
Suasana hening tercipta diantara mereka, ayah Andre memikirkan keputusan terbaiknya untuk putri satu-satunya.
Sedangkan Felix menunggu keputusan ayah Andre dengan hati yang bergemuruh akan debaran gugup.
Ia takut jika ayah kekasihnya sampai menolaknya. Para penghuni ruangan tersebut fokus memandang kearah ayah Andre menantikan jawaban.
Ayah Andre yang masih terbaring, segera mendudukkan tubuhnya. Membuat Felix yang tegang menanti jawaban semakin berkeringat dingin dibuatnya.
Ayah Andre memandang Felix serius.
"Baiklah! Tetapi ada syaratnya jika kau ingin menikahi putriku," ucapnya.
"Apa itu Om? Jika saya sanggup, saya akan berusaha memenuhinya," jawab Felix serius.
"Syaratnya adalah jangan sampai pihak sekolah mengetahui sebelum Sherli lulus, dan itu artinya jangan memiliki anak dulu! Dan syarat yang terakhir."
Felix memandang serius ayah Andre, ia menunggu perkataan selanjutnya pria paruh baya itu.
"Dan yang terakhir jangan pernah kau buat putriku menangis kecewa! Jika kau bosan dengannya jangan kau beritahu dirinya! Antarkan saja dia kembali kepadaku!" ucap ayah Andre sendu.
Felix tersentuh akan ucapan ayah Andre, ia dapat merasakan perasaan ayah Andre saat ini.
Melepaskan seorang anak putri kepada seorang pria memanglah tidak mudah bagi seorang ayah, ia pasti takut jika putrinya tidak diperlakukan istimewa seperti ayahnya memperlakukannya.
Dan mungkin nanti jika aku memiliki seorang anak perempuan akan merasakan apa yang ayah Andre rasakan saat ini, pikir Felix.
Felix memegang tangan ayah Andre.
"Om! Mungkin saya tidak bisa menjanjikan apapun untuk saat ini. Namun, saya akan berusaha memperjuangkan dan membahagiakan putri, Om nanti."
Felix berucap dengan pandangan dalam dan serius. Airmata ayah Andre meleleh diujung matanya, pria itu segera menghapus dan tersenyum pada Felix.
"Ayah titip Sherli padamu ya, Nak!" Felix terkesiap mendengan pria itu menyebut dirinya ayah untuknya.
Ia merasa sangat bahagia telah mendapat restu ayah dari kekasihnya.
"Baik, Ayah! Saya akan berusaha menjaga putrimu dengan baik" ucap Felix dalam.
Suasana haru menyelimuti mereka, airmata bahagia saling berjatuhan mengiringi setiap detiknya.
Keluarga Sherli segera menghubungi penghulu untuk esok hari, yang merupakan kerabat dari ayah Andre.
Felix pamit pulang untuk memberi kabar kepada papa Dave dan mama Marta untuk pernikahannya esok hari.
Sedangkan bibi Jen menginap dirumah Sherli karena jarak yang cukup jauh, ia menempati kamar Sherli saat ini.
Ketika Felix memberi kabar rencana pernikahannya yang tiba-tiba kepada orang tuanya, mereka sangat terkejut karena berfikir sang putra telah menghamili anak orang.
Felix segera meluruskannya dan menceritakan kondisi Sherli saat ini, barulah mama dan papanya lega dibuatnya.
*
Sherli bersikap selembut dan sebaik mungkin kepada Hongli. Ia merasa ini adalah kesempatan satu-satunya yang akan menentukan nasipnya dikedepan hari.
Hongli kembali bermanja-manja pada gadis itu saat kembali akur. Atau lebih tepatnya saat Sherli mulai tunduk lagi kepadanya.
"Kak? Aku kan tidak kau izinkan kemana-mana. Aku merasa bosan" ucap Sherli sendu dengan raut memelas.
Hongli memandang gadis itu gemas.
"Wajahmu jangan seperti itu! Aku tidak tahan melihatnya," Hongli menangkup wajah Sherli lembut.
"Katakan! Apa yang kau inginkan?" Sherli tersenyum lembut pada pria itu.
"Boleh tidak aku besok pergi jalan-jalan kepasar dan kekebun?" Hongli tersenyum mendengar permintaan sederhanya Sherli.
"Tentu saja! Besok kita akan pergi!"
Sherli terdiam ia memikirkan cara agar dapat pergi sendiri.
__ADS_1
"Tidak, Kak! Aku ingin pergi sendiri," ucapnya cepat.
Hongli terdiam seketika, ia menaruh curiga pada gadis dihadapannya saat ini. Wajah bahagianya seketika menyurut menjadi datar.
"Kau mencoba lari dariku? Apa kau merencanakan sesuatu?" ucap Hongli datar.
Sherli memutar otak keras mencari alasan agar Hongli percaya kepadanya.
"Tidak, Kak! Sejujurnya aku ingin memberikanmu kejutan dengan pergi sendiri," Sherli menundukkan kepalanya seakan sedih, karena gagal memberikan Hongli kejutan.
Hongli tersenyum kecil.
"Memang apa yang ingin kau berikan kepadaku?"
Sherli mengangkat wajahnya.
"Jika diberi tahu bukan kejutan namanya," gadis itu mencebik kesal seraya meletakkan kedua tangannya dipinggang.
Hongli terkekeh lucu melihat sikap Sherli.
"Aku tidak akan kebur, Kak! Lihatlah kau sudah memasangkan gelang ini, dan lagi aku tidak tau caranya untuk kembali keduaniaku, aku benar-benar hanya ingin berkeliling pasar dan kebun saja untuk memberikan hadiah kepadamu, boleh ya!" Sherli meyakinkan seraya mengguncang tangan Hongli.
Hongli terdiam ia memikirkan perkataan Sherli.
"Apa yang ia ucapkan cukup masuk akal, dia juga tidak bisa kembali kedunianya tanpa bantuanku kan? Jika memang dia ingin kabur aku bisa mencarinya karena lingkungan sekitar yang tidak terlalu luas. Aku juga penasaran apa yang ia ingin berikan kepadaku. Baiklah! Aku akan menyuruh salah satu pengawal untuk memata-matainya."
"Baik! Aku mengizinkanmu, tapi sebelum pukul dua belas harus sudah kembali! Mengerti?" Sherli mengangguk cepat, dan tersenyum.
"Baik, Kak! Aku akan segera kembali." ucapnya senang. Sekarang gantilah pakaianmu dan kita istirahat.
Hongli bangkit menuju lemari baju diujung ruangan.
"Pakai ini!"
Hongli menyodorkan baju tidur dress diatas lutut warna merah menyala dengan tanpa lengan, membuat Sherli terdiam melihat pakaian itu. Pandangannya beralih pada Hongli dengan tatapan datar.
"Sudahlah cepat pakai!" ucapnya sedikit meninggi.
"Tapi, Kak?"
"Baiklah! Besok tidak jadi kuizinkan!"
Hongli hendak melangkah meninggalkan Sherli, namun Sherli dengan cepat menghentikan langkah Hongli.
"Baiklah!" gadis itu mengambil baju ditangan Hongli, dan segera berlari menuju ruang ganti.
Sherli memandang baju tersebut, ia menghela nafas kasar.
"Semoga dia tidak mencelakaiku dengan pakaian ini, aku akan bersikap manis malam ini, untuk bisa kembali pada ayah dan ibu!" batin Sherli.
Ia segera menanggalkan pakaiannya dan melekatkan baju itu. Sherli merasa sangat risih dengan pakaian yang bahannya sangat kurang itu. Ia merasa enggan untuk keluar dari ruang ganti.
*
Sudah hampir lima belas menit. Namun, Sherli tak kunjung keluar, membuat Hongli merasa sangat kesal.
Pria itu bangkit dan mengetuk pintu ruang ganti.
"Sher! Kenapa lama sekali?" teriaknya.
Sherli terlonjak kaget mendengar pintu diketuk. Ia segera membuka sedikit pintunya dan hanya memunculkan kepalanya, membuat Hongli mengeryit heran.
"Kenapa lama sekali?" Sherli memandang kesembarang arah.
"Aku malu, Kak!"
Hongli tertawa mendengar perkataan Sherli, membuat gadis itu kesal dibuatnya.
"Kenapa malu? Satu minggu lagi kita akan menikah, jadi jangan malu kepadaku!"
__ADS_1
Hongli membuka paksa pintunya dan menarik tangan Sherli dihadapannya.
Matanya membulat saat melihat tubuh Sherli dari atas hingga bawah, warna merah menyala yang beradu dengan kulit putihnya membuat Hongli dapat melihat jelas aura terang gadis itu, terlebih dress yang pas ditubuh Sherli, membuat Hongli dapat leluasa menyelusuri lekuk tubuhnya.
Ditambah dengan rambut panjang yang tergerai semakin mendukung penampilannya.
Sherli merasa sangat risih akan pandangan Hongli, ia segera menyilangkan tangannya dan menegur pria itu.
"Jangan memandangku seperti itu!" ucapnya kesal.
"Baiklah! Maafkan aku, aku akan menahannya sampai kita menikah!" ucapnya mengacak-acak rambut Sherli.
"Kak!" Sherli mencebik kesal dan segera merapikan rambutnya.
Hongli segera menggandeng tangan Sherli menuju tempat tidur.
Sherli memandang Hongli tidak mengerti, karena tempat tidur itu belum Hongli set menjadii ranjang bertingkat. Hongli dapat memahami maksud pandangan gadis itu.
"Aku ingin seranjang denganmu!" Sherli membulatkan matanya.
"Hah! Aku tidak mau, Kak! Kita belum menikah! Ya sudah aku akan tidur dilantai saja!" Sherli segera mendudukkan tubuhnya dilantai.
Dengan cepat Hongli menarik tangan Sherli sebelum gadis itu meletakan tubuhnya dengan sempurna.
"Jangan! Aku hanya ingin tidur denganmu, aku tidak akan melakukan sesuatu," ucap Hongli serius.
Sherli melirikkan matanya, ia merasa tidak yakin pada pria itu. Terlebih pakaian yang sekarang ia kenakan, dapat memancing hasrat Hongli kapan saja.
"Tidak, Kak! Aku tidak mau!" serunya tegas.
"Aku akan meletakakn pembatas ditengah-tengah, ayolah!" bujuk Hongli.
"Tidak, Kak! Aku tidak percaya kepadamu!" Sherli menangkis tangan Hongli yang menyentuh lengannya.
Hongli merasa kesal karena keinginannya ditolak.
"Baiklah! Jangan harap besok kau bisa keluar dari kamar ini!" ucapnya sambil berbalik merebahkan diri di ranjangnya.
Sherli terkesiap, ia segera mendekati tubuh pria itu.
"Baiklah, Kak! Aku akan tidur disini!" ucapnya terpaksa pada Hongli yang telah memejamkan mata membelakanginya.
Hongli menarik ujung bibirnya membentuk senyuman singkat, lalu ia berbalik menghadap Sherli. "Nah! Jika kau menurut kan terlihat manis, sekarang naiklah dan tidur!"
Sherli dengan berat hati naik diranjang Hongli dan merebahkan tubuhnya.
Ia menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Hanya untuk malam ini! Aku tidak boleh emosi " batinnya. Tidak membutuhkan waktu lama Sherli terlelap.
Hongli membuka matanya yang berpura-pura tidur. Ia memutar tubuhnya kearah Sherli, matanya memandang wajah Sherli yang telah terlelap.
Pria itu tersenyum sambil membuka selimut yang menutupi tubuh mereka hingga keperutnya.
Hongli melayangkan tubuh diatas gadis itu, ia menghirup aroma khas dari tubuh gadisnya dengan begitu menghayati.
"Aku akan menahannya hingga kita menikah!" batin Hongli.
Ia menyingkirkan anak rambut yang menghiasi sebagian wajah Sherli dan mengecup keningnya. Hongli lalu kembali merebahkan tubuhnya dan ikut terlelap.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.
Terimakasih atas dukungannya ❤.
__ADS_1