
"Ehm!" dehem ibunda Calista.
Hongli melepaskan pelukannya dari Sherli dan tersenyum canggung kearah ibundanya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mama? Maaf aku tidak menyadari akan kehadiranmu" ucap Hongli.
Sherli tak bergeming, dia hanya menundukkan kepalanya tanpa memandang ibunda Calista.
"Tidak apa-apa, Nak! Bagaimana kondisimu sekarang, apa sudah membaik?" ibunda Calista mengampiri putranya, ia segera meletakkan punggung tangannya di kening Hongli.
Hongli tersenyum kepada wanita yang telah melahirkannya itu, seakan mengatakan dirinya sudah sangat sehat.
"Tubuhmu sudah tidak demam, istirahatlah lagi!" ibunda Calista melirik Sherli yang menunduk, ia lalu meninggalkan kamar putranya.
***
Felix dan bibi Jen mengikuti Yuwen masuk kesebuah rumah kecil di samping kastil.
"Masuklah!" ucap Yuwen.
Tempat tersebut tidak lain adalah sebuah ruangan khusus obat dan tidak boleh sembarangan orang masuk kesana, mengingat banyak musuh yang ingin mencelakai Ratu dan putranya melewati obat-obatan.
"Kita akan meracik ramuan untuk putra ibu Ratu dan kekasihnya, jangan sampai resepnya ada yang kelebihan atau kekurangan bahan! Karena ini menyangkut nyawa putra mahkota!" ucap Yuwen memperingatkan.
"Jika boleh tau, kenapa putra mahkota sakit dan juga kekasihnya?" selidik Felix.
Yuwen yang kala itu akan pergi mengambil bahan obat, menoleh kearah Felix.
"Putra makhota menggunakan mantra untuk keluarga kekasihnya, itu menentang energinya hingga jantungnya bermasalah. Mengenai sang kekasihnya aku kurang tau betul kenapa dia sakit, sekarang cepatlah lakukan tugas kalian!"
Yuwen menuju ke pintu ujung ruangan dan menghilang dari pandangan Felix.
"Bibi apa yang dimaksud itu Sherli?" ucap Felix cemas.
"Sepertinya begitu, karena mantra untuk keluarga kekasihnya yang dimaksud pasti untuk manusia, dan itu adalah Sherli. Tapi Felix, kau jangan terbawa emosi dan jangan gegabah! Jika tidak kita tidak bisa menyelamatkan Sherli, sekarang ayo kita racik ramuannya!" Felix mengangguk faham.
Mereka menghampiri meja ditengah ruangan, tanaman yang barusan mereka petik diletakakannya diatas meja.
Bibi Jen membuka kertas gulungan yang tercatat resep obat yang tadi diberikan oleh Yuwen.
Mereka segera mencampurkan bahan-bahan yang sudah diresepkan digulungan kertas tersebut.
Yuwen keluar membawa cawan kaca dari ruangan yang barusan ia singgahi, ia meletakkan cawan itu diatas meja.
"Felix, nanti kau bantu aku mengantarkan obat ini pada putra mahkota!" Felix mengangguk, ia berkesempatan untuk dapat mencari kekasihnya disana.
Meskipun harapannya Sherli tidak seruangan dengan Hongli, namun yang terpenting nanti ia bisa tau kondisi gadisnya tersebut.
Felix mendorong meja beroda yang telah berisikan dua jenis obat dibelakang Yuwen, ia sungguh tidak sabar ingin segera berjumpa dengan Sherli.
Karena gelang yang ia pakai, wajah dan aromanya tidak dapat dikenali oleh bangsa disana, menjadikan ia bebas menunjukkan dirinya. Mereka telah tiba didepan ruangan yang merupakan kamar Hongli.
Toktok!
__ADS_1
Yuwen masuk diikuti oleh Felix dibelakangnya.
"Hai Hongli, aku membawakan obat untukmu dan Sherli" ucap Yuwen.
Mendengar nama Sherli disebut Felix memandang kearah Hongli yang disampingnya telihat sosok sang kekasih hatinya.
Felix terdiam melihat Sherli yang terbaring lemah disamping Hongli. Felix merasa sedih, cemburu dan ingin berteriak saat melihat Sherli yang tidak berdaya, terlebih gadis itu diatas ranjang pria lain, dan ia tidak bisa berbuat apapun sekarang semakin membuatnya frustasi.
"Felix taruh obat itu disamping ranjang!" ucap Yuwen.
Dengan berat hati ia segera melakukan apa yang dikatakan oleh Yuwen, pandangan Felix tidak teralih memandang Sherli.
Menjadikan Hongli mengeryit melihatnya.
"Kau kenapa melihat kekasihku terus?" ketus Hongli.
Felix merasa ingin merobek mulut Hongli yang mengatakan Sherli adalah kekasihnya. Ia mencoba untuk tenang demi bisa membebaskan Sherli.
"Maaf, Tuan!" ucapnya. Felix segera berbalik mendekat ketubuh Yuwen.
"Baiklah Hongli, kami keluar dulu!" Yuwen mengajak Felix untuk keluar dari kamar tersebut.
*
Setelah Yuwen dan Felix tidak terlihat, Hongli memandang wajah Sherli yang sedang terbaring lemah.
Tangannya terangkat menyibak anak rambut yang menghiasi wajahnya.
Tubuh Sherli Hongli tarik lebih dekat dengan tubuhnya, sehingga lengannya dijadikan bantal untuk gadis itu.
Hongli menghujani ciuman pada wajah dan kepala Sherli dengan rasa sayang yang mendalam.
"Maafkan aku! Aku tau aku salah melakukan ini, tapi aku hanya menginginkan dirimu! Walaupun kau meminta nyawaku, akan aku berikan asal aku selalu bersamamu" gumam Hongli pelan.
Merasa ada yang mengganggu tidurnya, Sherli membuka matanya. Ia membulatkan matanya saat posisinya sangat dekat dengan Hongli.
Sherli mencoba menjauhkan laki-laki itu dari tubuhnya.
"Kak apa yang kau lakukan, jangan seperti ini!" ucap Sherli mendorong tubuh Hongli.
Hongli tidak menghiraukan gadis itu, ia semakin mempererat pelukannya hingga membuat Sherli sesak dibuatnya.
Setelah cukup puas, Hongli mengangkat tubuhnya dan menyandarkan punggung disandaran tempat tidur.
Sherli mengambil nafas dalam untuk memenuhi rongga parunya yang nyaris saja kehabisan oksigen. Ia melirik kearah Hongli kesal.
"Tubuhku sudah agak baikan, mungkin beberapa waktu lagi aku akan menemui jbunda untuk menanyakan bagaimana caranya agar kita bisa menikah" ucap Hongli.
Sherli membulatkan matanya terkejut.
"Kak kau jangan bercanda, kita berbeda bangsa, aku pun masih sangat muda, dan apa kau lupa aku memiliki kekasih?" ucap Sherli cemas.
Ia berharap ucapanya akan menghentikan aksi gila pria disampingnya saat ini.
__ADS_1
Hongli tersenyum sarkas mendengar ucapan Sherli, ia segera memandang gadis disampingnya yang memasang raut kesal dan cemas.
"Lalu apa peduliku? Kau harus menuruti apa yang aku ucapkan dan kuinginkan" ucapnya santai.
Sherli sungguh kesal dengan respon Hongli, namun ia juga tidak berani untuk marah-marah lebih dari itu mengingat nyawa orangtuanya taruhannya.
"Kak, kenapa kau tega kepadaku?" ucapnya menangis.
Sherli berharap airmatanya akan meluluhkan hati Hongli sepertu waktu lalu. Namun, Hongli tidak terpedaya ia sudah cukup merasa dihianati dengan airmata gadis itu.
"Sudahlah! Usahamu hanya sia-sia, aku akan tetap menikahimu dalam waktu dekat ini."
Hongli bangkit dari ranjangnya. Ia keluar dari kamarnya meninggalakan Sherli, tidak lupa pintu ia kunci agar gadis itu tidak dapat melarikan diri.
Sherli menangkupkan kedua tangannya diwajah, ia menangis tersedu-sedu akan ucapan Hongli.
Ia berfikir sebelumnya mungkin bisa melarikan diri beberapa waktu kedepan, namun jika pernikahan itu benar-benar dilaksanakan ia pasti tidak akan bisa kembali lagi keduanianya untuk selamanya, karena titah-titah Hongli yang mengungkungnya.
Sherli terus merutuki dirinya dan menyumpahi Hongli. Ia merasa sangat hancur saat ini. Sherli sungguh merindukan ayah dan ibunya. Juga kakak yang selalu mengkhawatirkan dirinya dan Felix sang kekasih.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?" gumam pilu Sherli yang masih menangis.
*
Hongli mengetuk pintu kamar ibunda Calista. Setelah ia mendapat izin, Hongli segera melangkahkan kaki masuk kedalam.
Ibunda Calista segera berdiri melihat putra semata wayangnya.
"Nak? Kenapa kau berkeliaran? Istirahatlah dulu sampai kau sembuh!" ucap wanita itu khawatir.
Ia segera menarik tubuh Hongli untuk duduk disofa.
"Aku sudah baik, Ma!" ucap Hongli.
"Kenapa kamu kesini? Jika butuh Mama panggil saja lewat bola kaca!" ucap ibunda Calista cemas.
"Iya Ma! Tapi ini sangat penting aku tidak mungkin mengatakan lewat benda perantara, aku ingin Mama mendengarkan secara langsung" ucap Hongli serius.
Ibunda Calista memandang putranya, ia menepis rasa khawatirnya karena wajah serius putranya.
"Baiklah ada apa?"
"Ma! Aku ingin menikahi Sherli!"
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment, vote dan views.
Terimakasih atas dukungannya ❤.
__ADS_1