Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
satu selesai ganti yang lain.


__ADS_3

bapak Ridwan ingin menghajar tubuh Latif yang masih pingsan, tapi para pelayat memegangi pria itu yang hampir lepas kendali.


Raka pun menghampiri bapak Ridwan dan membisikkan alfatihah agar pria itu tenang.


"tenang pak, ingat anda sedang berduka jangan melakukan hal buruk, menyakiti mereka juga tak mengembalikan putra anda, jadi tolong doakan saja putra anda bapak, kita akan bahas dan mencari jalan keluar terbaik setelah pemakaman," bisik Raka.


bapak Ridwan pun tenang, dia juga menurut omongan Raka, dan melepaskan orang tua Latif, tak di duga keluarga pak Panji datang melayat.


Raka pun berusaha menghindar dari keluarga itu, terutama Delia yang terus melihatnya dan seakan mencari sesuatu.


Raka tau benar siapa yang di cari wanita itu, yang Raka anggap tak tau malu.


Delia menghampiri Adri yang berkumpul dengan para bapak-bapak yang memotong bambu.


"permisi om, boleh bertanya sesuatu?" panggil Delia sopan.


"iya Delia, ada apa?" jawab Adri.


"kok saya tak melihat kak Rafa ya, terus tadi saat lewat di depan rumah, aku hanya melihat istrinya yang sedang bermain bersama Rania," tanya Delia.


"oh Rafa ... dia sedang berobat ke luar negri bersama mertuanya, karena sedang hamil jadi Jasmin tak di ijinkan ikut," jawab Adri meyakinkan.


"yah ... kok pergi sih, padahal aku ingin ketemu," kata Delia di depan Adri dan semua orang.


"mbaknya sehat, mas Rafa itu punya istri loh, lagi hamil muda lagi, mending mas Raka loh masih sendiri," kata seorang bapak.


"eh ... situ kalau gak ngerti gak usah komen ya, lagi pula pria boleh menikah lebih dari dua kan, jadi gak usah usil ya," kesal Delia.


semua orang diam, pasalnya Delia yang terlihat lemah lembut ternyata memiliki banyak rahasia.


bahkan dia tak malu menanyakan suami orang di tempat umum, bahkan berani membentak orang.


Delia pun pergi menghampiri ibunya, sedang Adri menenangkan


bapak-bapak agar tak membahasnya lagi.


Mudin dan Raka saling lihat, pasalnya tubuh Ridwan sudah kaku dan akan lama agar bisa mengembalikan posturnya.


Raka pun mengambil air hangat yang sudah di campur dengan daun kelor dan menyiramkan perlahan.


sedang Mudin memperbaiki postur jenazah Ridwan, setelah hampir empat puluh menit, akhirnya berhasil.


mereka langsung memandikan seperti jenazah pada umunya, kemudian di kafani.


semua berjalan lancar, Raka pamit pulang untuk ganti baju karena tubuhnya basah.

__ADS_1


dia tak berani pulang ke rumah dan memilih ke rumah Rizal meminjam pakaian.


pemakaman berjalan lancar di awal, tapi sedikit tergesa-gesa karena hujan yang tiba-tiba turun.


setelah berdo'a semua pun bubar pulang ke rumah masing-masing, sedang Delia tanpa sepengetahuan siapapun mengambil segenggam tanah kuburan.


Raka dan Adri langsung mandi dan sarapan yang sudah tersedia, keduanya kelaparan karena memang tak ikut memakan berkat yang di bawa ke makam.


Raka sudah dapat panggilan dari pihak polisi dan akan berangkat bersama Adri.


"om Adri,aku boleh nitip sesuatu?" kata Jasmin malu.


"iya Jasmin, mau titip apa?" tanya Adri.


"itu aku sebenarnya harus membeli pakaian yang lebih besar, karena bajuku mulai tak muat," kata Jasmin.


"tulis saja ukuran yang kamu inginkan, biar nanti kami membelikannya untukmu, atau nanti sore saja berangkat bersama ku, agar kamu lebih nyaman memilihnya," usul Raka


"tapi aku tak enak terus merepotkan mas Raka," lirih Jasmin.


"kamu sudah menjadi tanggung jawab ku, aku mohon jangan membuatku makin merasa bersalah Jasmin," kata Raka sedih.


"ah ... maafkan aku mas, bukan itu maksudku,"jawab Jasmin.


"baiklah om," jawab Raka dan Jasmin.


setelah selesai sarapan, keduanya bergegas ke kantor polisi, untuk mengurus semuanya.


tangan Sunar di simpan di rumah sakit, tapi keduanya memilih menemui kedua supir yang kata polisi masih ketakutan.


Raka melihat arwah tangan Sunar terus merambat di tubuh keduanya, Raka pun tak mengira harus menghadapi semua ini.


"tolong, maafkan kami ... kami udah hampir gila di takuti tangan itu," tangis keduanya.


"pak polisi tolong minta air garam ya, dua gelas kalau boleh," kata Raka.


"tunggu sebentar mas," jawab polisi sopan.


pasalnya mereka juga tau siapa kedua pria itu, mereka bahkan kenal kepala polres.


puisi itu datang dengan dua gelas air sesuai permintaan dari Raka, Raka langsung mendoakan air itu.


setelah itu meminta dua orang itu meminumnya, dan arwah tangan itu menghilang dari tubuh keduanya.


"pak sebaiknya anda mengakui dengan jujur, agar tak di hantui lagi,"

__ADS_1


"iya mas, kami kapok gak ilok setelah menghadapi semua ini," kata supir itu.


Raka dan Adri pun menuju ke rumah sakit untuk mengurus semua biaya pemulangan potongan tubuh dari Sunar.


setelah selesai semua prosedur, kini Adri dan Raka membawa potongan tubuh itu langsung ke makam.


sebelum menguburkannya, mereka berdoa dulu dan memanggil perangkat desa sebagai saksi.


para penggali kubur seakan mendapatkan rezeki saat ini, karena dua kali mereka membuat liang kubur.


Raka melihat sosok arwah Sunar tersenyum menemukan tangannya.


setelah di kuburkan bersama, sosok arwah itu sudah berubah menjadi begitu lebih baik.


Raka mengucapkan salam untuk terakhir kalinya,dan Sunar bisa beristirahat dengan tenang.


dari jauh Raka melihat sosok yang mengintip dari balik pepohonan.


"ayo pulang, Jangan kelamaan disini, aku merasa ada sesuatu nih," ajak Adri.


"sepertinya om mulai sensitif ya, kebanyakan main dengan ku ya," kata Raka tertawa melihat Adri.


mereka pun pulang, lagi-lagi Mak nur meminta mereka untuk mandi, entah kesekian kali untuk hari ini.


Raka tertidur sejenak untuk mengunjungi raga, dan melihat tubuh saudaranya susah makin baik.


"ayolah Rafa, lekas kembali, istrimu dan putra kalian menunggu, bukan aku mengeluh, tapi Jasmin masih merasa sungkan saat meminta bantuan ku," adu Raka.


"tolong bertahan ya , sebentar lagi aku bisa berkumpul bersama kalian kok," jawab Rafa tersenyum duduk di samping Raka.


"baiklah, aku pamit dulu, mau mengantar Jasmin dan Rania belanja," pamit Raka.


"hati-hati ya, ingat jangan pulang malam, takutnya kamu ketemu hal-hal aneh," kata Rafa menginggatkan.


Raka mengangguk, dia pun terbangun dan melihat Rania duduk di pangkuannya.


"kakak kok tidur, Rania siap buat belanja," kata gadis itu sambil menusuk pipi Raka.


"iya cantik, kakak bangun kok, ayo berangkat, mana kak Jasmin?" tanya Raka.


"saya juga siap mas," jawab Jasmin bercadar.


Raka kagum melihat sosok istri saudara kembarnya itu yang begitu anggun dengan menutup semua auratnya.


dia juga ingin punya istri yang bisa menutup aurat dan Sholehah.

__ADS_1


__ADS_2