
acara ruqyah sudah berjalan dua sesi, saat ini keluarga Rafa dan Raka juga datang untuk ikut melakukan ruqyah masal.
sedang Rafa menunggu sosok yang begitu besar yang akan membantunya, kedatangan keluarga pak Suyatno di sambut oleh Rafa.
"assalamualaikum pak, ibu dan Nyai ..." sapa Rafa dengan begitu sopan.
"waalaikum salam, wes lanjutno, aku gawasi tekan kene..." kata Wulan yang sudah di rasuki sosok Danyang desa sebelah.
Raka bisa merasa jika itu bukan gadis yang dia cintai, Raka pun bersama para ustadz fokus mulai membaca ayat suci Al-Quran.
Wulan yang awalnya duduk bersila, tiba-tiba langsung berdiri dan menerobos para pasien yang sedang di ruqyah, dan langsung menarik ke seorang pasien yang mengunakan masker.
"kamu kira, kamu bisa bersembunyi dariku, jangan harap, kamu harus mati hari ini!" teriaknya langsung memisahkan leher dan tubuh wanita itu.
semua orang kaget melihat darah yang berceceran, bahkan mahluk yang sedang di kejar berada dan ingin membuat gaduh acara inti.
"siapa kamu berani melawanku, aku adalah ratu ilmu hitam," kata sosok Delia dengan wujud mengerikan.
"semuanya menyingkir!" teriak Raka mengamankan area.
sebuah keris di tarik keluar dari lengan Wulan, keris itu di tancapkan di tubuh Delia yang tak berpenghuni.
tubuh itu kemudian terbakar hingga hangus, kemudian keris itu kembali menjadi ular hitam dan merayap menaiki kaki Wulan dan hilang di balik rok.
ustadz Yusuf dan Rafa sudah melawan mereka, bahkan Ki item dan Ki Adhiyaksa datang memberi hormat pada Wulan.
"bereskan mahluk itu, kalian sudah terlalu lama diam," perintahnya.
"baik Nyai ..." jawab kedua mahluk halus penjaga desa.
Sesnag dan semua bala bantuan datang, Wulan kembali berjalan menghampiri para pasien.
gadis itu tersenyum sambil memainkan sebuah selendang ghaib di tangannya, "keluar atau aku yang akan menyeret mu."
tak ada yang berani keluar, dan Wulan langsung berlari menarik seorang gadis yang ternyata dia adalah Susi.
"MUSNO!!!" teriak Wulan menghanguskan ilmu milik Susi begitu saja.
semua pasukan ghaib sudah hancur, kini giliran Delia yang masih belum bisa di kalahkan.
Wulan mengambil daun Bidara dan kelor dan mengunyahnya, kemudian menarik golok milik Rafa dari tubuh pria itu.
"kamu punya pusaka warisan hebat, kenapa tidak di gunakan, MUSNO BINOSO!!!"
__ADS_1
golok itu terbang dan langsung membakar kepala Delia, golok itu kembali ke tangan Wulan.
"kamu sudah membebaskan yang seharusnya tidak di bebaskan, beruntung dia belum sempurna, jika tidak dunia ini bisa hancur, kamu di butakan oleh cinta, dia bukan mahluk dari dunia ini, ini peringatan dari ku, jangan pernah melakukan hal bodoh lagi, dan awak mu le, aku titip putuku Wulan," kata Nyai Nawang.
semua mahluk ghaib bersujud di depan mahluk itu, bahkan Rafa dan semua tak sangka jika yang menjaga Wulan adalah Danyang terkuat.
Raka menghampiri Wulan, "saya mencintainya," lirih Raka.
"eyang," panggil arwah Wulan yang sudah bertukar kembali.
tubuhnya hampir jatuh, Raka menangkapnya, "terima kasih ...." lirih gadis itu.
tapi tak terduga dari kerumunan pasien, seseorang berlari menuju ke arah Raka.
Wulan mendorong Raka ke samping, dan dia yang menerima tusukan pisau di perutnya.
"mati ..." kata pria itu.
semua orang histeris melihat hal itu, "Wulan!" teriak Raka melihat gadis yang di cintainya.
Rafa dan Adri menarik pria itu dan ternyata pak Panji, Raka langsung menangkap tubuh Wulan yang terjatuh.
"tolong kami!" teriak Raka dengan air mata yang jatuh.
"tidak, jangan tutup matamu, lihat aku ku mohon, jangan tutup matamu, aku mohon ...." kata Raka.
kini dia mengendong Wulan, dan bergegas membawanya dengan mobil ambulan desa.
pak Panji pun sudah menjadi bulan-bulanan warga, Rafa dan Adri diam tak membela.
sedang ustadz Arifin dan murid-muridnya yang mengamankan pria itu dan membawanya ke kantor polisi.
Raka terus memeluk wulan selama perjalanan, saat sampai gadis itu di larikan ke UGD.
Raka terduduk lemas, pak Suyatno menepuk bahu Raka, "berdoa le, Wulan anak seng kuat kok," kata pak Suyatno sambil mengusap air matanya, bahkan suara pria itu bergetar menahan tangisnya.
keluarga pun datang, Adri dan Rafa pun menguatkan Raka dan pak Suyatno.
sedang di rumah para wanita menenangkan ibu mut yang juga terus menangis.
bahkan Mak Nur terus menguatkan wanita itu, setelah tiga jam, dokter keluar dari ruang operasi.
"keluarga pasien," panggil dokter.
__ADS_1
"kami dokter," jawab semua orang.
"Alhamdulillah, kondisi pasien sudah baik dan lukanya tak terlalu dalam, dan beruntung tak ada organ vital yang terluka, sekarang pasien mungkin masih belum sadar karena obat bius, tapi sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat," kata dokter.
semua orang pun bersyukur atas kondisi Wulan, Raka bahkan sampai sujud syukur mendengar keadaan Wulan.
Rafa langsung memeluk tubuh saudaranya itu, "pinanglah dia, dan jadikan dia istrimu, jika kamu begitu mencintainya," kata Rafa.
"terima kasih," kata Raka yang tak bisa berhenti menangis. bahkan pak Suyatno dan Adri juga saling berpelukan sebagai tanda persetujuan dan restu.
Raka pun mencium tangan pak Suyatno dan Keduanya berpelukan dengan erat.
"terima kasih sudah mau menerima putuku ya nak, padahal dia penuh dengan kekurangan," kata pak Suyatno.
"saya yang seharusnya berterima kasih pak, karena telah mengizinkan saya meminang putri anda," kata Raka.
Bu mut dan Mak nur datang dengan di antar mang no, tak menerima baju ganti dari Mak nur.
mereka bahkan menunggu Wulan sadar, tak lama gadis itu melihat semua orang.
"Alhamdulillah kami sudah sadar," kata Bu mut melihat putrinya.
"ibu, bapak ...." lirih Wulan.
Raka kembali menangis di depan ruangan rawat hadis itu, dia sangat bersyukur karena kondisi Wulan.
Rafa pun menepuk bahu Raka, "masuk, mungkin dia sedang mencari mu," kata Rafa.
semua orang keluar karena dokter sedang memeriksa kondisi gadis itu, kemudian saat dokter selesai.
Raka masuk dengan izin pak Suyatno, Wulan pun melihat pria yang sudah mencuri hatinya.
"assalamualaikum dek, bagaimana keadaan mu?" tanya Raka yang mengusap air matanya.
"waalaikum salam, nyeri mas, dan sakit, tapi beruntung karena aku gemuk jadi pisaunya tak membunuhku," kata Wulan mencoba tersenyum.
"jangan bicara seperti itu, aku ingin kamu hidup lama, karena aku ingin kamu bersama ku menjalani hidup sampai maut memisahkan kita," kata Raka.
"apa mas yakin, aku gadis buruk mas, bahkan pria akan mati saat jadi suamiku," kata Wulan sedih.
"tidak dek, hidup mati seseorang rahasia Allah, dan mas yakin akan takdir Allah," jawab Raka.
Wulan mengangguk lemah, Wulan mengambil tangan Raka dan mencium tangan pria itu.
__ADS_1
sedang Raka merasa begitu bahagia ternyata, cintanya terbalas, meski dia harus menunggu setidaknya satu tahun lagi.