
Karena kemarahan Hongli, ia kembali membawa Sherli kedunianya. Namun, tidak dengan perasaan baik seperti sebelumya. Sherli mencoba membujuknya dengan kata-kata manis, untuk menenangkan hati Hongli. Agar dia bisa dikembalikan didunianya.
Karena tidak yakin akan perasaan Sherli. Hongli memasangkan gelang lengan pada Sherli, agar ia selalu bisa bertemu dengan Sherli kapanpun dan dimanapun.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Melihat sinar langit yang telah meredup, Sherli bergegas masuk kedalam rumahnya.
Saat Sherli baru menginjakkan kaki didalam rumah. Terlihat Ibu Ruri mondar mandir dengan cemas. Ketika Ibu Ruri menengok knop pintu terbuka, dan melihat Sherli. Ia segera menghampiri Sherli.
"Nak, kamu kemana saja, Ibu sangat cemas," ucap Ibu Ruri dengan wajah cemas.
"Maaf, Ibu! Aku berkeliling hingga lupa waktu," ucap Sherli menyesal.
Ibu Ruri merasa begitu lega, karena Sherli telah kembali. Ia mengusap puncak kepala putrinya.
"Jangan diulangi lagi ya, Nak! Ibu mencemaskanmu! Ya sudah kamu cepat masuk dan bersih diri!" tutur ibu Ruri.
"Baik, Bu." Sherli bergegas masuk kedalam kamarnya, dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Rasa tidak tenang, dan takut masih menyelimutinya.
"Aku sudah membuat ibu kawatir, entah apa selanjutnya," gumam Sherli.
Ia mengusap lengannya, "Bagaimana caranya agar gelang lengan ini bisa kulepaskan?" ucap Sherli sedih.
Sherli segera bangkit dari ranjangnya untuk mandi, karena jam telah menunjukan pukul enam sore. Ia memilah pakaian yang akan dikenakan.
Diraihnya sisir setelah dress melekat ditubuhnya. Setelah semua selesai, Sherli menghampiri meja belajarnya dan membuka laci dimana ia meletakkan gelang dari Felix.
Ia segera mengambil gelang tersebut dan melingkarkan ditangannya. Seketika tubuhnya merasa sedikit panas.
"Tubuhku kenapa ini?" gumam Sherli.
"Nak, cepat kemeja makan! Ayah dan kakak sudah disana!" tutur sang ibu Ruri yang tiba-tiba datang.
"Baik, Bu."
"Mungkin karena aku kecapean, aku akan tidur cepat nanti " batin Sherli.
Sherli bergegas menuju meja makan di mana telah terlihat ayah, ibu, dan kakaknya. Ia menarik kursi untuk duduk dan memulai makan. Keheningan tercipta setelah kemudian Ayah Andre membuka suara.
"Sayang, besok kamu mulai ujian akhirkan?" tanya Ayah Andre.
"Iya, Yah! Besok hari pertama ujian," jawab Sherli.
"Kamu jaga kesehatan ya, Nak, dan belajar yang rajin!" tutur Ayah Andre.
Sherli memandang ayahnya, ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya pelan. Ayah Andre pun membalas senyuman putrinya. Mereka kemudian melanjutkan makan.
***
Sherli membaca bukunya untuk bahan ulangan besok. Karena Sherli selalu fokus ketika pelajaran dilaksanakan, ia belajar tidak terlalu lama, ia membuka bukunya untuk lebih menajamkan ingatannya.
"Kenapa tubuhku tidak kunjung membaik?" gumam Sherli yang masih merasakan panas ditubuhnya.
Karena belajarnya sudah usai. Ia segera merebahkan tubuhnya. Diraihnya ponsel yang ada di dekat kepalanya.
Terdapat satu pesan dari Felix jam setengah enam lalu.
"Sayang besok kamu ujian?" ~ Felix.
Sherli segera membalasnya karena sudah sedari tadi pesan tersebut dikirim Felix.
"Iya, Kak! Besok hari pertama aku ujian," ~ Sherli.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Felix membalasnya.
"Semangat ya Sayang, besok kamu pulang jam berapa?" ~ Felix.
"Terimakasih, Kak, kemungkinan jam sembilan pagi," ~ Sherli.
"Baiklah, besok aku kesekolahmu. Pekerjaanku sedang tidak banyak aku ingin bersamamu," ~ Felix.
"Baiklah, Kak." ~ Sherli.
"Istirahatlah Sayang, mimpi indah ❤" ~ Felix.
Sherli tersenyum melihat pesan terakhir Felix, ia segera meletakkan ponselnya dan menarik selimut untuk tidur.
***
Pagi datang dengan sinar yang begitu hangat. Sherli membuka matanya dan melihat jam menunjukan pukul enam pagi. Ujiannya dimulai pukul delapan, jadi Sherli tidak terlalu tergesa-gesa.
"Sudah bangun, Cantik?" suara Hongli yang terduduk di kursi belajar Sherli.
Seketika, Sherli menoleh kesumber suara, ia begitu terkejut melihat Hongli yang berada di dalam kamarnya.
"Kak, kenapa Kakak kemari? Kan aku sudah pernah bilang kalau ingin menemuiku ketuk jendela aku akan datang," ucap Sherli kesal.
Hongli tersenyum menyerigai. "Kenapa? Kan aku tidak pernah setuju itu. Dan lagi dulu aku juga sudah masuk dikamarmu. Lalu apa bedanya dengan sekarang?" ucap Hongli.
Sherli bangkit dari tempat tidur, ia berdiri di hadapan Hongli.
"Kak aku mohon jangan seperti ini, sekarang tolong keluarlah!" pinta Sherli.
"Aku tidak mau aku ingin disini bersamamu," ucap Hongli. Ia segera mengalihkan pandangan dari Sherli, dan mengambil buku di meja belajar. Ia membuka-buka buku tersebut.
Sherli yang merasa kesal dengan tingkah Hongli segera beranjak, Sherli mengambil pakaian untuk dikenakan dikamar mandi, karena sangat tidak mungkin ia memakainya dikamar ketika Hongli disana.
Sherli bergegas keluar dari kamar mandi, ia beranjak mengambil sisir tanpa menghiraukan Hongli. Hongli melihat Sherli yang menyisir rambutnya.
"Nanti kamu pulang jam berapa Sher?" tanya Hongli.
Sherli diam sejenak, ia ingat Felix bilang akan mengajaknya keluar. Jadi ia hendak berbohong pada Hongli. Ia takut jika Hongli akan mengikutinya kemanapun ia pergi.
"Sore, Kak!" jawab Sherli tanpa memandangnya.
Hongli mengeryitkan salah satu alisnya, ia heran karena sebelumnya Sherli tidak pernah pulang sore.
"Kau serius? Biasanya tidak sore kau pulang?" ucap Hongli heran.
"Aku ada acara belajar bersama Kak, karena sedang ujian," ucap Sherli bohong.
"Oh begitu, baiklah aku akan kemari nanti sore," ucap Hongli.
"Kenapa, Kak?" tanya Sherli menoleh pada Hongli.
"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu," jawab Hongli.
Sherli hanya diam saja tanpa menjawab, ia takut ketahuan berbohong jika terlalu banyak berbicara.
"Baiklah, Kak! Sekarang pergilah dulu aku akan segera berangkat kesekolah," ucap Sherli mengusir Hongli secara halus.
Hongli bangkit dari duduknya ia menghampiri Sherli. Sherli mundur selangkah karena takut. Ia mengira Hongli telah tersinggung akan ucapannya.
Hongli memegang kedua bahu Sherli.
"Baiklah aku pulang dulu!"
__ADS_1
Sherli merasa tenang karena tidak sesuai dengan apa yang difikirkannya.
Cup!
Hongli mengecup kening Sherli. Sherli merasa kesal karena tingkah Hongli. Ia menepis tangan Hongli di bahunya, lalu mengusap keningnya.
"Kak! Jangan selalu menciumku!" ucap Sherli kesal.
"Hahaha aku tidak janji, baiklah aku pergi dulu."
"Kau-"
Sebelum Sherli menjawab ia langsung menghilang dari hadapannya.
"Kenapa kak Hongli selalu seperti ini, aku kesal sekali padanya," gumam Sherli.
Ia segera mengambil tasnya. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas kembali.
"Tubuhku kenapa lagi?" gumam Sherli. Ia memijit pundaknya, berharap panasnya akan menghilang.
Ia segera menuju meja makan untuk sarapan dan berangkat kesekolah setelahnya.
***
Sherli mengikuti ujian dengan hikmat, ia segera menyelesaikan ujiannya dengan cepat, karena panas ditubuhnya tidak kunjung turun. Ia takut ingatannya akan melemah dengan keadaan tubuhnya.
Sementara itu Felix telah menunggu Sherli di depan sekolahnya, ia tidak mau menjadi pusat perhatian dengan menunggu Sherli disana.
"Apa masih lama ya?" gumamnya. Ia terus saja melihat kearah gerbang sekolah Sherli.
Karena jam telah menunjukam pukul 8.45, Felix mengirim pesan pada Sherli,
"Sayang, aku sudah didepan sekolah, nanti langsung kemari!"
Sherli yang telah menyelesaikan ujiannya segera keluar dari ruangan. Ia berjalan dengan malas karena tubuhnya terus saja panas. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi panjang.
"Dimana kak Felix, katanya mau kemari?" batin Sherli yang mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Felix.
Karena tidak kunjung menemukan sosok Felix, Sherli mengambil ponselnya di dalam tas berniat mengirim pesan pada Felix untuk menanyakan apakah jadi pergi bersama.
Ketika ponsel baru ia nyalakan, terdapat satu notifikasi pesan dari Felix.
"Oh pesan dari kak Felix." Sherli bergegas membacanya.
Setelah mengetahui Felix telah didepan sekolah, Sherli beranjak dari tempatnya menuju ke tempat Felix menunggu.
Sherli mengedarkan pandangannya mencari sosok Felix, ia tidak ingat mobil Felix yang mana karena terdapat beberapa mobil hitam disana.
Felix melihat Sherli yang sedang mencarinya, ia segera keluar dari mobil menghampiri Sherli.
"Sher, aku disini," ucap Felix menyentuh bahu Sherli. Sherli sontak menoleh dan melihat sosok Felix, ia tersenyum padanya.
"Kakak!"
"Ayo kita pergi!" Felix menarik tangan Sherli menuju kemobilnya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
__ADS_1
Terimakasih yang telah membaca :).