
Steve ingin menghampiri Nurul dan Adri, tapi Rafa dan Alfin merangkulnya, "mau apa bro, ayo ikut kami ke rumah, kita ruqyah dulu, baru boleh ketemu sama Tante kami," kata Alfin tersenyum.
"aku gak mau," bantah Steve.
"kamu sudah siap miskin tujuh turunan, kalau iya ya... silahkan," tambah Rafa tertawa sambil memukul dada Steve.
"dia itu gak pernah main-main loh," bisik Alfin.
Steve pun tak bisa menemui Nurul dan Adri, tapi Steve bisa melihat bagaimana Nurul tertawa bahagia bersama dengan Adri.
Steve pun mengikuti Alfin dan Rafa untuk kembali ke rumah keluarga Mak nur.
"eh ngomong-ngomong, di om mau tetap tinggal di rumah ini?" tanya Raka.
"gak kayaknya, aku suruh om tinggal di rumah samping, kan lumayan lah Deket, lagi pula kamu nyaman tinggal sama pengantin baru," ledek Rafa.
"mulutnya, ya gak lah, ha-ha-ha,"
Ra pun tertawa bersama Rafa, sebenarnya rumah Mak nur ini di apit oleh rumah anak-anaknya.
rumah Rizal dan luna, ada di samping kanan rumah Mak nur hanya berjarak satu rumah milik Rafa.
sedang untuk Adri pas di kiri rumah Mak nur, rafa bukan tak mau pindah rumah.
tapi Mak nur yang tak ingin jauh dari Jasmin, itulah kenapa mereka belum pisah rumah.
Steve memilih untuk duduk bersama para pria, setelah menjalankan sholat magrib berjamaah.
"jadi mulai cerita dari mana?" tanya Rafa.
"aku belum siap bercerita, tapi aku baru menyadari jika aku mencintai Nurul saat akhir-akhir ini, aku terus merasa tak tenang saat Nurul meninggalkan rumah ku," kata Steve.
"inilah pria bodoh, saat kamu memilikinya kamu sia-siakan, saat lepas menyesal, dasar ..."
Alfin ingin. sekali memukul pria di depannya itu, tapi dia sadar jika tak ada gunanya.
"coba dekatkan diri pada Tuhan, dan sholat malam setiap hati, minta maaf pada semua wanita yang sudah kamu sakiti, dan sholat malam dan memohon ampun, insyaallah semua akan berakhir," jawab Rafa.
"apanya yang berakhir?" goda Raka.
"nyawanya, ya masalahnya lah... begitu saja masih tanya," ketus Rafa.
__ADS_1
"ciye ... calon ayah ngamuk ciye," ledek Raka lagi.
Jasmin datang membawa minuman, sedang Aira membawakan cemilan untuk ketiganya.
"terima kasih dek, Steve kamu itu pengusaha kaya, mudah untuk mu mendapatkan wanita, jika ingin memiliki wanita yang Sholehah, maka mulai berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dan insyaallah jodohmu juga akan baik," kata Alfin.
"baiklah aku mengerti, kebetulan bertemu, apa kalian akan ikut ke pertemuan tahunan pengusaha se-Jawa timur, padahal kalian adalah orang yang paling di tunggu, apalagi setiap tahun yang datang adalah perwakilan kalian berdua," kata Steve.
"insyaallah datang tahun ini, kebetulan mau berkunjung ke rumah mertua juga," jawab Rafa
"aku juga, kebetulan aku juga setelah dari pertemuan itu, akan langsung pergi ke Bali untuk liburan keluarga," jawab Alfin.
"wah .... bos-bos besar mau liburan ternyata, apa perlu pengawalan, aku akan membantu kalian,"
"tidak perlu, Karena aku tak suka yang berlebihan," jawab Rafa.
Steve hanya mengangguk, "jadi bagaimana? masih mau menganggu mereka nanti musuh mu adalah kami loh," kata Alfin.
"tidak, aku akan mencoba untuk menerimanya," jawab Steve.
"itu bagus, jika tidak kamu gak mau kan kepala mu pisah sama badan mu, soalnya om Adri itu lebih mengerikan dari yang terlihat loh," kata Rafa menepuk bahu Steve hingga pria itu kaget.
Alfin dan yang lain hanya tertawa melihat adegan itu, saat sedang duduk bersama.
"ayolah, aku sedang tak ingin melwan dukun ecek-ecek nih, Raka berangkat lawan Dikin itu."
"mbel... lawan aja sendiri, aku juga gak mau kotor tuh," ledek Raka.
"biar aku saja ya om," kata Al-Fath.
"jangan ngawur, ayo Raka," ajak Rafa yang berdiri.
"tunggu sebentar," kata Jasmin memberikan tasbih yang tadi dia pinjam.
"terima kasih dek, ingat terus berdoa dan tasbih jangan putus ya," kata Rafa.
Jasmin mengangguk, Rafa dan Raka berjalan ke area Mushola, ternyata mereka lupa jika hari ini adalah selasa pahing.
"owalah ... tak kira dukun nyasar dari mana, eh ternyata tim om wowo ya, mau kemana nih om?" tanya Rafa yang melihat tiga genderuwo memakan ulat di sebuah pohon aren.
"halo nak, mu jalan-jalan cari mangsa, kamu mau satu," tawar genderuwo itu memberikan ulat bercahaya itu.
__ADS_1
"gak deh, ya sudah lanjutkan saja ya, tapi ingat hati-hati jangan sampai tertangkap oleh dukun abal-abal ya."
Rafa tertawa saat menyadari ada seseorang yang mengawasi mereka, "ngomong-ngomong dukun abal-abal, tuh orangnya lagi sembunyi, ciye yang nge-fans tapi takut," kata Rafa menghempaskan pohon yang di buat sembunyi.
seorang pria jatuh dari pohon itu, para genderuwo itu langsung dalam mode siaga.
"tenang saja kalian bertiga, silahkan lanjutkan, biar aku dan Raka yang menghadapi dukun itu, dengan mudah."
pria itu ingin menyerang, Steve melihat Alfin tersenyum dan mengangguk meminta dia tenang.
benar saja baru juga maju, Suni langsung mencakar pria itu hingga terluka.
"lihat saja, kamu sudah terluka oleh harimau ku, jadi masih mau melawan kami?" tanya Rafa.
"pergi!" teriak Raka.
pria itu pun langsung lari tunggang langgang mendengar teriakan Raka.
sedang ketiga genderuwo itu sudah berubah makin besar dan ilmu mereka juga semakin tinggi.
"kami akan selalu membantu anda berdua, tinggal panggil kami saja dengan bersiul," kata genderuwo itu memberikan sebuah cincin batu akik pada Rafa.
"terima kasih, kalian bisa pergi," perintah Rafa di ikuti ketiganya.
Steve merasa merinding tiba-tiba, ternyata Ayana sedang melihatnya sambil menunjuk Steve.
"ada apa sayang?" tanya Aira.
"om ya di peluk Tante serem yang habis mandi, habis tubuhnya basah bunda," kata Ayana.
"apa?" kata Steve ketakutan.
Jasmin sebenarnya bisa melihat, tapi dia memilih diam dan tenang, karena dia tak ingin janinnya dalam masalah atau terluka.
mak Nur mengusapkan kunyit di kening Jasmin, dan dia melihat arwah itu sedang menangis sambil memeluk erat leher Steve.
Steve tiba-tiba merasa lehernya tercekik, di pun mulai terbatuk-batuk dan Raka buru-buru menarik arwah itu.
Raka terduduk karena melihat masa lalu dari arwah itu, sedang rafa menjaga saudara kembarnya.
"pria bajingan, kau meninggalkanku saat aku hamil, dan aku membawa pergi anakku dan kau harus merasakan ketakutan selama hidupmu!" teriak Raka yang kerasukan.
__ADS_1
Rafa menahan tubuh Raka agar tak bisa bergerak maju, "tenang atau aku akan memusnahkan bayimu,"
"tidak!!!!" teriaknya.