
Ibunda Calista memandang putranya, ia menepis rasa khawatirnya karena wajah serius putranya.
"Baiklah ada apa?"
Hongli memandang Ibunda Calista.
"Ma! Aku ingin menikahi Sherli"
Ibunda Calista membulatkan mata.
"Apa yang kau katakan Hongli, itu hal yang tidak mungkin dilakukan kau tau itu" ucap Ibunda Calista marah.
Hongli mengeryit kecewa memandang wanita itu, ia masih tidak mau tahu akan hal itu. Dalam benaknya apapun yang terjadi dia akan tetap menikahi Sherli.
"Aku pokoknya mau menikahi Sherli, Ma! Aku tidak mau tahu, aku mau pernikahanku dibulan ini titik," tegas Hongli dengan suara meninggi.
Ia langsung bangkit meninggalkan kamar ibundanya dengan kesal.
"Hongli!" panggil ibunda Calista.
Namun, Hongli tak menyurutkan niatnya untuk berhenti. Ibunda Calista sungguh cemas, ia mondar-mandir dikamarnya memikirkan permintaan konyol putranya. Ia sungguh binggung apa yang harus dilakukan.
Tubuh wanita itu ia dudukan di sofa, tangannya meraih bola kaca diatas nakas. Ia segera mengusap bola kaca tersebut dengan raut cemas, seketika cahaya mersinar menerangi kamar ibunda Calista.
"Salam Ratu!" seseorang muncul menampakkan diri didalam bola kaca tersebut.
"Paman Robert? Ada masalah besar dengan keponakanmu" ucap ibunda cemas.
"Ada apa dengan keponakan kesayanganku, Ratu?" tanya paman Robert.
"Sebaiknya Paman kemari! Karena masalah ini tidak akan selesai jika dibicarakan lewat benda ini" ucap ibunda Calista serius.
"Baiklah, aku akan segera kesana" paman Robert mengakhiri pembicaraannya.
*
Felix duduk termenung didalam ruang obat, tidak ada yang ia lakukan karena obat telah diracik sedari tadi.
Fikirannya dipenuhi khawatir setelah melihat kondisi Sherli, terlebih bibi Jen sedang tidak bersamanya karena menemani Yuwen pergi kekebun obat.
Perasaan Felix sungguh kalut, ia bingung apa yang harus ia lakukan sekarang agar ia tidak hanya diam menghadapi situasi ini.
"Tadi aku sempat melihat lengan Sherli terluka, apa karena itu dia sakit? Dan apa mahluk itu yang melukainya?" Felix bertanya-tanya dalam benaknya.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya mengacak-acak rambut frustasi.
*
Hongli masuk kedalam kamar dengan suasana hati yang buruk, ia bahkan membanting pintu saat menutupnya, membuat Sherli terlonjak kaget.
Sherli yang kala itu sedang berdiri disamping ranjang karena bosan, menjadi tersudut didinding saat Hongli menghampirinya dengan wajah marahnya.
Hongli menarik kasar tubuh Sherli menuju ranjang, gadis itu gemetar ketakutan akan sikapnya. Sherli meloloskan airmata takutnya, ia mempersiapkan diri jika akan mendapat perlakuan kasar lebih dari Hongli.
Namun, Hongli tidak menyakitinya, ia hanya memeluk erat tubuh Sherli diranjangnya.
"Kau jangan meninggalkanku lagi!" bisiknya manja.
__ADS_1
Sherli terdiam dipelukan laki-laki itu. Ia merasa aneh terkadang Hongli bersikap kasar, kadang pula ia bersikap kekanakan.
Namun, Sherli tidak ingin terkecoh dengan sikapnya yang berubah-ubah. Ingatan saat Hongli menyakiti keluarganya tidak akan membuat pemikiran buruknya memudar.
Hongli melepaskan pelukannya, ia memandang Sherli dengan tatapan serius
"Bulan ini kita akan menikah, jadi kau harus menuruti semua perintahku, karena aku akan menjadi suamimu, kau mengerti?"
Sherli terdiam. Belenggu dileher seakan telah ia rasakan saat itu juga. Airmatanya kembali lolos karena perasaan sedih, ia ingin sekali meneriaki dan memaki Hongli saat ini namun ia takut akan berdampak kepada keluarganya.
"Kenapa kau selalu menangis, aku tidak suka!" ucap Hongli marah.
Sherli semakin tersedu, ia mendorong tubuh Hongli meluapkan amarah.
"Kau jangan semena-mena, Kak! Aku tidak mau menikah denganmu, pulangkan aku sekarang juga!" teriaknya memenuhi ruangan.
Pandangan Hongli menajam seakan ingin mencabik tubuh Sherli, nafasnya memburu ia gelap mata.
Dengan cepat Hongli menindih tubuh Sherli, tangan gadis itu diletakkan diruang kosong atas kepalanya. Sherli merasa ketakutan setengah mati, ia menangis dan mencoba untuk menyelamatkan diri dari tubuh Hongli.
"Disini kau tidak berhak memutuskan, jika kau tidak mau menurutiku, aku akan melakukannya sekarang juga sebelum menikahimu" teriaknya.
Hongli langsung mendaratkan ciuman di mulut Sherli dengan kasar, ia menggigit gadis itu hingga Sherli meringis kesakitan.
Ceklek!
Pintu terbuka, ibunda Calista dan paman Robert masuk kedalam kamar Hongli.
Mereka terkejut melihat tindakan Hongli, dan segera berhambur menyingkirkan tubuh Hongli yang berada diatas tubuh Sherli.
"Apa yang kau lakukan, Hongli! " teriak ibunca Calista. Ia sungguh kecewa akan tindakan nekat putranya.
Ibunda Calista memeluk tubuh Sherli, meskipun ia marah kepada gadis itu, namun seorang wanita tetaplah akan merasakan hancur melihat wanita lain diperlakukan tidak sopan seperti itu didepan matanya langsung, terlebih sang putranya sendiri yang melakukannya.
"Kau tenanglah, Nak!" ibunda Calista mengelus kepala Sherli, gadis itu menangis seraya memeluk erat wanita itu karena merasa ketakutan.
Hongli yang melihat Sherli begitu terluka, menjadi menyesal akan tindakan bodohnya. Ia mencoba mendekat kearah Sherli. Namun Paman Robert menahanya.
"Paman, aku menyesal melakukan hal itu biarkan aku melihat kondisi Sherli, aku mohon!" ucapnya pilu.
Ibunda Calista melepaskan pelukannya dari Sherli, saat gadis itu sudah merasa sedikit tenang. Pandangannya menoleh pada putranya.
"Aku mengajak Sherli kemari agar kau tenang, agar jantungmu segera sembuh, bukan untuk kau lakukan semena-mena dirinya!" teriak ibunda Calista marah.
Hongli menunduk menyesal, ia mendudukkan tubuhnya di samping ranjang.
"Maafkan aku, Ma! Aku terbawa emosi" sesalnya.
Hongli meraih tangan Sherli yang masih gemetaran, gadis itu menunduk takut.
"Maafkan aku Sher!" ucapnya.
Namun, Sherli tidak menjawabnya. "Hongli, kau harus bisa mengendalikan emosimu! Jika tadi kami tidak datang pasti kau sudah melecehkan dia, jika itu kau lakukan kau tidak akan bisa bersama Sherli lagi, bahkan hanya untuk menemuinya," tegas ibunda Calista.
Hongli membulatkan matanya, ia sungguh terkejut akan pernyataan ibundanya tersebut.
"Apa maksud, Mama?" tanya Hongli penasaran.
__ADS_1
Ibunda Calista memandang serius putranya. "Jika hubungan kau lakukan dengan selain bangasamu, terlebih tanpa adanya ritual khusus, Sherli akan meninggal karena frekwensi tenaga kalian berbeda" ucap ibunda Calista.
Hongli merasa bodoh akan tidakannya, ia berkorban selama ini untuk gadis itu dan hampir saja ia sia-siakan sendiri usahanya.
"Maafkan aku Sher!" Hongli memeluk lembut tubuh Sherli, ia sangat menyesal. Sherli hanya diam merasakan pelukan Hongli.
"Semua terserah kepadamu Hongli, karena kami tidak bisa selalu memantaumu, setelah tenang datanglah kekamar, Mama!" ibunda Calista mengatakan hal itu karena ingin Hongli menyadari benar perbuatannya. Ibunda Calista dan paman Robert segera keluar meninggalkan kamar Hongli.
Hongli memandang Sherli sendu, tangannya bergerak mengelus rambut gadis itu.
"Sher maafkan aku!" pintanya lagi, rasanya ribuan maaf yang ia lontarkan masih belum cukup.
Sherli memberanikan diri menatap Hongli.
"Kenapa Kakak jadi jahat padaku?" ucap Sherli sendu.
Bibir Sherli nampak bengkak dan sedikit robek karena perbuatan Hongli. Hongli menangkup wajah Sherli lembut, ia melihat lekat luka dibibir gadis itu.
"Pasti sakit ya?" Sherli mengangguk pelan.
Hongli mengambil kotak obat di laci pinggir ranjang, tangannya sibuk mencari obat didalam kotak tersebut. Saat telah ketemu obatnya ia segera mengeluarkan isinya dan memoleskan sedikit dibibir Sherli yang terluka.
"Aduh!" pekik Sherli.
"Maaf, aku akan lebih lembut." Hongli dengan hati-hati mengobati Sherli.
Setelah selesai, Hongli memeriksa setiap jengkal tubuh gadis itu mencari luka lain dari perbuatannya, pandangannya tertuju pada leher gadis itu yang terdapat beberapa tanda merah, Hongli kembali sedih melihatnya.
"Maafkan aku ya, Sher! " ia segera mengoleskan obat krim di leher Sherli.
Sherli hanya terdiam memandang Hongli, gadis itu kembali dibuatnya gundah akan sikap lembut Hongli.
"Sebenarnya sifatmu yang asli seperti apa, Kak? Kenapa kau terus berubah-ubah" batin Sherli.
Sherli memandang dalam mata Hongli, hingga keduanya terdiam cukup lama.
"Kak, kenapa kau jadi kasar, kepadaku?" pertanyaan itu lolos dari mulut Sherli yang sebelumnya belum terjawab olehnya.
Hongli tidak mengalihkan pandangannya dari tatapan gadis itu.
"Karena aku mencintaimu, aku ingin kau hanya menjadi milikku! Aku lebih dulu hadir dihidupmu Sher, aku tidak rela kau dimiliki orang lain" ucapnya dalam.
"Tapi kita berbeda bangsa, itu tidak mungkin, Kak!" ucap Sherli lembut, ia tidak ingin melibatkan emosi saat ini agar Hongli benar-benar paham.
"Jika aku bisa menjadi manusia, apa kau akan lebih memilihku?" tanya Hongli serius.
Entah mengapa Sherli mengangguk pelan, ia sejujurnya tidak bisa memastika hal itu. Namun, tubuhnya terasa bergerak sendiri.
Hongli tersenyum melihat anggukan Sherli, ia begitu bahagia karena Sherli lebih memilihnya, Hongli segera memeluk hangat tubuh Sherli. Dan gadis itu membiarkannya.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya ❤.