Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
pelindung kami


__ADS_3

mobil keduanya sampai di rumah, Jasmin langsung berlari menghampiri Rafa dan melupakan jika dia sedang hamil besar.


"mas, kamu kembali," kata Jasmin menangis bahagia.


"tentu dek, memang kalau gak kembali aku mau kemana?" jawab Rafa cengengesan.


"dasar kamu itu, aku serius ini!" teriak jasmin yang sudah tak bisa menahan dirinya lagi.


"iya iya, maaf ya sayang, kami masih memiliki umur jadi bisa berkumpul kembali dengan semua orang," kata Rafa tersenyum.


"jangan melakukan itu lagi, aku gak mau jadi janda satu anak di usia muda," kata Jasmin yang masih sesenggukan.


"ya Allah doanya jelek banget, aku masih segar wal Afiat gini," kata Rafa mengundang gelak tawa semua orang.


Wulan pun saat ingin masuk hampir terjatuh, Raka pun mengendong istrinya itu, semua orang pun bersorak, sedang Wulan malu di gendongan Rafa.


mereka semua pun masuk dan membersihkan diri, ternyata kaki Wulan tergores dan lukanya cukup dalam.


"kamu terluka dan tak menyadari itu dek, kamu begitu menghawatirkan kami sampai lupa pada dirimu sendiri," kata Raka.


"hanya luka kecil," jawab Wulan yang sedang di obati oleh Raka.


tanpa di duga Raka mencium luka itu, dan Wulan merasa merinding di sekujur tubuhnya.


Raka bahkan mengobati luka itu sambil terus membaca dia untuk kesembuhan istrinya.


setelah itu keduanya keluar dan mendapati semuaorang sedang berkumpul, bahkan kedua mertua dari Raka.


"kenapa ibu dan bapak tak bilang jika inhin kemari? aku bisa menjemput bapak dan ibu," kata Raka.


"walah nak, merepotkan saja, kami hanya mau main saja ke rumah menari kami, dan sebenarnya ada sesuatu yang juga ingin bapak katakan," kata pak Suyatno.


"apa itu pak, jika saya bisa membantu saya pasti akan melakukannya," jawab Raka.


"tidak perlu seserius itu nak, kami hanya ingin bertanya apa benar kalian bisa menyembuhkan teluh atau santet, pasalnya aku baru tau tadi pagi jika Prapto dapat kiriman santet, dan pada hari-hari tertentu dia akan mengerang kesakitan dan akan mati kemudian hidup lagi," kata pak Suyatno.


"bukankah ini baru beberapa hari saat kami menyaksikan bagaimana dia meminta anda melakukan hal gila itu?" tanya Adri.


"iya juragan, ternyata dia sudah lama menerima teluh ini, tapi kami bingung karena keluarganya juga merasa tak pernah melukai orang lain," kata pak Suyatno.


"kami bisa atas izin Allah pak, tapi tidak saat ini, kita tunggu sampai kambuh lagi pada hari apa?" tanya Rafa.


"Kemis Legi malam," jawab pak Suyatno.


"berarti kurang dua Minggu lagi, jadi anda hanya bisa meminta keluarganya terus berdoa agar meringankan, dan jangan lupa minum air yang sudah di bacakan alfatihah," pesan Rafa.


"kalau begitu terima kasih, dan daya bersyukur jika pitri saya begitu di terima di runah ini, maaf jika dia masih kekurangan," kata pak Suyatno.


"tidak pak, putri anda sangat baik dan juga pelindung rumah ini, dan Kamilah yang beruntung mendapatkan putri anda," jawab Mak Nur.


Raka sudah tersenyum sambil merangkul bahu istrinya, keduanya tersenyum bahagia.


akhirnya keluarga Wulan pamit, dan Rafa dan Raka di minta istirahat, begitupun dengan Wulan.


tapi bukannya istirahat Raka malah sedang menggoda istrinya, bahkan dia terus menciumi wajah Wulan.


"hentikan mas ... kamu membuatku geli," gumam Wulan.


"dek ... aku menginginkanmu," bisik Raka pada istrinya.


"mas tidak capek, tadi kita habis bertarung dan mengeluarkan banyak tenaga," kata Wulan menginggatkan.

__ADS_1


"aku ingin mengecasnya,"jawab Raka.


keduanya pun mengambil wudhu lagi, setelah berdo'a, Keduanya pun mulai bercumbu.


Raka tau jika istrinya itu belum memiliki pengalaman, hingga dia harus terus membimbingnya.


bahkan sampai ke kegiatan inti, Raka masih saja kesulitan untuk menjebol gawang.


Raka langsung memeluk istrinya yang masih kesakitan, tapi lama kelamaan Keduanya pun sudah sangat menikmati waktu mereka.


bahkan Raka terus memeluk tubuh indah istrinya, kulit putih bersih itu tak berdaya di bawah tubuhnya.


"terima kasih dek .." gumam Raka yang sudah mencapai puncak.


sedang di tempat lain, Rafa sedang kesal karena adiknya ingin menginap di kamar mereka.


Rafa jadi tak bisa bermanja dengan Jasmin, "Rania kamu tak takut di tinggal ayah dan bunda mu kalau menginap di sini?" kata Rafa menakuti.


"tidak tuh, toh aku punya mbak Jasmin san mbak Wulan Sekarang, jadi tenang saja meski di tinggal bunda dan ayah," jawab Rania enteng.


"sudah ya mas, sekarang tidur dan jangan macem-macem ya," kata Jasmin memperingatkan suaminya itu.


"tapi aku ingin mengunjungi putraku itu, gimana don?" tanya Rafa yang tak kalah ngambek.


"tunggu Rania tidur dulu," bisik Jasmin.


Jasmin pun menepuk punggung Rania pelan, dan Rafa melakukan aksinya yang begitu nekat.


bahkan Jasmin tak bisa menolak keinginan suaminya itu, jadilah saat ini Jasmin hanya menikmati setiap gerakan suaminya.


sedang di tempat lain, hal yang sama terjadi tapi Windi sedang berhubungan dengan mahluk hitam yang membawanya pergi ke dunianya.


Windi bahkan di jadikan budak oleh mahluk itu yang terlanjur mencintai gadis itu.


dia juga tak mungkin Teru berbohong pada suaminya, karena sudah hampir seminggu lebih gadis itu tak ada kabar.


Bu Diah awalnya mengatakan jika Windi berkunjung ke rumah eyangnya, tapi pak Handoko meminta Windi pulang karena Angga akan melaksanakan lamaran.


sedang Jasmin tak bis ikut krena kondisinya, dan setidaknya Windi harus hadir sebagai adik terkecilnya.


"bagaimana, apa gafis itu sudah mau pulang, jangan membelanya lagi, cukup," kata pak Handoko.


"iya yah, tapi telpon ku tak di angkat, bagaimana ini?" kata Bu Diah pura-pura sedih.


"kamu bodoh ya, tinggal telpon ke rumah mu, psti nanti bapak atau ibu meminta atau bahkan berangkat dengan Windi kemari," jawab pak Handoko.


"iya ayah ..." jawab Bu Diah gemetar.


dia sedikit merasa lega karena pak Handoko pergi, dan dua mencari dukun lama yang pernah membantunya.


tapi dukun itu juga tak sanggup melakukan itu, karena mahluk yang membawa Windi itu adalah mahluk kuat.


Bu Diah tak mungkin harus meminta bantuan dari menantunya, dia bisa malu dan ketahuan jika mahluk itu mengatakan segalanya.


dua tak ingin jadi gelandangan jika pak Handoko mengusirnya, bahkan dia belum sepenuhnya menguasai pria itu.


"aku harus minta pertolongannya bulek, untuk memaksa mahluk agar mau mengembalikan Windi.


sedang di dunia ghaib itu, Windi merasa hidup bahagia, terlebih dia bisa makan dan tidur hanya dengan ongkang-ongkang kaki.


bahkan baginya Raka begitu memuaskan dirinya dalam masalah ranjang.

__ADS_1


dan setiap waktu dan detik, keduanya selalu melakukannya, bahkan Windi terus berteriak saat bersama mahluk itu.


mahluk itu juga tak keberatan harus terus menyamar jadi Raka demi bisa menikmati tubuh wanita itu.


"kau hebat sayang ... jika terus seperti ini aku akan lekas hamil ..." kata Windi yang begitu puas dengan olah raga mereka.


"apa kamu tak keberatan jika hamil anak ku?" tanya mahluk itu.


"tentu saja tidak, aku malah menginginkannya," kata Windi.


"kau akan akan ketakutan saat tau siapa aku yang sebenarnya," batin genderuwo itu.


Windi benar-benar terlena akan segala yang dia nikmati, toh dia memang menginginkan kehidupan yang seperti ini.


Windi bangun dari ranjang dan menemukan banyak rambut hitam di tubuhnya.


bahkan luka memar di tubuhnya, "sepertinya permainan kami terlalu panas semalam," gumam Windi.


siang itu dia turun dan tak ada siapa pun di rumah itu, dia pun mencari sosok pria yang dia cintai tapi tak menemukannya.


"kamu mencari putraku, dia sedang pergi beberapa hari, kamu sedang tidur tadi, jadi dia pergi tanpa pamit," kata seorang pria yang tak kalah tampan.


"anda siapa? bukankah kak Raka sudah yatim piatu, jadi anda ini siapa?" tanya gadis itu ketakutan.


"aku adalah ayah angkat Raka, kamu tak perlu takut gadis cantik, aku bahkan bisa memuaskan mu jika itu perlu," bisik pria itu.


Windi langsung mundur ketakutan, dua memang jarang turun ke bawah.


Windi berlari naik ke atas untuk bersembunyi, tak lama sebuah ketukan pintu dia dengar dan membukakannya.


Windi melihat ada sebuah nampan berisi makanan, dan dengan tanpa curiga dia memakannya.


ternyata makanan itu sudah di beri ajian oleh raja genderuwo itu, hingga tubuh Windi akan menginginkan sesuatu memasukinya.


dan mahluk itu berubah menjadi sosok Raka, karena ingin menikmati dan merasakan manusia yang begitu di cintai anaknya itu.


Windi pun benar-benar sudah tak sadar apapun, bahkan gadis itu sudah tak sadarkan diri.


setelah itu, Windi di buang ke dunia manusia lebih tepatnya di rumah dukun Suryo.


dan dengan begitu aroma dari putra raja genderuwo tak akan bisa di lacak di tubuh gadis itu.


polisi yang melakukan penggalian kaget saat menemukan tubuh Windi yang hanya mengenakan daun pisang sebagai rok dan baju.


bahkan wanita itu nampak begitu lusuh, dan polisi membawa gadis itu ke rumah sakit.


Rafa dan Raka baru saja datang, Keduanya tak berpapasan dengan Windi yang sudah di bawa pergi.


polisi pun melanjutkan pencarian, dan mengunakan alat berat mereka menghancurkan rumah dukun Suryo.


tapi tiba-tiba angin bertiup kencang, pepohonan bergoyang hebat, bahkan beberapa pohon besar tumbang.


ternyata Raka dan Rafa melihat sesosok mahluk hitam yang sedang mengamuk.


Raka melemparkan keris miliknya dan mahluk itu terpental jauh agar tak mengganggu pencarian.


dua pohon yang tumbang itu, di temukan begitu banyak rangka manusia.


polisi pun sampai terdiam melihat itu semua, belum lagi pengalian di lanjutkan, dan benar saja juga di temukan begitu banyak korban.


dan salah satu korban adalah Anita dan juga kedua anaknya, dan selama ini Anita sudah di bodohi oleh Eko.

__ADS_1


tubuh mereka di kubur di jarang tak jauh, bahkan aroma busuk langsung menusuk penciuman mereka.


Rafa tak habis pikir bagaimana bisa dukun itu membunuh begitu banyak orang sebagai tumbalnya.


__ADS_2