenapa bilang padamu " batin Sherli yang merasa aneh dengan perkataan Felix.
"Baik, Kak."
Sherli segera menarik tangannya kebawah. Felix pun tersenyum melihatnya Sherli. Tak lama kemudian, pesanan mereka datang.
Siapakah yang akan mengisi hati Sherli, apakah Hongli atau kah sosok baru Felix?
.
.
.
__ADS_1
Ikuti terus ya teman - teman! Jangan lupa tinggalkan like, coment, dan vote :).
Terimakasih atas dukungannya ❤.