Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Rafa sudah pulang.


__ADS_3

Raka dan Nurul sampai di rumah, dari jauh terlihat Rania berlari dan kemudian Nurul dapat pelukan manja dari putri kecilnya.


Raka pun tersenyum melihat Rania, dan mengendong gadis kecil itu, "Rania yang cantik,"


tapi raut wajah Raka berubah saat melihat sosok Rafa yang tersenyum melihat dirinya.


"selamat datang," sapa Rafa.


Raka menurunkan Rania dari gendongannya. "dengan Bunda dulu ya dek," kata Raka.


Raka langsung pergi meninggalkan Rafa, dia tak ingin mengatakan apapun pada pria itu.


"Raka kau marah padaku?" tanya Rafa.


"pikir sendiri saja," jawab Raka dingin.


Rafa tak mengira jika reaksi saudaranya bisa separah ini, padahal dia tak bermaksud buruk.


Raka pun memilih tidur di kamarnya, di tak suka dengan Rafa yang selalu mengatur dirinya.


jasmin yang melihat ada perang dingin di antara keduanya, "mas kamu bikin mas Raka marah?" tanya Jasmin.


"iya nih Rafa, tadi Raka sedang sangat berbunga-bunga, tapi saat mendengar nama mu di langsung berubah menjadi sedih," tambah Nurul.


"benarkah Tante, sepertinya aku sudah keterlaluan Padanya," jawab Rafa.


Jasmin mengangguk mendengar perkataan suaminya itu, sedang Rafa tertawa Melihat reaksi istrinya.


siang itu Raka tertidur pulas, hingga sore hari, tiba-tiba kepalanya sangat sakit.


"aku ketiduran, dan sekarang malah sakit kepala," gumam Raka.


pria itu pun memilih duduk sebentar, dan setelah mendingan dia memilih mandi.


tapi dia melihat Rafa sedang membaca Al-Qur'an di ruang tengah.


Raka tak ingin menyapa atau berbicara pada saudaranya itu, entahlah dia sedang malas saja.


"loh Raka, kamu di rumah, om pikir kamu keluar, jadi om beli nasinya kurang satu dong," kata Adri yang baru datang bersama keluarga kecilnya.


"tak masalah om, aku bisa makan di luar nanti," jawab Raka datar.


Adri pun bingung melihat reaksi Raka, setelah sholat ashar, Raka bersiap pergi.

__ADS_1


"mau kemana Raka?" tanya Rafa.


"untuk apa kamu tau, apa kau akan mengatur hidupku lagi, atur saja keluargamu itu," kata Raka dingin.


Adri dan Mak nur menyadari jika kedua saudara itu sedang perang dingin.


"maaf saya permisi sebentar," pamit Rafa ingin mengikuti Raka.


"kau marah karena ucapan ku?"


"tidak, aku hanya tak ingin berbicara dengan mu," jawab Raka yang sudah pergi dengan motornya.


"kapan kamu akan dewasa Raka ..."


Rafa hanya bisa melihat motor itu pergi menjauh dari rumah, Jasmin memeluk suaminya.


"tolong bicara pelan-pelan ya mas," kata Jasmin.


"iya dek," jawab Rafa.


Raka menuju ke desa Aira, dia menuju ke makam desa dan ingin mengirim doa pada kedua orang tuanya.


dan disini Raka hanya bisa menangis di depan pusara kedua orang tuanya.


juru kunci makam kaget saat melihat motor sport mahal di depan gapura makam desa, dia pun buru-buru masuk takut ada yang berbuat mesum Magrib-magrib di kuburan.


tapi langkahnya terhenti saat melihat Raka sedang menangis di antara kuburan orang tuanya.


dia pun mengirimkan pesan pada Alfin, "mas mau kemana?" tanya Aira melihat suaminya pergi naik motor.


"mau ke makam sebentar," pamit Alfin.


benar saja saat sampai dia melihat Raka yang sudah duduk di atas motor miliknya.


"mampir ke rumah," kata Alfin.


"iya ..."


Raka pun mengarahkan motornya menuju ke rumah Alfin, dan saat sampai di rumah.


Aira pun menyuruhnya untuk cuci tangan dan kaki sebelum masuk, kemudian Raka mencium tangan Aira dan Alfin.


"cah gemblung, Magrib-magrib Nok kuburan," kesal Alfin memukul kepala adik iparnya itu.

__ADS_1


"aku sedang rindu bunda dan ayah," bohong Raka.


"bukannya kamu bertengkar dengan Rafa," tebak Aira.


"aku tak ingin membahasnya," jawab raka yang duduk di karpet.


Aira pun memijat kepala adiknya itu, "cerita yuk, kasihan eyang lo le, jangan seperti ini dong," mohon Aira.


"memang salah ya jika Raka memilih gadis yang Raka cintai, kenapa dia tak suka gadis itu, kenapa mbak? apa aku tak boleh memilih hidup ku mau ku habiskan dengan siapa?" tanya Raka sedih.


"tentu kamu boleh memilih jalan hidupmu, seperti halnya Rafa, kamu juga bisa memilih pendamping hidupmu," jawab Aira.


"tapi bukankah Rafa memilih Azizah, karena dia mengatakan dia bisa melihat bayangan bunda pada gadis itu," tanya Alfin.


"tapi aku menganggapnya hanya sebatas teman saja, dan untuk lebih tidak," jawab Raka.


"tapi wanita yang kau pilih bisa membunuhmu, dia itu wanita dengan pagar gaib besar, dia bisa membunuh siapapun pria yang menikahinya," kata Rafa yang datang dengan Adri.


"apa? apa benar Raka, kau mencintai wanita seperti itu?" tanya Aira.


"memang kenapa? toh selama aku dekat dengannya aku baik-baik saja," jawab Raka.


"Raka mbak mohon, jangan bahayakan nyawa mu,"mohon Aira.


Raka langsung menghempaskan tangan Aira dari tubuhnya, "lihat kalian begitu egois bukan, tak ada yang melarang Rafa menikahi Jasmin, dan mbak Aira menikahi saudara angkat yang di rawat dari kecil, semua diam, kenapa dengan ku, apa salahnya, dia juga tak ingin punya pelindung itu, itu warisan yang fi tamam neneknya, kalian semua egois, kenapa selalu harus aku yang menuruti kalian!" teriak Raka yang menerobos pergi.


Adri menghentikan keponakannya itu, "lepaskan om!" teriak Raka.


karena sudah marah, Adri menampar Raka hingga tersungkur. "bisakah kau bicara baik-baik," kesal Adri.


raka pun hanya bisa terduduk sambil terisak, dia sudah muak dengan semuanya.


Aira ingin mendekat tapi Alfin menahannya, Alfin mengeleng pada istrinya.


sedang Rafa yang ingin mendekat di tahan oleh Adri, "berhenti Rafa, om mohon mulai sekarang tolong jangan campuri urusan Raka, aku dengar dari Tante mu, jika raka sedang dekat dengan seorang gadis, dia adalah Wulan, putri pak Suyatno, dia memang gadis yang memiliki pelindung, dan om sudah mencari tahu itu, dan berhenti memaksakan kehendak mu padanya," kata Adri.


"tapi om dia bisa mati," kata Rafa.


"sejak kapan kamu merasa tau tentang hidup mati seseorang, itu rahasia Allah, jangan lupa itu Rafa, dan bisa saja kau bisa membunuhnya saat melarangnya dekat dengan gadis yang di cintainya, kau tau betapa tersiksanya hati dan diri, saat Kita harus menjauhi orang yang kita cintai, jadi om mohon, biarkan Raka memilih jalannya, jika kamu butuh penjamin, om yang akan menjadi penjamin untuk Raka, jika dia mati karena Wulan, maka kalian semua Bisa membunuhku saat itu juga," kata Adri yang membungkam Rafa.


Aira dan Alfin tak bisa bicara, Mereka juga tau apa yang di katakan Adri adalah benar.


karena Adri melalui dan merasakan bagaimana tersiksanya, harus merelakan orang yang di cintai untuk pergi.

__ADS_1


__ADS_2