
"apa kamu tak bisa melakukan sesuatu Rafa?" tanya Alfin yang di jawab dengan gelengan oleh Rafa.
Antika datang saat Alfin dan Rafa di luar ruangan rawat Raka, siluman itu benar-benar tak bisa melepaskan Raka.
"mau apa lagi kamu kemari, pergi," usir Raka.
"aku hanya ingin melihatmu, kenapa kamu sekarang memperlakukan aku seperti ini ..." lirih Antika.
"pergi, kita beda alam, dan aku tak ingin mengenal dan menjalin hubungan dengan mu lagi. pergi," usir Raka.
"kenapa kamu berubah, apapun yang terjadi itu bukan karena salah ku, itu karena pilihan saudaramu sendiri," mohon Antika.
"kau berbohong, kau bahkan melindungi Della dulu, kau pikir aku tak tau, sekarang pergi dari sini, aku tak ingin melihatmu," bentak Raka.
Rafa dan Alfin masuk, keduanya pun kaget melihat Antika di ruangan rawat itu, Rafa mulai membaca ayat suci begitupun Alfin.
Antika menatap keduanya marah, tapi dia memilih pergi dari ruangan rawat, Rafa pun melihat Raka yang kembali rapuh.
pria itu terus berusaha menghapus air matanya, "tenang Raka, semua akan baik-baik saja."
"kamu mudah mengatakannya, tapi aku tak mudah melupakan dia, bagaimana pun dia yang selalu menemani diriku saat terburuk dalam hidupku," jawab Raka.
"sudahlah, ayo kita pulang, takutnya eyang khawatir apalagi ini juga sangat malam," ajak Alfin.
Rafa dan Raka akhirnya saling berdiam diri di dalam mobil, keduanya bergelut dengan pikiran masing-masing.
sedang Alfin tak bisa melakukan apapun lagi, pasalnya dia juga tak mengerti akan permasalahan dari kedua adik iparnya itu.
sesampainya di rumah, Raka langsung masuk kedalam rumah, sedang Jasmin menyambut Rafa.
"mas Raka kenapa bisa terluka?" tanya Jasmin.
"dia hanya membantu orang dan tak sengaja terluka, kamu kenapa belum tidur?" tanya Rafa pada istrinya.
"aku nunggu mas Rafa, oh ya mas Alfin mbak Aira di rumah sebelah, kebetulan kamar tamu sudah bisa di gunakan."
"baiklah terima kasih, dan Rafa tolong tenangkan dirimu dan besok bicara baik-baik dengan Raka," perintah Alfin.
"iya mas," jawab Rafa.
mereka pun berpisah untuk beristirahat, Raka pun terus teringat Antika, tapi dia sadar jika tak bisa bersamanya.
sedang Rafa takut, kebungkaman Raka akan membuat pria itu kembali dalam masalah suatu saat nanti.
__ADS_1
"kamu memikirkan apa sih mas?" lihat darimu sampai berkerut seperti itu?" tanya Jasmin lembut.
"aku khawatir pada Raka, dia terus memikirkan siluman yang pernah bersamanya, apa yang harus aku lakukan?" tanya rafa.
"kenapa tidak ta'aruf saja, siap tau itu bisa sedikit mengalihkan perhatian mas Raka," usul Jasmin.
"kamu benar, seharusnya aku pikirkan hal itu, kita tunggu saja nanti ya sayang," jawab Rafa.
akhirnya malam itu, semua tidur dan beristirahat karena besok akan ada acara lain lagi.
keesokan harinya, Raka sudah berangkat ke sekolah seperti biasa, dan beruntung selesai sholat subuh Rafa dan Raka sudah berbicara berdua.
Aira yang menjadi kakak pun menengahi keduanya dan akhirnya Raka juga mau mengikuti permintaan dari Aira.
"bagaimana mana sayang tadi, apa mereka sudah baikan?" tanya Alfin yang ingin memeluk Aira.
"berhenti, aku masih belum memaafkan mas, berhenti disana, kamu masih belum boleh menyentuhku," kata Aira.
"jangan begitu dong, kamu tega sekali Aira, tak baik loh mendiamkan suamimu selama ini?" bujuk Alfin.
"tidak, aku masih marah dengan mas," kata Aira sedih.
Alfin pun memeluk istrinya itu, dia pun gemas melihat Aira yang tak bisa berbohong sedikitpun padanya.
"maafkan mas ya, mas hanya tak mau kamu berdosa karena menyimpan dendam,hingga menyiksa ayah Robi dan ibu Ela, bagaimana pun merek juga sudah seperti orang tua kita."
"aku mengerti sayang, jadi sekarang jangan marah lagi ya," bujuk Alfin lembut.
Aira pun mengangguk, Jasmin sedang membantu semua orang, tapi langkahnya terhenti.
dia melihat seekor hewan yang melihatnya dengan posisi siaga, "ya Allah apa ini, kenapa hewan ini terus melihatku..."
kemudian ular itu pergi dari depan Jasmin yang bisa bernafas lega, dia pun masuk sambil membawa daun pisang.
Mak nur pun membuat Mendut dan juga nogosari, di bantu oleh beberapa tetangga.
malam ini ada acara di rumah itu, dan Rafa sudah berangkat membantu Adri.
Alfin kemudian pamit menjemput ketiga anaknya yang masih di rumah Vera.
"Jasmin mau kemana?" panggil Aira.
"anu mbak, saya mau menjemput Rania? apa mbak Aira mau titip sesuatu?" tanya Jasmin.
__ADS_1
"tidak jadi deh, aku kira mau kemana? tapi kalau ada nanti tolong belikan pentol kanji cak Salim ya."
"iya mbak, nanti saya belikan, kalau begitu saya pamit dulu ya," jawab Jasmin yang pergi mengunakan motor.
saat sampai di sekolah Rania, Jasmin memakirkan motornya terlebih dahulu.
baru kemudian bergabung dengan para ibu yang menunggu anak mereka.
tak lama semua anak sudah keluar dari kelas, Rania di gendong oleh Nurul.
Jasmin pun bergegas menghampiri adiknya itu, "Rania kenapa Bu guru?" tanya Jasmin yang sekarang mengendong Rania.
"tadi temen Tania bilang kalau Rania tak punya ibu ..." jawab Rania sambil memeluk Jasmin.
Nurul mengusap kepala Rania, "sayang bukan tidak punya ibu, tapi ibu Rania sudah di sisi Allah, itu sebabnya ayah selalu meminta Rania mengirimkan doa untuk bunda bukan."
"tapi Rania ingin punya ibu ...."
Jasmin dan Nurul saling diam, mereka tak bisa menjawab pertanyaan dari Rania.
"baiklah, kita pulang dulu ya, karena di rumah sudah ada Ayana, Abidzar dan juga ..."
"kakak Al-Fath," jawab Rania yang sedikit melupakan keinginannya.
Jasmin pun pamit pada Nurul, sebenarnya Nurul tak ingin pergi jauh dari Rania.
tapi dia tak bisa berbuat apa-apa, dia juga sadar diri kalau tak sebanding dengan keluarga itu.
pasalnya Adri terkenal sebagai juragan di desa, sedang dia hanya seorang janda yang di tinggalkan karena tak bisa hamil.
sebelum pulang, Jasmin dan Rania berbelanja cemilan di sekitar sekolah dasar di desa.
setelah membeli pesanan Aira,mereka pun pulang dan benar saja saudara kembar tiga itu sudah datang.
Al-Fath langsung menyambut Rania, mereka pun bahkan sudah mau mengajak Rania bermain.
"tunggu dulu anak-anak, biarkan Rania ganti baju dulu, dan nanti kalian bisa bermain, oh ya dan sebelum main, kita makan jajan dulu," ajak Jasmin.
"siap mbak Jasmin," jawab mereka semua.
Mak nur selalu senang saat rumah ramai dengan kedatangan semua cicitnya.
bahkan sebentar lagi akan bertambah dengan anggota baru, Rania melihat Ayana yang manja pada Aira.
__ADS_1
Jasmin pun memeluknya, "ada mbak Jasmin, jadi Rania gak boleh sedih ya."
sedang Adri teringat sesuatu, Rafa menertawakan pria dewasa itu, pasalnya Adri sering sekali lupa sesuatu.