
Felix menenteng dua kantung kresek besar ditangannya. Tadinya Sherli ingin membantu membawakan salah satu dari kantung tersebut. Namun, Felix mencegahnya.
Ia tidak ingin Sherli merasa kelelahan. Sherli mengimbangi langkah kaki Felix disampingnya. Tangan gadis itu meraih lengan kekar Felix untuk ia gandeng.
Setibanya di mobil, Sherli membantu membukakan pintu mobil belakang.
"Terimakasih, Sayang!" ucap Felix tersenyum.
"Sama-sama!" jawab Sherli membalas senyuman Felix.
Setelah memasukkan semua belanjaannya di mobil. Felix membukakan pintu depan untuk Sherli tempati.
Saat telah melihat Sherli duduk dengan baik, Felix menutup pintu perlahan dan segera memutari mobil untuk masuk dikursi kemudi.
Mereka segera meninggalkan area supermarket.
"Apa kita akan pulang?" tanya Sherli.
Felix memandang kilas pada Sherli, lalu kembali memandang jalanan.
"Kamu mau pulang, apa mau jalan-jalan?" tanya Felix.
Sherli terdiam, ia memikirkan hal yang menyenangkan hatinya.
"Bagaimana kalo jalan-jalan dulu sebentar?" tanya Sherli.
"Baiklah! Kamu mau kemana?" tanya Felix.
Sherli kembali terdiam memikirkan tempat yang sesuai. Seketika ia mengingat tempat pertama mereka berkencan, hingga membuat perasaannya meremang haru.
"Mau kemana?" tanya Felix lagi.
Sherli menoleh pada Felix.
"Ayo kita ketempat pertama kali kita kencan!" ucap Sherli.
Felix terdiam ia memikirkan ucapan Sherli karena merasa lupa dimana tempat itu.
Setelah beberapa saat, Felix mengingat tempat itu. Perasaan hangat menerpa hatinya mengetahui Sherli tidak melupakan masa-masa itu.
"Kamu masih mengingatnya?" Felix memandang Sherli hangat.
Sherli mendekat pada tubuh Felix, tangannya segera melingkar pada lengan Felix dengan kepala bersandar padanya.
"Tentu saja, Kak! Mana mungkin aku lupa hari bahagia itu!" ucap Sherli haru.
Felix merasa bahagia dengan tingkah Sherli yang mulai berani. Ia mendaratkan ciuman lembut pada puncak kepala gadis itu.
"Terimakasih, sudah bersedia menjadi istriku!" ucap Felix.
Sherli menatap kilas mata Felix. Seketika perasaan sedih menerpa hatinya. Gadis itu terdiam tanpa menggeser posisisnya.
"Selagi aku bisa, akan aku lakukan, Kak! Aku takut kita berpisah lagi," batin Sherli sedih.
Sherli menghela nafas, ia berusaha menepis perasaan sedihnya saat mengingat Hongli yang masih ingin mengincarnya.
__ADS_1
*
Setibanya ditempat tujuan, mereka segera turun dan memilih tempat seperti awal mereka kencan.
Sebelumnya, mereka telah membeli beberapa makanan.
Sherli mengedarkan pandangnya, ia merasa bahagia kondisi lingkungan disana tidak ada yang berubah.
Felix memandang wajah Sherli yang terlihat bahagia. Seulas senyuman terbentuk saat mengingat kondisi istri kecilnya beberapa waktu lalu.
"Kamu suka disini?" tanya Felix menggenggam tangan Sherli.
Sherli memandang Felix seketika. "Aku suka dimanapun asal ada, Kakak!" jawab Sherli dengan tatapan hangat.
Felix tersentuh mendengar ucapannya. Namun, entah hanya perasaannya atau hanya terlalu berfikir panjang. Felix merasa, setiap ucapan Sherli memiliki arti yang entah itu sedih atau bahagia, hingga membuat hatinya sedikit tidak tenang.
"Kemarilah!" Felix menarik lembut tangan Sherli.
Tanpa banyak bicara Sherli bangkit mendekat dan duduk dipangkuan Felix. Felix segera mendekap hangat tubuh Sherli.
"Apa kamu sedang sedih?" tanya Felix.
Sherli mengangkat wajahnya yang ia benamkam pada dada Felix.
"Kenpa berfikir begitu?" tanya Sherli.
"Aku merasakan kamu sedang terbebani!" Felix memandang dalam manik mata gadis itu.
Seketika bulir airmata Sherli mengalir. Felix membiarkan airmata Sherli tanpa menghapusnya. Ia berfikir, mungkin dengan menangis Sherli akan menjadi lebih lega.
"Menangislah! Keluarkanlah semuanya!" Sherli menangis semakin pilu didekapan Felix.
Pandangan mereka menatap satu sama lain selama beberapa saat. "Sudah tenang?" tanya Felix.
Sherli tersenyum seraya mengangguk. "Kamu kenapa?" tanya Felix lagi.
"Aku takut kita berpisah, Kak! Aku takut kak Hongli akan mengambil diriku!" jawab Sherli sedih.
Felix mendekap tubuh Sherli sejenak, pandangannya kembali fokus pada manik mata gadis itu. Tangan Felix menangkup wajah Sherli hangat.
"Aku akan berusaha mempertahankan dirimu! Aku akan mencegah itu terjadi, jadi jangan bersedih! Jika kamu diambil aku akan menjemputmu! Bahkah bibi Jen masih berjaga disana, kan?" ucap Felix menenangkan.
Sherli mengangguk pelan menjawab Felix. Perasaannya sedikit lega karena telah ia curahkan pada Felix.
"Jika ada yang mengganggu fikiranmu, ceritalah! Jangan dipendam sendirian, biarkan aku masuk untuk membantumu menghadapinya!" ucap Felix dalam.
Sherli tersentuh mendengarkan ucapan Felix, ia merasa sangat bersyukur memiliki lelaki itu sebagai teman hidupnya.
Sherli segera mendaratkan ciuman pada bibir Felix, membuat lelaki itu tertegun akan keberaniannya.
Hati Felix merasa sangat bahagia dengan inisiatif Sherli, ia segera membalas ciuman gadis itu dengan lembut.
Setelah bebarapa saat mereka mengakhiri ciumannya. Sherli kembali memeluk tubuh Felix yang tengah memangkunya.
*
__ADS_1
Setibanya dirumah, Sherli segera menata belanjaan mereka pada tempatnya. Setelah selesai, ia berniat memasak untuk makan malam mereka.
Felix yang memiliki sedikit pekerjaan, tetap setia menemani Sherli memasak didapur dengan laptop diatas meja makan.
Felix tidak ingin meninggalkan Sherli sedetikpun saat mengingat kesedihan yang gadis itu utarakan tadi.
Mereka berdua fokus akan tugas masing-masing. Sherli berniat membuatkan Felix masakan steak daging untuk makan malam.
Setelah hampir setengah jam, Sherli telah selesai dengan memasaknya. Ia segera meletakkan masakannya diatas meja.
"Sudah siap?" tanya Felix yang kala itu juga telah usai akan pekerjaannya.
"Sudah!" jawab Sherli tersenyum lembut.
Felix menghirup aroma masakan Sherli yang telah tertata dimeja, pandangannya berbinar saat masakaan tersebut adalah steak kesukaannya.
"Kamu memasak steak?" ucap Felix tersenyum pada Sherli yang tengah duduk dihadapannya.
"Iya! Kakak suka?" tanya Sherli tersenyum dengan memiringkan sedikit kepalanya.
Felix merasa sangat gemas melihat wajah gadis dihadapannya sekarang. Ia berdiri menghampiri Sherli dan segera mendaratkan ciuman dibibirnya.
Gadis itu tidak menolak, hatinya sangat senang bisa membuat Felix bahagia.
Tingtong!
Aktifitas mereka terhenti saat mendengar bel apartemen berbunyi. Pandangan mereka menatap satu sama lain sambil terkekeh pelan.
"Ada tamu, kita lanjutkan nanti ya!" ucap Felix seraya mendaratkan ciuman dikening Sherli, lalu beranjak untuk membuka pintu.
Sherli segera mengekor mengikuti Felix dibelakangnya.
Felix memutar knop pintu. "Felix! Kenapa kau menikah tidak memberi tahu kami?" ucap Glen kesal yang baru terlihat kepalanya.
Felix mendesah kesal saat pintu ia buka lebih lebar. Ternyata teman-teman kerjanya yang berkunjung.
"Mereka datang diwaktu yang tidak tepat!"
Sherli memunculkan kepalanya yang tadinya bersembunyi dibalik tubuh Felix.
"Halo, Nona!" sapa teman-teman Felix kompak.
Sherli tersenyum melihat mereka yang begitu antusias, ia segera membalas sapaan mereka.
"Halo semua! Terimakasih atas kunjungannya!" ucap Sherli sopan.
"Cepat masuklah!"
Felix segera mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam rumah. Sedangkan Sherli berjalan cepat kedapur mengambil minuman dan camilan untuk ia sajikan.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, coment, vote dan rate.
Terimakasih atas dukungannya ❤.