Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
aku tak bisa (Raka)


__ADS_3

hari ini adalah hari Minggu, semua orang sudah siap menghadiri pernikahan dari Azizah.


sedang Raka masih santai dan seakan bermalas-malasan, pria itu bahkan sedang membaca buku di ruang tamu, "kamu gak ikut,ayolah datang demi menghormati undangannya," ajak Rafa.


"aku berangkat, tapi ingat jika ada apa-apa jangan pernah menoleh ke arahku, dan meminta bantuan ku, mengerti," kata Raka memberikan peringatan keras.


pasalnya Rafa akan melakukan apapun untuk memaksanya sebelum itu terjadi, dia perlu memberikan peringatan duluan.


"baiklah aku mengerti," jawab Rafa yang tau perasaan apa yang tengah di rasakan oleh Raka.


Raka pun memakai baju batik berwarna biru, rombongan kemudian berangkat.


tak di duga saat sampai terlihat rombongan pengantin pria masih belum datang.


"eh ... kok masih sepi," bingung Rafa.


"mungkin telat, positif thinking saja," kata Raka santai dan mencari tempat duduk setelah menyapa Mbah Sahal.


tak terduga, keluarga dari pak Suyatno juga datang, Adri langsung menjabat tangan pria itu yang terlihat begitu akrab.


sekarang mereka pun saling menyapa dengan sangat ramah, Wulan mencium tangan Mak nur bolak balik.


Mak nur langsung memeluk gadis itu, "iya bener Rania," kata Mak nur melihat cucunya itu.


"iya eyang, mbak Wulan itu menyenangkan kalau di peluk," kata gadis kecil itu yang langsung ikut bergabung.


Nurul tertawa melihat reaksi dari gadis kecil itu, Adri sedang berbincang dengan pak Suyatno.


sedang Wulan berjalan-jalan bersama Rania, sedang Fahri duduk bersama dengan Rafa dan Raka membicarakan suasana pondok.


sedang Nurul, Jasmin dan mak nur, berbincang dengan Bu mut. mereka membahas masalah wanita dan perdapuran.


pukul sembilan, akhirnya rombongan calon pengantin pria datang, Rania dan Wulan sudah kembali.


tapi baju Wulan terlihat sedikit basah, "sudah wudhu nak?" tanya Bu mut.


"sudah Bu," jawab Wulan lirih.

__ADS_1


saat akad nikah akan di mulai, calon pengantin melihat ke arah Azizah, penghulu sudah dapat perwalian satu kakek Azizah.


saat akan mulai menikahkan, penghulu mengulurkan tangannya, tapi pengantin pria melihat Nurul.


"tunggu pak penghulu, saya ingin memastikan sesuatu, Azizah, apa ada sesuatu yang kamu inginkan atau bicarakan terlebih dahulu, Jang menyesal setelah akad nikah ini terjadi aku tak bisa menjatuhkan talak apapun yang terjadi, karena bagiku pernikahan itu ikatan suci dan sekali seumur hidup," kata pria itu.


"aku ingin jujur, sebenarnya sebelum mas meminang ku, aku terlebih dahulu menerima tawaran ta'aruf, tapi semua itu tak di lanjutkan karena lihat pria tak pernah menyukaiku, dan hanya menganggap ku teman saja, tidak lebih," kata Azizah.


"apa aku boleh tau selain itu, aku juga sudah tau, tapi masalah dengan pemuda sini yang ingin melecehkankan mu?" tanya pengantin pria itu.


"hentikan!, itu tak pernah terjadi, yang membuat pria-pria itu terluka adalah aku, dan aku melakukannya hanya demi kemanusiaan, jika kamu mencintainya kenapa harus di bahas saat kalian ingin menikah," kata Raka yang berdiri mendengar sebuah pertanyaan yang menyakitkan terlontar.


Wulan menunduk, entahlah rasanya sesak saat ini, "ibu .... bisakah Fahri saja yang tilawah Al-Qur'an, saya tak sanggup Bu," lirih Wulan sambil terus mencubit tangannya.


"kenapa nak, hentikan sayang, jangan seperti ini," kata Bu mut mengenggam tangan putrinya.


"aku takut Bu, aku takut menghancurkan semuanya, aku ingin pulang Bu," lirih Wulan meneteskan air matanya.


pak Suyatno pun menghampiri istri dan putrinya, "ada apa Bu, Wulan kenapa?" tanyanya dengan lembut.


"bapak, aku tak bisa, aku mohon aku ingin pulang," kata Wulan tak bisa menghentikan air matanya dan mulai terisak.


gadis kecil itu mencium tangan Wulan, "tadi mbak sudah janji mau mencontohkan bacaan Al-Qur'an yang indah, kenapa menangis, kata kak Rafa nanti kalau nangis cantiknya bisa hilang, terus jelek seperti nenek-nenek," kata Rania menarik kepalanya di pangkuan Wulan.


Wulan pun mengusap kepala gadis itu, Rafa hanya tersenyum melihat interaksi keduanya.


sedang Raka menjelaskan semua rumor yang beredar, hingga akhir akad nikah pun bisa di lanjutkan.


"aku gak nyuruh loh ya, kamu sendiri," kata Rafa mengangkat tangan.


ingin rasanya Raka menyikut saudara kembarnya itu. tapi dia urungkan karena ini sedang dalam keadaan yang bahagia.


Raka yang tak melihat Rania pun mencari gadis kecil itu, "mana Rania?"


"tuh sama calon kakak iparnya, lihat lengket bener dong, sudah restu di dapat, aku juga, om juga, tinggal mbak Aira," kata Rafa menggoda Raka.


"gak urus," jawab Raka kesal.

__ADS_1


akhirnya acara resepsi di lakukan, pertama adalah pembacaan tilawah Al-Qur'an.


dan Wulan yang berdiri dan memperdengarkan suara indahnya, tak lupa Rania bahkan ikut duduk di sebelahnya.


Bu mut dan pak Suyatno tak mengira putri mereka begitu mudah dekat dengan gadis cantik seperti Rania.


semua orang begitu hikmat mendengarkan bacaan ayat suci Al-Quran.


bahkan Adri dan Nurul tak mengira jika Rania ikut menemani Wulan, bahkan setelah selesai pun gadis kecil itu tetap bersama Wulan.


acara pun berlanjut dengan meriah,dan banyak canda tawa saat penyampaian nasihat pernikahan.


setelah acara selesai Azizah dan Wulan saling berpelukan, ternyata mereka adalah saudara jauh, dan begitu kenapa Wulan bisa di mintai tolong oleh Azizah.


sedang Fahri memeluk pengantin pria yang tenyata bekerja di sekitar pondok tempat Fahri menimba ilmu.


jadilah mereka sudah kenal satu sama lain, Azizah juga menyapa Bu nur selaku sepupu jauhnya.


keluarga Mak nur juga mengucapkan selamat, setelah itu semua berbincang setelah acara pernikahan selesai.


dan kini acara foto bersama, dan yang lucu adalah Rania yang terus menjadi Mak comblang untuk Raka dan Wulan.


bahkan mereka memiliki foto seperti keluarga bahagia, Rafa pun ingin tertawa tapi apa daya jasmin terus memelototi suaminya itu.


Delia masih bersemedi untuk mendapatkan ilmunya kembali setelah hilang oleh ulah Rafa dan Raka.


apalagi luka dalamnya tak mudah untuk sembuh, bahkan Bu Ningrum pun merasa Delia aneh makin kesini.


dia seakan tak mengenali putrinya sendiri, berbeda dengan pak Panji yang biasa saja.


karena baginya putrinya sangat berguna, terlebih kekayaan nya juga makin bertambah dan tak berkurang setelah Delia datang.


ternyata Delia seakan membawa dan menarik harta, dan itu yang begitu pak panji sukai.


bahkan dia seakan lupa jika ingin berubah, terlebih dia merasa sekarang dia makin kaya dengan bersedekah.


entah apa yang terjadi, dia sering bagi-bagi uang atau sembako pada semua orang.

__ADS_1


tapi ternyata itu adalah sesuatu yang bisa menarik dan memilih korban yang di butuhkan oleh Delia.


__ADS_2