
Wulan pun merada sedih, sebenarnya bukan maksud pak Suyatno, tapi dia terlanjur bicara.
"maafin bapak ya, seharusnya bapak ingat jika kamu juga masih kecil, ya sudah nikmati dulu saja, tapi bukankah nak Raka dan nak Rafa punya kebun durian?" tanya pak Suyatno mengalihkan perhatian.
"iya pak, ada di daerah Wonosalam, apa bapak ingin Durian biar nanti kami ambilkan, kebetulan aku juga sedang ingin makan Pete," jawab jasmin semangat.
"wah kesukaannya sama kayak ibu, suka Pete," jawab bu mut.
sedang wulan merasa merinding mendengarnya, pasalnya terakhir kali mereka makan Pete selama seminggu akibat pemberian raka di pertemuan awal mereka.
"kita bisa sama-sama ke kebun jika bapak mau, nanti bisa pilih sendiri disana mau pak?" tawar Rafa.
"wah boleh nih, sekalian kita piknik di sana, sudah lama nih bapak tak jalan-jalan," jawab pak Suyatno senang.
mereka pun bersiap dengan hanya satu mobil, karena akan susah karena Raka baru saja terluka.
Rafa menyentuh pertama kali, butuh setidaknya satu jam untuk sampai di kebun durian.
tapi sebelum sampai mereka sempat membeli beberapa cemilan, bahkan arem-arem.
mereka pun sampai di kebun yang di inginkan, pak Slamet menyambut mereka.
dan saat Raka mengandeng Wulan, pak Slamet tak mengira jika keduanya akhirnya menikah.
mereka pun langsung menuju saung dan ternyata sudah ada durian yang bertumpuk di sana.
"wah sudah panen pak?" tanya Raka.
"iya mas, kebetulan tadi saat mas telpon saya sudah selesai panen jadi saya tunggu sekalian," jawab pak Slamet.
mereka pun mulai membuat api, Raka dan rafa ingin membuat durian bakar, sekaligus menghangatkan ikan dan cemilan bakar tadi.
setelah itu Rafa menaruh durian itu di api, dan menunggu durian itu sedikit gosong.
setelah itu tak lama durian pun sangat harum apalagi setelah di bakar.
tapi rafa membawa satu durian ke arah kebun paling dalam, dua menaruhnya di sana kemudian kembali ke tempat saung.
sesosok mahluk mengambil durian itu dalam gelap kebun, Rafa kembali tapi dari jauh dia melihat mahluk yang ingin menyentuh perut istrinya.
tapi Wulan meremas mahluk itu sampai hangus tak bersisa, kemudian dia tersenyum kearah Rafa yang berlari.
Rafa tak mengira jika Wulan lebih dari dua dan Raka, dia sadar kenapa gadis itu bisa menyelamatkan mereka saat bertarung dengan sing bahu rekso.
bahkan dia menjadi panglima bagi pasukan ghaib yang begitu besar jumlahnya.
Wulan tiba-tiba merasa jik aroma Pete bakar itu aromanya dan rasanya begitu enak.
pak Suyatno dan Bu mut bingung melihat putrinya uang tiba-tiba begitu menyukai Pete, bahkan begitu lahap.
"aduh pak ... itu putrimu sehat?" tanya Bu mut.
"tak tau Bu, baru kali ini aku melihat dia lahap banget makan Petenya,"
__ADS_1
Rafa tersenyum, pasalnya ada seseorang yang memeluk wulan dari belakang.
dan cahaya itu kemudian hilang, Raka pun sempat melihatnya sebentar wajah itu adalah wajah kakek buyutnya.
raka pun mengangguk, dan berarti jika istrinya akan segera menjadi ibu jika benar.
sedang di rumah pak Prapto, semua orang sedang panik karena pria itu kambuh lagi.
Irma pun memutuskan untuk mencari pak Suyatno tapi rumah itu sepi, dia juga tak tau harus minta tolong siapa.
dia pun ingat pada ustadz Hasan dan putranya, dia pun buru-buru minta pertolongan kedua orang itu.
ustadz Hasan yang mengetahui hal itu tak percaya jika Raka tak ingin menolong, karena keduanya pasti memiliki alasan yang kuat.
ustadz Hasan memerintahkan kepada ustadz Arifin dan beberapa murid yang sudah lama untuk pergi.
tapi saat sampai di rumah Irma, pak Prapto sudah di tidurkan di ruang tamu karena kondisinya yang hanya bisa bernafas saja.
ustadz Arifin pun mulai bersiap untuk melakukan ruqyah, dia juga meminta sebuah tong dan ember berisi air garam.
murid-murid ustadz Arifin mulai membaca ayat suci untuk menangkal dan mengembalikan santet.
dia mengunakan tasbih yang pernah di berikan oleh Rafa, kemudian dia menyentuh perut pak Prapto.
pria itu kembali muntah paku dan silet, setelah itu perutnya pun mengecil tapi yang lebih tak terduga dari mulut pria itu keluar kelabang.
karena panik, murid ustadz Arifin lari, akhirnya pak Prapto bangun sambil melihat ustadz Arifin.
pria itu tertawa mengejek, "wong Iki kudu Pati koyok Dee seng mateni anakku!" kata pak Prapto dengan suara marah.
"sampean sopo?" tanya istri pak Prapto.
"aku Rokimah, ileng awakmu, ha-ha-ha-ha," tawa pak Prapto yang kesurupan.
"apa bapk benar punya dendam dan rahasia, tolong jngans sembunyikan, jika tidak kami tak bisa membantu," kata ustadz Arifin yang sedikit kesakitan.
"sebenarnya aku yang membunuh putra mu, bukan suamiku, karena aku marah pada kalian yang berani selingkuh di belakang ku," kata istri psk Prapto.
"mati!!!"teriak pak Prapto mencekik wanita itu hingga lemas.
ustadz Arifin memukul tubuh pria itu debfan bambu kuning hingga terpental dan memuntahkan sebuah gulungan kain seperti pocong dan kemudian pingsan.
sedang keluarga Rafa dan Raka sedang berjalan-jalan menuju ke area sumber biru.
di sana raka dan Wulan mengenang bagaimana keduanya bertemu, Wulan ingat bagaimana dia yang kebingungan bersama Irma.
"kamu ingat kursi ini dek?" tanya Raka dengan lembut.
"iya kursi yang kita duduki karena tak ada kursi kosong waktu itu, dan di situlah Ki saling mengenal lebih jauh," jawab Wulan.
"wah ... ini tempat bersejarah ternyata, dan ibu sangat berarti banget dong buat kalian berdua?" tanya Rafa.
"pasti, katena di sini aku melihat seorang bidadari cantik dan sekarang dia sudah jadi istriku," jawab Raka tertawa.
__ADS_1
"dasar kamu ini, ya sudah mau pesen minum kah, Monggo silahkan, ya anggap saja kita liburan Keluarga sebelum Jasmin melahirkan, krena setelah ini Wulan harus ikut menjaga putriku," jawab Rafa.
"dasar kamu ini, padahal sebentar lagi aku harus ke Jepang," jawab Raka.
"sudahlah, kuliah disini saja, kamu tega meninggalkan eyang yang sudah sepuh, lagi pula ini juga S3," kata Rafa membujuk saudaranya.
Wulan melihat raka dan mengangguk, dia juga tak mau meninggalkan orang tuanya, terlebih Fahri juga masih mondok.
"baiklah kamu menang, dan aku akan mengambil S3 ku di sini, dan kamu juga sayang," kata Raka memeluk istrinya
sore hari mereka memutuskan untuk pulang, dan mereka sudah membeli berbagai jenis keripik sebelum pulang.
"kamu kenapa dek?" tanya Raka yang melihat istrinya tak nyaman.
"entahlah mas, aku merasa dadaku sedikit gatal," bisik Wulan ke dekat telinga Raka.
"mau aku yang menggaruknya, sini ..."
"mas mesum ih... ada orang tua juga," kesal Wulan.
Raka tertawa melihat reaksi istrinya yang malu, sedang Jasmin melihat perubahan di tubuh Wulan yang sangat ketara.
"dek Wulan, kamu hamil? kenapa kok sepertinya bagian atas tubuhnya lebih besar dari pertama kita ketemu," tanya Jasmin langsung.
"eh ... kok gitu mbak, meski aku belum mens bukan berarti hamil kan?" tanya Wulan polos.
"apa kamu belum mens dek? kenapa gak bilang," kata Raka yang kaget.
"soalnya dari dulu mensku tak lancar mas," jawab Wulan jujur.
"cari apotek!" kata Raka
tak lama mereka berhenti di apotek dan Raka membeli tes kehamilan, bahkan dia juga membeli susu hamil.
"wah terima kasih nih sudah membelikan susu buat Jasmin," kata Rafa.
"jangan Ngadi-ngadi deh, ini buat istriku," kesal Raka.
"sudah nak, lebih baik pulang dulu baru kita lanjutkan perdebatannya," kata pak Suyatno.
mobil pun menuju rumah keluarga Wulan, tak lama mereka pun masuk sambil membawa semua yang di beli dan dipanen.
Wulan mengambil alat itu dan membaca cara pakainya, setelah itu dia pun menuju ke kamar mandi.
dia pun keluar dan membawa alat tes itu dengan wajah sedih, "kenapa nak?" tanya Bu mut.
"garisnya ada dua," kata Wulan polos
mendengar itu Raka langsung memeluk istrinya dengan erat, dia tak menyangka jika akan secepat ini menjadi ayah.
bahkan seketika Bu mut melakukan dodolan antara Jasmin dan Wulan.
karena persalinan Jasmin yang sudah makin dekat, dan di situ hanya simbolis.
__ADS_1