Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
lagu itu...


__ADS_3

Wulan sedang berjalan menyusuri sebuah hutan yang terasa terang tapi hawa dingin begitu menusuk ke tulang-tulang.


Wulan pun terus berjalan mengikuti jalan setapak itu, dan terlihat dari jauh ada Raka yang sedang berjalan dengan seorang wanita.


Wulan ingin menyusulnya, dia pun mencoba berlari sekuat tenaga, tapi semakin dia berlari maka bayangan itu menjauh.


dia pun kelelahan, tapi wulan sadar jika perutnya sudah tak ada, bahkan perutnya sudah rata.


"tidak ... anakku, putraku!" teriak Wulan kebingungan dengan segalanya.


tiba-tiba dia melihat sesosok orang yang mirip raka tertawa cekikikan di bawah pohon, pria itu tertawa sambil memakan sesuatu dengan lahap.


"mas Raka?" panggil Wulan dengan suara gemetar.


Raka pun menoleh dan menunjukkan apa yang di makannya pada Wulan, Wulan langsung mundur saat melihat apa yang di pegang oleh raka.


"tidak!" teriak Wulan saat melihat Raka tertawa, sambil menunjukkan janin merah masih penuh darah yang sedang di santap oleh-nya.


wulan pun menangis sejadi-jadinya, tapi tiba-tiba sebuah tangan menutup matanya.


dan bisikan suara itu menenangkan hati dan pikiran wulan, "aku selalu bersama mu, aku tak mungkin melakukan hal buruk, terlebih dia adalah buah cinta kita, jadi ingat selalu hal ini yang selalu kita lalui bersama,"


Wulan pun ingat bagaimana dia pertama bertemu dengan raka, dia ingat senyum teduh pria itu.


bagaimana dia menenangkan dirinya saat merasa ketakutan saat merasa ada kehadiran mahluk ghaib di sekitarnya.


setiap senyuman, setiap ucapan, setiap sentuhan yang suaminya berikan.


Wulan pun sadar akan hal itu, dia membuka mata dan di tangannya ada sebuah golok milik Rafa.


"mas Rafa bimbing aku," kata wulan.


"baiklah, ikuti jalan setapak itu, dan jika kamu bertemu dua kucing hitam putih ikuti saja," suara itu.


Wulan pun mulai berlari menuju ujung jalan setapak itu, tiba-tiba ada berbagai mahluk yang mulai menghadangnya.


dia pun membabat habis semuanya menghalanginya tanpa rasa takut, tiba-tiba di depannya ada dua ekor kucing berlari menunjukkan jalan yang sudah habis.


mereka sampai di sebuah rumah di pinggir danau,Wulan pun langsung mendobrak masuk, terlihat suaminya sedang tertidur di atas bayang galar.


sesosok mahluk sedang menjilati tubuh suaminya dengan lidah panjangnya.


"MUSNO!!"


golok itu terbang dan membunuh mahluk itu, saat dia ingin menyadarkan suaminya ternyata ada sebuah benang merah yang terikat dengan sesuatu.


melihat benang itu terhubung dengan nyawa seseorang Wulan geram dan marah, dia tak mengira jika orang yang dekat dengannya berani melakukan perjanjian dengan setan, agar bisa melakukan pernikahan ghaib dengan suaminya.


"Nyai Nawang ibu .... tolong bantu putrimu ini ... aku tak mau suamiku terjerat ikatan iblis ini," tangis wulan.


tiba-tiba benang itu putus, Nyai Nawang datang membantu putrinya.


"bawa suamimu pergi, biar aku yang melawan dukun bangsat ini, Melayu nduk..."


Wulan pun memapah tubuh Raka. tak terduga Sen-sen dan Suni menyatukan kekuatan mereka dan meminta Wulan naik.


"kita pergi nyai," kata harimau itu.


nyai Nawang langsung mengembalikan ajian itu, dan meminta bala tentaranya untuk menyerang dukun yang berani mengusik kedua anaknya.


Wulan mendorong ruh Raka ke arah cahaya putih itu, kemudian Ki antaboga juga melakukan apa yang di lakukan oleh Wulan.


"tidak!!!" teriak Wulan saat bangun.


dia pun langsung menangis sejadi-jadinya, pasalnya semua membantunya untuk menyelamatkan suaminya terluka.


Rafa masih mencoba untuk menyadarkan saudaranya itu, "ibu..." tangis Wulan yang akhirnya pingsan.

__ADS_1


semua orang panik, pasalnya Wulan mengalami pendarahan hebat, dan ini yang tak diinginkan oleh Rafa.


"om, pakde bawa Wulan ke rumah sakit, dia harus melahirkan sekarang?" kata Rafa.


"kamu gila, bagaimana bisa, dia baru hamil lima bulan," bantah Adri.


"sudah pergi dulu! percaya pada takdir Allah!" bentak Rafa.


akhirnya mereka pun membawa Wulan pergi ke rumah sakit, sedang Rafa melihat benang merah yang mengikat jiwa saudara.


"cari pusat benang itu, karena itu di tanam dengan barang yang dekan dengan raka," kaya nyai Nawang yang muncul dengan wujud setengah ular.


"nyai?" kata Rafa heran.


"aku terluka, dan dalam masa pemulihan, itulah kenapa tidak bisa sepenuhnya menunjukkan sosok manusia," jawabnya.


Rafa pun meminta ustadz Arifin untuk menjaga Raka, sedang dirinya mengikuti benang itu.


dan benang itu di tanam di bawah tumpukan batu bata, Rafa pun membongkar tumpukan itu.


dia tak ingin saudaranya tersesat jika dia tak bertindak segera. dia pun menuang air yang sudah di doakan.


dan juga menaburkan garam kasar, setelah itu dia melihat bungkusan kain putih yang di bentuk seperti pocong.


Rafa membaca pemusnah ilmu hitam, kemudian bungkusan itu pun terbakar dengan cepat.


ternyata media yang di pakai adalah ****** ***** kotor yang di curi dan di jadikan media untuk tujuan pernikahan ghaib.


Rafa pun setelah itu menguburnya kembali, dan bergegas menghampiri Raka dan ustadz Arifin beserta anak muridnya.


sedang di rumah sakit, Wulan harus mengalami operasi sesar darurat demi menyelamatkan ibu dan janin.


kedua bayi pun selamat dengan sehat tanpa kurang satu pun, dokter pun keluar dengan membawa dua kabar.


"dokter, bagaimana keadaan putri saya dan juga bayinya?" tanya pak Suyatno.


"tapi apa dokter," suara Raka yang datang dengan kondisinya yang baru sadar.


"karena pendarahan yang parah, ibu dari kedua bayi sedang kritis," jawab dokter yang menangani Wulan


Rafa pun pingsan karena mendengar ucapan dokter, terlebih dirinya juga masih begitu lemah.


Wulan pun berjalan menuju ke sebuah cahaya, seseorang menahan tangannya. dia pun tersenyum saat menoleh dan melihat pria yang sedang menangis di depannya itu


"aku pamit mas..." lirih Wulan.


"tidak, jangan tinggalkan aku, aku bisa gila tanpa mu, terutama kedua anak kita, bagaimana aku membesarkan mereka tanpa mu," kata Raka.


"tugas ku selesai, aku yakin mas Raka bisa membesarkan anak-anak kita dengan baik, maafkan aku yang tak bisa menemani mas sampai di perjalanan hidup mas sampai tua," kata Wulan yang melepaskan tangan Raka dan berjalan menjauh.


"tidak!" teriaknya saat tersadar.


"Wulan, mana istriku Rafa, kenapa kamu diam! om!" teriaknya histeris.


Rafa dan Adri hanya bisa menangis tanpa bisa mengatakan apapun, Raka yang tak bisa menahan diri lagi langsung berlari mencari istrinya itu.


sepanjang lorong itu, dia melihat begitu banyak khodam miliknya dan Rafa yang sedang menangis, dan di depan kamar rawat pasien.


semua keluarga sedang menangis, bahkan pak Suyatno yang tak bisa menahan tangisnya.


Rizal pun memeluk Raka yang nampak masih kaget, "Kenapa? ada apa ini?" bingung Raka.


"yang sabar ya le, garwo mu sampun kepundut, seng ikhlas ya le," kata Mak nur menepuk punggung Raka.


dunia Raka hancur seketika, pandangan dan sinar hidupnya padam gelap gulita, cahaya dan senyuman itu kini lenyap.


langka kaki Raka begitu berat untuk berjalan, dia pun menahan sebuah ranjang yang di bawa keluar dari dalam ruangan itu.

__ADS_1


Raka pun memberanikan diri untuk membuka selimut yang menutup sebuah tubuh kaku di bawahnya.


tangan Raka gemetar, perlahan selimut itu tersingkap, dan Raka tak bisa menghentikan air mata yang menetes.


wajah teduh yang selama beberapa bulan menghiasi hidupnya kini terbaring tak bernyawa.


bahkan di wajah itu Wulan tersenyum dan wajahnya begitu cerah, "sayang bangun yuk, mas disini... jangan bercanda yuk, gak lucu, mas gak suka lelucon mu kali ini ..." kata Raka dengan suara bergetar.


"ayolah sayang... jangan seperti ini, aku tidak suka bercandaan mu, eyang minta dia bangun, dia kenapa sering sekali tidur seperti ini, aku bisa gila jika tidak mau bangun," mohon Raka pada Mak nur yang malah menangis terisak.


Raka pun berpindah ke mertuanya, "bapak, bapak ... tolong minta putri tersayang mu itu untuk bangun pak, dia selalu menurut padamu, bapak tolong minta dia bangun pak, aku tak bisa melihatnya tidur lagi seperti ini pak, pak minta dia bangun pak," kata Raka pada mertuanya.


"ikhlaskan le ...." tangis pak Suyatno tak terbendung.


"tidak pak, bapak ngomong apa, dia itu masih hidup lihat saja dia senyum, dia tak boleh meninggalkan aku seperti ini, bagaimana aku harus menjalani hidupku tanpanya, dia belahan jiwa ku, Rafa tolong minta dia kembali, minta dia kembali, aku tak akan bisa hidup tanpanya, Rafa!!" teriak Raka histeris.


.


.


.


.


.


.


.


.


"astaghfirullah hal Adzhim, bangun Raka, woi..." kata Rafa menepuk pipi saudara kembarnya itu dengan keras.


"tidak bawa kembali istriku, aku tak mau kehilangan dia, Rafa minta dia kembali!!" kata Raka Mak histeris sambil menggoyangkan tubuh Rafa dengan kuat.


belum juga Rafa menjawab, Raka sudah pergi dan berlari mencari ruangan rawat di gambaran yang di lihatnya itu.


dia bisa melihat Fahri dan yang lain berdiri di sebuah ruangan kelas satu, Raka pun berlari tanpa memperdulikan dirinya sendiri.


bahkan pria itu menerobos masuk, dan melihat Wulan yang sedang di periksa oleh dokter.


langkahnya berat tapi dia langsung memeluk Wulan di depan sema dokter.


bahkan dia menangis dengan keras dan meraung, dokter bingung melihat tingkah raka.


Wulan pun membuka matanya karena merasa sesak karena pelukan Raka yang begitu erat.


"mas jika kmu tak melepaskan aku, aku akan mati beneran," kata wulan dengan lemah.


Raka pun bangun dan melihat istrinya sedang tersenyum melihat dirinya, Ra masuk dan menyeret saudaranya itu keluar karena tingkah Raka membuat malu.


"kamu benar-benar ya Raka," kesal Rafa.


Raka hanya diam tanpa mau bicara, dia hanya ingin memeluk istrinya saja saat ini.


Mak nur menahan Rafa yang masih ingin marah, saat tim dokter keluar, Raka pun masuk dan kembali memeluk wulan.


"sayang... Abi Raka ada apa? kenapa menangis?" tanya Wulan.


"aku bermimpi buruk Amma, kamu meninggalkan kami karena kamu bilang tugas mu sudah selesai ..." tangis Raka dengan begitu pilu.


"tidak Abi, Amma tak mungkin bisa meninggalkan Abi, karena kita sehidup semati," jawab Wulan


sebenarnya wulan sudah mau menyebrang, tapi ada dua anak kecil menahannya.


"kamu belum waktunya pulang, kembalilah pada suami dan Putra-putramu, dan perbaiki semua dan terus tolong orang dengan ikhlas," kata seseorang berjubah putih.

__ADS_1


Wulan pun di ajak kembali oleh kedua anak kecil itu, bahkan keduanya pun terus tersenyum mengantarkan Wulan pulang.


__ADS_2