
Mendengar keputusan Hongli yang mengakhiri hidupnya sendiri. Sherli mengalah dan akan terus bertemu dengannya. Namun, perasaannya dipenuhi dengan kegundahan. Dia mencoba memutar otak, bagaimana agar dirinya juga tidak merasa tertekan menghadapi situasi ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hampir dua jam lamanya, Sherli berbaring di atas tempat tidurnya. Tidak hanya merasakan perutnya yang sedikit kram karena datang bulan. Tetapi juga karena ingin menemukan solusi atas masalahnya.
"Baiklah, aku akan menegaskan sekali lagi kepada kak Hongli, aku akan memberikan batasan. Dan akan melupakan bahwa dia pernah mengutarakan perasaannya,"
Seketika dia mengingat Felix satu-satunya orang yang akan terkhianati.
"Tapi kak Felix?" gumam Sherli sedih.
"Aku akan mencari waktu yang tepat untuk jujur kepadanya."
"Baiklah itu keputusanku."
Sherli mengangguk-anggukkan kepalanya.
Hatinya sedikit lega, meskipun dia belum tau apakah keputusannya akan mengatasi permasalahannya secara keseluruhan. Tapi dia akan mencobanya.
Sherli melihat jam dinding yang berada tepat didepan posisinya tidur.
"Sudah pukul dua belas, aku harus segera tidur."
Sherli menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Diraihnya boneka beruang dari Felix, sebagai penenang akan rasa bersalahnya.
***
Pagi hari datang, sesosok insan yang masih terbaring diatas kasur. Matahari pagi yang menghangatkan masuk kedalam biliknya melewati jendela.
"Sudah pukul 6?"
Sherli terlonjak dan segera bangkit dari tempat tidurnya. Dia segera bersiap untuk berangkat kesekolah.
"Duh kenapa aku terlambat bangun? Ini pasti karena aku tidur terlalu larut. Dan juga, kenapa ibu tidak membangunkan aku," gerutu Sherli kesal sambil menyisir rambutnya.
Dengan tergesa-gesa Sherli segera meraih tasnya dan menuju meja makan.
Wajahnya yang ditekuk cemberut menghampiri Ibunya .
"Ibu, kenapa tidak membangunkan aku?"
"Ibu sudah membangunkan kamu tadi, katanya tidak enak badan? Jadi ibu putuskan kamu istirahat saja dirumah!" ucap Ibu Ruri.
"Aku bilang gitu ya? Tapi aku mau sekolah, Bu! Seminggu lagi ujian aku takut tertinggal." Jawab Sherli.
Ibu Ruri memegang dahi sang anak, untuk memastikan kondisinya sudah baik.
"Kamu mau masuk? badanmu saja masih demam! Sudah istirahat saja dirumah! Nanti ibu akan izinkan kamu."
"Tapi, Bu!" ucap Sherli kekeh.
"Sayang menurutlah, kamu tidak akan bisa berkonsentrasi nanti. Kamu mau sakit terus dan malah tidak masuk beberapa hari?" sambung sang Ayah. Sherli hanya menggelengkan kepalanya.
"Makanya menurutlah pada ucapan Ibu!"
"Iya Dek, menurutlah hanya hari ini saja!" sambung Afbi.
Sherli akhirnya menurut pada keputusan para orang tuanya. Dia juga tidak ingin semakin lama ketinggalan pelajaran.
***
__ADS_1
Sebelum sang Ibu pergi bekerja. Baliau memberikan obat kepada Sherli.
"Sayang minumlah obat ini, jangan pergi kemanapun tetaplah berada di atas tempat tidur! Ibu sudah menyiapkan semuanya!"
Sherli mengangguk faham di atas tempat tidurnya. Ibunya telah menyiapkan berbagai makanan di atas meja belajarnya, juga beberapa buah agar Sherli segera membaik.
Tubuh Sherli terasa semakin lemas karena demamnya semakin tinggi akibat dia memaksakan diri mandi tadi.
"Baik, Bu!" Sherli segera mengambil obat dari tangan ibunya, lalu meminumnya.
Setelah yakin sang anak meminum obatnya, ibu Ruri pamit pada Sherli untuk berangkat kerja.
"Istirahatlah, Nak! Maafkan ibu tidak bisa menemanimu, ibu akan usahakan pulang cepat. Ibu pamit kerja dulu."
Sherli tersenyum pada Ibunya.
"Iya, Bu! Aku akan baik-baik saja, ibu fokuslah bekerja!"
Ibu Ruri tersenyum, lalu beranjak meninggalkan Sherli untuk bekerja.
Karena obat yang dia minum Sherli merasa mengantuk. Dia pun tertidur.
***
Sherli terbangun dari tidurnya, dia merasakan tangan seseorang sedang mengusap rambutnya.
"Kak, Hongli?"
Sherli mencoba untuk bangun.
"Jangan bangun, Sher tidurlah lagi! aku tau kau sedang sakit. Maafkan aku karena mengganggu tidurmu,"
ucap Hongli menyesal, dia membantu Sherli untuk membaringkan tubuhnya kembali. Sherli melihat jam di dinding.
"Kakak kenapa kemari?" tanya Sherli.
"Aku merindukanmu, aku tadi berkeliling rumahmu, dan masuk setelah melihatmu."
"Kak, sebaiknya besok lagi jangan datang seperti ini, ketuklah dendelaku aku akan menghampirimu!"
Mendengar ucapan Sherli Hongli menjadi sedih. Dia merasa Sherli sedang menjauhi dirinya.
"Kenapa, biasanya juga seperti ini?" jawabnya heran.
Sherli tidak menjawab, dia menuntaskan ucapannya.
"Dan, Kak! Sebaiknya Kakak jangan terlalu sering menemuiku! Dan aku akan melupakan ucapan kakak kemaren," ucapnya lembut.
Hongli menjadi kesal mendengar sikap aneh Sherli. Dia berdiri dari tempatnya.
"Kenapa kau berubah Sher? Apa ini karena pacarmu? Bukankah aku lebih dulu mengenalmu? Kenapa kau jadi memberiku batas-batasan konyol seperti itu!"
ucapnya meninggi.
Sherli bangkit untuk duduk.
"Tidak, Kak! Bukan maksudku membatasi, dan ini bukan karena siapa-siapa" jawab Sherli menjelaskan.
"Lalu kenapa sikapmu berubah?"
tanya Hongli dengan nada semakin meninggi.
__ADS_1
Sherli menjadi serba salah, keputusan yang dia ambil sepertinya tidak berjalan dengan baik. Sherli mencoba menjelaskan dengan hati-hati agar tidak salah bicara lagi.
"Kak, aku menyuruh Kakak jangan sering menemuiku agar perasaan Kakak tidak semakin tersakiti. Aku ingin Kakak menghilangkan perasaan Kakak dulu. Agar kita bisa berteman tanpa adanya rasa canggung."
Hongli menghela nafas, dia membenarkan ucapan Sherli. Dia memang akan semakin menyukainya jika sering bertemu Sherli.
Tapi dia juga akan merasa sakit jika tidak bertemu dengannya. Hongli menghampiri Sherli, dia duduk di pinggiran tempat tidur Sherli.
"Tapi jangan cegah aku menemuimu! Aku merasa sesak Sher jika tidak bertemu denganmu. Aku berjanji akan menghapus perasaanku padamu,"
ucapnya sedih.
"Baiklah, Kak! Aku akan menemuimu jika kau ingin bertemu. Tapi lupakan perasaanmu perlahan!" jawab Sherli. Hongli mengangguk.
"Baiklah istirahatlah lagi, aku pulang dulu," Hongli lalu beranjak pergi.
***
Sherli kembali mengistirahatkan tubuhnya. Demamnya sudah turun tetapi tubuhnya masih sakit semua. Perasaannya juga kembali kacau karena menghadapi Hongli tadi.
"Ya tuhan bantulah aku "
"Aku ingin buah, " gumam Sherli.
Ia bangkit mengambil buah pear di meja yang telah disiapkan Ibunya.
Saat akan kembali ke kasur, dia melihat toples cookies diatas lemarinya.
"Kakak sudah mengembalikannya?"
Sherli mengambil toples tersebut. Setelah buah di tangannga habis, Sherli beralih pada cookies dari Felix.
"Wah enak sekali, berbeda seperti yang disupermarket."
"Ibu pulang jam berapa ya, ini sudah hampir pukul satu," gumamnya.
Setelah mencoba beberapa cookies. Dia meletakan toplesnya diatas nakas.
Sherli meraih ponselnya karena bosan. Terdapat beberapa notifikasi pesan dari Ibunya, dan juga Felix. Sherli segera membaca pesan tersebut.
"Nak ibu pulang pukul 3 karena jahitan sangat banyak, maafkan ibu ya! Jangan keluar rumah! Istirahatlah!" ~ Ibu Ruri.
Wajah Sherli menjadi sedih membaca pesan dari ibunya. Bahkan saat dia sakit tidak ada yang menemaninya. Tapi dia sadar dan tidak ingin bersikap egois.
Sherli kemudian membaca pesan dari Felix.
"Sayang sudah pulang sekolah?" ~ Felix.
"Aku tidak kesekolah, Kak tadi, aku kurang enak badan," ~ Sherli.
"Sakit apa? Kenapa tidak bilang? Sudah makan? Sudah minum obat? Dirumah dengan siapa? Istirahat yang banyak!" ~ Felix.
Sherli mengembangkan senyumnya, dia merasa sedikit lucu dengan sikap berlebihan Felix. Sherli segera membalas pesan dari Felix.
"Aku sudah baikan, Kak! Sudah minum obat juga makan, aku sendirian. Kakak jangan mencemaskan aku! Fokuslah bekerja!" ~ Sherli.
"Setengah jam lagi aku pulang kerja, aku akan mampir." ~ Felix.
"Aku sudah baik-baik saja, Kak! Tidak usah repot kemari. Pulanglah dan istirahat!" ~ Sherli.
Hampir lima belas menit tetapi Felix tak kunjung membalasnya.
__ADS_1
Ikuti terus ya teman-teman! Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views :).
Karena dukungan kalian sangat memberikan semangat author, terimakasih.