
semua keadaan desa sudah kembali kondusif, bahkan tak ada yang membicarakan tentang hal yang terjadi seminggu yang lalu.
Raka juga terus mengunjungi Wulan setelah selesai bekerja, bahkan dia juga mengerjakan laporan tentang usaha miliknya di rumah sakit.
Wulan juga sudah di ijinkan untuk libur dari kegiatannya praktek kerja lapangan.
apalagi ketua yayasan, adalah calon suaminya jadi izin untuk Wulan di permudah oleh Nurul.
dia terus menjaga gadis tercintanya itu, sedang Rafa yang juga akan menjadi ayah sedang kerepotan karena akan di adakan acara tujuh bulanan untuk istrinya.
malam ini Raka masih menunggui Wulan, bahkan keduanya terus bercanda tawa.
tak di duga mereka ke datangan tamu dan mengejutkan Raka yang tak tau tentang kedatangan Keluarga Alfin.
"assalamualaikum ... boleh kami masuk," kata Alfin yang membuka pintu ruangan itu.
"waalaikum salam ... loh mas disini, bukannya di rumah ada acara?" kaget Raka.
Wulan pun tersenyum melihat kedatangan dari kakak Raka, "memangnya kami tak boleh mengunjungi calon adik ipar kami," kata Aira yang langsung masuk.
wulan pun langsung mencoba bangun dan mencium tangan Aira, sedang aira langsung memeluk gadis itu.
"ini gadis yang di bilang Raina, enak di peluk, aduh ... memang iya," kata Aira tertawa.
"Wulan sudah kenal dengan kami?" tanya Aira.
"sudah mbak, ini mbak aira dan mas Alfin, kakak dan kakak ipar mas Raka," jawab wulan sopan sambil tersenyum.
aku yang melihat senyum gadis itu kembali memeluk Wulan, "terima kasih ...." lirih Aira.
Raka dan Alfin saling pandang, mereka tak mengerti kenapa Aira begitu melow hari ini.
"mbak lepas dong, bikin iri saja," protes raka.
"gak mau Wek ... mbak kan bebas mau peluk Wulan, kamu belum boleh nunggu sah dulu," kata Aira mengejek adiknya Raka.
"masih satu tahun lagi mbak," jawab Raka.
Wulan dan Aira tertawa, begitu pun Alfin tanv merangkul Raka. sedang di rumah Mak Nur.
semua orang sedang mengikuti pengajian tujuh bulanan Jasmin. bahkan rombongan dari keluarga Surabaya juga datang.
acara sangat meriah, bahkan saat acara belah cengkir, Rafa kaget karena air kelapa cengkir itu muncrat terkena wajahnya.
semua orang pun tertawa melihat itu, sedang Jasmin mengucapkan syukur atas kesehatan bayinya.
Rafa kemudian membisikkan sebuah ayat Alqur'an di depan perut Jasmin.
__ADS_1
dan bayi mereka pun menendang dengan cukup keras seakan memberikan respon.
Jasmin memegang tangan suaminya, keduanya nampak bahagia, tapi di balik itu ada Windi dan Bu Diah yang tak suka.
apalagi setelah tau jika Rafa bukan pria desa biasa, "Bu, bukankah mas Rafa punya kembaran, jika tak dapat mas Rafa aku bisa mencoba menggoda dan mendapatkan saudara kembarnya," kata Windi berbisik.
"tapi sepertinya, pria itu tak disini, lihat saja, tak ada tuh yang mirip Rafa," jawab Bu Diah.
keluarga pak Suyatno sudah pamit pulang karena harus bergilir dengan Raka.
di rumah sakit, Aira dan Wulan begitu cepat akrab, Alfin memberikan jempol pada pilihan adiknya itu.
"Wulan, kamu ingin hadiah apa saat menikah? bilang saja, insyaallah mbak akan berikan apapun permintaan mu," kata Aira pada gadis di depannya.
"mohon doa restunya saja mbak, saya hanya ingin suami yang Sholeh, dan hanya akan ada saya di hidupnya, bukan wanita yang bukan mahramnya," kata Wulan melihat Raka.
"insyaallah, aku berjanji akan hanya ada kamu sebagai istri ku dek," kata Raka.
"kamu yakin dek, kamu tak ingin rumah, mobil atau perhiasan mungkin," tanya Aira.
"tidak mbak, saya sangat bersyukur saat suami memiliki ilmu agama yang baik dan bisa membimbing saya, untuk masalah harta, itu titipan dari Allah," jawab Wulan.
Raka terharu dan memeluk Alfin, sedang Alfin tertawa melihat reaksi Raka.
Aira pun mencium kening wulan, dan memberikan sebuah gelang emas miliknya.
Raka pun mengeluarkan sebuah cincin yang di berikan oleh Alfin dan memakaikan di jari Wulan.
sedang untuk cincin yang di titipkan oleh Akira pada Aira, belum di berikan selama mereka belum menikah.
keluarga pak Suyatno datang, dan kini Raka pamit pulang, tak lupa Wulan mencium tangan Raka.
"dek jangan lama-lama ya," kata Raka dengan nada suara lirih.
"kenapa mas? ada yang salah?" tanya Wulan bingung.
"aku udah gemetar tangan ku di cium oleh mu," kata Raka yang di sambut gelak tawa semua orang.
sedang Wulan malu mendengar ucapan Raka, mereka pun pamit dari rumah sakit.
"ibu bisakah menyimpan ini untukku, ini gelas pemberian dari mbak Aira," kata Wulan.
"baiklah nak," jawab Bu mut.
pak Suyatno tak mengira jika putrinya akan mendapatkan keluarga yang begitu baik seperti keluarga Raka.
tak butuh waktu lama untuk dia mobil itu sampai di rumah yang masih terlihat ramai itu.
__ADS_1
saat Raka turun, Ayana dan Rania langsung berlari dan minta di gendong oleh Raka.
dan dengan mudah pria itu mengendong keduanya, karena Raka memang selalu menjaga tubuhnya.
Windi terpesona dengan wajah dan tubuh Raka, pria itu memang sama tampannya tapi tubuh Raka lebih besar dari Rafa.
dan terlihat begitu menggairahkan, "ibu itu kembaran mas Rafa ya," bisik Windi begitu senang.
"sepertinya, lihat saja wajahnya mirip, tapi terlihat seperti lebih pria dan macho ya," jawab Bu Diah yanh di angguki Windi.
Jasmin memperkenalkan keluarganya pada Raka, saat melihat Windi, Raka langsung menangkupkan tangan dan langsung pamit.
karena dia masih harus mengerjakan tugas milik murid-muridnya, sedang Windi merasa jika Raka lebih dingin dan cuek dari Rafa.
bahkan pria itu tak melirik dirinya sedikit pun, dan benar saja Raka land sibuk di dalam kamar yang terkunci.
dua tak ingin di ganggu, terlebih dia tau jika Windi memakai minyak pemikat dan menyebutkan namanya tujuh kali.
beruntung dia tadi sempat mengambil wudhu sebelum sampai rumah, karena Rafa menginggatkan dirinya.
jika tidak, mungkin saat ini dia sudah lupa pada Wulan, hadis yang selalu membuatnya rindu, tersenyum saat menginggatnya, bahkan tertawa tanpa sebab saat mendengar namanya di sebut.
tanpa di duga keluarga Jasmin menginap karena permintaan Mak nur.
dan itu adalah kesempatan emas bagi Windi untuk menggoda Raka yang kebetulan masih belum menikah.
saat malam hari, Windi mencoba melakukan pelet agar Raka tergila-gila pada dirinya.
tapi yang terjadi malah kebalikannya, ilmu guna-guna itu mental, karena Raka tak pernah putus berdoa.
sedang Windi tak mau putus asa, dia mencoba hingga beberapa kali, tapi tetap saja pelet itu mental.
dia pun hanya bisa mengunakan tubuhnya untuk menggoda Raka, tapi mau bagaimana lagi.
pria itu terus berada di salam kamar tanpa mau keluar, dan iseng Windi keluar dan menuju ke kamar mandi.
dan di saat itu dia melihat Raka sedang keluar dari kamar mandi, Windi langsung memeluk pria itu.
dan Raka juga memeluk Windi erat, "mas aku menyukaimu, maukah kamu menikah dengan ku?" tanya Windi.
"aku butuh bukti jika kamu mencintaimu, aku tak akan begitu saja mau menikahi wanita yang tak bisa memuaskan ku," bisik Raka .
"tentu, apapun yang kau minta," jawab Windi yang sudah terbutakan oleh keinginan buruknya.
mahluk itu tersenyum dan menunjukkan taring tajam, bahkan tubuhnya di penuhi bulu hitam yang begitu lebat.
dia tak mengira bisa menemukan mangsa yang sangat menggoda malam ini, terutama mengunakan Malih rupo seperti Raka.
__ADS_1