Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Bersikap Baik


__ADS_3

Setelah memastikan keadaan Ibunya benar-benar sudah membaik, Sherli beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ibu Ruri menuju kekamarnya.


Sherli memutar knop pintu kamarnya, ia mendorong pintu tersebut agar semakin terbuka lebar. Ketika ia hendak melangkah masuk kedalam kamarnya, ia mematung ditempatnya.


"Kak, Hongli?"


Hongli telah berada didalam kamar Sherli dan duduk di kusri belajarnya. Hongli memandang Sherli dan tersenyum kepadanya.


"Sudah pulang, Cantik?" Ia segera berdiri dan menghampiri Sherli yang mematung.


Hongli menarik tangan Sherli agar masuk kedalam kamarnya. Setelah mereka benar-benar ada didalam kamar, pintu kamar yang Sherli buka menutup dengan sendirinya.


Ceklek!


Sontak Sherli menoleh memandang pintu tersebut. Sherli kembali memandang Hongli.


"Kenapa ditutup, Kak?"


"Tidak apa-apa, aku tidak ingin ada yang menggu kita," ucap Hongli seraya mendekatkan tubuhnya kepada Sherli.


Karena menyadari Hongli akan memeluknya, Sherli segera mundur beberapa langkah kebelakang untuk menghindar.


"Kak jangan!"


Pandangan Hongli yang semula lembut, menjadi tajam karena respon Sherli.


"Kau!" bentaknya.


"Kau mau kembali kemari, atau keluargamu yang harus menaggungnya?" Sherli membulatkan matanya seketika, ia tentu tidak ingin keluarganya terkena imbas dari pertemanan yang bahkan orangtuanya tidak mengetahuinya.


Sherli bergegas maju menghampiri Hongli kembali.


"Maaf, Kak!"


"Gadis pintar." Ucapnya seraya mengelus rambut Sherli. Sherli sedikit meringkukkan tubuhnya karena takut.


"Kenapa, Cantik? Kamu takut kepadaku?" tanya Hongli.


Ia segera memeluk tubuh Sherli yang sebelumnya gagal. Karena mengingat kondisi ibunya tadi, Sherli hanya diam tanpa berani merespon ataupun berbicara.


Namun, Sherli mencoba berkompromi agar keluarganya tidak terlibat dalam masalahnya.


"Kak, tolong jangan libatkan keluargaku, ini masalaku jadi lampiaskan saja kepadaku!" ucapnya melelehkan air mata.


Hongli melepaskan pelukannya, ia mendongakkan dagu Sherli agar memandang kearahnya.


"Itu tergantung seberapa menurutnya kau pada perintahku, jika kau menolak keinginanku, keluargamu yang akan kulukai!" tegasnya.


"Jangan menangis, aku tidak suka melihatmu menangis. Cerialah seperti dulu!" Hongli menyeka air mata Sherli.


***


Ditempat lain.


Felix tidak pulang ke apartemennya. Mobilnya ia lajukan dengan lambat menuju rumah orang tuannya. Perasaan yang campur aduk memikirkan sikap Sherli terhadapnya, menjadikannya tidak tenang jika harus sendiarian diapartemen.


Felix telah sampai di rumah milik orangtuannya. Sebuah rumah bergaya eropa yang begitu besar dengan halaman yang luas dan ditumbuhi berbagai bunga yang bermekaran.


Ia segera masuk mengetuk pintu rumahnya. Tidak lama kemudian seseorang membukakan pintunya.


"Halo Bibi Keti, mama dan papa ada dirumah?" tanya Felix sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Ada Tuan Felix, mereka sedang ditaman belakang rumah," ucap bibi Keti dengan mengikuti langkah kaki Felix.


"Baiklah Bibi, aku akan kekamarku dulu," ucap Felix tanpa menoleh.


"Baik Tuan!" Bibi Keti beranjak dari tempatnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Felix memutar knop pintu kamarnya, ia segera membuka pintu kamar lebar-lebar dan meletakkan tubuhnya di atas ranjang.


Fikirannya merasa tidak tenang karena sikap Sherli tadi, ia memijit kepalanya yang terasa pusing.


"Kenapa aku bisa seceroboh itu, bagaimana jika tadi aku benar-benar kehilangan dirinya, aku pasti akan gila," gumamnya pelan seraya menatap langit-langit kamar.


Felix meraih ponselnya yang terselip di saku celana, ia berniat untuk menelpon Sherli.


***


Ditempat Sherli.


Hongli menarik Sherli untuk duduk ditepi ranjangnya, ia mengelus rambut Sherli dengan sangat lembut seakan Sherli adalah sebuah boneka yang begitu ia sayangi.


"Kamu kapan ujiannya berakhir?" tanya Hongli.


"Hari Sabtu, Kak!" jawab Sherli menunjuk.


"Baiklah, aku ingin hari sabtu kau berada dikediamanku hingga minggu sore!" ucapnya ringan. Sherli membulatkan matanya, ia menoleh kearah Hongli.


"Tapi Kak, bagaimana izinku pada, Ibu?" ucap Sherli cemas.


"Tenanglah, serahkan itu kepadaku!"


"Tapi, Kak?"


Tingtingting!


Ponsel Sherli berbunyi, ia Segera meraih ponselnya di samping tempat tidur dan melihat, siapa yang menghubungi dirinya.


"Kak Felix?" gumam Sherli.


Hongli memandang tajam benda yang digenggaman Sherli saat ini. Dia merasa kesal dan cemburu melihat Felix menghubungi Sherli.


"Jangan diangkat!" tegas Hongli.


"Tapi, Kak?" Hongli menangkis ponsel Sherli hingga terlempar agak jauh dari ranjangnya. Sherli begitu terkejut dengan sikap Hongli, ia memandangnya tajam.


"Kak, sebenarnya Kakak kenapa? Kenapa Kakak tidak selembut dulu waktu kita pertama berjumpa?" ucap Sherli menitikan airmata.


Hongli memandang kearah Sherli, terselip perasaan sedih pada hatinya saat melihat airmata gadis itu. Ia segera menyeka airmata Sherli.


"Makanya menurutlah jika aku bilang tidak atau jangan," ucapnya lembut.


Hongli memeluk tubuh Sherli sebagai bentuk menyesalnya, ia tidak ingin Sherli melihatnya lemah dengan luluh terhadap sikapnya. Ia melakukan semua ini hanya agar Sherli tetap bersamanya.


*


Felix terus menghubungi Sherli namun tidak di angkat sama sekali.


"Apa dia sebegitu marahnya kepadaku? Bahkan dia tidak mengangkat teleponku?" gumamnya. Felix meletakkan ponselnya, dan mencoba untuk tidur.


*


Hongli melepaskan pelukannya. Ia memandang wajah Sherli.

__ADS_1


"Apa kamu tidak suka sikapku sekarang?" Sherli menunduk lalu menganggukkan pelan.


"Jika kamu tidak ingin aku seperti sekarang, kau harus bersikap seperti awal kita bertemu, dan ingat! Jangan membatasiku!" ucap Hongli.


Sherli kembali mengingat perkataan Bibi Jen.


"Ketulusan akan melunakkan hati."


Ia berfikir semua yang terjadi adalah karena dirinya, maka ia juga yang harus menyelesaikannya.


Sherli memandang wajah Hongli seraya tersenyum.


"Baiklah Kak, mulai detik ini aku akan bersikap seperti dulu, juga bersikap menurut seperti yang Kakak inginkan," ucapnya lembut.


Hongli tersenyum melihat Sherli, hatinya terasa begitu tenang saat ini.


"Kau berjanji?" tanyanya menyakinkan.


Sherli mengangkat jari kelingkingnya.


"Aku berjanji!" Hongli segera menautkan jari kelingkingnya ke jari Sherli.


"Aku menyayangimu, Sher!"


"Terimakasih, Kak," jawab Sherli.


Ia berfikir mungkin Hongli telah menepis rasa cintanya hingga bukan kata cinta yang terlontar melainkan kata sayang.


"Kebelakang rumah yuk, aku punya sesuatu untukmu," ucap Hongli.


"Sebentar aku ganti baju dulu."


Sherli beranjak dari duduknya meninggalkan Hongli, ia mengambil baju dilemari dan segera masuk kedalam kamar mandi. Setelah usai, Sherli menghampiri Hongli yang masih duduk di tepi ranjangnya.


"Ayo, Kak!" ucap Sherli tersenyum. Hongli membalas senyuman Sherli lalu ia berdiri.


"Ayo!"


Mereka bergegas menuju taman belakang rumah, Hongli menghentikan langkahnya di samping tanaman kenanga milik Sherli. Sherli pun ikut berhenti dan memandang Hongli.


"Kenapa berhenti, Kak?" tanyanya heran.


Hongli beranjak menghampiri tanaman kenanga, ia mengambil sesuatu di balik pohon tersebut. Ia segera melangkahkan kakinya kembali menuju Sherli.


"Ini Sher untukmu, kemarin kebun mamaku panen besar," Hongli tersenyum, lalu menyodorkan sekotak besar penuh buah strawberry didepan Sherli. Tanpa pikir panjang Sherli segera mengambil kotak tersebut.


"Terimakasih, Kak!" ucapnya seraya tersenyum.


"Baiklah, sudah hampir petang aku pulang dulu. Jangan lupa di habiskan ya buahnya!" Sherli mengangguk.


Hongli segera pergi menjauh meninggalkan Sherli menuju pohon bambu, yang merupakan penghubung kedunianya.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.


Terimakasih yang telah membaca :).

__ADS_1


__ADS_2