
Felix dan Sherli berpamitan dengan bibi Jen. Mereka segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan bibi Jen. Perasaan Sherli yang awalnya takut dengan tempat tersebut, akhirnya memudar setelah banyak berbincang tadi.
Ketika mereka telah sampai di depan mobil, Felix segera membukakan pintu untuk Sherli. Sherli masuk tanpa berbicara apapun. Ia menyadari bahwa kejujurannya tadi melukai perasaan Felix.
Felix kembali menutup pintu mobilnya. Tanpa mengulur waktu, ia segera memutari mobil dan masuk menuju pintu kemudi. Felix segera menancapkan gas untuk pergi dari kediaman bibi Jen.
Jam yang melingkar di tangan Felix, telah menunjukkan pukul 14.00. Ketika dirasa telah cukup jauh, Felix menepi dan menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Banyak yang ingin ia katakan pada Sherli saat ini.
Sherli tak bergeming saat Felix menghentikan mobilnya, ia telah menyiapkan diri untuk hal terburuk.
Felix menekan tuas kursinya agar ia bisa berpindah menuju kursi belakang. Saat telah di kursi belakang, ia melakukan hal yang sama pada kursi Sherli.
"Kemarilah!" titah Felix.
Tanpa protes Sherli segera meletakkan tanaman dari bibi Jen, dan berpindah di kursi belakang.
Mereka duduk bersebelahan tanpa ada yang berbicara, karena Felix sedang mengendalikan emosinya agar tidak bertindak yang akan membuatnya menyesal.
Sedangkan Sherli sedang berusaha menguatkan hatinya untuk menerima amarah dari Felix nanti.
Felix menghela nafas, lalu ia memutar tubuhnya agar menghadap kearah Sherli. Ia pun melakukan hal sama dengan tubuh Sherli, kini mereka saling berhadapan dengan tatapan yang bertemu.
Felix memandang tegas kearah Sherli.
"Apakah kau tidak ingin menjelaskan sesuatu?" seketika airmata Sherli mengalir begitu saja.
"Kak maafkan aku, aku mengerti pasti kau merasa ku khianati." Felix tak gentar meski telah melihat airmata Sherli.
"Apakah, dia yang kulihat di rumahmu waktu itu?" tanya Felix.
Sherli mengalihkan pandangnya, ia mengingat saat itu Hongli tengah menemaninya di ruang tamu. Ia kembali memandang kearah Felix.
Sherli mengangguk pelan dengan airmata yang terus mengalir.
"Iya, Kak!"
Felix tersenyum kecut mendengarnya.
"Kenapa kau dari awal tidak pernah menceritakan hal ini kepadaku?" ucap Felix kesal.
"Aku takut Kakak tidak percaya kepadaku."
Felix menghela nafas, ia membenarkan jawaban Sherli, karena ini hal tabu yang sebagian orang mungkin tidak akan percaya.
"Itu bukan alasan, paling tidak kau harus mencoba menceritakannya kepadaku. Apa kau sengaja karena ingin mendapatkan perhatian darinya? Apa dia menyukaimu karena kau telah menggodanya?" ucap Felix meninggi.
Sherli membulatkan matanya mendengar perkataan Felix, ia tidak menyangka jika sang kekasih akan berfikiran rendah itu terhadap dirinya.
Sherli menampar Felix untuk melepaskan amarahnya, namun itu tidak menyakita Felix sama sekali. Ia menjauhkan tubuhnya dari Felix,
__ADS_1
"Aku tidak menyangka Kakak akan berfikiran serendah itu terhadapku, bahkan kau tidak memikirkan masalahku dengan mengatakan hal itu. Aku juga tidak ingin mengalami hal ini, Kak!" teriak Sherli.
"Bahkan Kak Hongli yang mahluk gaib sangat menghargaiku."
"Baiklah jika pendapatmu terhadapku serendah itu dan kau tidak mempercayaiku, hubungan kita cukup sampai disini saja."
Sherli melangkah menuju kekursi depan, ia segera mengambil tas dan tanaman dari bibi Jen, dan segera keluar dari mobil Felix.
Felix mematung melihat sikap Sherli, ia sudah berusaha mengendalikan emosinya namun tetap saja gagal.
Hanya karena rasa cemburu yang memuncak, Felix kehilangan Sherli yang sudah begitu ia cintai. Felix memandang Sherli yang berjalan menjauh dari mobilnya.
"Apa yang telah kulakukan!" gumamnya pelan.
Felix segera keluar mengejar Sherli sebelum terlambat. Ia langsung menarik tangan Sherli, hingga membuat Sherli menghadap kearahnya.
"Sher, tolong maafkan aku, aku sungguh menyesal!" ucap Felix.
"Apa lagi yang ingin kau katakan, kau mau menghinaku lagi, lepaskan tanganku," Sherli berusaha mengibas tangan Felix agar terlepas, namun hanya sia-sia karena cengkraman Felix sangat kuat.
"Sher, aku mohon maafkan aku, aku sungguh mencintaimu, tadi aku sedang emosi, aku sungguh menyesal," ucap Felix pilu.
"Mudah sekali Kakak meminta maaf, kau tidak memikirkan hatiku saat mengatakan hal itu?" ucap Sherli berteriak dengan buliran airmata yang terus mengalir. Felix segera mendekap tubuh Sherli.
"Lepaskan aku!" pekik Sherli dengan terus berusaha melepaskan dekapan Felix.
Setelah dirasa Sherli tenang dan berhenti menangis, Felix melepaskan pelukannya dan menarik Sherli kembali menuju mobilnya. Dengan langkah kaki yang gontai Sherli mengikuti Felix.
Felix membuka pintu belakang mobil, dan menyuruh Sherli masuk kedalam, begitu juga dengan dirinya yang masuk mobil dengan pintu yang sama.
Sherli masih terdiam disamping Felix, sejujurnya ia tahu jika tadi Felix mengatakan dengan marah sehingga kelepasan mengatakan hal tersebut.
Ia telah melihat cinta yang tulus dimata Felix saat di tempat bibi Jen tadi. Sherli hanya ingin memberikan pelajaran kepadanya agar Felix tidak mengulanginya lagi dikemudian hari saat marah.
Felix kembali memeluk Sherli dengan erat.
"Sher maafkan aku, aku tadi sangat cemburu. Aku takut kau akan memiliki perasaan kepada mahluk itu," ucapnya sendu.
Sherli hanya terdiam, hal tersebut semakin membuat hati Felix gundah.
"Sher, maafkan aku?" ucapnya dengan mengguncangkan tubuh Sherli dipelukannya. Namun, Sherli tetap tak bergeming.
"Aku bersumpah tidak akan mengatakan hal bodoh seperti tadi dikemudian hari, mungkin kau tidak akan percaya, tetapi aku akan berusaha menepatinya!" ucap Felix tulus. Ia segera melepaskan pelukannya dan menatap mata Sherli.
"Tolong beri aku kesempatan!"
Sherli menghela nafas.
"Baiklah! Aku akan memberi Kakak kesempatan, namun jika Kakak mengulainya lagi kita benar-benar usai." Tegas Sherli.
__ADS_1
"Iya Sher, aku bersumpah, baiklah aku akan mengantarkan kamu pulang," ucap Felix tersenyum.
Felix segera menuju kursi kemudi meninggalkan Sherli, karena Sherli ingin tetap duduk di kursi belakang.
Felix terus-terusan melihat Sherli dibelakang melalui kaca spion mobil saat mengemudi.
Perasaannya masih campur aduk dengan sikap Sherli yang acuh di kursi belakang.
Setelah tigapuluh menit mereka telah sampai di area Sekolah, Sherli segera turun dari mobil Felix.
"Aku pulang, terimakasih." Ucap Sherli tanpa memandang Felix.
Felix merasa sangat sedih melihat keacuhan Sherli, namun ia tidak menghentikan Sherli karena sudah sangat sore. Ia tidak ingin Sherli mendapat masalah karena tak kunjung pulang.
"Hati-hati, Sayang!" jawab Felix.
Ia melihat tubuh Sherli berjalan meninggalkan mobilnya, setelah melihat Sherli telah pulang dengan motornya. Felix segera meninggalkan area sekolah Sherli.
*
Setibanya dirumah, Sherli segera meletakan motornya di garasi rumah, ia bergegas masuk untuk melihat kondisi ibunya.
"Ibu aku pulang!" ucap Sherli, ia segera menuju kamar ibunya.
"Bu, bagaiman keadaan Ibu?" ucapnya Sherli cemas.
"Sudah sangat baik, Nak, setelah mengirimkanmu pesan dada ibu sudah tidak sesak lagi, mungkin ibu merindukanmu tadi," jawab Ibu Ruri tersenyum.
Ia mengelus rambut Sherli, dan memandang mata gadis itu yang terlihat sembab.
"Nak, kamu habis menangis?" tanya ibu Ruri hawatir. Sherli menggelengkan kepalanya.
"Tidak Ibu, tadi aku hanya sedih mendapat pesan dari Ibu."
"Ibu baik-baik saja, Nak. Ya sudah cepat ganti bajumu, dan makan!" tutur ibu Ruri.
"Baik, Ibu." Sherli bangkit dari duduknya, ia segera keluar dari kamar ibu Ruri dan menuju kekamarnya.
Sherli memutar knop pintu kamar dan membuka pintu lebar-lebar. Ia mematung seketika saat melihat kedalam kamarnya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
Terimakasih yang telah membaca :).
__ADS_1