
Fandi, Anis dan Nina terkejut mendengar teriakan Omar yang begitu memilukan itu.
ketiganya pun beralri ke area belakang rumah, Rafa sedang membaca sesuatu.
sedang Omar kesakitan sambil menggaruk tubuhnya hingga memerah.
"Rafa hentikan, dia saudara mu Rafa, Rafa ibu mohon ..."
suara Nina dan Anis tak bisa meluluhkan Rafa, bahkan pria itu seperti tak mendengar karena kemarahan.
"Ersa panggil mbak Jasmin, cepat!" teriak Fandi yang tak bisa menyentuh Omar.
kini tubuh Omar mulai luka dan mengeluarkan darah, sedang Rafa masih membaca mantra tanpa bisa berhenti.
Jasmin yang datang, tanpa bicara langsung memeluk tubuh Rafa dari belakang.
"sayang ... kamu sudah berjanji, aku akan marah saat kamu tak bisa menepati janjimu," lirih Jasmin.
"dia tak pernah bisa berhenti, orang tuanya harus tau, hanya karena dia putra pertama mereka, mereka membutakan matanya," suara Rafa terdengar marah.
"jika kamu masih seperti ini, aku tak mau di dekatmu lagi," kata Jasmin membuka tangannya.
"tidak, aku tak akan melakukan lagi, tapi aku ingin ibu yang Nina jangan menganggap semua kesalahan Omar itu tak ada," kata Rafa menatap tajam kearah Nina.
"aku sudah sehat sayang, dia tak akan bisa menyentuhku lagi, karena aku memiliki mu Sekarang," lirih Jasmin tersenyum meyakinkan Rafa.
Anis dan Fandi tak mengerti dan saling pandang, "tapi Omar mengatakan jika gadis itu, gadis panggilan," kata Nina.
"itulah sebabnya, mas David membuat kasus itu di tutup," tambah Nina.
"dia itu Jasmin ibu, dan putra mu ini sudah terlalu banyak membohongi Kalian, tapi kalian tetap tak bergeming sedikitpun," jawab Rafa sedikit marah.
"apa? jadi gadis yang melompat demi menyelamatkan harga dirinya adalah Jasmin!" kaget Nina.
"tak susah untuk mencari tau Bu, tapi apa yang anda lakukan dan keluarga, hanya diam karena mengira dia mati, padahal dia harus berjuang untuk sembuh dan sekarang dia istriku, dan tak boleh siapapun berani memiliki pikiran kotor terhadap istriku, atau ku pastikan dia dan keluarganya akan merasakan kemarahan ku, baik secara terlihat maupun dengan hal ghaib," kata Rafa mengancam Omar.
__ADS_1
"maaf ibu, bukan aku tak sopan, aku tak bisa melihat istriku sedih seperti ini lagi, lebih baik aku tinggal di apartemen milikku," kata Rafa.
"tunggu nak, kita bicarakan ini," kata Anis memohon.
"ibu, aku tak bisa kehilangan lagi, apalagi setelah semua yang tejadi, jadi aku mohon tolong mengerti tentang perasaan ku," kata Rafa.
anis begitu sedih melihat Rafa yang pergi mengajak Jasmin, "tunggu mas," kata Jasmin melihat Anis.
"ibu ... Ayah, Anda boleh mengunjungi kami di apartemen, dan akan selalu menunggu ibu, karena kami akan seminggu disini," kata Jasmin.
"iya nak, ibu akan ke sana," kata Anis mengangguk.
semua berantakan, Rafa sedang tak bisa di ajak bicara karena dia sedang marah.
mobil mereka sampai di apartemen milik Rafa, dan itu apartemen di kawasan elite.
bahkan Jasmin tak tau bersama milyar untuk memiliki apartemen di kawasan itu.
Rafa mengandeng tangan Jasmin menuju ke unit miliknya, dan saat masuk semua isi apartemen itu sangat mewah.
seakan hangat jomplang dengan keadaan di desa, "dek kamu istirahat ya, aku mandi dulu ya, untuk menenangkan diriku," pamit Rafa.
Rafa pun memeluk Jasmin dan kemudian mengendong wanita tercintanya itu.
kemudian mereka memilih berendam di bathtub, bahkan mereka saling membersihkan satu sama lain.
"anak ayah ..." kata Rafa mengusap perut Jasmin.
"sayang kamu pegang yang mana, jangan mulai lagi," bisik Jasmin.
"tapi aku ingin, karena amarahku akan reda saat mendengar mu mendesah," bisik Rafa.
"ini masih siang," lirihnya Jasmin.
Rafa mengendong istrinya, dan membawanya ke ranjang, karena kebetulan orang kepercayaan Rafa sudah membersihkan sebelum kedatangan keduanya.
__ADS_1
sedang di rumah Anis, Omar sedang di obati Ersa, sedang Nina tak mengira jika gadis yang dulu hampir di lecehkan itu adalah Jasmin.
Nina sekarang tak bisa menampakkan dirinya di depan Rafa, dia malu dengan semua kelakukan Omar.
David yang mendapatkan telpon pun langsung datang untuk menemui Nina dan Omar, karena tadi suara Nina terdengar sangat sedih.
"ada apa ini?" tanya David saat datang.
"mas ... aku tanya pada mu, apa kamu tau siapa gadis yang di lecehkan putramu, aku tanya mas?" kata Nina yang menangis.
"aku tau, dia putri pengusaha bernama Handoko, tapi gadis itu sudah mati dari keterangan ayahnya," kata David santai.
"dia istri Rafa mas, dia istri Rafa, orang tuanya menipu mu agar putra mu itu tak mencoba melecehkan gadis itu lagi ..." tangis Nina.
dia tak mengira jika suami dan putranya tega menipu dirinya, "apa maksudmu dengan istri Rafa," kaget David mendengar perkataan Nina.
"Rafa menikahi putri pengusaha Handoko saat di malang, saat dia di temukan di pondok dulu," kata Anis.
"apa jadi selama ini Handoko membohongiku," kata David.
"itu pantas mas, siapa yang tak marah putri tersayangnya dan hidupnya,meregang nyawa karena melarikan diri, jika itu aku. aku akan membunuhnya tanpa ampun di depan matamu," kata Fandi.
"tapi aku ingatkan pada kalian, Rafa itu bukan anak biasa, dia bisa menolong orang atau mencelakai orang tanpa mebte yang h orang tersebut, jadi Omar, pikirkan bagaimana keinginan mu, jika mau mati maka silahkan terus merasa tinggi dan sombong, karena Rafa akan mudah mengirimmu ke neraka," kata Anis.
"Anis! dia keponakan mu!" teriak David.
"Rafa putraku! kau lupa kak!" jawab Anis tak mau kalah.
David diam, dia lupa jika Rafa adalah putra angkat Anis, sedang Nina tak tahan lagi.
"seharusnya aku membunuh mu dulu saat kau ada di kandungan ku Omar, aku tak mengira kamu akan seperti ini, aku tak pernah mengajarimu seperti ini, apa salah ku dan apa dosaku dalam membesarkan mu, hingga kau seperti ini mempermalukan diriku Omar, cukup aku tak tahan lagi, Sekarang pergi dari depanku, aku tak ingin melihatmu lagi!" teriak Nina.
"mama, jangan mengusirku ma, aku minta maaf, dulu aku sedang mabuk, dan aku melakukannya pun tak sengaja ma," Mohon Omar.
"tidak Omar, sudah berkali-kali," jawab Nina.
__ADS_1
"maafkan aku ma, maaf ma..." tangis Omar.
"bukan padaku, tapi pada semua korban mu Omar," jawab nona yang pergi meninggalkan rumah Anis dan Fandi.