Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
gadis tipe kesayangan (Raka)


__ADS_3

saat di dalam gendongan Raka, Wulan sadar, gadis itu pun di turunkan boleh Raka.


"kamu baik-baik saja Wulan?" tanya Raka khawatir.


"maaf mas, karena aku mas hampir celaka, seandainya eyang buyut ku tidak menanamkan perlindungan diri padaku, aku tak mungkin akan melukaimu ..." tangis Wulan.


"tidak Wulan, aku tak papa kok, cuma sedikit lelah karena mengendong mu tadi," kata Raka menggoda Wulan.


"maaf ya mas, aku begitu berat ya," kata Wulan melihat Raka.


"tidak kok, aku bercanda, sudah ayo ke saung yuk," ajak Raka pada gadis di sampingnya itu.


Raka tak mengira jika eyang buyut Wulan sampai melakukan perjanjian ghaib demi cucu perempuannya ini.


tapi ini bisa menjadi bumerang untuk gadis baik seperti Wulan, dan dia bisa di jauhi orang saat dirinya tak sadar.


Raka dan Wulan pun sampai di saung, Irma pun langsung mencubit pipi Wulan.


"kamu ini pergi nyari durian atau pacaran sih, lagi pula kenapa malah mojok lama banget," kesal Irma.


"maaf deh, habis kebunnya luas, tadi aku ketemu biawak jadi ketakutan deh," jawab Wulan.


"iya Irma, pak Slamet tolong durennya di ikat di sepeda motor ya, di sepedaku Lima dan di sepeda mereka empat, terus Petenya di bagi sama rata aja ya," kata Raka.


"jangan lah mas, kamu bawa banyakan, toh nanti di rumah juga cuma ibuku yang makan," kata Wulan.


"loh memang keluarga mu yang lain kemana?" tanya Rafa penasaran.


"ayah sedang merantau di kota, dan adikku mondok, jadi cuma aku dan ibu yang ada di rumah," jawab Wulan tersenyum.


"loh ... jadi kalian main berdua begini sampai sore gak di marahin?" tanya Raka penasaran.


"tidak kok mas, kebetulan ibu juga sedang di toko sampai malam, jadi aku sering bantu, dan ini saja kebetulan aku keluar main dengan Irma," jawab Wulan jujur.


"aduh, kita bertiga serasa nonton drama ya pak, Rania, sayang pemainnya agak jomplang," ledek Irma.


Wulan pun sedih mendengar perkataan Irma, dia sadar jika dia bertubuh gemuk, dan sering jadi bahan ejekan oleh teman-temannya.


"jangan sedih gitu dong, kamu cantik kok, jadi jangan minder ya, karena cantik itu, C-A-N-T-I-K bukan K-U-R-U-S, jadi percantik diri dengan akhlak dan tutur bahasa yang baik ya, pasti akan bnyak orang yang menyukaimu," pesan Raka.

__ADS_1


Wulan mengangguk, baru kali ini dia merasa begitu di terima selain dari keluarganya, Raka adalah pria pertama yang begitu baik padanya.


saat akan pulang, Raka merasa tangannya tak bisa menahan lagi, lukanya ternyata cukup sakit.


"mas baik-baik saja," kata Wulan yang melihat luka itu berdarah.


Wulan pun berbagi tugas, Irma membonceng Rania karena gadis itu ahli di jalan pegunungan.


sedang Wulan akan di bantu Raka, mereka pun kini saling beriringan.


saat sampai di desa Raka, para warga kaget melihat raka yang di bonceng seorang gadis.


saat sampai di rumah, Adri, Nurul dan Mak nur kaget melihat ada dua gadis bersama Raka dan Rania.


saat Wulan dan Irma membuka masker yang di pakai, Adri bisa mengenali hd gemuk itu, "wah ada apa ini Raka kok di antar Bunga desa tetangga," kata Adri menggoda keponakannya.


"sudah ya mas, kami pamit sudah makin sore, semuanya permisi dan adik manis mbak pulang dulu ya," pamit Wulan.


Rania pun memeluk gadis itu dan Wulan pun pergi dari rumah itu, "bunga desa yang mana mas? yang gemuk atau yang kurus?" tanya Mak nur.


"yang gemuk Mak, dia itu baik banget, sering bantu orang tapi aku pernah dengar kalau dia itu punya pelindung warisan dari buyut nya, jadi tak sembarangan pria bisa mendekatinya," kata Adri.


Raka hanya tersenyum kemudian masuk kedalam rumah, Adri melihat keponakannya yang aneh.


"tuh bocah kenapa? kok kayak malu-malu gitu," kata Adri.


"ayah gak tau ya, tadi kakak Rafa itu minta nomor telpon, terus nyari duren bareng, tadi Rania kirim foto kok," lapor bocah kecil itu.


Adri pun memeriksa ponselnya dan benar, banyak foto Raka yang sedang berbincang dengan Wulan.


dia pun gemas pada putrinya sendiri, sedang saat di rumah, Wulan menginggat ucapan Raka.


"kenapa aku tak berjilbab ya, padahal aku sekolah di Aliyah, bismillahirrahmanirrahim," gumam Wulan.


kini gadis itu mulai mengenakan hijab instan yang nyaman, "mbak Wulan, tolong ibu ya ..." suara Bu mut memanggil putrinya.


"inggeh bu," jawab Wulan dengan suara lembut.


Bu mut kaget melihat putrinya yang sekarang berhijab, "Alhamdulillah ..."

__ADS_1


"ibu mau minta tolong apa?" kata Wulan sopan sambil memeluk sang ibu.


"tolong bantu ibu menghitung hasil toko, ya Allah nak, semoga Istiqomah ya, ibu seneng lihatnya, mbak jadi makin cantik kalau tertutup begini," puji Bu mut.


Wulan pun tersenyum, dia senang mendengar dukungan dari ibunya, "oh ya mbak, tadi ibu lihat ada duren terus sama Pete, kamu dapat dari mana?" tanya Bu mut.


"itu bu, kebetulan tadi aku bertemu seorang pria yang membantuku saat kambuh, dia yang memberikan Pete dan durian itu, terus dia yang menginggatkan agar aku mempercantik akhlak," lirih Wulan sambil malu-malu.


Bu mut kaget, pasalnya baru kali ini putrinya itu begitu terdengar senang tapi malu.


"apa pria itu tak takut mbak?"


"tidak Bu, dia bahkan begitu khawatir saat melihat ku saat kambuh, bahkan dia begitu baik padaku dan Irma," jawab Wulan lagi.


"Alhamdulillah kalau begitu, ternyata masih ada pria baik ya," kata Bu mut mengusap kepala putrinya itu.


Wulan pun memeluk sang ibu sambil malu, entah kenapa membayangkan wajah Raka saja membuatnya malu.


tanpa di duga ayah dan adik Wulan pulang, makin ramai rumah itu. dan sang bapak begitu senang karena melihat ada durian di rumah.


sedang di rumah Raka, pria itu juga masih memegangi kepalanya sambil tersenyum sendiri.


Rania yang melihat pun bingung dan melihat kepala Raka. "kepalanya sakit ya kak?" tanya gadis itu.


"tidak kok, memang kenapa?" tanya Raka memeluk Rania.


"kok dari tadi di elus-elus terus,"


Raka yang gemas pun langsung menciumi Rani, dan mengelitiki bocah kecil itu.


Adri pun datang dan ikut duduk di samping keduanya, "sudah nanti ngompol itu Ranianya kamu gelitikin terus," kata Adri.


"maaf, habis gemes aku sama bocah ini," kata Raka.


"Rani tadi katanya enak peluk kakak cantik, emang rasanya gimana?" tanya Adri memancing sesuatu.


"empuk, terus Pipinya juga lembut," jawab Rania.


raka langsung membayangkan saat tubuhnya di tindih Wulan, dan seketika wajahnya memerah karena itu.

__ADS_1


__ADS_2