Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
pertarungan terakhir.


__ADS_3

malam itu, Raka, Wulan mengenakan pakaian putih, sedang Rafa mengenakan pakaian pakaian hitam sesuai permintaan Wulan.


ketiganya kini menuju ke rumah Azizah, rumah itu begitu kotor, dan tak terawat.


saat mereka masuk ternyata ada jenazah Mbah Sahal dan istri yang sudah tinggal tengkorak.


sedang mereka tak bisa mencari dimana keberadaan dari Azizah, kareba rumah itu sudah kosong.


"dia sudah mulai mencari mangsa ternyata," gumam Wulan.


"kita harus menariknya pulang, atau kita kesulitan mencarinya, terlebih sekarang sudah sangat malam." jawab Rafa.


"aku akan memancingnya pulang," kata Raka melihat sebuah sesajen yang tertata rapi di atas meja, dan juga ada sebuah jbtung manusi di atasnya.


jantung itu nampak berdetak meski tanpa tubuh, Raka mengambil keris miliknya dan membaca doa dan kemudian menancapkan kerus itu ke jantung yang kemudian langsung musnah.


azizah yang sedang berburu pun merasa kesakitan, pasalnya dia tau jika ada penyusup masuk kedalam rumahnya.


padahal dia sudah memagari rumah itu dengan pagar yang begitu kuat, dan hanya beberapa orang yang bisa menghancurkannya, yaitu hanya tiga orang itu jika bersatu.


"AAAA!!!!" teriak Azizah marah.


dia pun langsung kembali dan benar saja dia melihat ketiga orang itu sudsh berdiri di luar rumahnya.


"brengsek, kalian benar-benar ingin mati rupanya, hingga berani mengangguku, maka matilah!" teriak wanita itu menyerang ketiganya.


wulan maju dan langsung menendangnya hingga terpelanting jatuh.


Wulan berdiri dengan begitu gagah, bahkan wanita itu kini memegang pedang yang baru saja di ambilnya.


"anj*Ng... kau ternyata titisan nyai Nawang, dan Suryo juga mati di tangan mu," geram Azizah yang langsung mengeluarkan taring dan kuku panjang.


"kamu tunggu di sini," kata Raka pada Rafa.


kini Raka berjalan dan juga mengeluarkan keris miliknya, Azizah sebagai sing bahu rekso tak percaya ini.


kenapa dua titisan besar bisa bersatu, bisa di pastikan jika dia tak akan bisa membunuh keduanya.


"ha-ha-ha, ternyata temenggung Wira Sanjaya juga nitis, tapi kalian berdua bukan tandingan ku jika kalian belum bisa menguasai ajian Cakra banyu," ejek Azizah yang ingin kabur.


tapi tak terduga Wulan mengerakkan sesuatu dan menahannya dan langsung menariknya hingga jatuh.


kini giliran Raka yang mengunci wanita itu dengan kekuatannya, tapi tak terduga wanita itu berhasil menghancurkan semua usaha Wulan dan Raka.


kini Rafa yang melompat dan menghadapi wanita itu, "walah .... awak mu arek wingi sore arep mateni aku, ngipi!!" teriak Azizah yang berusaha menghajar Rafa.


tapi pria itu menghadapi dengan tenang, bahkan pertarungan itu begitu menguras tenaga dari Azizah.


Wulan mengambil cambuk nogo Seno, dan langsung menariknya hingga membentang.


kemudian dia mengayunkannya dan melilit leher Azizah, dan sekali sentak wanita itu langsung terpelanting menjauh.


Raka langsung menghajar wanita itu dengan keris yang di bawanya. tapi sayang Azizah masih bisa melepaskan diri seyelah berhasil menendang pria itu.


kini giliran Wulan yang beradu silat, Azizah tak mengira jika gadis yang terlihat biasa itu.


meniliki kemampuan begitu besar, dan sebuah pukulan di dada Azizah membuat wanita itu muntah darah karena Wulan mengunakan tenaga dalam.


"kamu yang bukan tandingan kami," kata Wulan yang kembali berdiri bersama kedua pria itu.


Azizah pun murka, dia pun kembali menyerang ketiganya, tapi wulan meringkusnya dan memeluknya dari belakang.


"mas Rafa tombak Cokro Geni, sekarang!!"teriak Wulan yang masih menahan Azizah.


Rafa pun mengeluarkan tombak itu, dan siap memusnahkan wanita itu, "tidak!!!," berontak Azizah


melihat istrinya tak bisa bertahan, Raka juga ikut mengunci Azizah, "lakukan sekarang incar jantungnya!" kata Raka.


Rafa melempar tombak itu saat Raka bergerak, tapi bukan menghindarinya, tapi malah memeluk Wulan dari belakang.


jadi tombak itu menembus tubuh Azizah dan juga wulan serta Raka, "kalian goblok, kalian jika ingin membunuhku, berarti kalian harus siap mati," kata Azizah tertawa.


Raka dan Wulan mulai membaca mantra yang di ajarkan oleh penjaga yomvak Cokro Geni.


tombak itu berpendar terang dan kemudian mulai membakar Azizah dan sing bahu rekso.


Rafa tak mengira akan melihat pengorbanan besar dan kedua adiknya itu menjadi alasan untuk selesainya kejadian ini.


tubuh Azizah dan sing bahu rekso pun hangus jadi abu bertepatan dengan sinar mentari mulai terbit.


Raka memeluk tubuh istrinya yang sama-sama terluka, Rafa pun langsung berlari menghampiri keduanya.


"tidak, apa yang kalian lakukan, kalian membohongiku, apa ini, kalian begitu tega melakukan ini, kenapa aku harus ikut membunuh kalian berdua, ini tak adil!!!" teriak Rafa dengan tangis yang tak bisa berhenti.

__ADS_1


"tidak mas Raka, ini memang Pilihan kami, aku titip Arkan dan Aryan kami percaya padamu," kata wulan yang kemudian muntah darah.


Raka memberikan dua buah tasbih yang sempat dia dan wulan Buat untuk kedua putra mereka, Raka bahkan tak melepaskan pelukannya.


"ini hadiah untuk mereka, maaf kami tak bisa menemani mereka hingga dewasa," kata Raka memberikan benda itu.


"tidak, jangan buat aku menjadi orang paling bersalah di dunia ini, aku mohon jangan mati, apa yang harus aku katakan pada semua orang!" kata Rafa dengan air mata yang terus menetes.


dia tak mengira setelah kepergian dari sang eyang, kini giliran dari kedua saudaranya itu.


tapi tak terduga, tiba-tiba dua cahaya muncul dari tubuh keduanya, Raka dan Wulan sudah menutup mata mereka.


"tidak!!!" teriak Rafa yang mengejutkan semua orang pagi itu.


pria itu menangis begitu sesenggukan, dan kemudian pingsan.


ustadz Arifin datang tapi sepertinya semua sudah terlambat pasalnya mereka sudah melihat rumah yang hancur semua orang yang mati di tempat itu.


-----☘️☘️☘️💮🌸🌺🏵️🌼🌻-------


Rafa sedang duduk di samping makam, Jasmin datang untuk menyadarkan suaminya itu.


"sudah mas, mereka semua sudah tenang di sana, lebih baik sekarang kita pulang, jika tidak tiga putra mu itu bisa membuat rumah kita hancur," kata Jasmin menahan tawanya.


"ya kamu benar Faraz bahkan tak bisa menghentikan si kembar," gerutu Rafa.


" iya mereka juga mirip dengan mu, jadi jannsn marah, terlebih Arkan yang makin tak bisa mengendalikan dirinya," kata jasmin.


mendengar itu Rafa pun langsung berdiri dan bergegas pulang, sesampainya di rumah benar saja bocah itu sedang didekati oleh seorang pria misterius.


"Arkan kemari nak, kalian berdua juga," panggil Jasmin pada ketiga putranya yang berusia tiga tahun.


Rafa langsung menghampiri pria itu dan mencengkram leher pria itu dengan erat.


"kamu mau mati berani menganggu Putra-putra ku!"


"kau sekarang bukan tandingan ku, kau hanya pria biasa," hina dukun abal-abal itu.


Rafa pun mulai membacakan surat-surat pendek, pria itu pun kepanasan kemudian pergi.


tapi sayang saat dia ingin pergi dia tertabrak truk karena keteledorannya.


Jasmin kaget pasalnya Rafa bilang jika kekuatannya sudah hilang setelah kejadian buruk tiga tahun lalu.


"mas, kekuatan mu?" tanya Jasmin yang memeluk ketiga putranya.


"baiklah , sekarang siapa yang mau ayah gendong," kata Rafa mengulurkan tangan.


"em... tidak aku dan Arkan mau tidur," tarik Aryan pada adiknya itu.


Rafa pun sedih, pasalnya Aryan seperti menyembunyikan sesuatu, pasalnya bocah itu memiliki kemampuan di atas kedua saudaranya.


Faraz pun di gendong oleh Rafa dan masuk rumah, Rafa tak menemukan kedua putranya di kamar mereka.


Jasmin menebak jika kedua anak sedang berada di kamar yang sudah tiga tahun ini di biarkan kosong, bahkan semua barang di sana tak pernah berubah sedikitpun.


"Aryan dan Arkan mana ya bunda, kok di kamar tak ada," tanya Rafa bingung.


"mereka di kamar belakang, kalau tak percaya lihat saja," kata jasmin yang juga baru menyadari keanehan pada keduanya.


Rafa pun dengan tangan sedikit gemetar memberanikan diri membuka kamar itu.


sudah tiga tahun tapi rasanya seperti masih kemarin dia menyaksikan Semuanya.


saat pintu terbuka ternyata benar, kedua bocah itu sudah tertidur dengan lelap di ranjang milik orang tuanya.


bahkan Keduanya seperti begitu tenang di kamar itu, Rafa pun mencium kedua anaknya itu.


"kalian ini, tidur yang nyenyak ya," gumamnya yang mengajak Jasmin keluar.


Faraz juga sudah tertidur, tak tak di duga Rania datang dan langsung memeluk Jasmin, "eh gadis cantik mau kesini, ada apa sayang?" tanya jasmin.


"kak Jasmin boleh pinjem laptop, habis laptopku rusak dan belum di perbaiki oleh ayah, dan laptop bunda juga sedang dipakai," mohon gadis itu.


"tentu cantik, memang mau mengerjakan apa? minta tolong kak Rafa pasti mau bantu kok," kata Jasmin.


"wah bagus itu, ayo kak," kata Rania mengandeng dan menyeret Rafa ke ruang tamu.


Rania sudah kelas lima SD, tapi dia di sekolah di sekolah internasional, karena kepintarannya hingga dia mendapatkan beasiswa di sekolah itu.


Rafa pun dengan senang hati membantu Rania mengerjakan tugasnya.


Rafa tak mengira jika pelajaran sekolah dasar sekarang begitu rumit, berbeda dengannya dulu.

__ADS_1


meski memegang dua yayasan, Rafa memang tak seberapa mengikuti kurikulum di sekolahnya.


karena dia mempercayakan semuanya pada orang yang tepat.


Adri pulang untuk memberikan hadiah laptop baru untuk putrinya itu, tapi tak terduga putra kecilnya malah berlari memeluknya.


"halo Andre, mana kakak?" tanya Adri.


"tu..." tunjuk rumah Rafa


"oke, kamu main dan tidur siang bareng Bu ses ya, ayah mau ketemu kak Rania," kata Adri.


bocah dua setengah tahun itu seakan mengerti dan kembali ke rumah, Adri pun bergabung dengan keduanya.


"wah lagi kerja PR ya, Rania itu laptop siapa?" tanya Adri.


"ini laptop milik kak Jasmin aku pinjam kok, lagi pula ayah mah gitu, orang laptop ku rusak belum di benerin, kan kakak jadi repot kalau mau kerjain Pr," protes gadis itu.


Adri pun tertawa dan memberikan hadiah yang tadi di belinya bersama Nurul, setelah itu Nurul harus ke dinas pendidikan karena harus melaporkan tentang sekolah.


"wah ini laptop baru, terima kasih ayah, ini merk yang begitu aku inginkan, bagaimana ayah tau," kata Rania senang bukan main.


"itu bunda yang bilang, dan yang memilihkan warnanya," jawab Adri.


Rania pun langsung memeluk Adri begitu erat, dan Rafa tersenyum melihat Rania yang tumbuh dengan kasih sayang penuh terutama dari Adri dan Nurul.


"siang menjelang sore om," sapa Adi yang datang.


"widih jago pukul dari mana ini, kenapa kamu kemari denhan bakso songket doang sih Adi, kamu mau pamer tubuh bagus mu itu," kata Adri yang menjewer kuping keponakannya itu.


"idih gak dong om, aku cuma tadi sedang latihan silat sendiri, eh bunda nyuruh nganter rantang buat om Adri dan kak Rafa," kata pria itu


"wah dalam rangka apa ini? segala ada rantang lagi?" tanya Rafa.


"ini bancaan weton dari Al," jawab Adi.


"baiklah, terima kasih ya, udah pulang sana, om kok gak suka lihat kamu begini, lain kali pakai baju sebelum keluar atau om yang menghukum mu," kata Adri


"iya om, iya," kata Adi yang langsung pulang karena takut dengan Adri.


Aryan dan Arkan sedang bermain di sebuah istana, dan nyai Nawang menjaga mereka.


"kalian jangan berlarian, itu kasian jika ki Antaboga kalian injek," kata nyai Nawang telat.


ekor Ki antaboga sudah jadi alat trampolin oleh Arkan, sedang Aryan sedang memegangi ekor dari Suni.


bahkan harimau itu tak punya harga diri di depan Aryan, dia tak mengira jika putra dari Raka itu begitu menyebalkan persis seperti ayahnya.


"aduh kalian berdua ini suka sekali menganggu penghuni sini, Aryan ... Arkan tolong berhenti, eyang mau mengatakan sesuatu," kata nyai nawang tak bisa menghentikan


dua cucunya itu.


tapi saat tumenggung Wira Sanjaya, datang pria itu langsung mengendong kedua cucunya itu.


"kenapa kalian tak mau mendengarkan eyang nyai," kata tumenggung.


"iya eyang sepuh," jawab Keduanya lemah.


tumenggung Wira Sanjaya tak mengira jika dua pria kecil ini begitu cepat berkembang.


terlebih di usianya yang ketiga tahun, kedua bocah itu sudah lancar berbicara.


bahkan sudah bisa menulis dan menggambar, bahkan keduanya bisa tau tentang ilmu hitam dan memusnahkannya.


"kalian duduk dan dengarkan eyang Nyai oke," kata tumenggung Wira Sanjaya.


"Aryan dan Arkan, kalian tidak rindu orang tua kalian?" tanya nyai nawang.


"rindu sekali, tapi mereka tak pernah mau menunjukkan diri pada kami, padahal kami bisa melihat eyang buyut dan eyang serta kakek yang sudah lama mati," kata Aryan


"karena orang tua kalian-'' kata tumenggung langsung di bekap oleh nyai Nawang.


nyai Nawang melotot pada tumenggung Wira Sanjaya, Keduanya malah sedang adu mulut.


"eyang sepuh dan eyang nyai, kalian sudah menikah, kenapa bisa berdekatan jika belum bersama" tanya Arkan.


"cerewet nya..." kesal nyai Nawang.


"sudah Arkan, ayo kita main, tadi aku belum naik Ki Antaboga, dan Ki Adhiyaksa kenapa tidak datang," kesal Aryan.


"maaf deng, aku sedang sibuk, dan kenapa sih kangen dengan aku," kata Ki Adhiyaksa.


"dasar raksasa gila, kamu terus membuatku kesal, kenapa kemarin kamu melebih membantu Sarfaraz, karena kamu itu pelindung kami," teriak Aryan marah.

__ADS_1


"bukan begitu tuan, aku hanya melindungi kalian saja," kata Ki Adhiyaksa menjelaskan.


"jangan berani berbohong, saat Arkan di datangi dukun tadi, kamu juga hanya melihatnya, kau tau jika Arkan bisa saja mati saat mustika di tubuhnya di tarik paksa!" bentak bocah kecil itu meremas Boneka yang di bawanya.


__ADS_2