Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Pertanyaan Yang Mengejutkan


__ADS_3

Hongli menggenggam tangan Sherli.


"Tidak apa-apa bagiku keadiranmu adalah segalanya untukku meskipun aku harus mengorbankan diriku sendiri," jawab Hongli dalam.


"Ehmmm!" dehem ibunda Calista pada kedua anak tersebut.


Sherli segera melepaskan tangannya dari Hongli.


"Maaf, Bibi! Semua ini salahku," sesal Sherli dengan menunduk.


"Nak! Semua ini bukan kesalahanmu, ini semua pilihan Hongli sendiri .... aku tau kau sangat tulus namun putraku ini yang bandel, jadi aku titip dirinya ya! Mungkin dia akan menurut padamu."


Sherli memandang ibunda Calista tidak mengerti. Ia pun hanya menganggukkan kepalanya dan berusaha mencerna kembali perkataan wanita tersebut, namun tidak menemukan jawaban.


Hongli yang mendengar perkataan sang ibundanya hanya senyum-senyum karena senang.


Mereka kemudian melanjutkan makannya.


"Ma! Habis ini aku mau main sama Sherli keliling sebentar sebelum dia kuantarkan pulang" ijin Hongli.


"Iya! Tapi jangan lama-lama!" tegas ibunda Calista.


Mereka telah selesai makan, Hongli membawa Sherli keluar dari kastilnya. Ia menuju rumah kayu dimana kuda Hongli berada.


"Kamu tunggu disini sebentar ya! Aku akan ambil kudaku dulu." Sherli menganggukkan kepala.


Sesekali ia teringat akan perkataan dimeja makan tadi, ia kembali merasa bersalah didalam lubuk hatinya.


"Kenapa aku selalu menyakiti orang-orang di sekitarku? Oh tuhan apakah engkau bisa mengampuniku?" batinnya memandang langit.


Hongli keluar membawa kuda biru yang dihadiahkan oleh pamannya. Ia melihat Sherli yang tengah memandang langit tanpa menyadari kehadirannya.


"Sher ada apa?" tanya Hongli mengguncang lengan Sherli. Seketika lamunan Sherli terbuyar dan menoleh kearah Hongli.


"Ah tidak, Kak! Hanya menikmati sejuknya alam. Eh! Itu kuda yang diberi oleh paman, Kakak?" tanya Sherli.


"Iya! Ini kudanya dia sangat hebat dan selalu menang dalam lomba pacu kuda," ucap Hongli membanggakannya.


Sherli turut senang melihat wajah bahagia Hongli, ia pun ikut merasakan kebahagiaan laki-laki tersebut.


"Baiklah ayo kita naik!" Hongli membantu Sherli menaiki kuda tersebut.


Tidak seperti awal dulu yang kesulitan mengendalikan keseimbangannya, saat Sherli baru menaiki kuda tersebut ia langsung anteng dan tidak kesulita menjaga kesaimbangannya.


Hongli segera naik dibelakngnya. Kuda segera dipacukan Hongli meninggalkan area kastil.


"Kak, kita mau kemana?" tanya Sherli menoleh pada Hongli.


"Kamu pengen kemana?" Sherli berfikir sejenak.


"Apa disini ada semacam tempat yang menjual pakaian, Kak?"


"Tentu saja, apa kamu mau kesana?" Sherli mengangguk cepat, ia sungguh penasaran dengan toko baju didunia tersebut.


"Baiklah kita kesana."


Tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah bangunan yang nampak aneh dipandang oleh Sherli.


Bangunan tersebut bergaya tua, sangat suram dan aneh. Namun, banyak yang berlalu lalang disana. Hongli segera turun dari kudanya, ia membantu Sherli untuk turun.

__ADS_1


Setelah benar-benar menginjak tanah, Sherli menggenggam tangan Hongli dengan erat.


"Kamu kenapa?" tanya Hongli heran.


"Aku takut, Kak! Tempat ini menyeramkan," ucap Sherli melirik kesana-kemari waspada.


"Jangan takut kondisi luarnya memang begini, kamu akan terkejut saat sudah didalam." Hongli langsung menarik tangan Sherli.


Sherli memejamkan matanya mengikuti arah Hongli menariknya. "Sher bukalah matamu kita sudah sampai didalam," ucap Hongli.


Sherli membuka matanya perlahan, ia takut Hongli akan membohonginya.


"Wahh ...." Sherli terkagum melihat suasana didalamnya, sangat terang benderang dengan style mall yang tidak pernar ia lihat sebelumnya, ukiran dan untaian mutiara menghiasi setiap sudut tempat tersebut.


Juga berbagai jenis pakaian dan manik-manik yang sangat menarik perhatian Sherli. Ia langsung menghampiri salah satu toko tersebut.


Hongli mengikuti arah Sherli berjalan, ia sangat senang tidak sia-sia membawa Sherli ketempat itu.


Sherli memegang sebuah dress lengan panjang yang amat gemerlap berwarna ungu muda, ia tertegun melihat baju tersebut.


"Aneh dibuat dari apa baju ini?" gumamnya pelan.


"Baju tersebut dibuat dari untaian mutiara dan berlian," jawab Hongli yang mendengan gumamnya Sherli.


Sherli menoleh pada Hongli ia merasa aneh, mana bisa sebuah baju yang begitu halus dan hangat dibuat dari mutiara dan berlian yang merupakan benda kasar, pikirnya.


"Benarkah, Kak?" tanya Sherli memastikan. Hongli mengangguk kearahnya.


"Berapa harganya?" tanya Sherli.


Hongli tersenyum mendengar ucapan Sherli.


"Tidak usah kamu fikirkan harganya, jika suka ambilah aku akan membelikannya untukmu!" ucapnya mengelus puncak kepala Sherli.


"Kenapa diletakkan kamu tidak suka?" Tanya Hongli heran. Sherli hanya menggelengkan kepalanya.


"Ayo kita berkeliling kembali!" Sherli menarik Hongli tanpa mengalihkan pandangannya pada baju tersebut.


Ia menghampiri sebuah toko sepatu yang tidak jauh dari sana, ia tertarik pada sepatu slop berwarna hitam dengan untaian batu giok yang menghiasinya.


Namun, ia kembali takut akan harganya, ia sungguh tidak enak pada Hongli jika memintanya untuk membelikannya.


Sherli pun berinisiatif mengajak Hongli pergi dari tempat itu, karena takut jiwa perempuannya akan muncul dan memborong semua barang disana.


"Ayo kita ke kebun saja, kak! Disini membosankan!" ucapnya.


Hongli menggeryit melihat Sherli.


"Loh katanya tadi mau beli baju? Kamu belum membeli apapun disini," ucap Hongli.


"Aku mau ke kebun saja!" Sherli segera menarik Hongli keluar dari tempat tersebut. Namun, ketika baru sampai diluar toko tersebut, Hongli berhenti sehingga Sherli otomatis ikut berhenti. Sherli menoleh pada Hongli yang berada dibelakangnya.


"Kenapa berhenti, Kak?"


"Kamu tunggu dikuda sebentar ya, aku melupakan sesuatu didalam" ucap Hongli meninggalkan Sherli ditempat.


Sherli memandang tidak mengerti kearahnya. Ia segera menuju dimana kuda tersebut di letakkan.


Setelah beberapa saat Hongli keluar dari toko tersebut.

__ADS_1


"Kakak dari mana?" tanya Sherli.


"Hanya kekamar mandi sebentar, ayo!" Hongli membantu Sherli menaiki kuda tersebut, lalu disusul dirinya naik dibalakangnya. Mereka akan mengunjungi kebun Hongli waktu lalu.


Setibanya dikebun Sherli dibuatnya terkesan pada tempat tersebut yan semakin rindang.


"Kak! Tempat ini semakin subur saja, bahkan tanamannya semua berbuah," ucapnya tanpa menoleh.


Hongli segera turun dari kudanya, ia menyenggol kaki Sherli yang masih terkagum diatas kuda tersebut.


"Sher ayo turunlah!" Sherli tersadar dari kagumnya, ia memegang tangan Hongli yang diulurkan untuk membantunya turun.


"Kamu mau buah apa?" tanya Hongli.


"Emmm" Sherli terdiam dan berfikir, ia begitu binggung karena hampir semua tanaman berbuah sangat lebat dan sebenarnya ia ingin semuanya.


"Kita kunjungi semua yuk, kak! Aku suka semuanya" ucapnya antusias.


"Baiklah!"


Hongli segera mendahului Sherli menghampiri kebun buah anggur di bagian utara. Ia memetik beberapa dan diberikan pada Sherli.


"Apa enak?" tanya Hongli.


"Wah .... manis sekali dan berdaging bahkan bijinya tidak ada" ucapnya menutup mata menikmati buah dimulutnya.


Hongli tersenyum melihat reaksi Sherli yang begitu menggemaskan dimatanya. Ia segera mengambil satu tangkai berisi segrombol buah anggur dan diletakkan di kotak.


"Baiklah ayo kita ketanaman sebelah!" Hongli menarik tangan Sherli menuju kebun buah peach yang sedang berbuah ranum-ranumnya. Ia mengambil beberapa buah yang paling besar dan matang.


"Kak sudah ya, kotaknya sudah hampir penuh" ucap Sherli melihat kotak ditangan Hongli.


"Baiklah, terakhir kita ambil buah setrawberry" mereka langsung menuju kebun setrawberry, Hongli mengambil buah tersebut hingga kotak tersebut penuh.


"Sudah Kak! Ini sangat banyak!" ucap Sherli.


"Baiklah mari kita pulang!" Hongli segera menutup kotak buah yang ia bawa dan memberikannya pada Sherli. Mereka segera menuju kuda dan pulang menuju kastil.


Setibanya di kastil Hongli meletakkan kudanya di kandang dan membawa Sherli masuk kedalam kastilnya.


Karena masih siang hari Hongli mengajak Sherli kekamarnya untuk beristirahat sejenak atau hanya sekdar bercerita.


Pintu kamar segera ia buka lebar, Sherli mendahului masuk kedalam untuk meletakkan kotak buah yang ia bawa di atas meja. Ia mendudukkan tubuh di tepi ranjang yang mana telah Hongli rubah kondisinya menjadi tempat tidur biasa.


Hongli menghampiri Sherli dan ikut duduk disampingnya.


"Kamu capek?" tanya Hongli. Sherli menganggukkan kepalanya.


"Sher boleh aku bertanya?" ucapnya ragu.


"Apa, Kak?" Sherli memandang Hongli.


"Kenapa kamu menerima pacarmu? Bukankah aku lebih mengenalmu terlebih dahulu?" Sherli terpaku mendengar ucapan Hongli seketika.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.


Terimakasih yang telah membaca :).


__ADS_2