Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
rumah mertua


__ADS_3

sore hari, Rafa sedang memasak mie sesuai keinginan dari Jasmin, dan istrinya itu sedang duduk sambil melihat suaminya memasak.


"mas, sayang ... kamu seksi deh," goda Jasmin.


"bagaimana tidak seksi sih sayang, aku memasak tanpa atasan baju begini," kata Rafa berpose di depan Jasmin.


"untung tubuhmu bagus mas, kalau kurang gizi kan gak enak di lihat," kata Jasmin meledek Rafa.


"aku ini selalu berolahraga meski itu hanya jalan kaki, dan aku suka makan jadi tak mungkin kekurangan gizi sayang," kata Rafa.


keduanya pun makan sepiring berdua, Rafa menyuapi Jasmin dengan penuh kasih sayang.


setelah itu, mereka berdua pun berganti pakaian karena akan berkunjung ke rumah orang tua Jasmin.


tak lupa, Rafa juga membelikan beberapa hadiah dan oleh-oleh untuk kedua mertuanya dan juga saudara dari Jasmin.


keduanya pun sampai di rumah dua lantai yang cukup besar itu, Rafa membawa Semuanya sambil mengekori istrinya.


Jasmin menekan bel rumah, tak lama seorang pembantu membukakan pintunya.


"assalamualaikum mbak Darmi," sapa Jasmin.


"waalaikum salam non Jasmin, Alhamdulillah akhirnya mbak berkunjung bersama suami, mari masuk, tuan dan nyonya ada di ruang tengah," kata mbak Darmi.


"ayah ... ibu ..."


pak Handoko dan Bu Diah keluar menemui Jasmin yang datang dengan Rafa.


sedang dari atas Windi datang begitupun Angga, Rafa memberikan hadiah yang di bawa pada Jasmin.


"ibu ... ayah ... ini ada sedikit hadiah yang di belikan oleh suamiku, maaf jika bukan barang mewah," kata Jasmin.


"kemarikan aku lihat dulu, hadiah apa yang di bawa oleh kakak ipar dari kampung mu di pelosok seperti itu," ejek Windi menarik tas hadiah.


Rafa menahan tubuh jasmin agar tak jatuh, karena Windi menariknya dengan kasar.


saat Windi membuka hadiah itu, Jasmin melihat kotak yang di buka, "itu jam tangan gold untuk ayah, dan yang silver untuk kak Angga,"


Windi pun memberikan kedua kotak itu pada pemiliknya, Windi membuka hadiah yang lain ternyata sebuah kalung dan gelang.


"itu untuk ibu, dan ada sertifikat asli di sana juga," kata Jasmin melihat hadiah mewah itu.

__ADS_1


"ku kira kau tak akan tau kesukaan ibu," kata Diah pada Rafa dan Jasmin.


"itu adalah hadiah pilihan putri ibu ini, dia yang bilang jika ibu pasti akan menyukai perhiasan ini," jelas Rafa.


"terus milikku kenapa begitu kecil," protes Windi.


"buka saja adik ipar, pasti kamu begitu menyukainya," kata Rafa merangkul pinggang Jasmin.


Windi pun membuka hadiah itu, ternyata ponsel keluaran terbaru dengan warna ungu sesuai kesukaannya.


"ini ponsel terbaru, ayah belum mau membelikan ya untukku, terima kasih kakak ipar," kata windi ingin memeluk Rafa.


tapi Rafa menghindar dari pelukan Windi, dan Jasmin yang memeluk adiknya itu.


"dengan ku saja ya, karena ini sama saja," jawab Jasmin.


Windi pun tak peduli setelah memeluk Jasmin, gadis itu berlari ke atas untuk membuka hadiahnya.


sedang pak Handoko dan Angga kaget karena jam tangan yang diberikan itu adalah barang-barang mahal.


"ayo masuk dulu, bik Darmi tolong siapkan minuman dan cemilan ya," kata Bu Diah yang begitu senang.


"nak Rafa besok datang di acara pengusaha itu?" tanya pak Handoko.


"cukup Bu, jangan mempermalukan kami lagi, seandainya ibu tau siapa pria ini ibu akan malu mungkin," kata Angga tak enak pada Rafa.


"tenang Angga, aku baik-baik saja, aku juga hanya pengusaha biasa aja kok," jawab Rafa.


Angga pun tak bisa berkata-kata lagi, pasalnya dia juga baru tau saat melihat orang kepercayaan Rafa yang juga bukan orang sembarangan.


"mas tunggu di sini dulu ya, biar aku ke dapur sebentar ya, mau ketemu mbak Darmi," pamit Jasmin.


"iya sayang, tapi hati-hati ya, kamu sedang hamil," kata Rafa menginggatkan.


"iya mas," jawab Jasmin menenangkan suaminya.


Jasmin langsung memeluk mbak Darmi, "aduh non, mbak bau loh," kata mbak Darmi.


"aku kangen mbak deh, tolong buatkan tahu isi dong mbak, tiba-tiba pingin nih," kata Jasmin memohon


"baiklah non," jawab mbak Darmi.

__ADS_1


"oh ya mbak, ini ada hadiah tapi aku berikan uang saja ya, karena aku tak tau apa yang mbak butuhkan," kata jasmin memberikan sebuah bukti transfer ke rekening mbak Darmi.


"ya Allah non, itu sangat banyak, terimakasih pada non dan suami, kebetulan orang tua mbak sedang sakit di kampung," kata mbak Darmi sedih.


"ini hanya sedikit hadiah mbak, kata suamiku terima kasih karena mbak dulu begitu menyayangiku," kata Jasmin.


bu Diah penasaran dengan nominal yang di terima mbak Darmi, pasalnya Jasmin mengirimnya langsung antar bank.


"sebenarnya siapa sih suami jasmin ini, kenapa bisa membeli barang-barang mewah, bukankah pria itu hanya petani biasa di kampung," gumam Bu Diah.


dia pun menghilangkan pemikiran anehnya itu, mungkin dia menjual tanahnya sebelum datang ke kota.


"Jasmin kenapa tidak di luar saja, biar ibu yang bantu bik Darmi," kata Bu Diah.


"iya Bu, mbak aku pergi dulu ya," pamit Jasmin.


Jasmin melihat Rafa yang sedang bermain catur dengan pak Handoko langsung memeluknya.


"sudah sayang?"


"iya mas, ayah sudah kalah berapa set?"


"ayah kalah, tentu tidak, suamimu yang kalah," kata pak Handoko tertawa.


Jasmin melihat suaminya yang sengaja mengalah, sedang Angga masih membantu Windi mengoperasikan ponselnya.


Jasmin pun bergabung, Windi bahkan tak mengira jika ponsel yang di gunakan Jasmin juga keluaran terbaru.


"mbak suamimu ruh sebenarnya kerjanya apa sih,ngepet, kenapa bisa kaya dan baya uang sih?" heran windu.


"dia itu cuma pengurus yayasan ayah kok, dan juga seorang petani di desa, memang kenapa?" tanya Jasmin.


"tapi uangnya banyak, berarti kata dong," tanya Windi lagi.


"asal kamu tau ya, dari dia SMA, mas Rafa itu sudah punya usaha sendiri, terus keluarganya itu juga kaya,sawah dan tanahnya di mana-mana, belum lagi rumah atas nama dia ada dua, dan banyak lagi, jadi jangan bilang orang desa itu norak ya,"bela Angga.


"ye .... aku kan cuma tanya, berarti dia orang kaya dong, pantes ayah begitu senang saat cerita tentang mas Rafa, meski dia cacat," kata Windi lagi.


"kamu yakin suami Jasmin cacat, lihat lagi deh, dia itu sempurna loh, dulu aja waktu di sekolah, dia menjadi incaran semua murid tau," kata Angga.


Windi pun menoleh, ternyata benar, Rafa sempurna, dengan tubuh Bagun wajah tampan, senyum yang merekah.

__ADS_1


belum lagi dia juga orang kaya sesuai kriteria pria impian dari Windi yang ingin hidup santai.


__ADS_2