Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
nyasar lagi kita


__ADS_3

mobil Raka pun menembus jalanan sepi yang terdiri dari area persawahan yang cukup gelap.


mereka pun menuju ke area kecamatan untuk mencari cemilan, tapi sebelum itu mereka juga membeli bensin terlebih dahulu.


setelah itu mereka sampai di tempat sate langganan Raka, dan di sebelahnya ada warung martabak baru.


"mas aku beli di sana saja ya martabaknya," kata Fahri.


"baiklah, tapi sebelum masuk pastikan kamu baca ayat kursi dan lima ayat ad-jin, dan buka matamu perlahan, jika semua normal kamu bisa beli," bisik Raka.


"siap bos," jawab pria muda itu.


tapi tak terduga, baru juga baca ayat kursi tak sengaja kaki Fahri menyandung sesuatu.


dan saat dia melihat benda apa itu, tubuhnya kaku, sebuah tubuh terbungkus kain putih berdiri di depannya dengan wajah gosong dan mata menyala merah.


pocong itu menunduk dan membuka mulutnya hingga ratusan belatung berjatuhan di kaki Fahri.


"Allahuakbar ya Allah!!!" teriak Fahri langsung kembali berlari ke area warung sate.


pemuda itu langsung memeluk tubuh Raka dengan gemetaran, baru kali ini dia melihat penampakan begitu jelas.


"Bu boleh minta air putihnya dan garam sedikit," kata Raka.


ibu pemilik warung pun sudah tau siapa Raka, kemudian di mendoakan air itu dan meminta Fahri minum air itu.


"kamu lihat apa Fahri?" tanya Raka mebahan tawanya


"itu kak, ada pocong dengan wajah gosong terus mulutnya-" Raka yang tau pun langsung membungkam mulut adik iparnya itu.


"sudah tak perlu di katakan, kamu tunggu disini biar mas yang beli martabak," kata Raka.


Fahri pun mengiyakan, setidaknya warung sate itu ramai dan dia tak sendiri-sendiri.


Raka berjalan dan pocong itu mengikuti dirinya dengan melompat, dan Raka berbalik dan menonjok pocong itu hingga terpental.


"bikin kesel saja, kamu gak canggih banget, terbang dong," kesal Raka.


"beh ... nih orang makin serem aja bang, aku cuma mau minta rokok," kesal pocong gosong itu.


"udah tau aku gak ngerokok, udah ganggu yang lain saja, jangan berani menganggu adik iparku," peringatan Raka.


"iya iya, serem amat, kamu itu manusia atau raja setan," kata pocong itu menghilang.


Raka pun melihat kios martabak itu tertutup sesuatu, dua pun menghela nafas, dua tak mengira masih saja ada orang yang menutup rejeki orang lain.


Raka membaca ayat pemusnah jin sebelum masuk kios itu, "assalamualaikum masih buka pak?"


"waalaikum salam, inggeh mas Monggo ..." ternyata pemiliknya sedang ketiduran.


"Alhamdulillah ada pelanggan, mau pesen apa mas?" kata penjual itu.


Raka melirik ke depan pintu, "saya mau pesan lima terang bulan spesial komplit dan Lima martabak telur spesial telur bebek tiga," kata Raka


"Alhamdulillah ya Allah, di tunggu ya mas, Monggo silahkan duduk, buk e tolong buat kan minum untuk pembeli," kata penjual itu.


saat keluar seorang wanita dengan tubuh kurus, Raka pun tau jika ini semua tak normal.

__ADS_1


"bapak sudah berapa lama jualan? kok saya tidak pernah tau?" tanya Raka.


"sudah hampir sebulan den, iya kadang buka kadang tidak soalnya istri saya sakit-sakitan," jawab bapak itu.


"kalau boleh saya memberi saran, setiap hari Senin dan Kamis coba puasa dan perbaiki ibadah, dan untuk ibunya bisa minum air rebusan daun kelor setiap.hari, insyaallah pasti ada jalan kesembuhan," kata Raka.


"iya den nanti saya lakukan," jawab bapak itu.


Raka tersenyum menerima gelas teh itu, dan membawa gelas itu ke depan di samping gerobak.


dia pun menginjak sesuatu, setelah membaca doa dan meminum air teh itu, Raka menyiramkan ke tempatnya berdiri.


tiba-tiba suara benda meledak dengan kuat, mengejutkan semua orang.


Raka pun tersenyum dan kemudian duduk menunggu pesanannya. setelah selesai Raka pun memberikan uanh lebih.


"ini kebanyakan mas," kata bapak penjual itu.


"ini rejeki bapak ya, tolong di terima, dan bisa buat berobat ibu juga, dan tolong jangan lupa pesan saya tadi," kata Raka sebelum pamit.


"ya Allah mas matur sembah nuwun, semoga Gusti pangeran mengganti dengan yang lebih," kata bapak itu.


"amiin ya pak, kalau begitu saya pamit ya, wassalamualaikum ..."


"waalaikum salam..." jawab kedua pasangan itu.


saat Raka pergi satu persatu orang datang membeli, karena penutup dan penghalang rejeki dari warung itu sudah hancur karena Raka.


Fahri kaget melihat apa yang di beli Raka, "sudah gak usah kaget, nanti kita bagi-bagi di jalan," kata Raka


Fahri pun mengangguk saja, keduanya pun memutuskan untuk pulang, tapi sayang mobil Raka lagi-lagi masuk ke pasar yang ghaib lagi.


Raka pun mengunci pintu mobil dan terus membaca dzikir, akhirnya saat akan keluar dari pasar itu.


tiba-tiba ada sesosok kuntilanak yang mengetuk kaca mobil Raka dengan menunjukkan kuku tajam dan gigi taringnya.


tapi Suni langsung membawanya pergi dan menghabisinya, mobil Raka pun bebas dan kini menuju ke rumah.


"mas tadi apa?"tanya Fahri yang masih ketakutan.


"itu tadi pasar ghaib, setiap malam pukul sembilan malam, jika kamu melewati kuburan di desa pasti akan lewat sana. jadi ingat kalau main jangan lupa waktu," kata Raka menginggatkan.


"iya mas, ya Allah aku tadi jantungan rasanya, kok ada pasar seramai itu," kata Fahri.


Raka pun tertawa mendengar ucapan adik iparnya itu. sesampainya di desa terlihat ada beberapa bapak-bapak yang masih nongkrong.


Fahri pun memberikan martabak dan terang bulan yang tadi di beli Raka, sebelum sampai rumah.


sebelum masuk rumah, Fahri dan Raka mencuci kaki dan tangan serta wajahnya.


setelah itu Raka segera berganti baju dengan piyama yang di siapkan istrinya.


Wulan pun memilih makan terang bulan manis itu, "dua potong saja, ingat ya baby-nya jangan sampai besar di dalam," kaya Raka menginggatkan.


Wulan mengangguk, dia memang mulai membatasi konsumsi gula karena takut bayinya terkena diabetes.


malam itu warung di pojokan desa tetap ramai, padahal Raka merasa akan ada sesuatu terjadi malam ini.

__ADS_1


benar saja, arwah gentayangan itu kembali berjalan, dan kini sudah menjadi tiga orang.


Raka sudah tenang karena pagar ghaib sudah di perbaiki, terlebih Wulan pun tidur dengan nyenyak.


Raka menginggatkan para papa pemilik hati kecil malam itu, bahkan Rizal sampai di buat takut karena dia lupa tadi sore tidak memasang bambu kuning.


tapi Rafa menenangkan pria itu jika lingkungan keluarganya sudah di lindungi pagar ghaib.


sedang Raka harus menyaksikan para arwah itu menjemput semua incarannya.


bahkan rantai itu terdengar begitu nyaring, dan bodohnya Suni sedang duduk di tembok gapura rumah Wulan bersama pocong gosong itu.


"woi hak capek tuh bawa rantai kemana-mana, lebih baik yuk nongkrong yuk," ajak pocong itu.


pemimpin hantu gentayangan itu melihat pocong itu, "beh... matanya melotot mau lompat tuh," kata pocong itu lagi.


tapi hantu itu tetap berjalan, sedang dua arwah di belakangnya nampak menangis dan meminta tolong.


suni pun hanya menggoyangkan kepalanya karena tak mau ikut campur.


tak lama Linggo datang dan hinggap di samping Suni, sedang pocong itu kaget melihat kepakan sayap Linggo yang besar.


bahkan pocong itu terjungkal dari tembok itu hingga nyungsep ke semak-semak bunga di bawahnya.


"dasar pocong aneh," kata Suni.


"gila tuh burung udah gede, warna coklat, ngangguk-ngangguk gak jelas, kenapa gak pakek helm sekalian," kesal pocong gosong itu.


"kau ingin mati huh," marah Linggo tak terima.


pocong itu pun hanya cemberut, pocong gosong itu pun lompat pergi.


tapi tak terduga ada sesuatu yang mengejutkan malam itu, sosok yang sudah tak bisa bangun malah berjalan-jalan.


bahkan gadis itu membuat belatung di tubuhnya berjatuhan di jalan saat dia berjalan denhan terseok-seok.


"tolong maafkan saya ...." lirihnya dengan lirih.


gadis itu membuat takut semua orang yang berada di warung itu, dan para orang yang nongkrong langsung lari tunggang langgang.


bahkan pemilik warung pun meninggalkan warungnya begitu saja karena ketakutan.


tapi tak terduga, pak Sugandi menahan tubuh Irma yang sudah seperti mayat hidup tinggal.kulit dan tulang.


"maafkan aku ..." kata Irma lirih.


"aku maafkan, aku bisa menyembuhkan mu, tapi kami harus berjanji sesuatu padaku, apa kamu sanggup?" tanya pak Sugandi.


Suni langsung bersiap menyerang, dia tak ingin wanita itu suatu saat bisa membahayakan Wulan dan Raka.


tapi tak terduga tiba-tiba kepala Irma terpenggal di depan mata pak Sugandi, itu adalah Nyai Nawang.


"tak kan ku biarkan rencana mi berhasil Sugandi, aku musuhku, Jang berani menganggu semua keluarga ku," kata nyai Nawang.


"kau tentu tau jika aku bukan tandingan mu, jadi buat apa capek-capek melawan mu," kata pak Sugandi pergi dari sana.


tapi tak terduga arwah gentayangan itu menangkap pak Sugandi dan langsung merantai tangan pria itu.

__ADS_1


dan pria itu mati di gerogoti oleh tikus ghaib dan juga kelabang, malam itu sekarang sudah empat orang dan tinggal satu orang lagi.


__ADS_2