
setelah kebahagiaan yang terasa, sebuah ketukan pintu menghancurkan Semuanya.
sosok ustadz Arifin datang dengan nafas memburu, "kamu kenapa Arif?" tanya Rafa melihat temannya itu.
"tolong, kami tak bisa menghadapi pak Prapto, dukun yang menyantetnya sedang marah dan semua murid ku sudah terluka," jawab ustadz Arifin.
"baiklah, aku berangkat, ayo Raka," panggil Rafa.
Raka pun mencium kening wulan untuk berpamitan, Wulan pun menahan suaminya.
tapi Raka tersenyum meyakinkan istrinya itu, "tenang saja dek, kami pergi berdua," bisik Raka.
Jasmin juga tak bisa menahan suaminya, Rafa akan mendahulukan kepentingan masyarakat di banding pribadi.
kini Wulan merasa sangat cemas, terlebih Jasmin yang mulai menangis.
"apa mbak ingin pergi, setidaknya kita bisa tau situasi suami kita," ajak Wulan.
"tapi nak, Jasmin hamil besar, dan akan bahaya nanti," kata pak Suyatno.
"maka itu, bapak dan ibu harus ikut dan menjaga Jasmin dan aku," kata Wulan memohon pada kedua orang tuanya.
"baiklah nak, kami ikuti," jawab pak Suyatno.
mereka pun berangkat, ternyata sudah terjadi kekacauan di rumah itu, para warga hanya boleh melihat dari jauh.
terlihat Rafa dan Raka sudah kuwalahan, Jasmin ingin menerobos masuk saat melihat Rafa muntah darah.
"mas Rafa!" teriak Jasmin.
Jasmin hanya bisa menangis melihat suaminya, sedang Wulan tak bisa melihat kakak iparnya seperti ini di saat hamil tua.
"tidak boleh ..." teriak Wulan menerobos pagar ghaib buatan Rafa.
ketiga pria yang melawan pak Prapto sudah kuwalahan, hanya raka yang masih bertahan.
"wulan cepat keluar!" bentak Rafa.
tapi wanita itu tak mendengar perintah Rafa, dia pun tetap berdiri untuk membantu.
bahkan dia mengambil golok milik Rafa, "kau harus mati, dasar dukun laknat," kata Wulan yang begitu mudah menggorok pak Prapto.
tapi yang sebenarnya, gadis itu membunuh arwah yang di tanamkan dalam tubuh pria itu.
"kalian terlalu meremehkan mereka!" bentak Wulan yang ternyata sudah di rasuki Nyai Nawang.
Wulan melempar pusaka itu kembali ke tubuh Rafa, "BINOSO!"
tiba-tiba terasa hawa yang begitu panas di sekeliling rumah, ternyata semua benda yang di tanam pun hangus terbakar.
Ki Antaboga datang dan berdiri di samping Wulan, kemudian wanita itu pingsan.
Raka pun bergegas berlari dan menangkap tubuh istrinya, "sayang ..." panggil Raka.
"aku capek mas ..." lirih Wulan.
semua berakhir, santet pun kembali pada pengirimnya. Jasmin pun bergegas menghampiri suaminya yang terluka.
Jasmin pun menyatukan kepalanya, kemudian berdoa untuk kesembuhan Rafa.
hingga sesuatu di rasakan oleh Rafa, "kamu menyembuhkan ku," kaget Rafa.
Jasmin pun tersenyum, dia bisa melakukan ini karena Wulan membuka kembali pagar yang di bangun Rafa.
Rafa pun sadar akan hal itu, dia tak mengira pagar yang selama ini begitu kuat, bisa di trobos oleh adik iparnya.
__ADS_1
"baiklah kita pulang, Arifin kamu yang melanjutkannya, aku tak bisa terus di sini," kata Raka.
"baiklah, biar kami yang melanjutkan pengobatan, dan terima kasih atas bantuan kalian berdua,"
Raka pun pergi sambil mengendong istrinya yang lemas, Ki Antaboga mengikuti Raka.
Sesnag datang dan kaget melihat sosok raja naga yang sekarang jadi khodam milik Raka.
"maaf prabu, saya terlalu lama menyembuhkan luka," kata Sesnag.
"tak masalah, semua sudah berakhir, dan kita akan segera tau siapa pelaku yang sebenarnya," jawab Rafa pada khodam miliknya.
pak Suyatno membantu Rafa untuk berjalan ke rumah, sedang Raka me cium kening wulan saat menidurkan wanita itu.
keduanya pun duduk bersama di ruang tamu, sedang Jasmin membantu Bu mut membuat minuman.
"bagaimana kalian bisa sampai begitu kuwalahan, padahal tadi pagi nak Raka sudah hampir mengalahkan santet itu?" tanya pak Suyatno.
Rafa dan Raka datang tapi tak terduga jika itu adalah sebuah dendam, bahkan arwah penasaran yang di jadikan media santet.
dan juga tumbal janin milik penerima santet yang makin membuat santet itu kuat.
apalagi keluarga pak Prapto kurang dalam memahami agama, terlebih beliau juga ternyata memiliki banyak rahasia.
ustadz Arifin salah dalam penangganan hingga membuat marah semua mahluk yang di pelihara pak Prapto malah menyerang mereka bukan membantu.
beruntung Linggo dan Suni berhasil melindungi mereka juga, terlebih dukun itu juga bukan dukun sembarangan.
pak Suyatno diam, dia tau jika temannya itu memiliki berbagai mahluk sebagai pelindungnya.
"apa Prapto memiliki korban, dan semua ini adalah ulah dari korban-korbannya itu?"
"bapak benar, ini semua karena, terlebih pak Prapto juga telah melakukan hal buruk hingga membuat beberapa wanita kehilangan nyawanya," kata Raka tak habis pikir.
ustadz Arifin mengirimkan pesan jika semua sudah berakhir, dan mereka memutuskan pulang.
"iya sayang ..." jawab Raka yang buru-buru menghampiri istrinya itu.
Wulan pun memeluk suaminya erat, "mas baik-baik saja, apa ada yang terluka?" tanya Wulan.
"tidak ada sayang, mas baik kok," jawab Raka tertawa.
"Alhamdulillah kalau begitu," lirih Wulan.
Raka pun merasa bahagia sekali, karena istrinya begitu mencintainya, bahkan wanita itu sering tak memperdulikan dirinya sendiri, dan memilih menerobos bahaya demi menyelamatkan dirinya dan Rafa.
keduanya pun bergabung dengan semua orang di ruang tamu, bahkan mereka berbincang hangat.
"mas pingin pisang goreng keju," bisik Wulan.
"itu dek, tinggal makan," kata Raka mengambilkan pisang goreng yang sudah matang.
"gak mau, aku maunya mas yang bikin dan di bungkus kulit lumpia biar krispi," kata Wulan.
"baiklah, ayo kita buat," kata Raka mengajak istrinya ke dapur.
Rafa pun tersenyum, raka seperti hidup kembali bersama wulan, tawa yang pernah hilang kini kembali.
seperti halnya dirinyalah yang sudah bahagia bersama Jasmin, kini Raka juga sudah bahagia.
sedang di rumah pak Prapto, terjadi permasalahan baru, istri pak Prapto mengakui segalanya pada suaminya itu.
pak Prapto tak menyalahkan istrinya itu, pasalnya itu terjadi karena semua juga salahnya yang dulu suka bermain wanita.
dan sekarang karma kembali padanya, dia sekarang terluka karena ulahnya sendiri.
__ADS_1
kini pak Prapto ingin bertaubat, dan berkat penjelasan dari ustadz Arifin dia akan melepaskan semua ilmu yang dia miliki.
dia juga akan mengikuti pengajian di tempat ustadz Hasan, tak lupa dia juga akan meminta maaf pada keluarga pak Suyatno atas semua yang telah di lakukan.
Nurul sedang mengantarkan makan siang pada Adri di gudang, saat dia tak sengaja melihat sesuatu yang menyesakkan.
seorang janda muda yang kaya raya sedang mrnggoda suaminya, padahal Adri tak memberi respon sedikit pun.
jika dia dulu akan diam melihat itu, tapi sekarang dia harus berjuang demi dirinya dan cintanya.
"wah ... ada apa ini, Kenapa seorang janda cantik datang ke tempat pengilingan beras kecil ini? ada sesuatu mbak?" tanya Nurul sambil tersenyum.
"sayang ku, kalian datang, sini cium ayah dulu," jata Adri pada putrinya Rania
tapi tak terduga, malah Nurul yang menciumnya di pipi dengan begitu mesra.
"ciye bunda cium ayah," ledek Rania tertawa.
"kan ayah punya bunda dan Rania, jadi bunda boleh dong cium ayah..." kata Nurul melirik wanita gatal itu.
"boleh dong bunda, Rania juga mau cium ayah," kata gadis kecil itu menarik tangan Adri agar berjongkok.
"mbak mau pesan beras, bisa sama saya loh, dari pada ke gudang terus terjadi fitnah, kan gak bagus, apalagi mbak kan orang terhormat," kata-kata Nurul penuh penekanan.
"ha-ha-ha mbak Nurul bisa saja, kebetulan tadi lewat, sekalian pesen, tapi masnya sibuk banget, sampai saya di cuekin," kata wanita itu mengibaskan rambutnya menunjukkan dada dan juga tulang lehernya.
"Tante kurang bajunya kenapa robek banyak, itu dadanya kelihatan, Tante gak malu," ucap polos Rania.
pasalnya gadis kecil itu terbiasa melihat semua orang bergamis panjang dan berjilbab.
"ini mode tau gadis kecil," kata wanita itu mencubit pipi Rania.
"tapi kata bunda kita sebagai wanita harus menutup aurat Tante, soalnya kalau tidak bisa dosa loh, Allah marah," jawab Rania mengusap pipinya.
Nurul pun menyentuh bahu Adri dan menggesernya, "ayo mbak saya tunjukkan contoh beras di pengilingan ini, dan ma Adri jaga Rania ya," kata Nurul tersenyum tapi suaranya penuh penekanan.
kini Nurul pergi bersama wanita itu, sedang rania tertawa melihat Adri, "hayo ayah ... bunda marah, pasti nanti malam ayah tidur di kamar ranua lagi," ledek putrinya itu.
"dasar kamu ini, tapi bantuin ayah ya bujuk bunda, soalnya ayah gak bisa berkata-kata manis," kata Adri.
"oke, tapi belikan eskrim empat," kata gadis itu mengangkat lima jari kanannya.
Adri menekuknya satu, "empat es krim besar untuk putri ayah, tapi semu kakak harus di bagi ya," kata Adri yang di angguki putrinya itu.
"siap ayah," jawab gadis itu memeluk Adri.
kini dia kembali memeriksa dan mencatat semua pesanan beras asal luar kota.
sedang Nurul menunjukkan beberapa contoh beras yang di miliki gudang itu.
dia bahkan membaca doa sebelum masuk kedalam gudang, karena pesan Rafa untuk tak melupakan hal itu.
wanita itu melihat sekeliling dan melihat contoh beras, dan dia pun memesan beberapa ton untuk suplai ke semua toko miliknya.
Nurul pun mencatat dan mengiyakan jika beras akan di kirim oleh anak buah pengilingan.
tak lupa Nurul juga memberikan nomor ponsel anak buah Adri, karena Nurul berjaga-jaga saja.
"mang no,besok ajak mang Bejo untuk mengantarkan beras pesanan ibu ini ya, dan itu sudah alamatnya, dan jangan lupa hati-hati ya," kata Nurul.
"siap Bu juragan," Jawab mang no yang tau jika Nurul sedang tak suka tapi harus tetap melayani.
wanita itu pun pamit pergi, sedang para pegawai yang sedang istirahat tak mengira jika wanita seperti Nurul yang terlihat begitu sabar. kini terlihat tak suka dan cemburu.
"mang no dan mang Bejo, besok sebisa mungkin jangan menelpon suami saya, atau memberikan nomor ponsel suami saya sembarangan, jika di perlukan mending telpon mas Rizal atau saja," kata Nurul mewanti-wanti.
__ADS_1
"siap delapan enam Bu juragan," jawab mang Bejo.