
Hongli mengembalikan Sherli kembali ke dunianya. Gelang lengan yang ia pasangkan, masih melekat dilengan Sherli tanpa dapat ia lepas. Ketika Sherli mengambil gelang dari Felix dan akan memakainya kembali. Tubuh Sherli terasa panas.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pukul 9 pagi pun datang. Saat yang dinanti oleh Felix karena dapat bertemu dengan sang kekasih.
Sherli telah membuka dan membaca pesan dari Felix. Ia bergegas menuju ke depan sekolah dimana Felix sedang menunggu dirinya.
Sherli mengedarkan pandangannya mencari sosok Felix, ia tidak ingat mobil Felix yang mana karena terdapat beberapa mobil hitam disana.
Felix melihat Sherli yang sedang mencari dirinya, ia segera keluar dari mobil menghampiri Sherli.
"Sher, aku disini," ucap Felix menyentuh bahu Sherli. Sherli sontak menoleh dan melihat sosok Felix, ia tersenyum padanya.
"Kakak!"
"Ayo kita pergi!" Felix menarik tangan Sherli menuju kemobilnya.
Ia terheran saat merasakan tangan Sherli yang sangat panas, ia menahan diri sampai di dalam mobil.
Felix segera menarik gagang pintu mobil, saat pintu terbuka ia segera menyuruh Sherli untuk masuk. Setelah memastikan Sherli berada didalam, ia memutari mobil menuju ke kursi kemudi.
Felix segera melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah. Saat dirasa sudah cukup jauh, Felix memberhentikan mobilnya dipinggir jalan.
Seketika Sherli menoleh kepada Felix.
"Kak kenapa berhenti?" tanya Sherli heran.
Felix memutar tubuhnya kearah Sherli. Ia meraih tangan kiri Sherli, "Sayang tubuh kamu kenapa panas? Kamu sakit?" tanya Felix cemas.
"Tidak, Kak! Tubuhku tidak sakit, aku juga tidak mengerti sejak semalam tubuhku terasa panas."
Felix mengeryit heran, tidak mungkin suhu Sherli panas tanpa sebab batinnya.
"Kamu serius, apa hanya suhu kamu saja yang panas? Tubuh kamu yang lain ada yang sakit tidak?" tanya Felix.
"Tidak, Kak. Aku sungguh baik-baik saja. Hanya suhu tubuhku yang agak tinggi," jawab Sherli.
Felix melepaskan tangan Sherli. Ia memutar tubuhnya ke kursi belakang untuk mengambil kotak obat disana. Felix membuka kotak tersebut dan mengambil obat penurun panas untuk Sherli.
Felix segera memberikan obat tersebut kepada Sherli.
"Ini minumlah, semoga segera turun suhu tubuhmu."
Sherli meraih obat tersebut, ia mengambil air minum didalam tas yang ada diatas pangkuannya dan segera meminum obat tersebut.
Karena dirasa tidak mungkin membawa Sherli jalan-jalan karena sedang demam. Felix berinisiatif membawa Sherli ketempat tinggalnya.
Ia merasa tidak rela Sherli pulang kerumahnya, karena ia ingin menghabiskan waktu luangnya dengan Sherli.
Felix segera melajukan mobilnya, ia mampir ke supermarket membeli camilan untuk Sherli nanti. Felix keluar dengan satu kantong plastik besar.
Ia segerq meletakkan belanjaannya di kursi belakang. Sherli menoleh ke belakang saat Felix membuka pintu untuk meletakan belanjaannya.
Sherli terheran melihat banyak sekali belanjaan Felix.
"Kak, Kakak belanja kebutuhan rumah? Kenapa tidak bilang aku kan bisa membantu, Kakak tadi?"
"Tidak, ini hanya beberapa camilan, ini ringan kok! Sebentar ya aku ke rumah makan disana dulu." Sherli mengikuti arah tangan Felix menunjuk.
"Iya, Kak!" jawab Sherli.
Felix bergegas menuju rumah makan tersebut. Ia membeli beberapa porsi makanan, setelah selesai membayar tagihan, Felix segera kembali ke mobilnya.
__ADS_1
"Sudah, Kak?" tanya Sherli saat Felix masuk ke dalam mobil.
"Sudah, Sayang," jawab Felix sambil meletakkan makanan di kursi belakang.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Sherli memandang Felix.
"Nanti kamu akan tau, tunggu saja" jawab Felix. Ia segera melajukan mobilnya.
*
Mereka telah sampai di suatu gedung yang cukup menjulang tinggi. Felix turun dari mobil dan segera membuka pintu untuk Sherli.
"Turunlah!" titah Felix.
Sherli tak bergeming ia memandang Felix heran karena telah membawanya ke gedung tersebut.
"Sher, ayo turun!" ucap Felix lagi.
"Kak, kenapa kita kesini?" tanya Sherli yang masih diposisinya.
"Ayo turunlah, nanti kamu juga mengetahuinya!" ucap Felix lagi.
Dengan ragu Sherli turun dari mobil. Felix segera menutup pintunya dan beralih ke pintu belakang. Felix memberikan kantong makanan kepada Sherli.
"Sher tolong kamu bawa ini!" tanpa berkomentar Sherli meraih kantong tersebut.
Felix membawa kantong besar dari supermarket tadi.
"Ayo kita kedalam."
Felix meraih tangan Sherli yang menganggur. Ia mengajak Sherli masuk kedalam.
Felix menekan tombol lift kelantai lima. Setelah sampai ia menuju kepintu yang tertulis 512.
Felix yang telah membuka pintu tersebut mendahului untuk masuk. Ia menoleh kepada Sherli yang mematung.
"Sher ayo masuk!" ucap Felix.
Sherli merasa takut karena Felix tidak menjawab pertanyaannya sejak tadi.
"Jawab dulu, Kak! Kenapa Kakak membawaku kemari?" tanya Sherli dengan suara datar.
Melihat raut wajah Sherli, Felix sadar akan apa yang Sherli fikirkan tentang dirinya. Ia menghampiri Sherli dan memegang pundaknya.
"Ini apartementku, Sayang! Aku tinggal disini. Kamu jangan takut! Aku tidak akan macam-macam denganmu," ucap Felix lembut.
Sherli memandang Felix serius, "Kakak tidak berbohong?"
"Tidak Sher, aku berkata jujur," jawab Felix.
"Baiklah."
Sherli melangkahkan kakinya masuk kedalam. Felix memimpin jalan menuju ke ruangan yang cukup luas dimana terdapat sofa, televisi, aquarium dipojok ruangan dan perabotan lain.
Sherli terdiam melihat sekeliling ruangan tersebut, ia begitu terkagum akan tatanannya yang rapi dan elegan.
"Wah .... rapi sekali, Kak."
Sherli terus mengedarkan pandangannya takjup.
Felix tersenyum melihat reaksi Sherli.
"Kamu suka tempat ini?" Sherli menganggukkan kepalanya cepat sebagai jawaban.
__ADS_1
"Kakak disini dengan siapa?" tanya Sherli.
Ia penasaran karena melihat ada tiga kamar disana dan terdapat dua kamar dilantai dua.
"Aku tinggal sendiri, Sher," jawab Felix.
Sherli terkejut mendengarnya. Ia memandang Felix heran.
"Orang tua Kakak dimana?"
"Mereka di rumah, aku ingin mandiri jadi aku membeli tempat ini setahun lalu dari hasil kerja kerasku," jawab Felix. Sherli kembali takjup mendengar perkataan Felix.
"Selain dewasa kak Felix juga mandiri, dia begitu hebat. Kak Felix sepertinya seumuran dengan Kak Afbi. Kak Afbi saja masih manja dirumah." Batin Sherli.
"Lalu yang membersihkan tempat ini Kakak sendiri?" tanya Sherli lagi.
"Tidak, seminggu dua kali bibi yang bekerja di rumah mamaku datang untuk membersihkan tempat ini," jawab Felix.
"Oh...." Sherli membulatkan mulutnya sambil mengangguk faham.
"Sudah, ayo duduk! Aku tidak mengajakmu pergi karena kau demam. Jangan berdiri terlalu lama.
"Felix menarik tangan Sherli untuk duduk di sofa. Sherli meletakan kantong makanan di meja hadapannya, dimana Felix meletakkan kantong yang dia bawa.
Felix menyalakan televisi agar Sherli tidak bosan. Ia mengarahkan tangannya menyentuh kening Sherli untuk memeriksa suhu tubuhnya.
"Kenapa tidak turun juga panasmu," ucap Felix khawatir.
"Tidak tau, Kak, dari semalam terus seperti ini," jawab Sherli.
Felix menarik tubuh Sherli agar lebih dekat dengannya, ia memeluk Sherli dari samping sambil mengelus puncak kepala Sherli yang diletakkan di dada bidangnya.
"Cepat sembuh, Sayang! Jika kau sakit aku tidak tenang," ucap Felix memejamkan matanya.
Sherli tidak menolak dengan tindakan Felix karena ia tau sang kekasih sungguh menghawatirkan dirinya. Sherli terharu mendengarkan ucapan Felix. Ia mendongakkan kepalanya agar bisa memandang wajah Felix.
"Terimakasih, Kak!" ucap Sherli dengan sendu.
Felix tersenyum pada Sherli.
Cup!
Ia mendaratkan kecupan dibibir Sherli.
"Kak! Kau mengambil ciuman pertamaku," gerutu Sherli sambil mengrucutkan bibirnya. Felix menyibakkan rambut poni Sherli.
"Benarkah?" ia kembali mendaratkan kecupannya di kening Sherli.
"Kak ...."
"Baiklah, baiklah. Tetaplah dipelulanku hingga panasmu turun!" ucap Felix.
Mereka beralih melihat tanyangan televisi dengan posisi yang tidak berubah.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
Terimakasih yang telah membaca :).
__ADS_1