
Hongli melangkah dengan wajah bahagia dari kamar ibunda Calista.
Ia berjalan menuju taman dimana insting penghubung pada gelang yang ia pasangkan ke lengan Sherli terkoneksi.
Saat langkahnya baru diambang pintu taman ia berhenti, wajah bahagianya tersurut tatkala pandangnnya menangkap Sherli sedang duduk berdua dengan seorang pria.
Hongli mengingat bahwa pria itu adalah seseorang yang mengantarkan obat dikamarnya lalu.
Hongli menyatukan alisnya, ia merasa kesal dan cemburu.
Langkah kaki ia sambar begitu cepat menghampiri mereka berdua.
"Hey kenapa kau disini bersama kekasihku? Pergi dan lakukan tugasmu!" marah Hongli.
Sherli yang terkejut segera meletakkan cawannya di atas meja dorong dan berdiri mendekati Hongli.
"Kak jangan marah! Kakak ini hanya membawakanku obat dan menemaniku karena aku sedang sendiri!" bela Sherli.
Ia tidak menyebutkan nama Felix karena takut akan membuat Hongli curiga. Felix berdiri memandang datar Hongli, Hongli menatap tajam dengan penuh kabut amarah seakan ingin melenyapkan pria itu.
"Cepat pergilah sebelum kulenyapkan dirimu!" ucap Hongli meninggi.
Felix memandang datar Hongli dan melirik sekilas kearah Sherli, ia segera memegang
meja dorong untuk pergi, Sherli dengan cepat memegang lengan Felix.
"Terimakasi, Kak!" ucapnya tersenyum.
Paling tidak Felix akan merasa tenang Sherli memberikan perhatian akan keberadaannya saat ini, pikirnya.
Felix tersenyum lembut pada gadis itu dan mengangguk, membuat Hongli naik pitam akan kecemburuannya.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Hongli menarik kasar tangan Sherli hingga gadis itu berpindah posisi disampingnya.
Felix meninggalkan mereka berdua dengan hati tidak tenang, ia takut jika laki-laki itu akan menyakiti Sherli.
Saat punggung Felix menghilang dari pandangan mereka, Hongli memandang tajam Sherli.
"Ayo ikut aku!"
Hongli menarik kasar tangan Sherli kembali kekamarnya. Sherli menahan sakit karena cengkraman Hongli yang begitu kuat.
"Kak pelan-pelan! Tanganku sakit" keluhnya.
Hongli membanting pintu kamar dan melepas kasar tubuh Sherli diatas ranjang. Sherli memandang sedih Hongli, ia memegang pergelangan tangannya yang terlihat memerah.
"Tadi baru saja aku sedikit tenang karena kak Felix, sekarang aku mendapat perlakuan kasar lagi, bahkan bibirku dan leherku masih terasa perih, sekarang dia sudah membuat luka baru di tanganku, apa aku bisa bebas dari sini?" batin Sherli pilu.
"Baru saja aku mengizinkanmu berkeliling dan kau sudah bersama laki-laki lain, apa kebaikanku masih kurang, hah!" teriak Hongli dengan amarah yang meluap-luap, hingga suaranya memenuhi sudut kamar.
Sherli menundukkan kepalanya takut, ia merasa sangat sedih mendapat perkataan dan perlakuan kasar dari pria itu berkali-kali.
"Kenapa kau diam!" teriak Hongli dengan suara semakin meninggi, ia merasa semakin naik pitam dengan diamnya Sherli.
Sherli mengangkat kepalanya, ia menatap Hongli nanar, Hingga membuat pria itu sedikit menyurutkan amarahnya karena tidak tega.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku lelah terus dibentak dan di pukul" ucapnya lemah meloloskan airmata.
Hongli terdiam, hatinya terasa terluka melihat ketidak berdayaan Sherli, ia segera duduk disamping gadis itu dan memeluk tubuhnya erat.
"Maafkan aku, jangan menangis!" ucap Hongli mengusap lembut rambut Sherli.
Sherli membiarkan Hongli memeluknya dengan erat, tubuhnya terasa tidak memiliki tenaga untuk melawan pria itu, hatinya benar-benar lelah merasakan sedih, marah, cemas dan rindu pada orangtuanya.
Ia merasa putus asa dengan harapan bisa kembali kedunianya.
Hongli melepaskan pelukannya, dan menangkup lembut wajah Sherli yang basah karena air mata, tanganya bergerak menyapu sisa-sisa bulir matanya.
"Jangan menangis, Sher! Maafkan aku!" ucap Hongli dalam.
Sherli mengalihkan pandangan kebawah, ia mengangguk pelan menjawab Hongli. Hongli beralih pada tangan gadis itu yang telah ditariknya, matanya membulat melihat pergelangan Sherli yang memar dan sedikit membiru cukup jelas.
"Apa ini sangat sakit?" tanya Hongli cemas.
Sherli kembali mangangguk lemah. Hongli sangat menyesal, ia segera meraih kotak obat dan mengobati pergelangan Sherli.
Sherli menatap dalam mata Hongli saat pria itu selesai meletakkan kotak obat diatas nakas.
"Apa kau akan terus membelengguku disini? Apa aku tidak kau izinkan kembali kekeluargaku?" ucap Sherli putus asa, ia tidak takut lagi jika Hongli akan marah, ia merasa lelah dan jika memang pria itu akan membunuhnya saat ini ia sudah tidak perduli, yang terpenting pertanyaannya yang penuh harapan terjawab.
***
Felix meletakkan meja dorong diujung ruangan, ia menghampiri bibi Jen yang duduk tengah memikirkan sesuatu di kursi panjang. Langkah kakinya mendekati wanita paruh baya itu.
"Bibi aku tadi bertemu Sherli" ucapnya senang.
"Benarka? Bagaimana keadaannya?" tanya bibi Jen serius.
"Dia baik-baik saja, wajahnya sedikit pucat karena sakit, aku sedih sekali melihatnya, andai saja aku bisa membawanya pergi dari sini dan menikahinya, Bibi!" Felix mengeluh dengan perasaan sedih.
"Bibi ada rencana singkat Felix agar Sherli benar-benar terbebas dari jeratan mahluk itu" Felix yang memandang kesembarang arah, sontak menoleh pada wanita paruh baya itu.
"Apa Bibi, cepat katakan!" bibi Jen mengajak Felix keluar dari ruangan obat, mereka sedikit menjauh dari area kastil.
"Bibi kita mau kemana?" tanya Felix heran.
Setelah dirasa cukup jauh, bibi jen berhenti dan memandang serius Felix.
"Ajak Sherli pergi dengan alasan apapun, lalu cepat kau nikahi dirinya sebelum mahluk itu sadar, maka jeratan apapun yang benimpa Sherli dan keluarganya tidak akan tertembus oleh mahluk itu."
Felix terdiam sejenak, ia memikirkan hal lain dari yang bibi Jen katakan.
"Masalahnya hanya satu Bibi, yaitu orangtua Sherli, kita tidak tahu apakah mereka akan mengizinkanku menikahi putrinya yang bahkan belum lulus SMA" ucapnya sedih.
"Kau coba dulu! Hanya itu cara cepatnya, kau memangnya mau Sherli dinikahi mahluk itu?" tanya bibi Jen menggoyahkan hati Felix.
Felix membulatkan matanya cemas.
"Tentu saja tidak Bibi, dan bukankah tidak mungkin Sherli menikah dengan mahluk itu?" tanya Felix heran.
"Aku juga tidak mengerti, tapi Yuwen mengatakan mahluk itu ingin menikahi Sherli segera" ucap bibi Jen serius.
__ADS_1
Felix dipenuhi ketakutan, ia tidak ingin jika harus kehilangan Sherli. "Baiklah Bibi aku akan coba, sekarang ayo!" Felix mengajak bibi Jen segera kembali kedalam kastil.
*
Sherli menantikan Jawaban Hongli, laki-laki itu terdiam cukup lama.
"Kau akan tetap disini, dan gelangmu akan kulepas saat kita telah resmi menikah!" Sherli seakan ingin pingsan mendengarkan perkataan Hongli, setitik harapan yang ia genggam kuat akhirnya terlepas tanpa hasil.
Airmatanya lolos dengan pandanangan nanar, ia merasa hancur karena mengetahui tidak akan bisa bertemu lagi dengan keluarganya.
"Tadi aku menemui mamaku dan paman Robert, mereka berkata jika kita bisa menikah."
Sherli terdiam, ia sudah tidak mau tahu akan apa yang diucapakan Hongli.
*
Tadi saat Hongli menemui ibundanya.
"Ma, ada apa ingin menemuiku? " Ibunda Calista dan paman Robert memandang Hongli bersamaan yang sedang duduk disofa.
"Duduklah dulu!"
Hongli meletakkan tubuhnya di sofa tepat dihadapan Ibunda dan Pamannya.
"Ini tentang pernikahanmu!"
Hongli memandang serius Ibundanya.
"Bagaimana, Ma?"
ibunda Calista dan paman Robert saling pandang sejenak.
"Kau bisa menikahi Sherli, tetapi anak pertama kalian harus dikorbankan untuk penebus ibunya. Saat Sherli menikahimu otomatis keluarganya akan langsung kehilangan kenangan atas keberadaannya, dan setiap kalian akan berhubungan Sherli harus meminum ramuan khusus untuk mengimbangi tenagamu, jika tidak dia akan langsung kehilangan yawanya, seperti ayahmu!"
Hongli membulatkan mata, begitu banyak Sherli harus berkorban, dia tidak ingin gadis itu bersedih sedalam itu hingga keluarganya tidak mengingat akan dirinya.
"Tapi Ma. Itu terlalu berat untuk Sherli" ucap Hongli khawatir.
"Memang itu caranya Hongli, ia harus berkorban seperti ayahmu dulu, namun karena ayahmu lupa akan minum ramuan beliau meninggal saat itu juga" ucap paman Robert.
Hongli merasa sedih, ia baru saja mengetahui kebenaran sang ayah yang tidak pernah bertemu dengannya, malah kabar pilu itu harus ia telan.
Ia merasa masuk akal jika dulu ibundanya melarangnya bergaul dengan anak diluar istana, karena jati diri Hongli sebagai anak hasil jin dan manusia yang ditutup rapat oleh sang ibunda.
"Rahasiakan ini dari Sherli, jika tidak ia akan nekat kabur meninggalkanmu, pernikahan kalian akan dilaksanakan seminggu lagi tepatnya di saat bulan purnama" ucap ibunda Calista.
Hongli menyunggingkan senyumannya, ia menepis dampak-dampak yang ada, ia hanya memikirkan kesenanganya tanpa perduli akan perasaan Sherli yang akan hancur. Hongli pamit meninggalakan kamar ibundanya dengan wajah bahagia.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment, vote dan views.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya ❤.