Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
bukan wanita biasa.


__ADS_3

"sudah om, aku pamit pulang dulu ya, lain kali om harus hati-hati ya, tak semua orang itu baik terlebih banyak orang yang ingin memanfaatkan kita," kata Wulan.


"aku mengerti cantik, terima kasih ya atas kiriman nasinya, dan tolong jaga kesehatan mu atau aku akan menyuruh orang untuk mulai mengambil di rumah besok, jadi kamu tak perlu serepot ini," kata Adri.


"terserah om saja aku sih manut mawon, lagi pula aku melakukan ini pun dengan senang hati," jawab Wulan.


Adri pun mengangguk, Wulan pun pamit bersama Mak Siti, ternyata bertepatan dengan dia pulang.


mobil suaminya itu baru memasuki halaman rumah. dan dengan senyum Wulan menyambut Raka.


bahkan pria itu karena tak sabar langsung memeluk tubuh Wulan, "mas ... cuci tangan dulu sebelum masuk," kata wulan melepaskan pelukan suaminya.


Raka pun merangkul istrinya itu dan mengajak Wulan masuk kedalam rumah.


Windi yang melihat Raka pun bergegas menghampiri pria itu, tapi Wulan yang tau pun menahan Windi hingga wanita itu terjatuh.


"maaf mbak, apa yang anda inginkan, kenapa kamu berlari menghampiri suamiku," kata Wulan dengan suara yang tak ramah.


"dasar ****** minggir dari hadapan ku, aku ingin menghampiri kekasihku, mas Raka kamu melupakan ku, kita sudah menghabiskan waktu cukup lama, hingga kamu membuangku begitu saja tanpa alasan," tangis gadis itu.


"Rafa brengsek, dia mengatakan akan menghendel Semuanya tapi apa ini, kenapa dia belum bertindak, atau perlu aku sendiri!" kata Raka kesal.


"kamu lupa itu," kata Windi yang menarik tangan Raka, dan pria itu pun menarik tangannya dengan kasar.


"jangan berani menyentuhku, kau bukan istriku, dan asal kau tau hanya istriku yang boleh menyentuhku," kata pria itu dengan suara tinggi.


Windi pun tak mengira jika Raka begitu kasar, padahal dia sudah bersama dan pria itu begitu memanjakannya.


"kenapa kamu begitu kasar, asal kamu tau dia sedang tak sehat," kata Bu Diah membantu putrinya berdiri.


"kalau begitu kenapa membawanya kemari, seharusnya anda bawa ke rumah sakit agar dia sehat dulu," kesal Raka.


"sudah mas, ayo kita ke rumah orang tuaku dulu, biarkan mereka untuk disini dulu," ajak Wulan.


"tak perlu, kita akan menyembuhkan Windi sekarang, karena dia sudah terlalu jauh, terlebih aku perlu membersihkan nama baik Raka," kata Rafa yang juga baru datang.


"bagaimana caranya nak?" tanya pak Handoko.


"kita akan melakukan ruqyah untuk Windi, dan untuk mu Wulan, tolong kami untuk menyeret pria yang mengunakan wajah Raka, dan hanya kamu yang bisa," kata Rafa melihat adik iparnya.


"mas butuh yang mana, ayah dari anak itu, atau yang membawa gadis itu ke alamnya?" tanya Wulan dengan datar.


"kedua-duanya, dan minta bantuan Nyai Nawang jika kamu kuwalahan," kata Rafa


"dengan senang hati, dan aku tak suka ada wanita yang mengaku-ngaku seperti ini," kata Wulan yang siap menahan bahaya demi suaminya.

__ADS_1


"dek, pinjamkan gamis mu dan juga mukena mu, kita akan melakukannya sekarang," kata Rafa.


mereka pun mulai menuju ke rumah milik Rafa yang kosong, setelah itu Rafa membuka semua mata batin orang yang kan terlibat.


Wulan sudah duduk dan berdoa, dia sudah pergi menuju ke alam ghaib, wulan di kejutkan oleh sosok pocong yang melompat kedepannya.


"halo nyonya, woi kenapa sampai disini, sendirian juga?" tanya pocong itu.


"anda siapa, jika ingin menganggu menyingkirlah," kata Wulan dingin.


"aduh ternyata kamu sama seremnya sama suamimu ya, tapi dia selalu baik memberiku rokok dan ayam goreng, mas Raka itulah karena aroma mu dan di mirip," kata pocong itu melompat mengelilingi Wulan.


karena kesal Wulan mendorong pocong itu hingga jatuh tersungkur, "ya maaf ..." kata Wulan.


"dasar nih laki bini suka bener main pukul orang," kata pocong itu yang kesulitan untuk bangun.


"Ki Adhiyaksa tolongin dia dong," kata wulan memohon.


"menyusahkan," kesal Ki Adhiyaksa.


Buto itu pun terpaksa membantu pocong itu, tapi karena kesal Ki Adhiyaksa malah menginjak kain kafan dan alhasil pocong itu kembali tersungkur saat ingin melompat.


Wulan dan Ki Adhiyaksa pun tertawa meliht itu, tapi kemudian mereka pun ingat harus segera menemukan mahluk yang membawa Windi.


"sudah Ki, ayo bantu aku menemukan genderuwo yang menghuni pohon beringin di belakang rumah, besok kalau berhasil aku kasih ayam sama rokok spesial," kata Wulan.


Wulan pun berubah menjadi sosok lain setelah itu, Bahkan Ki Antaboga datang dan mengikuti wanita itu.


"Nyai, waktu kita tak banyak," kata Ki Antaboga.


pocong itu terdiam, ternyata wanita yang menjadi istri dari manusia itu bukan wanita biasa.


mereka pun berjalan menuju ke istana para genderuwo, Ki Antaboga dan Ki Adhiyaksa mengamuk di dalam istana itu.


Wulan berdo'a dan mengeluarkan tali tambang khusus, dan mengikat keduanya dan kini dia kembali ke raganya.


terlihat Windi masih kesakitan dan terus berteriak, suasananya rumah menjadi pengap dan terasa hawa dingin menusuk.


Wulan mengambil sebuah air yang sudah di do'akan kemudian menyiramkan pada tubuh Windi.


tiba-tiba wanita itu berteriak dan segera melahirkan bayi ghaib, dan Wulan melihat ke arah dia genderuwo yang sudah terikat.


Wulan mengambil tasbih miliknya, "kalian ingin bayi ini mati, atau katakan yang sejujurnya dan bersihkan nama suamiku," kata Wulan.


"baik, aku akan menjelaskan semuanya, tapi tolong jangan bunuh bayi itu, dia juga berhak hidup," kata Raka genderuwo menampakkan dirinya.

__ADS_1


rafa melepaskan ikatan mahluk itu, dan buru-buru mengendong bayi yang penuh dengan bulu hitam dengan mata merah itu.


bahkan suara tangisannya memekakkan telinga, tapi rafa sudah mengantisipasi hal itu.


"Allahuakbar, mahluk apa itu!" teriak Angga, pak Handoko dan Bu Diah.


genderuwo itu pun mengubah wujudnya, dia pun berubah menjadi Raka dan mengendong bayi mahluk yang baru saja di lahirkan oleh Windi.


"siapa kamu!" teriak Windi.


"aku adalah orang yang menemanimu beberapa bulan ini, aku adalah orang yang setiap malam menghabiskan waktu bersama mu, ini bayi kita," kata mahluk itu.


"tidak, itu tak mungkin, kamu bohong, aku menghabiskan waktu ku bersama mas Raka, bukan mahluk menyeramkan seperti kamu," kata Windi.


"tapi ini aku, kau melupakan semuanya, malam itu kamu bahkan memilih baju lingerie seksi, tapi aku merobeknya dan kita melalui malam panas berdua, dan kamu tak ingat jika manusia biasa tak mungkin akan bisa punya stamina sekuat itu, dan itu juga atas persetujuan dari ibumu yang ingin membuatmu cantik, dengn menyerahkan dirimu padaku," jelas mahluk itu.


"kamu menghina ku," kesal Raka oda mahluk itu.


"mas ih.. ngomong apa sih," kesal Wulan menyikut perut suaminya karena kesal.


"tapi kalau benar, kenapa kamu melepaskan diriku," kata Windi.


"karena Suryo mati, dan putri Nyai Nawang menghanguskan semuanya, jadi terpaksalah aku mengirimmu kembali, jika tidak kamu bisa mati terpanggang di alam ku," jawab mahluk itu.


"jadi itu bukan Raka yang menemanimu, karena Raka yang sesungguhnya selalu ada di sisi ku, bukan bersama mu," kata wulan kesal.


Rafa dan Raka menutup mata batin dari orang-orang, akhirnya hanya Windi yang bisa melihat mahluk itu.


pocong asap itu pun dengan iseng menghampiri pangeran dari genderuwo.


"ciye kalah ciye, bapakmu bisa menghamili kekasih mu, dan kamu cuma bisa diem goblok begitu ciye," kata pocong itu.


"aku harap ayah bisa bahagia, aku rela meninggalkan wanita itu, terlebih aku sudah bosan dan ingin mati saja di tangan nyai Nawang," kata genderuwo muda itu.


"yaelah Wak, mahluk model kamu bisa patah hati, gak banget deh ... bikin iyuh ... padahal kamu itu hantu yang bisa menggoda dan menyesatkan wanita gatal, cari mangsa dan ajak kikukikuk dong, lemah nih..." omel pocong asap itu.


"ngomong Mulu ah ... diem gak, dasar pocong cerewet!" kesal Ki Adhiyaksa yang memukul pocong itu hingga terpental jauh.


mereka sedang mengawasi dari jauh, sesuai dengan permintaan dari Raka dan Rafa.


Wulan pun tertawa melihat perkelahian tiga mahluk itu, Ki antaboga melindungi Wulan dan janinnya.


Raka juga sudah memberikan minuman pada ketiga orang itu yang nampak masih syok, sedang rafa membujuk Windi untuk mengikhlaskan semuanya.


terlebih mereka beda alam, dan tak mungkin bisa bersatu, dan Rafa memberikan pikiran dan aura positif pada adik iparnya itu.

__ADS_1


akhirnya Windi sedikit bisa menerima, dan Rafa meminta genderuwo itu membesarkan anaknya di alamnya.


dan Rafa tak mau melihat dia mendatangi Windi atau jika tidak maka dia sendiri yang akan membinasakannya.


__ADS_2