Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Wulan itu istimewa


__ADS_3

pak Suyatno dan Bu Mutmainah, adalah pasangan yang sudah lima tahun menikah.


keduanya tidak berusaha ingin memiliki momongan, mereka sudah berobat kemana saja, bahkan dari ilmu medis sampai dengan ilmu klenik.


tapi semua tak pernah berhasil, saat itulah keluarga dari pak Prapto yang memang keturunan orang kejawen.


sebenarnya eyang dari pak Prapto adalah orang yang menyembah siluman ular untuk memiliki kekuatan.


dan lebih buruk lagi, Bu mut pernah hampir di lecehkan karena berkedok pengobatan oleh pria itu.


tapi berkat pertolongan dari Prapto Bu mut bisa lepas dari sang kakek, meski berakhir pak Prapto yang harus menerima di hajar oleh kakeknya.


tapi prak Prapto tak ingin sahabat dan istrinya itu terluka, akhirnya dia memberikn sebuah alamat orang pintar.


mereka pun mengunjungi rumah orang itu, ternyata itu adalah pakde Tejo.


"kalian ingin memiliki anak dari cara Pujon, tapi kalian tau jika syarat untuk ilmu itu begitu sulit, dan kalian tak akan kuat, apa masih mau melanjutkan apa berhenti?" tanya pakde Tejo.


"kami akan melakukan apapun Mbah, dan tolong percayakan kepada kami, karena kami sudah begitu mendambakan seorang anak," kata keduanya.


"baiklah, aku akan mencarikan janin yang cocok dengan kandungan istrimu, dan lagi ilmu ini hanya bisa berhasil setelah kalian puasa weton lima kali, jadi lakukan setelah selesai datang dan aku akan melakukan tahap berikutnya," kata pakde Tejo yang di iyakan oleh kedua orang itu.


keduanya pun mulai berpuasa di hari weton, dan juga beberapa hari khusus yang di beritahu oleh pakde Tejo.


setelah lima kali keduanya datang, dan Bu mut harus mandi junub dulu, kemudian berbaring.


pakde Tejo pun Ngrogo Sukmo untuk mengambil janin yang sudah dia dapatkan sebelumnya.


itu adalah janin dari seorang gadis muda yang hamil di luar nikah. dan karena kasihan kepada gadis itu pakde Tejo pun mengiyakan untuk memindahkan janin itu.


pakde Tejo sudah membawa janin itu, saat melihat Nyai Nawang sudah menaruh janin lain ke kandungan Bu mut.


"aku titip anakku, tolong di jaga dan di besarkan dengan baik, dan aku akan terus melindunginya, dan aku minta janin ini, maaf aku merepotkan mu Tejo," kata nyai Nawang yang pergi dengan janin yang di bawa oleh pakde Tejo.


pria itu pun kembali dan menyentuh perut Bu mut, ternyata itu adalah janin nyai Nawang yang sudah di perebutkan oleh semua dukun. terutama dukun Suryo yang ingin membunuhnya.


pakde Tejo terpaksa menyimpan satu pusaka di dalam janin itu untuk melindungi bayi itu nantinya.


dan tak lama sebuah cahaya berpendar terang di ruangan itu, dan Bu mut sudah hamil.


janin itu akan jadi Putri kandung dari pak Suyatno dan Bu mut, karena keduanya yang akan menjaga bayi itu.


sedang dukun Suryo muda terus mengejar nyai Nawang, dan pakde Tejo berusaha menghalangi pria itu di bantu ustadz Hasan.


ketiganya terlibat dalam pertarungan yang begitu sengit, bahkan pakde Tejo terhempas kembali ke tubuhnya.


sedang dukun Suryo berhasil mengambil janin yang tak berdosa dan membunuhnya, karena dia tau jika hanya janin itu dan suaminya yang akan bisa membunuhnya kelak.


karena pasangan itu akan memiliki pusaka yang lengkap, terutama keris Ki Bharat Mukti.


dan selongsong keris itu ada pada seorang keturunan dari dukun terkenal dari luar Jawa yang juga saudara seperguruan dari dukun Suryo, dan dia juga belum bisa menemukan keturunan itu.

__ADS_1


Bu mut dan pak Suyatno begitu bahagia mendapatkan kehamilan, pasalnya ini yang mereka impikan.


pak Suyatno sering memperdengarkan suara lantunan ayat suci Al-Quran yang dia baca, bahkan mereka sering puasa Senin Kamis untuk mengucapkan syukur.


tapi dalam perjalanannya, kandung itu tak semulus yang di kira, karena Bu mut beberapa kali celaka dan juga jatuh.


tapi janin itu tetap kuat dan bahkan dokter pun sampai heran, karena hal itu.


akhirnya waktu persalinan datang, terjadi hujan badai yang begitu besar, semua pohon bambu kuning berderit seakan menyambut kedatangan bayi itu.


bu mut terus berteriak kesakitan, karena dukun bayi tak bisa membantu persalinannya itu.


dan tak di duga, pakde Tejo datang membawa semua khodam miliknya.


"biar kami yang menjaga dan membantu persalinan bayi ini, pak Suyatno tolong siapkan kain putih tiga gelondong."


pak Suyatno yang memang begitu ingin memeluk putrinya pun mengiyakan, dan membeli kain putih permintaan pakde Tejo.


kemudian pakde Tejo di bantu khodam miliknya membuat gubuk dari kain itu.


setelah itu, pak Suyatno mengendong Bu mut dan memindahkan di atas tikar daun pandan yang sudah di buat khusus karena terselip beberapa daun bidara dan kelor.


pakde Tejo bersila sedang para mahluk itu mulai berjaga, semua serangan datang, Nyai Nawang datang membantu persalinan dengan merasuki tubuh dukun bayi itu.


dan tak lama bayi lahir dengan bersamaan berhentinya badai hujan, dan pakde Tejo pun memberi hormat pada Nyai Nawang yang mengendong bayi itu keluar.


pakde Tejo sedikit terkejut melihat ada tanda lahir di bahu bayi perempuan itu.


"dia bukan wanita bahu Laweyan, itu tanda yang aku berikan, dan saat suaminya berhasil dan pria tepat, maka tanda itu akan hilang, jaga dia dan kembarannya juga akan menjaganya di dalam tubuhnya."


dukun beranak itu pingsan, pak Tejo memanggil pak Suyatno untuk mengadzani putrinya yang baru lahir itu.


pakde Tejo memindahkan istri pak Suyatno di bantu beberapa khodam wanita miliknya.


setelah kehidupan pak Suyatno dan Bu mut begitu bahagia, dengan keberadaan putri kecil mereka.


tapi putri mereka sering di ganggu oleh mahluk astral, dan pakde Tejo pun berusaha menutup mata batin Wulan kecil


tapi gadis itu tetap sensitif tentang keberadaan mahluk di sekitarnya, bahkan gadis itu pun sering di bawa untuk di sembunyikan.


akhirnya pakde Tejo memberikan pagar ghaib dan meminta saudara Wulan menjaga adiknya itu.


dan sekarang ini Wulan jarang kambuh setelah bertemu Raka, dan kehidupannya mulai membaik.


Rafa terdiam sejenak setelah mendengar semua cerita itu, sekarang dia mengerti kenapa Wulan bisa menarik golok peninggalan dari sang eyang buyut.


"Raka kamu ingat, jika pakde Tejo pernah bilang padamu, jika di tubuhmu ada sebuah sarung keris, dan itu sarung yang di berikan oleh kakek buyut kita, dan sepertinya takdir ku sudah datang," kata Rafa.


"tapi bagaimana aku bisa mengeluarkan keris itu tanpa melukai Wulan, dan kamu tau sendiri jika itu mustahil," kata Raka yang terlihat sedih.


"sudah ku katakan, pernikahan mu tak akan semudah itu di laksanakan, pak apa kebun bambu kuning masih ada di belakang rumah anda," tanya Rafa melihat pria itu.

__ADS_1


"tentu nak, kami menjaganya bahkan kebun itu sudah sangat lebat, dan juga untuk tikar yang dulu di pakai untuk melahirkan Wulan juga masih ada, karena ini perintah pakde Tejo untuk menyimpan benda itu," kata pak Suyatno.


"kalau begitu pernikahan ini akan terjadi saat bulan purnama bertempat dengan Dino renteng bulan ini, dan itu juga bertepatan Bu mut melahirkan putri kalian, Wulan dan Raka harus memenuhi tugas mereka bersama saat bulan di posisi yang sempurna," kata Rafa yang mengetahuinya semuanya.


jika dulu khodam pakde Tejo yang menjaga, Sekarang khodam muslim miliknya dan Raka.


dan juga akan di bantu oleh ustadz Arifin dan ustadz Hasan serta murid mereka untuk menjaga keduanya.


Raka pun menyiapkan diri, "kamu sudah bisa mengeluarkan sarung keris itu dari tubuhmu?" tanya Rafa melihat kembarannya itu.


"sudah, aku sudah bisa mengeluarkan benda itu, dan aku juga siap dengan semua yang kau ajarkan," jawab Raka.


"ingat Raka, puasa mu jangan sampai putus, ini demi dirimu dan juga calon istrimu," kata Rafa yang di angguki oleh Raka.


mereka pun menyiapkan semua keperluan, bahkan Rafa meminta tiga gelondong kain lagi untuk menjaga keduanya.


dan kain itu akan di satukan dengan kain yang dulu di pakai pakde Tejo, dan ini akan menjadi awal untuk perjalanan keduanya.


sedang di Surabaya, Windi dan Bu Diah mendatangi dukun yang sangat terkenal.


mereka sudah tak tahan lagi, terutama Windi yang menjadi bulan-bulanan di hina oleh orang-orang karena tampangnya yang kembali jadi jelek.


pria itu tertawa saat melihat sosok hitam yang mengikuti dan terus menjilat gadis itu.


"kalian ingin memasang susuk, dan ibu ingin memasangnya juga untuk suamimu agar tunduk padamu?" tebak pria itu.


"iya Mbah?" jawab Bu Diah.


"jangan panggil Mbah dong, saya masih muda loh," kata dukun Suryo tertawa.


pria itu nampak tak berubah sedikitpun, dia tetap awet muda meski sudah berusia lima puluh tahun.


"iya mas," jawab Bu Diah yang terpesona dengan pria di depannya.


"baiklah, kalian berdua ikut aku ke kamar," kata dukun Suryo.


Windi di suruh tidur di ranjang yang terbuat dari bambu beralaskan kain hitam dan bunga tujuh rupa.


dukun Suryo pun mengangguk pada mahluk hitam itu, dan mahluk itu sudah bersiap untuk menikmati tubuh gadis itu lagi.


sedang dukun Suryo juga melakukan hal serupa dengan Bu Diah, dan itu di katakan salah satu pengobatan untuk mempertajam ilmu yang akan di berikan oleh dukun Suryo.


sedang Windi merasa dia sedang berhubungan dengan Raka, dan dia juga sangat menikmati hal itu.


dukun Suryo benar- memanfaatkan kedua orang itu, tapi dia juga memberikan keinginan Keduanya dengan bantuan mahluk yang menyukai Windi.


sedang Nyai Nawang yang tau perbuatan dari mantan pengikutnya itu hanya tertawa.


"tunggu Suryo, sebentar lagi ajal mu akan datang bersama, putriku sudah menemukan pasangannya," kata nyai Nawang tertawa.


Rafa sedang menyiapkan semuanya di bantu oleh ustadz Arifin, awalnya pria itu bingung tapi karena sang Abi mengatakan untuk mengikuti Rafa.

__ADS_1


pria itu pun menurut dan sekarang Keduanya di bantu oleh murid lainnnya membuat gubuk dengan kain putih itu.


bahkan mereka melakukannya pada saat malam hari, dan juga di bawah pohon bambu kuning di belakang rumah pak Suyatno.


__ADS_2