Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
berhenti bertingkah


__ADS_3

setelah melakukan penyembuhan Windi, Raka dan Wulan sedang duduk dan bermain monopoli.


"ah mas curang ..." kata Wulan melihat Raka.


"tidak kok, ini sudah benar," elak Raka.


"aku ah ngambek aku, sudah main sendiri," kesal Wulan yang ingin pergi.


tapi Raka menariknya hingga jatuh kepangkuan Raka dengan sempurna, Raka pun langsung melingkarkan tangannya dan mengunci istrinya itu.


"lepas ih ... mas Raka," kata Wulan.


"kenapa sih, aku sedang ingin memelukmu," bisik Raka.


"lepas dulu, sudah mau ashar aku ingin mandi, gerah," kata wulan yang akhirnya bisa lepas dari Raka.


melihat suaminya yang sedih, Wulan pun tersenyum dan kemudian mengecup bibir Raka.


"jangan ngambek ya, ayo kita mandi terus shalat berjamaah," ajak Wulan.


"baiklah," jawab Raka tersenyum senang.


Wulan pun tertawa melihat tingkah suaminya itu, pasalnya pria itu seperti anak kecil.


saat akan mandi, ternyata Rafa baru keluar dari kamar mandi dan lupa tak mengenakan kaos dalaman.


Raka langsung menutup mata istrinya, "eh krempeng gak usah pamer ya, kenapa kamu sengaja banget seperti ini,"


"emang sengaja pamerin kenapa, kenapa kamu iri?" kesal Rafa pada saudara kembarnya itu.


"ih lepas mas, aku mau mandi ih ..." seru Wulan yang mencoba mengeser tangan Raka.


"bentar sayang, udah sana pergi, nanti aku beli kue gak tak beliin kamu," kesal Raka.


"idih pelit sekali anda," ejek Rafa yang pergi begitu saja


sedang Rafa kesal melihatnya, tapi dia memilih menunggu di depan kamar mandi saat Wulan mandi.


setelah itu Wulan juga melakukan hal yang sama, karena Raka tak mau di tinggal apalagi masih ada keluarga Jasmin.


"dek kamu masih di luar?" tanya Raka dari kamar mandi.


"iya mas, aku disini," jawab Wulan yang memilih duduk sedikit jauh.


Windi ke kamar mandi saat tau tadi Raka dan Wulan ke sana, tapi niatnya untuk membuat Raka menikahinya makin menggebu-ngebu.


Windi melihat Wulan sibuk dengan tasbih di tangannya, Windi pun ingin masuk ke kamar mandi.


tapi aksinya di tahan Wulan, "jangan berani melakukan itu, atau aku bisa saja melukai mu, pergi ..." geram Wulan.


"lihat kamu saja takutkan jika mas Raka masih menyukaiku," kata Windi percaya diri.


"ternyata kamu sudah stres parah, padahal kamu tau benar jika itu bukan ulah suamiku, tapi ulah mahluk ghaib yang menyukaimu," kata Wulan.


"dek aku selesai," kata Raka keluar dari kamar mandi dan kaget melihat Windi dan Wulan saling berhadapan.


Windi menghempaskan tangan Wulan, dan ingin memeluk Raka tapi Raka menghindar dan gadis itu tersungkur jatuh di lantai kamar mandi.


"dasar wanita gila, tak sadar diri, mana mungkin ada pria yang mau jika kelakuan mu begitu men-ji-jik-kan," kata Raka yang mengajak Wulan pergi


terdengar adzan ashar, Wulan dan Raka memutuskan untuk mengambil wudhu di mushola.


Rania yang juga ingin shalat di mushola, sudah berlari menghampiri Wulan yang ingin sholat.


sedang Nurul tak enak badan jadi memilih sholat di rumah karena tubuhnya begitu lemas.


Adri pulang lebih awal tadi setelah dapat telpon dari istrinya itu, pasalnya baru kali ini Nurul sakit.

__ADS_1


Adri membujuk istrinya itu ke dokter, sedang Rania di titipkan pada Wulan dan Raka.


setelah shalat, keduanya akan jalan-jalan,Mak nur sedang menemani keluarga Jasmin.


Rafa memilih memesan makanan lewat aplikasi online, pasalnya Raka mengajak istrinya dan Rania makan malam di luar.


Rafa sudah memesan semua jenis ayam dan ikan bakar dari restoran terdekat.


Rafa bahkan tak segan intuk memasak nasi di rice cooker, pak Handoko berada merepotkan menantunya itu.


tapi Mak nur juga tak bisa membantu karena harus membantu Jasmin menjaga Putranya.


sedang Jasmin pun berjalan perlahan ke dapur dan membantu menakar air, Rafa pun memeluk istrinya itu.


"dek kamu kalau jalan gitu kayak putri solo, anggun dan kalem," puji Rafa.


"loh, memang biasanya tidak?" tanya Jasmin melihat suaminya.


"kamu kalau biasanya suka banget lari, bahkan saat hamil besar, apalagi ada temennya Wulan, beh ... seperti sedang lomba jalan cepat," kata Rafa tertawa.


"mas ih .. suka banget ngeledek orang, udah itu jangan lupa di tekan tombolnya, terus bikin minum juga, oh ya tadi aku minta ambilin bunga Telang sudah?" tanya Jasmin.


"hah ...."


Rafa yang tak mengerti pun bingung, tapi Jasmin melihat ada bunga yang berada di nampan, ternyata wulan yang sudah mengambilkan.


Jasmin pun membuat minuman dingin dari bunga itu, kemudian Rafa membawanya keluar.


mereka pun duduk lesehan di bawah, tapi Jasmin tak bisa dan terpaksa duduk di kursi.


setelah empat puluh lima menit makanan datang dan bertepatan nadi juga matang.


mereka pun makan bersama, Rafa pun menyuapi istrinya dengan telaten.


Windi memiliki kecemburuan tersendiri pada kehidupan dari Jasmin yang begitu sempurna dengan memiliki Rafa dan sekarang anak yang begitu tampan.


sedang hidupnya hancur karena di sukai oleh mahluk ghaib, terlebih dia tergoda karena mengira mahluk itu Raka.


mereka juga makan malam sekalian, Rania begitu senang bahkan Rania seperti putri mereka sendiri.


tak sengaja mereka bertemu dengan Azizah dan suaminya, Raka tak ingin menyapanya dan memilih mengajak istrinya pergi.


"kita mau kemana mas?" tanya Wulan yang melihat suasana langit yang sudah mulai gelap.


"kita cari musholla atau masjid untuk shalat, batu kita beli oleh-oleh untuk orang rumah," jawab Raka.


"baiklah," jawab Wulan.


Rania begitu senang, bahkan ketiganya shalat berjamaah sendiri karena ketinggalan shalat berjamaah.


belum juga pulang, sebuah pesan beruntun masuk ke ponsel Raka. "beh ... nih orang-orang ngerampok atau gimana," gerutunya.


"ada apa mas?" tanya Wulan.


gadis itu tertawa, pasalnya itu adalah list titipan yang harus di beli oleh Raka.


"ya sudah ayo kita beli dulu, baru setelah itu kita pulang," ajak wulan.


"siap bos ku ..." jawab Raka pasrah.


mereka pun menuju ke toko oleh-oleh, wulsn sudah meminta semua barang yang ada di list.


Rania juga tak ketinggalan mengambil coklat cukup banyak, "untuk siapa ini," tanya Wulan


"untuk mbak,tapi besok buatkan puding ya," kata Rania memohon.


ternyata Raka juga ikut tingkah laku dari Rania yang begitu mengemaskan saat memohon. "Hem.... baiklah," jawab Wulan tertawa.

__ADS_1


bahkan belanjaan mereka sampai dua kotak sterofom pendingin, setelah memasukkan kedalam bagasi.


mereka pun memutuskan untuk pulang sebelum kemalaman. tapi tak lupa mereka mampir dulu ke rumah Rizal.


mereka memberikan pesanan pria itu, Rizal tak mengira benar-benar akan di belikan bandeng pesanan mereka.


bahkan ada onde-onde dan juga kue ketawa, Luna pun ingin mengantikan uang Raka dan Wulan.


tapi Wulan menolaknya karena baginya berbagi itu baik, apalagi Rizal juga saudara sendiri.


Wulan sedang mengendong putri kecil Rizal, sedang Adi masih berlatih pencak silat.


sedang Al sedang mengaji di mushola, tak lama keduanya pun pulang.


"assalamualaikum om ..." sapa Adi dan Al.


"waalaikum salam, wah makin keker ya wak badan mu, makin Maco ini," puji Raka.


"tapi belum bisa mengalahkan om Raka," Jawab Adi.


"yakinlah jika kamu hidup sehat, pasti kamu bisa lebih dari aku, oh ya pakde mangga apel nya masih ada?" tanya Raka tiba-tiba.


"eh tumben, masih banyak kok, kamu mau?" tawar Rizal.


"boleh dong, habis tiba-tiba mau makan mangga apel kayaknya enak nih," kata Raka.


jadilah Rizal dan Raka sibuk dengan mencari mangga apel itu, dan Adi membantu dengn senter.


sedang si kecil membawa kresek dan menjadi pengumpul buah, luna dan Wulan hanya mengawasi saja.


begitupun dengan Rania yang sibuk mengajak bayi kecil itu bermain, setelah dapat satu kresek penuh.


Raka pun mengajak Wulan dan Rania pulang, karena Raka sudah tak sabar untuk makan buah mangga itu.


dan menurut Raka juga keluarga Jasmin sudah pulang, tapi saat mobil datang mereka kaget karena keluarga itu belum pergi.


"dek kenapa aku jadi malas pulang ya, dan kenapa mereka begitu betah disini," kesal Raka.


"mas gak boleh begitu, bagaimana pun itu juga keluarga kita," kata Wulan menginggatkan suaminya.


"aku tau tapi putri mereka yang bikin kesal, lihat saja dia terus mencoba mengangguku dan tak tau malu sedikitpun," kata Raka kesal bukan main.


"sudah mas, ayo turun dulu, jika mereka menginap kita bisa ke rumah orang tuaku dengan alasan mengantar oleh-oleh," jawab Wulan memberi ide.


"baiklah aku setuju, ayo kita turun," jawab Raka menurut.


Raka mengendong Rania yang sudah mengantuk, tapi ternyata Adri sudah menunggunya.


kini Wulan membawa barang-barang itu masuk bersama Raka, tak lupa Rafa membantu kedua saudaranya.


Raka langsung masuk kedalam dan menata ikan yang tadi dibeli kedalam freezer.


"mereka menginap atau pulang?" tanya Raka datar.


"mereka menginap," jawab Rafa.


Wulan langsung menyiapkan ikan dan juga beberapa oleh-oleh untuk di bawa ke rumah orang tuanya.


"kalau begitu, Ki ke rumah orang tua ku saja ya mas, takut mereka tak nyaman," pamit Wulan.


Wulan juga menghampiri Mak nur, Rafa tau yang di maksud Wulan adalah dirinya dan Raka.


tapi Rafa juga tak bisa mengusir keluarga istrinya, apalagi mereka bilang ingin dekat dengan cucu mereka.


Mak nur paham dan mengizinkan, sedang Jasmin tau jika ini adalah cara mereka menghindar karena Windi yang tak tau malu.


"ayah, lain kali jika mau menjengguk putraku, jangan ajak Windi, bukan aku tak suka tapi tingkahnya membuat ku malu dengan adik iparku, karena dia terus mendekati kak Raka, meski dia dan semua orang sudah tau kebenarannya, tapi kalian seperti membiarkan begitu saja," kata Jasmin

__ADS_1


"kau kurang ajar ya, bagaimana pun dia itu adik mu, kamu begitu menghormati keluarga suamimu, sekarang kamu membuang keluargamu," hina Bu Diah.


"aku tidak melupakan atau membuang kalian, tapi kalian berdua yang terus bertingkah," marah Jasmin yang tak bisa menahannya lagi.


__ADS_2