Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Bibi Calista?


__ADS_3

Ibunda Calista menemani putranya dengan sabar hingga sakit yang diderita sang putra sudah cukup membaik.


Setelah hampir dua puluh menit memandangi Hongli terlelap pulas, ibunda Calista keluar dari kamar Hongli.


Meskipun keadaan Hongli telah membaik, seorang ibu tetaplah khawatir didalam hatinya melihat kondisi sang buah hati menderita.


Wanita paruh baya tersebut melangkahkan kakinya dari kastil, ia segera menuju ke tanaman bambu didekat kastil tersebut dan melewati dimensi yang berbeda untuk menemui Sherli.


Sesaat telah menginjakkan kakinya di dunia tersebut, ibunda Calista mengedarkan pandangnya, nafas ia hirup dalam-dalam.


"Sudah sangat lama aku tidak mengunjungi tempat ini" gumamnya pelan.


Ia kembali fokus akan tujuannya mengunjungi alam tersebut. Ia sejenak bingung mencari kediaman Sherli, hingga ia melihat seorang gadis sedang duduk disebelah pohon kenanga diujung pandangnya.


"Itu dia" batinnya. Ibunda Calista segera menghampiri Sherli yang tengah sibuk merawat tanamannya.


"Nak?" sapa ibunda Calista. Sherli menoleh kearah sumber suara, ia terkesiap melihat ibunda Calista dihadapannya saat ini.


Gadis itu bangkit dari duduknya dan menghampiri wanita paruh baya tersebut. "Bibi? Kenapa Bibi kesini? " tanya Sherli khawatir.


Ibunda Calista memandang Sherli sedih ia langsung mendekap tubuh Sherli hingga membuat gadis itu binggung dibuatnya.


"Bibi?" gumamnya pelan.


Ibunda Calista melepaskan pelukannya dari Sherli.


"Nak! Hongli sedang sakit, mantra yang ia lontarkan pada keluargamu berdampak pada jantungnya sekarang. Aku mohon datanglah kesana dan temui dirinya!" ucap ibunda Calista sedih.


Sherli memandang iba wanita dihadapannya, namun ia telah membulatkan hatinya untuk tidak menemui Hongli lagi. Dengan hati-hati Sherli melepaskan tangan ibunda Calista dari tubuhnya agar wanita tersebut tidak merasa tersinggung.


"Bibi, tolong maafkan aku! Aku tidak bisa menemui kak Hongli lagi, akan lebih banyak yang akan tersakiti jika kami terus bertemu. Bibi! Disini aku punya keluargaku, pacarku yang mengetahui kak Hongli juga, dan terlebih kak Hongli yang akan menderita jika kita terus bertemu namun takdir berkata lain" ucap Sherli menitikan airmata.


Ibunda Calista terdiam, ia sungguh kecewa mendengar ucapan Sherli, ia merasa hidup putranya telah dipermainkan oleh gadis dihadapannya.


"Tidakkah kau sangat egois, Nak? Putraku sedang diambang kematian dan kau akan hidup tenang disini?" ucapnya meninggi.


Sherli menundukkan kepalanya menyesal. "Maafkan aku, Bibi."


Ibunda Calista mencengkram erat salah satu lengan Sherli, hingga membuat gadis itu memekik menahan sakit. Ibunda Calista membawa Sherli paksa menuju kastilnya.


"Bibi aku mohon lepaskan aku!" rintih Sherli menahan sakit dilengannya, namun ibunda Calista tidak menghiraukannya.


Setibanya di kastil, ibunda kalista membuka pintu kamar Hongli yang menampakkan sang putra telah sadar dan sedang terbaring lemah.


Hongli mencoba untuk bangun dari tidurnya, namun rasa sakit ditubuhnya sungguh menyiksa hingga ia kembali menjatuhkan tubuhnya berbaring.


Ibunda Calista melepaskan lengan Sherli dan segera menghampiri putranya.


"Nak, jangan dipaksakan! Beristirahatlah kembali Ibu membawakan obatmu" ucapnya tersenyum.


Sherli mematung ditempatnya, ia mencerna perkataan ibunda Calista yang hanya menganggapnya sebuah obat yang sedang dibutuhkan untuk Hongli.

__ADS_1


Hongli memandang Sherli tersenyum, namun Sherli tidak membalas senyuman itu, hatinya merasa sedih untuk yang kedua kalinya datang di kastil laki-laki itu.


Ibunda Calista menoleh pada Sherli dengan pandangan tajam, ia mengisyaratkan Sherli agar dirinya mendekat. Dengan ragu Sherli menghampiri Hongli dan berdiri disamping Ibunda Calista.


"Rawatlah putraku!" ucapnya mengelus pundak Sherli penuh tekanan, lalu ia beranjak meninggalkannya kedua anak tersebut dari kamar.


Ceklek!


Sherli menoleh pada pintu kamar Hongli saat terdengar ibunda Calista mengunci pintunya dari luar. Sherli sungguh ketakutan memikirkan nasipnya dan mengingat keluarganya yang pasti sedang mencarinya.


Nafasnya memburu dan airmatanya kembali meleleh, Hongli yang terbaring lemah tidak menyadari akan sikap ibundanya yang memaksa Sherli.


"Duduklah, Sher!" titah Hongli lemah memejamkan matanya.


Sherli memandang laki-laki dihadapannya, ia mendudukkan tubuhnya di ruang kosong yang telah ditunjuk oleh Hongli. Sherli terdiam tak bergeming.


"Kau kemari untukku? Aku sangat bahagia" ucap Hongli, ia menarik tubuh Sherli dipelukannya hingga telinga gadis itu menempel didada bidang Hongli, ia dapat mendengar detak jantung laki-laki itu sedang berpacu.


"Kamu dengar? Tadi benda itu sudah lemah. Karena dirimu ia sehat kembali" ucapnya mengelus lembut rambut Sherli.


"Cepatlah sehat, Kak!" ucap Sherli sedih.


Ia berusaha menahan hatinya untuk tidak marah saat ini, karena Hongli juga sedang menderita.


***


Ibu Ruri melangkahkan kakinya, ia menuju belakang rumah mencari putrinya, karena gadis itu tadi pamit ingin merawat tanaman.


"Nak, masuklah untuk sarapan!" teriak ibu Ruri. Namun, wanita paruh baya itu hanya melihat ember dan gayung disana tanpa ada sosok sang anak.


Hingga pandangannya tertuju pada pohon bambu yang begitu lebat dan menyeramkan, merasakan bulu kuduknya merdiri ibu Ruri segera melangkahkn kakinya masuk kedalam rumah.


Ia kembali mondar-mandir mencari keberadaan Sherli disekitar rumahnya, hingga membuat sang suami dan putranya mengeryit heran dimeja makan.


"Sayang kau ini kenapa?" tanya ayah Andre menghentikan makannya.


"Ayah putrimu kemana?" ucapnya cemas.


"Bukannya tadi Sherli dibelakang sedang merawat tanaman, Bu?" tanya Afbi.


"Memang pamitnya begitu, tapi dia sekarang tidak ada, Ibu sudah menghampiri setiap tanah belakang rumah namun dia tidak ada" ucapnya resah.


"Apa!" teriak ayah Andre dan Afbi serentak.


Mereka langsung bangkit dari tempat masing-masing dan mencari keberadaan gadis bungsunya.


Afbi mencoba mengunjungi rumah teman dekat Sherli untuk menanyakan keberadaan sang adik, namun Sherli tidak ada dirumah mereka, hingga terakhir dirumah Marsa.


Ayah Andre dan sang istri kembali mencari Sherli memutari tanah belakang rumah, karena mereka takut Sherli akan mengunjungi danau disana.


Setelah dirasa cukup jauh dari rumah, ayah Andre mengajak istrinya untuk kembali kerumah. Dan saat itu juga Afbi baru pulang mencari Sherli, dari komplek sekitar.

__ADS_1


"Bagaimana, Nak?" tanya ayah Andre.


"Sherli tidak ada di rumah mereka Ayah, Ibu" ucap Afbi khawatir.


"Haduh! Putrimu dimana Yah" ucap ibu Ruri cemas.


"Tenanglah Sayang, kita harus berfikir jernih dan memikirkan kemungkinan dimana Sherli biasanya bermain" ucap ayah Andre.


Afbi melangkahkan kakinya menuju kamar sang adik untuk memeriksa ponselnya, karena ia tahu kecerobohan Sherli yang selalu meninggalkan ponselnya.


Ia kembali keluar dari kamar sang adik menghampiri orang tuanya.


"Ponselnya ada, Bu!" ucap Afbi.


Ibu Ruri dan ayah Andre semakin cemas dibuatnya, fikiran mereka terasa buntu memikirkan kemungkinan dimana sang putri berada.


"Ayah, sudah pukul sembilan, sebaiknya Ayah mengambil raport Sherli dulu, biar aku dan Ibu yang mencari Sherli kembali" ucap Afbi memandang jam didinding.


"Iya, Yah! Putramu benar, cepatlah berangkat! Nanti kau terlambat," imbuh ibu Ruri.


Dengan terpaksa ayah Andre meninggalkan istri dan putranya, fikirannya sungguh kalut memikirkan putri bungsunya. Hingga membuat fokusnya terpecah saat mengambil raport Sherli yang telah berhasil meraih peringkat tiga.


***


Sherli sungguh cemas karena hari sudah semakin siang namun ia masih belum bisa keluar dari kamar Hongli.


"Kak? Boleh aku pulang sekarang, nanti aku akan main lagi, tadi aku belum pamit dengan ayah dan ibu pasti mereka mencariku" ucapnya cemas.


"Bukannya kamu datang suka rela kemari?" ucap Hongli heran.


Sherli menggelengkan kepalanya.


"Bibi Calista yang membawaku kemari" ucapnya sedih.


Hongli terkesiap mendengar perkataan Sherli, ia sungguh tidak menyangka sang ibundanya akan membawa Sherli untuknya dengan cara seperti ini.


"Kau tenanglah, setelah ini aku akan mengantarkanmu pulang" Hongli segera bangkit dari baringnya, namun saat baru berdiri tubuhnya terasa sangat lemah hingga ia terjatuh di ranjangnya kembali.


"Kak!" pekik Sherli, ia segera membantu Hongli kembali berbaring diatas tempat tidurnya.


"Jangan dipaksakan dulu, Kak! Aku tidak apa-apa" ucap Sherli menenangkan.


Ia pasrah akan posisinya sekarang, dikunci didalam bilik laki-laki itu oleh ibunda Calista.


Ia berharap wanita itu segera memulangkannya ketempat asalnya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.


Terimakasih yang atas dukungannya ❤.


__ADS_2