
Felix akan mengajak Sherli keperayaan hari nasional dikantornya. Ketika menjemput Sherli dirumahnya, ia melihat sesosok pria di ruang tamu Sherli. Karena merasa janggal ia berpura-pura tidak melihat sosok tersebut yang tak lain adalah Hongli.
Hongli yang merasa sakit hati terhadap tingkah keduanya, mendadak pergi meninggalkan mereka begitu saja.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mereka telah sampai ditujuan, Felix membawa Sherli ke perayaan kantornya. Ia bergegas turun dan memutari mobil untuk membukakan Sherli pintu.
Sherli merasa heran mengapa Felix mengajaknya kemari, karena perayaan yang dikatakan Felix tidak terlihat di manapun.
"Sher, ayo turun!" ucap Felix.
"Kenapa kemari, Kak? Dimana peranyaannya?" tanya Sherli.
"Perayaannya ada didalam gedung ini, ayo turunlah!"
Mendengar ucapan Felix, Sherli segera turun dari mobil. Felix menutup kembali pintunya. Ia menggenggam tangan Sherli dengan begitu erat, seakan takut sang kekasih akan hilang.
Sherli sedikit merasa cemas, karena akan bertemu banyak orang yang tidak dia kenal. Dia berhenti mendadak, otomatis Felix juga berhenti, karena Sherli berada dibelakangnya.
Felix menoleh kearah Sherli. "Kenapa berhenti, Sher?" tanya Felix.
Sherli memasang wajah sendu, "Aku takut, Kak! Disana akan banyak orang yang tidak aku kenal."
"Kan ada aku yang bersamamu, jangan takut! Ayo!" Felix kembali menarik tangan Sherli.
Tiba-tiba Sherli kembali berhenti.
"Kenapa lagi, Sher?" ucap Felix sedikit meninggi.
Sherli merasa sedikit kesal dengan sikap Felix, ia melepaskan tangan Felix darinya. Felix yang tersadar segera meraih tangan Sherli, sebelum dia pergi.
"Sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu" sesal Felix.
Sherli memandang Felix dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa suara Kakak meninggi, aku sudah takut akan masuk kedalam, kenapa Kakak malah membentakku."
Felix menghela nafas, ia sungguh harus sabar menghadapi kekasih kecilnya. Ia memegang tangan Sherli dengan lembut, dan berusaha membujuknya.
"Sayang maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu. Banyak orang yang telah menungguku didalam karena ini tempat kerjaku. Aku berjanji akan selalu bersamamu nanti didalam," jelas Felix.
Sherli merasa menyesal atas sikap kekanakannya, ia merasa karena dirinya, pekerjaan Felix menjadi terhambat.
"Maafkan aku ya, Kak, aku terlalu kekanakan. Ayo kita masuk!"
"Sikapmu yang kekanakan ini, yang menjadikanku semakin ingin bersamamu."
"Baiklah ayo!" Sherli menurut kepada Felix, ia berusaha menguasai rasa takut yang menyelimuti dirinya.
***
Ruang yang telah dipenuhi para pengunjung, entah dari mana saja asal mereka. Setiap sudut ruangan tertata rapi dengan dekorasi, juga makanan yang begitu beragam semakin membuat para pengunjung merasa betah disana.
Felix melepaskan tangan Sherli. Sherli sontak melihat Felix karena takut ditinggal.
"Kak ken-"
"Felix!!" sebelum Sherli melanjutkan perkataannya, seorang laki-laki memanggil namanya. Felix sepontan mengedarkan pandangan ke arah sumber suara.
__ADS_1
Seseorang yang memanggilnya mendatangi Felix.
"Kenapa lama sekali?"
"Maaf Glen, tadi aku menjemput kekasihku dulu." Seseorang tersebut yang tak lain adalah Glen, salah satu guru silat Sherli. Glen menoleh kearah Sherli.
"Dia bukannya gadis yang ikut silat?" tanyanya pada Felix.
"Iya kau benar, aku titip dia sebentar ya, aku akan memberikan sambutan," Felix mengelus kepala Sherli sejenak, lalu pergi meninggalkannya bersama Glen.
Sherli membulatkan matanya melihat Felix pergi, ia langsung menundukakan kepalanya karena merasa canggung dengan Glen.
"Jangan cemas, Felix akan segera kembali," Sherli hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Siapa namamu,Nona?" tanya Glen.
Sherli memberanikan diri memandang Glen.
"Aku Sherl, Kak!" jawab Sherli.
"Jangan sungkan padaku, Felix adalah teman baikku, kau mau minum,Sher?" tanya Glen.
Ia berusaha menyingkirkan rasa canggung Sherli.
"Boleh, Kak," Glen segera beranjak mengambilkan minuman untuk Sherli.
"Ini ambilah!" Glen memberikan jus jeruk yang dia ambil kepada Sherli.
"Terimakasih, Kak." Glen hanya menganggukan kepala.
Mereka tertuju pada suara mix yang menggema, tanda acara dimulai. Felix membuka acara pertama kalinya, Sherli hanya memandangi dirinya dengan kagum.
Karena sudah selesai memberikan sambutan, Felix bergegas menghampiri Sherli, dan Glen.
"Maaf ya aku meninggalkanmu sebentar."
"Tidak apa-apa, Kak! Kak Glen tadi menjagaku."
"Makasih ya, Bro."
"Baiklah aku tinggal dulu, bersenang-senanglah, Sher!" ucap Glen. Ia segera beranjak pergi meninggalkan Felix, dan Sherli.
Felix menarik tangan Sherli menuju kursi kosong di dekat meja konsumsi. Ia menarik kursi untuk Sherli.
"Duduklah Sher!" Sherli segera duduk dan Felix mengikutinya.
"Kamu mau makan sesuatu?" tanya Felix.
"Tidak, Kak, aku masih kenyang karena sarapan tadi," jawab Sherli.
Felix memperhatikan Sherli yang sedari tadi menundukan kepalanya. Felix membelai pipi Sherli.
"Kamu tidak suka berada disini?" tanya Felix.
"Tidak, Kak, aku suka kok," jawab Sherli.
"Tapi kenapa wajahmu terlihat murung?"
"Aku ingin ketoilet, Kak!" ucap Sherli malu.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak bilang? Ayo aku antar!" Felix menarik tangan Sherli. Ia membimbing Sherli menuju ketoilet. Ia dibuat heran dengan tingkah Sherli. Felix menunggu Sherli disamping toilet perempuan.
Ketika Sherli baru masuk kedalam. Felix melihat seseorang beberapa meter darinya. Ia memanggil seseorang tersebut.
"Bro?" ucapnya sedikit berteriak.
"Hei Felix, kenapa kau berdiri didepat toilet perempuan? " tanya teman Felix.
"Aku datang dengan kekasihku, dia sedang didalam toilet," jawab Felix.
"Kenapa kau mengantarnya?" tanya teman Felix.
"Dia masih sangat muda, aku tidak tega membiarkannya pergi sendiri, terlebih ini pertama kalinya dia keperusahaan, aku takut dia salah belok," jawab Felix.
"Oh begitu, ya sudah aku tinggal dulu."
"Oke." Teman Felix pergi meninggalkannya. Setelah beberapa saat kemudian, Sherli keluar dari toilet.
"Sudah, Sayang?"
"Sudah, Kak!" jawab Sherli.
Mereka segera kembali kedalam aula. Felix mengambil beberapa buah untuk menemani mereka.
Meskipun Sherli terlihat menurut, ia sebenarnya takut dalam hatinya. Entah kenapa ia teringat sang Kakak. Meskipun ia tidak tau persis dimana sang kakak bekerja. Ia merasa ada didekatnya.
Jam telah menunjukan pukul satu siang, meskipun acara belum sepenuhnya selesai. Felix mengajak Sherli untuk beranjak dari tempat itu.
***
Glen yang tengah asik berbincang dengan rekannya, terfokus pada salah satu temannya yang mandang metempat lain.
"Kau kenapa, Bro?" tanya Glen.
"Itu seperti Sherli, kenapa bisa dia berada disini?"
"Tidak apa-apa, Bro, tadi aku seperti melihat adikku, tapi sepertinya bukan."
"Oh .... " mereka melanjutkan berbincang.
*
Felix dan Sherli telah sampai di depan mobil. Mereka segera masuk kedalam mobil.
"Kak kita mau pulang?" tanya Sherli.
"Tidak aku ingin mengajakmu mampir kesuatu tempat."
Keheningan menyelimuti mereka, hiruk-pikuk jalanan menemani jalannya laju mobil.
Mereka telah sampai ditempat yang cukup tua. Sebuah toko jimat, Felix membawa Sherli. Ia menggandeng Sherli masuk kedalam.
"Kakak kenapa ketempat ini, Kakak sedang diganggu hantu?" tanya Sherli polos.
Felix tersenyum mendengarkan pertanyaan Sherli.
"Tidak, hanya ingin lihat-lihat, ayo masuk!" Felix menarik tangan Sherli kedalam toko tersebut. Sedikit aura mencekam menyelimuti mereka.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views terimakasih :).
__ADS_1