Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Raka dan Wulan lagi...


__ADS_3

pagi ini seluruh siswa siswi dari Madrasah Aliyah berkumpul karena hari ini adalah hasil pembagian tugas praktek kerja lapangan.


"pak Subhan, siapa yang akan sekelompok dengan Wulan?" sebuah pertanyaan yang paling di benci Wulan.


"Wulan akan sekelompok dengan Irma, Tandi dan juga Zuzun," jawab guru agama itu.


"maaf pak, kenapa saya harus sekelompok dengan mereka sih?" tanya Tandi tak terima.


"kenapa? kamu takut mati ya, atau terluka," kata Alex menggoda Tandi.


"sudah sudah, tak perlu mengatakan hal aneh, ini sudah bapak bagi, tidak boleh ada yang protes lagi," kata pak Subhan.


"kenapa pak?" tanya Tandi.


"karena nilai mu yang jeblok, dan hanya Wulan yang memiliki nilai bagus dan dia rangking satu di sekolah ini, dan akan baik jika kamu satu kelompok dengannya," jawab guru agama itu.


Tandi kesal, tapi yang di ucapkan pak Subhan adalah benar, dia memang selalu nilai yang pas-pasan.


"jadi nanti siang untuk tim Wulan, kalian menuju ke Madrasah ibtidaiyah yang akan kalian bantu besok, dan nanti siang akan baru bisa bertemu dengan ketua yayasan setelah pulang dari Surabaya," kata pak Subhan.


"baik pak," jawab Wulan dan yang lain.


mereka pun bubar, Wulan, Irma dan Zuzun memilih untuk kembali ke kelas.


Wulan merasa akan sangat berat saat praktek nantinya, apalagi Tandi sangat tak menyukai dirinya.


"sudah tak perlu di pikirkan gitu lah cantik, sekarang ayo kita beli cemilan saja yuk," ajak Zuzun sambil memeluk Wulan.


"iya deh ... tapi maaf aku sedang puasa kamis, kalian jajan biar aku sholat Dhuha aja ya," pamit Wulan.


"siap deh," jawab Zuzun dan Irma.


Wulan membawa mukenanya ke mushola sekolah, sedang dua temannya memilih beli jajan di area kantin dekat musholla.


saat setelah sholat, dia pun berdo'a untuk kedua orang tuanya, dan tak sengaja teringat pada Raka.


dia pun malah malu di buatnya, setelah itu dia pun membuka mukenanya dan kaget melihat sosok pria itu saat akan kembali ke kelas.


"aduh .... otakku kayaknya kongslet deh, masak iya mas Raka disini," kata Wulan memukul kepalanya sendiri.


sedang Raka ingin tertawa mendengar ucapan Wulan, pasalnya gadis itu tak bermimpi.


"kamu kenapa Raka, ayo ikut masuk," ajak Nurul.


"iya Tante," jawab Raka.


Wulan pun memakai sepatunya, tapi dengan iseng Tandi menendang sepatu itu hingga jauh terlempar.

__ADS_1


"dasar sok pintar, jangan GeEr padaku, aku mau di kelompok mu karena paksaan pak Subhan," kata Tandi menunjuk pada wajah Wulan.


"aku tak peduli, jika kamu tak suka kamu bisa bilang pada pak Subhan," kata Wulan yang ingin mengambil sepatu miliknya.


"dasar gadis pembawa sial, dasar Monster gemuk!" hina Tandi mendorong Wulang hingga hampir jatuh tersungkur.


sebuah tangan menahan tubuh Wulan, pria itu menatap marah pda Tandi, "kenapa kamu melukai gadis yang bahkan tak menganggu mu."


"mas Raka ..."


Tandi pun pergi begitu saja, sedang Wulan bangun dan Raka tak menyukai pria itu.


"apa dia akan bersama kelompok mu?" tanya Raka.


"Iya, karena kelompok kami memiliki nilai yang sangat baik, jadi para guru membuatnya bersama dengan kami," jawab Wulan


"baiklah," jawab Raka yang berjongkok dan memakaikan sepatu di kaki Wulan.


"terima kasih," jawab Wulan melihat Raka yang berdiri di depannya.


Raka pun pergi meninggalkan Wulan, sedang Wulan pun menuju ke kelas untuk menaruh mukenanya.


pria itu pun akan meminta sesuatu pada kepala sekolah, karena Raka juga bukan pria biasa.


raka langsung menuju ke tempat kepala sekolah, saat sampai Nurul kaget melihat ekspresi wajah Raka.


pak Subhan memberikan daftar nama, ada dua kelompok yang akan praktek di dua sekolah yang dalam naungan yayasan.


"bisa tolong jangan campurkan wanita dan laki-laki," kata Raka.


"eh ... kenapa pak?" tanya pak Subhan.


"apa bapak tau, barusan saya melihat bagaimana seorang murid pria dengan arogan menindas siswi perempuan, dan semua orang diam melihatnya, dan saya kira sekolah ini juga tak memiliki kualitas murid yang membaik untuk tahun ini, apa anda lupa kejadian dua tahun yang lalu," kata Raka membuat kepala sekolah dan guru itu terdiam


"baiklah pak Raka, saya akan mengikuti keinginan anda," jawab kepala sekolah.


"tapi pak, dia kan bukan kepala yayasan sekolah Handoko," kata pak Subhan masih protes.


"tapi dia itu pemilik yayasan Al-ikhlas," kata kepala sekolah yang membuat pria itu terdiam.


Raka melihat guru itu, ingin rasanya Raka memukul pria itu karena terlalu cerewet.


"maaf ya pak, keponakan saya ini sedikit ketat untuk masalah dengan sekolah," kata Nurul.


"iya Bu, tidak apa-apa ini akan saya atur ulang untuk penempatan siswi yang akan kerja praktek," kata kepala sekolah.


mereka pun pamit, tapi baru juga di luar, Ir sudah berteriak memanggil Raka dan Nurul.

__ADS_1


"mas Raka!" teriak Irma.


"kalian ini perempuan," kata Raka pada ketiga gadis itu.


sedang Wulan mundur saat melihat Raka, dan gadis itu tersenyum malu di balik tubuh Zuzun.


Raka pun melihatnya dengan senyum, "ow halo mas Raka ..." kata Irma.


"halo ... kalian sedang apa?" tanya Raka melihat Irma.


"aduh aduh ... maaf ya, aku ada di sini loh," kata Nurul.


Wulan pun berjalan dan mengambil tangan Nurul dan mencium tangan wanita itu.


"hei kenapa ini?" kaget Nurul.


Wulan hanya tersenyum, sedang Nurul malah memeluk Wulan dengan gemas.


"ini adalah reaksi setiap orang saat bertemu Wulan, pasti gemas dan selalu ingin memeluknya bukan," kata Zuzun tertawa.


"itu benar," kata Raka yang sudah mendapatkan cubitan dari Nurul.


sedang Irma merasa cemburu melihat itu, karena semua orang begitu menyukai Wulan.


sedang dirinya yang tak kalah dari Wulan, tapi kenapa selalu saja gadis itu yang mendapatkan semua perhatian.


setelah berbincang Nurul dan Raka pun pamit, tapi sebelum itu Raka memberikan sesuatu pada Wulan.


"tolong di gunakan, dan semoga ini bisa membantu," kata Raka.


Nurul memukul Raka yang begitu menunjukkan perhatian pada Wulan, "wah apa itu?" tanya Irma penasaran.


ternyata sebuah tasbih berwarna merah muda, "ya elah, ku kira apa, dasar pelit," ejek Irma yang tertawa melihat Wulan.


sedang berbeda dengan Irma, Wulan malah begitu menyukai hadiah itu, sebabnya dia bisa menghitung dzikir dengan bantuan benda itu.


Zuzun menyenggol Wulan dengan wajah yang membuat Wulan malu, "sudah deh, ayo kita masuk tuh pak Subhan mau masuk kelas," ajak Wulan.


sedang Raka juga terus tersenyum, dan Nurul yang merasa takut melihat kelakuan keponakannya itu.


"raka kamu baik-baik saja kan?"


"iya Tante, maaf aku terlalu senang," jujur Raka.


"semoga kamu jodoh dengan Wulan ya," doa Nurul.


seketika senyum Raka hilang, dia ingat bagaimana Rafa tak menyukai dirinya yang dekat dengan Wulan.

__ADS_1


__ADS_2