
Saat tubuh Hongli sudah tidak terlihat, Sherli beranjak masuk kedalam rumah. Pandangannya tertuju pada kotak yang ia bawa.
Kali ini ia menyimpan buah strawberry tersebut didalam kamarnya. ia takut jika ayah, ibu, dan kakaknya makan nanti, akan turut menanggung dampak saat emosi Hongli kembali memuncak.
Sherli segera meletakkan kotak tersebut di dalam laci nakas agar tidak ditemukan oleh penghuni rumah.
Saat hendak keluar dari kamarnya, Sherli teringat pada ponselnya yang Hongli tangkis tadi. Ia segera memungut ponsel tersebut di depan lemari baju.
Tangannya sibuk membuka ponsel tersebut untuk memeriksa.
"Tujuh panggilan tak terjawab dari Kak Felix" gumamnya.
Sherli merasa bimbang, ia ingin menghubungi kembali, tetapi masih terselip perasaan kesal pada laki-laki itu. Namun, jika ia tidak menghubungi kembali, ia takut Felix tiba-tiba mendatangi rumahnya.
Sherli memutuskan untuk meletakkan ponselnya kembali diatas nakas. Ia ingin Felix sendiri yang menghubunginya kembali. Kakinya beranjak meninggalkan kamar untuk menemui ibunya.
*
Bibi Keti menghampiri majikannya di taman belakang rumah. Ketika itu pak Dave dan bu Marta sedang bersantai minum teh.
"Maaf Tuan, Nyonya. Tuan Felix barusan pulang," ucap Bibi Keti.
Mereka sontak menoleh kepadanya. "Putraku pulang? Dimana dia sekarang?" tanya bu Marta.
"Tuan sedang dikamarnya, Nyonya" bu Marta beranjak dari duduknya, ia segera menuju ke kamar Felix.
Sedangkan pak Dave tak bergeming dari tempatnya. Ia mengatakan akan menemui Felix nanti, sehingga menyuruh bu Marta untuk menemuinya terlebih dahulu.
Bu Marta mendorong pintu kamar putranya, ia tersenyum ketika melihat putranya sedang tertidur di atas ranjangnya.
Wanita paruh baya tersebut sangat merindukan putranya setelah beberapa lama tidak bertemu. Kakinya ia langkahkan mendekat menuju ranjang Felix.
Ia duduk ditepi tempat tidur lalu menggerakkan tangannya mengelus kening Felix.
Merasakan ada yang menyentuh keningnya, Felix membuka matanya.
"Mama?" ia segera bangkit dari tempatnya.
"Kau pulang, Sayang? Mama sangat merindukanmu" nu Marta segera memeluk putranya sebentar untuk melepas rindu, ia kembali memandang Felix.
"Maaf, Ma! Aku baru mengunjungi Mama," ucapnya menyesal.
"Tidak apa-apa, kamu memang harus jadi mandiri, Nak. Apa ada yang mengganggu fikiranmu? Kenapa wajahmu terlihat sedih?" tanya Bu Marta.
Felix menghela nafas, ia ragu untuk menceritakan masalah pribadinya pada wanita yang telah melahirkannya itu. Namun, kepada siapa lagi jika bukan mamanya ia dapat bercerita.
"Ma, aku sedang ada masalah dengan kekasihku," ucapnya sedih.
Bu Marta tertawa kecil mendengarkan putranya.
"Sejak kapan anak manja sepertimu punya kekasih?" ejeknya.
"Ma!" kesal Felix.
Bu Marta menghentikan tawanya. "Baiklah-baiklah, coba ceritakan masalahmu!"
Felix menceritakan masalah yang ia hadapi saat ini, semua ia ceritakan secara mendetail hingga saat Sherli tidak mengangkat teleponnya. Bu Marta fokus mendengarkan Felix.
__ADS_1
"Bagaimana, Ma?" tanya Felix.
Bu Marta menyentuh tangan Felix.
"Nak, sepertinya memang keluarga kita ditakdirkan untuk bertemu dengan mahluk lain, bahkan dulu mama juga mengalami seperti yang dihadapi kekasihmu saat ini, namun mungkin Mama tidak separah kekasihmu. Dulu hanya papamu yang memberikan dukungan kepada Mama, karena orang terdekat Mama tidak mempercayai Mama. Kau juga Harus mendukung kekasihmu, tentu saja dia sangat marah kau mengatakan dia telah menggoda mahluk itu. Bagaimanapun juga dia seorang wanita, ia juga tidak pernah menginginkan hal ini terjadi" ucap bu Marta.
"Jika kau benar-benar mencintainya, dukunglah dia agar terlepas dari masalah ini dan ingat jangan pernah lagi menghina dirinya, kendalikan amarahmu! Terlebih dia masih sangat muda, Nak" imbuhnya.
Felix menggangguk pelan.
"Iya, Ma! Aku sangat menyesali perkataanku," ucapnya sedih.
"Ya sudah, nanti coba hubungi dia lagi. Setelah ini turunlah untuk makan malam!" ucap bu Marta.
"Iya, Ma." Bu marta segera bangkit meninggalkan kamar Felix.
***
Sherli memijat kaki ibu Ruri, meskipun dadanya telah membaik. Terlihat sekali wajah ibu Ruri sangat letih.
Sherli sangat khawatir jika kesehatan ibunya kembali memburuk, terlebih ia tidak selalu berada disampingnya.
"Bu, jangan bangkit dulu ya. Nanti kita beli makanan saja dari luar, biar aku menghubungi ayah," ucap Sherli.
Ibu Ruri sejujurnya enggan menyetujui perkataan Sherli, ia tidak ingin keluarganya memakan makanan sembarangan dari luar. Namun, tubuhnya benar-benar terasa sangat lelah. Ia pun menyetujui ucapan Sherli.
Jam di dinding telah menunjukkan pukul enam sore.
"Bu aku kembali kekamar dulu ya, akan ku hubungi ayah," ucap Sherli.
Ia segera mengambil ponsel diatas nakas, jarinya sibuk mencari kontak sang ayah. Ketika telah menemukannya, Sherli segera menghubungkan panggilan.
Tut tut!
"Halo, ada apa, Nak?" ucap Ayah Andre.
"Yah ibu sakit, jadi tidak biasa memasak untuk makan malam. Nanti bawakan makanan ya, Yah!" ucap Sherli.
"Iya, Nak! Tadi ibu telah mengirimkan Ayah pesan. Tolong jaga ibumu ya!" jawab Ayah Andre.
"Baik, Yah!"
Mereka mengakhiri telepon, Sherli kembali beranjak kekamar ibunya.
*
Jam telah menunjukan pukul tujuh, Sherli segera menyiapkan makanan yang telah ayah Andre bawa. Keluarga Sherli segera berkumpul di meja makan.
Setelah usai, Sherli segera membersihkan peralatan makan yang telah mereka dipakai.
Ia meletakkan piring dan sendok yang telah dicuci di tempatnya. Setelahnya Sherli menuju kekamar ibunya, untuk melihat kondisi sang Ibu. Karena dirasa sudah lebih baik ia kembali kekamarnya.
Sherli meraih ponselnya, namun Felix tak kunjung menghubunginya.
"Bahkan ia telah menyerah" batinnya. Sherli kembali meletakkan ponselnya dan segera belajar.
Satu jam telah berlalu, Sherli telah usai dengan bukunya. Ia segera meletakkan buku tersebut, dan membuka laci nakas untuk mengambil headseat.
__ADS_1
Namun, pandangannya tertuju pada kotak strawberry dari Hongli. Ia mengambil kotak tersebut.
"Bagaimana caraku izin hari sabtu nanti?" gumam Sherli.
Meskipun ia akan merubah sikap seperti awal mereka bertemu, namun Sherli masih terselip perasaan tidak enak, mengingat segala tindakan Hongli, yang masih saja agak memaksa.
"Apa aku izin kerumah Marsa saja ya?" gumamnya.
Tingtingting!
Sherli menoleh karena dikejutkan oleh bunyi ponselnya. Ia segera meraih ponsel di sebelah tangannya.
"Kak Felix?" Ia segera menekan tombol Hijau.
"Halo?" ucap Sherli.
"Halo, Sayang? Kenapa tadi tidak mengangkat teleponku, kamu masih marah ya?" tanya Felix.
"Enggak kok," jawabnya cuek.
"Sayang maafkan aku ya, tolong jangan marah lagi! Iya aku salah seharusnya aku mendukungmu bukan menyalahkanmu," ucap Felix menyesal.
Sherli mengela nafas, ucapan Felix mengingatkan akan kejadian yang mereka lalui, sehingga menjadikan hati Sherli kembali sakit, tak terasa airmatanya kembali menetes.
Namun, setelah mendengar ucapan Felix barusan, Sherli juga merasa lega dan telah memaafkan Felix.
"Baiklah!" ucapnya berat menahan airmata.
Felix menyadari Sherli sedang menangis, meskipun gadia itu telah berusaha menyembunyikannya.
"Sayang kamu menangis?" ucap Felix cemas.
"Tidak!" jawab Sherli.
"Sayang aku tau kamu menangis, tolong maafkan, aku! Kamu jadi sakit karena aku," ucap Felix sedih.
"Iya, Kak! Tidak apa-apa, aku sudah merasa baikan. Jangan khawatir!" ucapnya menenangkan.
"Baiklah, sekarang istirahatlah besok setelah berkerja aku akan menemuimu disekolah pukul 9," ucap Felix.
"Iya, Kak!"
mereka mengakhiri pembicaraan. Sherli menghela nafas untuk menetralisir perasaannya. Ia segera meletakkan ponselnya. Dan kembali pada kotak dari Hongli.
Ia membuka kotak tersebut lalu mengambil salah satu dan segera mengarahkan buah tersebut kemulutnya.
"Buah ini semakin manis saja" batinnya dalam hati.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
Terimakasih yang telah membaca :).
__ADS_1