Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Lepaskan Gelangmu!


__ADS_3

Felix membawa Sherli di sebuah toko jimat. Ia berniat membelikan jimat pelindung roh untuk Sherli, karena kejadian tadi pagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jam telah menunjukkan pukul 2.45, Sherli meraih kunci di dalam tasnya, lalu memasukan ke lubang pintu. Ia memutar kunci untuk membukanya. Knop pintu segera ia putar. Langkah kaki ia lajukan untuk masuk kedalam.


Tas yang ia bawa diletakan diatas nakas, ia segera mengganti bajunya dengan drees selutut. Sherli merasa sangat lelah. Direbahkannya tubuh diatas ranjang.


Pandangan Sherli tertuju pada jam dinding diujung matanya. Ia menghela nafas, "Sudah hampir jam tiga, beruntung aku ibu belum datang," gumamnya pelan.


Di tempat lain.


Felix melajukan mobilnya, ia kembali ke acara kantor, karena beberapa menit yang lalu Glen menghubunginya.


Mobil segera ia parkirkan, dengan langkah malas ia segera menuju ke aula. Ia terpaksa datang kembali karena Glen sangat memaksanya.


Bukan karena apa-apa Felix malas, tapi rasa lelah telah menyelimuti tubuhnya yang bolak-balik ke tempat itu.


"Hai, Bro!" sapa Glen berteriak.


Felix hanya membalasnya dengan senyuman kilat. Disana telah ramai akan teman-temannya.


"Kenapa wajahmu lesu begitu?" tanya Glen.


"Tidak apa-apa, aku hanya lelah habis mengantarkan Sherli," jawab Felix.


"Oh begitu, maaf Felix aku tidak tau, kau tadi juga tidak bilang. Setengah jam lagi acara selesai," ucap Glen.


"Tidak apa-apa santai saja" jawab Felix.


Felix memandang salah satu temannya dari jauh menenteng tas, menghampiri mereka.


"Kau mau keman, Bro?" tanya Felix.


"Tinggal acara penutup, aku balik duluan!" jawab teman Felix.


Felix mengernyitkan keningnya, "Kenapa buru-buru?"


"Aku tadi seperti melihat adikku disini, aku merasa tidak tenang, karena sedari tadi dia kuhubungi tidak aktif, aku duluan ya, Bro!"


"Hati-hati Bro" tutur Glen. Teman Felix beranjak pergi.


Sherli memejamkan matanya, ia terlelap beberapa saat. Dan segera membuka matanya karena terdengar bunyi motor sang Kakak.


"Kak Afbi sudah pulang, awal sekali tidak biasanya" batin Sherli.


Karena pintu tidak Sherli kunci, ia tidak bangun menyambut Afbi, ia masih membaringkan tubuhnya dikasur.


Tok tok!!


Suara pintu kamar di ketuk. Sherli berteriak untuk menjawabnya, "Masuk, Kak! Tidak dikunci."


Afbi membuka lebar pintu kamar, hingga menampakkan dirinya. "Dek, tadi kamu keluar rumah?" tanya Afbi.


Sherli terdiam, darahnya seakan berhenti mengalir karena terkejut, sekaligus takut. Ia bangkit untuk duduk, "Ti-tidak, Kak!" ucapnya terbata.


"Kau tidak bohong kan?"ucap Afbi meragukan.


"Tidak, Kak, memang kenapa?" tanya Sherli dengan suara setenang mungkin.


Afbi memandang Sherli serius, "Aku tadi seperti melihatmu ditempat kerjaku."

__ADS_1


Sherli mengernyitkan keningnya memandang Afbi, "Kakak serius? Aku bahkan tidak tau persisnya tempat Kakak bekerja. Bagaimana aku bisa kesana?" bantah Sherli.


Afbi terdiam, perkataan Sherli ada benarnya. Karena ia sekalipun tak pernah mengajaknya ketempat kerjanya, meskipun itu hanya sekedar lewat.


"Oh yasudah," Afbi segera meninggalkan kamar Sherli. Sherli merasa heran dengan perkataan sang Kakak.


"Oh iya kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" tanya afbi, yang kembali kekamar Sherli. Sherli seketika menoleh kearahnya.


"Benarkah? Sebentar!" Sherli meraih tas dan segera mengambil ponselnya.


"Hehehe maaf, Kak, ponselku mati," Sherli terkekeh seraya menunjukkan ponsel yang mati pada Afbi.


"Kebiasaan. Jangan kau ulangi lagi!" tegas Afbi lalu pergi meninggalkan Sherli.


Sherli segera mengaktifkan ponselnya, ia beruntung yang menghubungi Kakaknya tadi. Jika ibu Ruri, dia pasti akan kena marah habis-habisan.


Dilihatnya ponsel tersebut, terdapat lima panggilan tidak terjawab dari Afbi.


"Huh, untung saja Kakak yang menghubungiku. Kenapa juga aku bisa seceroboh ini?" gumam Sherli.


Tok tok!!


Bunyi pintu diketuk.


Sherli beranjak keluar dari kamar, karena jika ayah, atau ibunya pasti akan langsung masuk.


"Maaf, Pak mencari siapa?" tanya Sherli pada pria paruh baya.


"Pak Andre ada?"


"Ayah sedang kerja, Pak," jawab Sherli.


"Bu Ruri saja kalau ada, bisa tolong dipanggilkan!"


"Katakan pada ayahmu, ada pendataan warga, nanti suruh kerumah, Bapak!"


"Baik, Pak RT nanti saya sampaikan," jawab Sherli.


"Baiklah, saya permisi dulu." Pak RT beranjak dari rumah Sherli.


Jam menunjukan pukul tujuh. Keluarga Sherli, memulai makan malam. Hanya dentingan sendok yang terdengar. Sherli membuka percakapan, "Yah tadi pak RT datang mencari Ayah, katanya ada pendataan warga. Ayah disuruh kerumahnya nanti!" ucap Sherli.


"Baiklah, Sayang setelah ini Ayah kesana, m" ucap Ayah Andre.


Ibu Ruri yang memandang anak dan suaminya berbicara, tidak sengaja pandangannya berhenti pada tangan Sherli.


"Sher gelang apa ini, kamu dapat dari mana?" tanya Ibu Ruri.


Sherli terkejut mendengar perkataan ibunya, terlebih ia tadi mengatakan pada Afbi tidak pergi keluar rumah. Sherli terdiam.


"Sher, jawab Ibu! Ini gelang apa?" tanya ibu Ruri kembali.


"Sayang, Ibu sedang bertanya kepadamu!" tegas ayah Andre pada putrinya.


"Oh ini gelang yang aku beli beberapa hari lalu, Bu, dipameran bersama Marsa!" ucap Sherli berbohong.


Ibu Ruri meraih tangan Sherli untuk melihat gelangnya, "Oh, kenapa terlihat begitu antik?"


"Aku juga tidak tau, Bu, aku asal beli," ucap Sherli.


Mereka kembali melanjutkan makan malam.

__ADS_1


Jam telah menunjukan pukul 11 Sherli segera beranjak menuju keranjangnya untuk segera tidur.


***


Pagi datang menghampiri penduduk bumi, kicauan burung mengiringi sayupnya suasana. Sherli mengerjapkan matanya, pandangannya tertuju pada jam dinding yang menunjukan pukul lima pagi.


Ia segera beranjak untuk bersiap berangkan kesekolah.


Sherli bergegas pamit pada Ibunnya, "Bu aku berangkat dulu."


"Hati-hati, Nak!" jawab Ibu Ruri.


*


"Pagi Nia ...." Sapa Sherli.


Ia mendudukkan tubuh di kursinya.


"Pagi Sher," jawab Nia.


Sherli menyamping kearah Nia, "Kemaren benar tidak ada tugas Ya?"


"Enggak ada Sher, dua hari lagi UAS mana mungkin ada tugas," ucap Nia.


"Oh iya aku lupa," ucap Sherli. Mereka berbincang sambil menunggu guru masuk kekelas mereka.


Sherli mengikuti pelajaran dengan hikmat hingga akhir jam. Bel pulang berbunyi ia bergegas pulang kerumah.


*


Dress selutut sudah melekat ditubuhnya, menggantikan seragam sekolah. Ia menghampiri Ibu Ruri di ruang tengah.


"Bu aku mau jalan-jalan di belakang rumah, jika Ibu nanti mencariku, karena ponselku kutinggal batrainya habis," ucap Sherli.


"Baiklah, tapi jangan terlalu jauh!" tutur ibu Ruri.


"Iya, Bu!" Sherli beranjak meninggalkan Ibunya, ia segera kebelakang rumah karena sudah berjanji pada Hongli kemarin untuk bermain.


Hongli yang terlihat di belakang pohon bambu, menghampiri keberadaan Sherli.


Namun, ketika tinggal dua meter, ia sedikit terpental kebelakang.


Sherli yang melihat Hongli terpental segera menghampirinya, namun Hongli kembali terseret kebelakang saat Sherli berjarak dua meter dengannya. "Kak! Kakak kenapa?" tanya Sherli takut.


"Sher tolong jangan mendekat, nanti aku terpental lagi. Sepertinya kau membawa benda yang bertolak belakang denganku," ucap Hongli. Ia masih terduduk karena merasa tubuhnya sakit.


"Apa maksud, Kakak? Aku tidak mengerti," ucap Sherli.


Hongli terdiam dia melihat Sherli dari ujung rambut sampai, ujung kaki. Pandangannya tertuju pada gelang yang Sherli kenakan.


"Benda itu pasti penyebabnya, sinarnya sedikit lebih putih dari kalung yang kuberikan," gumam Hongli.


"Sher, lepaskan gelangmu!" teriak Hongli. Sherli tertegun, ia telah berjanji kepada Felix untuk tidak melepaskan gelangnya.


"Tapi, Kak" sangkal Sherli.


"Cepatlah, aku sangat kesakitan!" teriak Hongli kesal. Karena takut Hongli semakin murka Sherli menurutinya.


"Sebentar, Kak! Aku letakan dirumah," jawab Sherli berteriak.


Ia segera masuk kedalam rumah meletakkan gelang dari Felix.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views terimakasih :).


__ADS_2