
Mentari pagi perlahan datang. Sinarnya menembus setiap plosok bumi. Cahaya hangatnya menyelusup melewati jendela kamar apartemen Felix.
Menjadikan pria itu mengerjapkan matanya akan rasa hangat yang membakar tubuhnya.
Felix terdiam dalam baringnya, ia berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih berlarian.
Seketika matanya melirik kearah kiri yang terdapat seorang gadis masih terlelap.
Felix mengeryit dan berusaha mengingat kembali apa yang terjadi tempo hari lalu.
Ujung bibirnya segera tertarik keatas membentuk senyuman, saat ingatannya telah kembali.
Felix segera menopang tubuh menyerong kearah gadis disebelahnya dengan lengan kekarnya.
Tangan satunya yang menganggur segera ia angkat untuk mengelus lembut kepala gadis itu.
"Istriku yang manis dan juga kecil."
Lelaki itu sibuk memindahkan anak rambut yang terurai menutupi wajah Sherli, agar ia dapat melihat dengan leluasa wajahnya.
Merasa tidak tahan, Felix segera bangkit melayangkan tubuh diatas tubuh istrinya yang masih terlelap.
"Sayang bangun!"
Felix segera menghujani wajah dan kepala Sherli dengan ciuman lembut.
Merasa ada yang mengganggu tidurnya. Sherli mengerutkan keningnya, dan mengerjap membuka matanya.
"Aku masih mengantuk, Kak!" ucapnya kembali menutup mata.
"Ayo bangun, Sayang! Ini hari pertama kita menikah. Apa kau tidak ingin melakukan tugasmu sebagai istriku?" Felix mendudukkan tubuh Sherli yang masih memejamkan matanya.
Tangan pria itu segera mendekap erat tubuh Sherli, seakan takut ia pergi jika pelukan itu terlepas.
"Kak! Aku kesulitan bernafas!" Sherli mencebikan bibirnya. Ia berusaha mendorong tubuh Felix dengan lembut.
Yah! Bukan Felix jika keinginannya tidak terwujud. Laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya, memberikan kehangatan pagi pada Sherli.
"Baiklah! Sebentar saja ya!"
Sherli membiarkan Felix memeluknya. Ia segera mengangkat tangannya, untuk membalas pelukan lembut lelaki itu.
Setelah merasa perasaan didadanya lega. Felix melepaskan pelukannya.
Lelaki itu tersenyum lembut pada Sherli. "Ayo kita berbelanja! Ada yang ingin aku beli."
"Mau beli apa memangnya?" tanya Sherli.
"Kamu akan tau nanti malam!"
Felix tersenyum sinis pada Sherli. Membuat gadis itu mengerutkan keningnya tidak paham.
"Kenapa lama sekali harus menunggu malam? Nanti setelah membeli barangnya bisa Kakak tunjukan kan kepadaku?" ucapnya herah.
Felix hanya membalas Sherli dengan senyuman. Ia segera turun dari kaki istrinya, yang sedari tadi diduduki namun tak menyakiti gadis tersebut.
"Aku akan mandi duluan!" Felix melangkahkan kakinya menuju kamar mandi bilik itu.
Tatapan Sherli menajam pada punggung Felix yang berlalu. Ia merasa kesal karena Felix tidak merespon ucapannya yang terakhir, menjadikan Sherli begitu penasaran.
"Apa sih sebenarnya yang ingin kak Felix beli?" gumam Sherli sedikit memiringkan kepalanya.
"Tau ah pusing!" ucapnya frustasi.
Sherli bangkit turun dari ranjangnya. Ia segera membersihkan tempat tidur, yang telah mereka pakai.
__ADS_1
Sesaat telah selesai merapikan tempat tidur, Sherli dibuatnya terkejut saat Felix tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Sedang apa?" tanya Felix tanpa dosa.
Sherli segera melepaskan diri dan berbalik menghadap Felix.
"Kakak! Aku ka-" ucapnya yang terdengar kesal tercekat saat melihat tubuh Felix.
Yah! Lelaki itu belum mengenakan pakainan. Hanya handuk yang ia lilitkan pada pinggangnya.
Sehingga dada kokohnya yang dipenuhi urat dengan hiasan lelehan air dari kamar mandi terlihat jelas oleh mata polos Sherli saat ini.
"Kakak! Kenapa belum memakai baju?" Sherli mundur beberapa langkah, karena debaran didadanya.
"Kenapa memengnya? Kita kan sudah halal. Jadi tidak ada larangan aku seperti ini dihadapanmu," ucapnya melangkah mendekati Sherli.
"Tapi, Kak!" Sherli kembali melangkah mundur saat Felix semakin dekat dengan dirinya.
"Aku malu!" teriaknya menangkupkan kedua tangan diwajah lalu segera berlari masuk kedalam kamar mandi, membuat Felix terkekeh lucu.
"Dia sangat menggemaskan. Padahal baru dadaku yang tampak."
Felix tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
*
Sherli mengunci rapat pintu kamar mandi. Tubuhnya ia sandarkan pada pintu.
Tanganya terulur mengelus dadanya yang sedang mengembang kempis karena gugup.
"Kak Felix benar-benar keterlaluan. Jika setiap hari ia begini, aku akan mati muda karena jantungan." Gumamnya masih mengatur nafas.
*
Felix dan Sherli telah tiba di supermarket kota. Mereka segera masuk kedalam untuk membeli apa yang dibutuhkan.
Sherli mengangguk pelan sebagai jawaban. Tangannya yang menganggur tiba-tiba digenggam oleh Felix, menjadikan Sherli malu dan merasa panas dipipinya.
"Kita ke bagian sayuran dulu lalu ke bagian daging! Aku ingin kau sehat dan lebih berisi!"
Felix menarik tangan Sherli dan gadis itu menurut.
Setelah mengambil beberapa jenis sayuran dan daging. Mereka berjalan menuju area buah.
"Kamu suka buah apa?" tanya Felix.
"Apapun, Kak! Aku suka semua jenis buah."
Felix tersenyum mendengarnya. Tangannya terangkat mengelus kepala Sherli.
"Anak pintar!"
"Kak! Ini ditempat umum jangan seperti ini!" ucapnya pelan sambil melirik kanan kiri.
Tangannya segera terangakat menurunkan pelan tangan Felix. Membuat Felix terkekeh pelan akan reaksi istrinya yang tengah malu.
Felix segera mengambil beberapa beberapa jenis buah dan memasukkan didalam troli dorong.
"Banyak sekali, Kak! Kita hanya berdua loh!" ucap Sherli mengingatkan.
"Tak apa! Aku ingin kamu sehat, Sayang!" Felix tersenyum kearah Sherli.
Sherli merasa terharu atas segala tindakan lembut Felix. Membuat gadis itu terdiam atas fikirannya sendiri.
"Kak Felix sangat baik dan perhatian kepadaku. Aku harap aku tidak pernah melukai hatinya. Semoga kak Hongli tidak kembali mengusik kehidupan baruku."
__ADS_1
"Ayo! Kita sudah selesai berbelanja."
Felix mendahului jalan. Lelaki itu dibuatnya bingung saat Sherli tidak berada disebelahnya. Kepalanya segera menoleh kebelakang.
Felix mengeryit ketika ia mendapati Sherli tak berpindah posisi dengan tatapan kosong. Ia kembali memutar jalannya menghampiri Sherli.
"Sayang! Kamu kenapa? Ada yang menggnanggu fikiranmu?" tanya Felix menyentuh pundak Sherli.
Fikiran Sherli terbuyar seketika. "Ah! Sudah selesai, Kak?"
"Kamu kenapa? Ada yang menganggu fikiranmu?" tanyanya lagi.
Sherli menggelengkan kepalanya. "Tidak kok, Kak!" jawab Sherli.
"Serius?"
Sherli tersenyum serta mengangguk pelan menjawab Felix.
"Baiklah! Ayo kita kekasir!" Felix segera menggandeng tangan Sherli pergi dari tempatnya.
Ketika mereka sampai dibagian makanan ringan, Sherli mendadak berhenti membuat Felix menoleh pada gadis itu.
"Ada apa?" tanya Felix.
"Kak? Aku mau snack!"
Rengek Sherli seraya mengguncangkan lengan Felix.
Felix tersenyum melihat tingkah Sherli yang seperti bocah sedang meminta permen pada ibunya.
"Baiklah! Ambilah apapun yang kamu mau!"
Sherli berbinar mendengar ucapan Felix. Ia segera berhambur mengambil berbagai jenis snack dirak tersebut.
"Aku lupa jika istriku memang masih bocah."
Felix merasa bahagia saat pandanganya tertuju kearah Sherli yang sedang sibuk mengambil snack.
Melihatnya kewalahan membawa berbagai snack. Felix segera menghampirinya.
"Letakan di troli!"
Sherli segera meletakkan snack yang ia bawa ditroli yang sedang didorong oleh Felix. Ia kembali sibuk memilih snack dirak tersebut.
Setelah cukup puas Sherli menghampiri Felix. Pandangannya tertuju pada troli yang terliat penuh akan snack, permen, dan coklat.
"Banyak sekali? Apa tidak apa-apa, Kak? " tanya Sherli cemas.
"Tidak apa-apa! Tapi jangan terlalu sering ya! Makanan ini tidak sehat. Aku tidak ingin kamu sakit nanti."
Ucap Felix memberi pengertian.
"Iya, Kak!"
Sherli tersenyum dan mengangguk cepat.
Mereka segera menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment ,dan vote.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya ❤.