
Malam semakin larut, Felix mendudukkan tubuhnya di sofa kamar. Ia fokus pada laptopnya yang sedang berada di pangkuannya.
Lelaki itu merasa terpaksa untuk fokus pada benda tersebut, karena mendapatkan email bisnis dari papa Dave yang harus ia verifikasi.
Mata Felix sesekali memandang kearah Sherli yang terbaring diatas ranjangnya.
Tatapan gadis itu tampak kosong karena memikirkan sesuatu. Felix segera menyelesaikan pekerjaannya, dan menghampiri gadis itu.
Felix mendekatkan tubuhnya pada Sherli, tangannya terangkat mengelus lengan gadis itu yang terbuka. Sherli sontak menoleh kearahnya.
"Kamu kenapa? Aku sudah bilangkan, untuk tidak bersedih!"
Laki-laki itu membalikkan tubuh Sherli, agar manik matanya dapat dengan leluasa memandang wajahnya.
"Aku sedih, Kak! Bagaimana jika kak Hongli benar-benar akan membawaku? Aku tidak ingin berpisah denganmu dan juga keluarga kita." Gadis itu memandang sedih Felix.
"Tidak akan ada yang memisahkan kita, kamu tenanglah! Aku akan disisimu selalu. Jika kau seperti ini aku sangat sedih, Sayang!" Felix mengenggam erat tangan Sherli.
Sherli berusaha tersenyum untuk menenangkan lelaki dihadapannya tersebut, saat wajah tampannya dipenuhi akan kecemasan.
"Aku akan berusaha, Kak! Terimakasih, aku mencintaimu!" Sherli bangkit dan mencium kilas pipi lelaki yang telah menikahi dirinya tersebut.
Felix dibuatnya mematung atas keberanian Sherli yang berinisiatif.
Ia menyunggingkan senyumannya, dan segera bangkit melayangkan tubuhnya diatas tubuh istri kecilnya itu.
"Kamu berani sekali, apa aku boleh memintanya sekarang?" matanya dipenuhi harapan.
"Hah?" Sherli menatap polos manik mata Felix tidak mengerti.
Felix mengerutkan keningnya melihat reaksi Sherli.
"Ayolah, Sayang! Aku tahu umurmu masih 17 tahun. Tetapi dua bulan lagi kau sudah genap 18 tahun, kita akan mengurus surah-surat nikah kita. Apa kau cemas karena kita belum sah secara negara?" tanya Felix.
Sherli menggeleng pelan.
"Bukan begitu, Kak! Aku masih sekolah, bagaimana jika aku hamil? Pasti semua temanku akan berfikir buruk tentangku, kitakan belum mengumumkan pernikahan kita?" ucap Sherli menjelaskan.
"Baiklah! Aku juga belum ada persiapan untuk itu, tapi berjanjilah jangan pernah menolakku, saat aku telah memiliki solusi!" Sherli tersenyum seraya menganggukkan kepalanya menjawab Felix.
"Sekarang izinkan aku-" sebelum ia melanjutkan perkataannya, bibirnya telah ia benamkan pada bibir gadis itu.
Membuat Sherli membulatkan mata atas tidakan Felix yang tiba-tiba.
Sherli berusaha untuk tidak menolaknya, ia sudah merasa bersalah saat menunda keinginan Felix terhadapnya. Ia berfikir hal itu dapat sedikit menenangkannya.
Setelah hampir kehabisan nafas, Felix mengakhiri kegiatannya. Mereka berdua berebut oksigen untuk memenuhi rongga paru masing-masing.
"Sudah ayo kita tidur!" Felix membaringkan tubuhnya disamping Sherli. Ia menarik tubuh gadis itu agar mendekat ketubuhnya.
Felix segera membenamkan tubuh gadis itu dipelukannaya, memberikan kehangatan dan ketenangan. Tidak membutuhkan waktu lama Sherli akhirnya terlelap.
Pandangan Felix menyusuri wajah cantik yang tidak membosankan baginya itu. Ia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman.
"Selamat tidur istri menisku." Ciuman lembut Felix daratkan dikening Sherli.
__ADS_1
Ia segera ikut terlelap tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Sherli.
~
"Ah! Sakit, kak!" Sherli memekik saat Hongli menarik tangannya dari ranjang .
"Kak, Felix! Tolong!" Sherli berteriak sekencang-kencangnya memanggil Felix yang masih terlelap di ranjangnya.
Hongli geram melihat gadis itu meminta pertolongan pada Felix. Ia menghempaskan tubuh Sherli disofa, membuat tubuh gadis itu lemas karena sakit.
"Kau meminta pertolongan pria lain?" teriak Hongli.
Sherli meringkuk takut saat manik mata Hongli kembali berwarna merah.
"Lihatlah! Apa yang bisa kulakukan!" Hongli memandang tubuh Felix yang terlelap diranjang.
"Akh!" Felix menjerit memegang lehernya. Sherli terkejut melihat Felix yang kesakitan.
"Kakak!" teriaknya.
Gadis itu berhambur menghampiri Felix yang berniat untuk menolong. Saat baru didepan Hongli.
Pria itu menarik pinggangnya dan mengunci tubuh Sherli, hingga dirinya tidak bisa berkutik.
"Kak lepaskan aku!" teriaknya memukul-mukul tangan Hongli. Ia berharap pria itu kesakitan dan melepaskan tubuhnya. Namun, pria itu tak bergeming sedikitpun.
Felix terlihat terdengar semakin pelan teriakannya, membuat Sherli hanya bisa menangis melihatnya.
Terlihat Felix mengambil nafas panjang dan menghembuskan kembali. Setelah itu tubuh Felix tidak bergerak.
"Kakak!" teriak Sherli.
"Hahaha matilah kau, sekarang kau adalah milikku! Temuilah dia untuk yang terakhir kalinya!" Hongli melepaskan tubuh Sherli.
Dengan tubuh lemas Sherli menghampiri Felix. Gadis itu mengguncang-guncangkan tubuh Felix.
"Aku mohon, Kak! Bangunlah!"
Sherli menangis tersedu-sedu saat Felix tidak meresponnya.
Gadis itu menempelkan telinganya didada Felix, namun ia tidak mendengar apapun yang seharusnya terdengar disana.
Tubuh Sherli semakin bergetar, ia pucat seketika menyadari Felix telah tidak bernyawa.
"Kakak!" teriaknya.
~
"Sayang! Kamu kenapa? Bangunlah."
Sherli membuka matanya, ia terlonjak duduk dengan nafas terengah-engah. Keriangatnya terlihat bercucuran ditubuhnya.
Matanya menoleh pada Felix yang terlihat cemas disampingnya. Gadis itu berhambur memeluk tubuh Felix seraya menangis.
"Kakak! Aku mimpi buruk tentangmu."
__ADS_1
Felix mengelus punggung Sherli menenangkan.
"Tenanglah! Aku bersamamu!" Felix mencium puncak kepala Sherli.
"Kau benar-benar trauma. Apa yang harus aku lakukan?"
Saat dirasa sudah tenang, Sherli melepaskan pelukannya.
"Kak! Aku bermimpi kau tiada!" Sherli kembali meloloskan airmatanya.
Tangan Felix terangkat menghapus keringat yang masih bercucuran di kening gadis itu, lalu menghapus air matanya.
"Aku masih disini bersamamu! Kamu tenanglah, tidak akan ada yang bisa memisahkan ikatan sakral kita!" Felix berucap selembut mungkin.
"Sekarang ayo kita tidur lagi!" Felix menarik kembali tubuh Sherli dipelukannya.
"Panas, Kak! Aku ganti baju dulu ya?"
setelah Felix mengizinkannya. Sherli segera bangkit menuju ruangan ganti.
Pakaian yang semula panjang menutupi kakinya, ia ganti dengan celana pendek juga kaus tanpa lengan.
Ia sungguh merasa gerah karena keringat yang disebabkan mimpi buruknya.
Awalnya ia berniat untuk mandi, namun saat melihat jam masih pukul satu pagi. Ia mengurungkan niatnya karena takut akan demam.
Sherli segera menghampiri Felix yang sedang menunggunya, dan terlihat memandang langit-langit kamar.
"Sedang memikirkan apa?" tanya Sherli heran. Gadis itu merangkak diatas kasur lalu merebahkan tubuhnya.
"Sedang me-"
Glek!
Felix menelan berat salivanya saat melihat tubuh Sherli yang hampir seluruhnya terbuka. Ia menyusuri setiap inci tubuh istrinya.
"Sayang, apa kau yakin akan memakai pakaian ini?" ucap Felix khawatir.
Sherli mengeryit heran.
"Kenapa memangnya? Aku kepanasan, Kak!"
Felix memandang serius gadis itu, "Jika kau memakai pakaian seperti ini, aku tidak yakin sanggup menahan diriku."
Sherli membulatkan matanya, ia tidak berfikir akan hal itu. Tanganya segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Sudah aman!" gadis itu tersenyum lucu pada Felix.
Felix terkekeh melihat tingkah lucu istri kecilnya. Ia segera ikut menyusup dibawah selimut, dan memeluk erat tubuh Sherli sambil menahan sesuatu yang ingin berontak ditubuhnya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, coment, vote dan rate .
Terimakasih atas dukungannya ❤.