Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
akhirnya sah.


__ADS_3

Raka sudah berhadapan dengan penghulu, keduanya nampak begitu khusyuk mendengar alunan bacaan ayat suci Al-Quran sebelum akad nikah di lakukan.


Raka pun menjabat tangan pak Suyatno, karena pak Suyatno tak ingin menjadi wali setelah tau bagaimana dia mendapatkan janin Wulan dulu.


tapi Wulan memohon untuk pak Suyatno mau menikahkan dirinya, sebagai orang yang sudah merawatnya.


akhirnya setelah semuanya, dengan satu tarikan nafas Raka mengucapkan akad nikah dengan tegas.


kemudian semua saksi menjawab sah, kini Wulan mencium tangan Raka yang terasa dingin.


Wulan pun tersenyum melihat reaksi dari suaminya itu, Raka juga berdoa dan kemudian meniupkan di kepala Wulan sebelum mencium kening wanita yang sekarang sudah sah jadi istrinya itu.


setelah sungkeman, Keduanya pun bertemu Rafa yang tersenyum penuh arti.


"sekarang sholat sunah dulu, setelah itu kalian harus ganti dengan baju yang sudah di persiapkan," kata Rafa.


"baiklah, kaki lakukan," jawab Raka.


keduanya shalat Sunnah, setelah itu keduanya mulai berganti pakaian. jubah putih itu benar-benar terpakai.


Keduanya di bawa oleh Rafa ke belakang ke kebun bambu kuning.


terlihat semua murid sedang berdzikir, dan tak hanya itu bahkan semua khodam datang untuk menjaga gubuk yang sudah di bangun.


"kamu sudah tau bukan tugas mu Raka, ingat apapun yang terjadi di luar, jangan terpengaruh, insyaallah kami sudah bisa menghadapi apapun," perintah Rafa.


"baiklah, aku mengerti," kata Raka mengangguk.


kedua pengantin baru itu masuk kedalam bilik itu, kain sudah di buat sedemikian rupa.


telihat sebuah tikar di tengah bilik itu, Wulan dan Raka duduk di tikar itu, Raka mulai membaca doa sebelum berhubungan dengan istrinya.


Rafa pun mulai mengeraskan bacaan dzikir, bersama ustadz Arifin, tiba-tiba angin kencang dan juga hujan mulai turun dengan deras.


Rafa dan semua murid dari ustadz Arifin tak bergeming, begitu pun dengan para khodam.


aja mulai melepaskan jilbab Wulan, keduanya pun mulai bercumbu, Raka mengeluarkan sarung keris dari tubuhnya.


saat Raka menidurkan Wulan, keluar seekor ular dari sela kaki istrinya, Raka membaca doa dan ular itu berubah jadi keris dan memasukkan pada sarung yang sudah ada di tangannya.


Raka kemudian meletakkan keris itu pada kotak yang sudah di persiapkan oleh Rafa.


setelah itu Raka kembali mengambil satu lagi pusaka yang di tanam oleh pakde Tejo yaitu sebuah keris.


Raka juga menyimpan keris itu kembali dalam kotak, Raka memeluk tubuh istrinya yang sudah lemas.


dia tak bisa melihat tanda di tubuh Wulan yang sudah hilang, kemudian keduanya kembali memulai hubungan sebagai suami istri.


Rafa pun menguatkan dzikir karena tanda-tanda serangan mulai datang, tapi tak terduga Nyai Nawang melindungi mereka.


bahkan serangan itu kembali ke rumah dukun Suryo dan membuat dukun itu terluka cukup parah.


Raka pun melakukan tugasnya sebagai suami, Wulan bahkan begitu kuwalahan menghadapi stamina suaminya.


dan mulai saat ini, benda itu tak bisa masuk lagi ke tubuh Wulan, setelah selesai.


angin dan hujan pun reda, Raka keluar memberikan kedua kotak itu pada Rafa.

__ADS_1


saudaranya menerima kotak itu, kemudian Raka mengendong istrinya dengan hati-hati.


pasalnya tubuh Wulan sangat lemah karena kegiatan panas itu, sedang Rafa tak mengira jika saudaranya itu mampu membuat istri kecilnya itu tak berdaya.


Rafa hanya tersenyum geli melihat ekspresi dari Raka, pasalnya ria itu malu sambil sedikit terkejut.


dia tak mengira harus melakukan itu di bawah pohon bambu, untungnya tak mahluk yang menganggu Keduanya.


bisa-bisa tengsin habis-habisan pria itu, Nyai Nawang tersenyum saat janin itu kini sudah menemukan pria yang baik.


sedang dukun Suryo tak menyangka jika keris yang di maksud sudah bersatu dan sempurna, itu berarti hidupnya tak lama lagi.


"semuanya pergi, dan musnahkan satu desa itu!" teriak dukun Suryo meminta semua anak buahnya pergi.


dukun Suryo akan mengawasi semua dari jauh, karena kondisinya saat ini tak bisa membawanya ke desa itu.


Rafa sudah menyadari itu, Nyai Nawang sudah berdiri di garda depan bersama Ki Adhiyaksa dan juga Ki item.


Raka sudah mandi junub, begitupun Wulan yang juga sudah mandi besar malan itu.


sedang Jasmin dan semua orang di minta untuk berdoa dan tak boleh putus dzikir.


Rafa berdiri bersamaan dengan Raka dan siap menghadapi semua kiriman itu.


tapi tak terduga Wulan datang dan susah memakai jubah putih yang di jadikan hantaran oleh Raka.


"kita berjuang bersama," kata Wulan.


"baiklah ... kamu bawa pusaka ini," kata Raka memberikan keris yang pernah di taman pakde Tejo pada istrinya.


"iya mas," jawab Wulan.


Ki Adhiyaksa di perintahkan Nyai Nawang menjaga wulan, sedang Raka sudah tak terlihat.


saat wulan menyadari jika kiriman dukun Suryo terlalu banyak, dia tak ingin semuanya musnah di depan matanya.


Wulan tidak bisa bertarung membantu, tapi dia tau apa yang harus di lakukan, diapun menutup mata dan melakukan sesuatu yang tak terduga.


"kau mengincar mustika ku kan, datang sendiri kalau begitu, dan ambillah aku akan rela mustika ini ku ambil," kata Wulan dengan suara batin.


tiba-tiba di kening gadis itu memancarkan cahaya putih, "tidak!!" teriak nyai Nawang yang mengetahui Wulan menunjukkan mustika di tubuhnya.


dukun Suryo terpancing dan datang sendiri. tapi bukan mustika yang dia dapatkan, melainkan seseorang yang sudah menusuk jantung dukun itu dengan keris yang di bawa Wulan.


"kau bodoh, kau tak bisa membunuhku, terutama setelah aku merebut mustika itu dari gadis bodoh yang berani mengundangku itu," tawa dukun Suryo.


"kamu yakin karena bukan aku yang akan membinasakan dirimu," kata Rafa tersenyum dan terus mendorong keris itu masuk kedalam dada pria itu.


Sesnag menyembunyikan tubuh Raka yang sedang Ngrogo Sukmo, ular itu melilit tubuh Raka agar tak di ketahui siapapun, pria itu sampai di rumah dukun Suryo.


dia pun mencari sesuatu yang di jadikan wadah dari nyawa dukun itu, dia pun mencoba menginggat ucapan Rafa.


"sebuah benda mati, tapi dia hidup dan bisa menyaksikan segalanya, dia tidak bisa di bakar dan tidak bisa pula di hanyutkan, dia harus di bunuh tepat di dadanya," kata Rafa.


dia pun menemukan sebuah patung yang berdarah tepat di dada, dengan cepat Raka menancapkan keris itu ke tubuh patung itu.


dukun Suryo pun muntah darah, "semua kemaksiatan dan juga kemusrikan mu selesai," kata Rafa melihat pria itu.

__ADS_1


dukun Suryo masih bisa tertawa, "awak mu goblok Yo ke, gak semudah iku aku mati, aku Sik orep mergo kembaran mu salah mateni wong."


tapi Raka menyadari sesuatu dan kemudian kembali membalik tubuhnya dan menancapkan keris itu ke sebuah tubuh seseorang di depannya.


tapi arwahnya tak mengira akan membunuh dalam satu tusukan pria di depannya itu, tubuhnya limbung melihat sosok pria yang tertancap keris itu.


bahkan tubuh pria itu terbakar musnah di depan mata Raka, begitupun dengan dukun Suryo.


tubuhnya terbakar di depan semua orang, Rafa menarik saudaranya agar kembali.


tapi saat dia kembali, dia masih gemetaran, pasalnya apa yang dia lakukan begitu mengejutkan.


"Raka bicara? Raka jangan diam?" kata Rafa melihat Raka yang masih diam.


"maaf ...." hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Raka yang menangis histeris.


Rafa langsung memeluk pria itu, wulan yang sudah kehabisan tenaga pun langsung pingsan.


tapi beruntung Ki Adhiyaksa menhan wanita itu agar tak jatuh, Nyai Nawang pun mentransfer ilmunya pada Wulan.


"yang kau lihat itu bukan yang sesungguhnya Raka, dia sengaja membuat mu merasa bersalah," kata. nyai Nawang.


"tapi itu terlalu nyata Nyai, bagaimana aku bisa membunuh orang yang sudah lama mengabdi pada keluarga kami," kata Raka yang masih histeris.


"kau lupa ternyata, dia sudah meninggalkan keluarga kalian saat orang tua kalian mati, jadi bukan salah mu," kata Nyai Nawang.


"sebenarnya ada apa ini?" tanya Ra yang masih kebingungan.


"Eko bukan orang yang baik nak, dia menukar hidupnya dan dukun Suryo agar bisa hidup langgeng, tapi raka menusuknya hingg tewas, dan itu pilihan yang tepat," kata Nyai Nawang.


"apa? om Eko, tapi dia selalu baik pada kami, dan bagaimana kami harus menghadapi keluarganya?" tanya Rafa yang baru mengerti kenapa saudaranya begitu histeris.


"dia sudah menumbalkan semua keluarganya, bahkan istrinya itu juga mti terakhir untuk memenuhi permintaan dari Suryo, dan saat ini perang berakhir," kara nyai Nawang menyentuh Wulan sebelum pergi.


"semoga anak kalian laki-laki karena jika iya, maka anak kalian bisa memutus ikatan ku dan wulan, tapi anak kalian harus menjadi penjaga kami," kata Nyai Nawang sebelum pergi.


Raka pun ingat bergegas memeluk istrinya yang msih pingsan, "dek bangun dek?" panggil Raka menepuk wajah Wulan pelan.


Rafa pun menepuk bahu Raka, "bawa dia masuk, dan ayo kita pulang Kren semu orang pasti lelah," kata Rafa.


raka pun mengendong istrinya itu, dan kemudian mereka makan bersama santri.


tak lupa Sesnag membawa oleh-oleh dan ucapan terima kasih untuk semua yang sudah membantu dari alam ghaib.


akhirnya semu berakhir tepat saat suara adzan subuh berkumandang, Rafa dan Raka tak mengira jika begitu banyak saudara dan kerabat yang menghianati keluarga mereka.


dan itu semua hanya karena harta, Wulan dan Jasmin membuatkan sesuatu untuk keduanya setelah sholat subuh.


"mas, ini di minum dulu," kata kedua wanita itu.


"maaf dek, kalian kebalik," kata Rafa tertawa.


"ah maaf, karena penampilan kalian terlihat mirip," jawab Jasmin malu karena tak mengenali suaminya.


"tak apa-apa, tapi lain kali jangan ke tuker lagi ya," kata Rafa tertawa.


mereka pun menikmati matahari terbit bersama pasangan masing-masing.

__ADS_1


Raka dan Wulan tak mengira jika pernikahan mereka akan jadi sepanjang ini hingga pagi baru selesai semua masalah.


__ADS_2