Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Gejolak Yang Salah


__ADS_3

Sherli memandang Hongli penasaran, karena menurutnya itu kado yang sangat luar biasa. Namun, ternyata masih ada yang lebih luar biasa lagi dari itu. Pikirnya.


"Apa itu, Kak?" tanya Sherli.


Hongli terdiam sejenak, ia memandang Sherli dalam.


"Kado yang sangat berarti dan berharga untukku adalah kedatanganmu dan ucapan selamatmu."


Sherli terdiam mendengar perkataan Hongli, entah mengapa hatinya merasa seperti diremas sengguh perih hingga tak disadari olehnya airmata mulai mengalir.


Hongli mengeryit melihat respon Sherli, ia merasa bersalah dan segera menghapus airmata gadis itu dengan ibu jari.


"Sher tolong jangan menangis maafkan aku karena menyinggungmu," ujarnya menyesal.


Sherli memegang tangan Hongli yang berada dipipinya, ia segera menurunkan tangan itu dan berkata, "Kak aku tidak tersinggung, aku hanya menyesal pernah menyakiti perasaan Kakak, padahal kau begitu perduli akan adanya diriku," ucap Sherli sedih.


Hongli tersenyum lembut pada Sherli, ia sungguh tidak menyangka hati Sherli begitu perasa. Seketika perasaannya merasa menyesal akan tindakan kasarnya yang pernah ia lakukan.


Tangannya segera menggenggam pada gadis itu untuk menguatkan perasaannya, ia tidak ingin terlihat lemah jika harus ikut menangis terbawa suasana.


"Sher, aku pun sangat menyesal pernah mengancamu dan berlaku kasar, bahkan kepada keluargamu juga, percayalah aku melakukannya hanya karena ingin terus bersamamu," suara Hongli yang semakin parau.


Sherli semakin sesenggukan mendengarkan Hongli, meskipun Felix ingin melindunginya dari Hongli, tetapi Hongli tidak sepenuhnya salah, karena pertemuannya ini adalah takdir yang tidak bisa ia hindari.


"Sekarang mulai detik ini, aku tidak akan pernah memaksamu ataupun menyakitimu Sher, perlu kau tahu perasaanku kepadamu sangatlah tulus dan aku tidak ingin menodainya dengan keserakahan. Akupun sangat berharap kau membalasnya meskipum aku tau itu tidak mungkin," airmata yang sekuat tenaga ia tahan pun lolos juga dari tempatnya, Hongli bergegas menghapusnya.


Sherli sungguh tidak sanggup pendengar hal lainnya lagi dari Hongli, ia segera berhambur memeluk Hongli dan menangis tersedu-sedu di dada bidangnya.


Hongli mengelus punggung Sherli, bahkan ia telah menguatkan hati jika sebentar lagi Sherli akan meninggalkannya karena ucapannya.


Bagi dirinya Sherli telah mengetahui isi hatinya yang terdalam itu sudah membuatnya sangat lega.


Setelah beberapa saat dan mulai tenang Sherli melepaskan pelukannya, Hongli memegang lengan Sherli.


"Aku tau kau sangat tersiksa dengan benda ini, aku akan mengambilnya kembali," sebuah cahaya yang menyilaukan menerpa mata Sherli saat gelang lengan tersebut mulai terlepas.


Hongli memandang Sherli.


"Sudah, sekarang kamu bebas dariku, aku telah siap hati jika kamu ingin meninggalkanku," ucap Hongli sedih.


"Tidak, Kak! Kita bisa terus berteman" ucap Sherli.


Ia tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya. Hongli tersenyum senang mendengar perkataan Sherli, ia merasa bisa terus bertemu dangan gadis dihadapannya sudah sangat cukup, ia tidak ingin meminta hal yang akan membuatnya tamak, yang akan membuatnya kehilangan semuanya.


"Baiklah, ayo kita buka lagi kado-kadonya!" ucap Hongli.


Sherli tersenyum dan mengangguk cepat.


"Ayo!" ucapnya antusias.

__ADS_1


Ia segera membuka kado-kado itu kembali.


Hampir dua jam mereka sibuk membuka kado, lebih tepatnya hanya Sherli yang sibuk karena Hongli hanya melihat aktifitasnya.


"Hoam," Sherli menguap karena mengantuk. Malam semakin larut namun pesta di aula masih terus berjalan.


"Kamu mengantuk? Ayo kita tidur saja!" ucap Hongli.


Sherli melihat kearah ranjang yang seakan ingin membelai lembut dirinya dengan selimut. Lalu ia kembali memandang Hongli.


"Tapi hanya ada satu tempat tidur?" ucapnya malu.


Hongli terkesiap mendengarnya ia lupa akan hal itu.


"Maaf-maaf sebentar!" ia segera bangkit dan menuju kearah ranjangnya.


Sebuah tombol berwarna biru di ujung ranjang segera ia tekan, dan ranjang tersebut berubah menjadi ranjang bertingkat. Sherli membulatkan matanya kagum.


"Wah .... hebat sekali...."


"Baiklah, kamu tidur di bawah aku diatas, agar kamu nanti saat terbangun ingin kekamar mandi tidah jatuh" jelas Hongli.


"Sebentar ya, aku akan menemui ibu untuk meminjam pakaian agar kau pakai, aku tau pakaian itu sangat tidak nyaman digunakan untuk tidur." Hongli segera keluar dari kamarnya.


Sherli bangkit dan mendudukkan tubuhnya ditepi tempat tidur. Ia mulai hanyut dalam fikirannya.


"Kak Hongli begitu baik bahkan tatapannya penuh kejujuran. Gelangnya pun sudah ia lepas, apakah aku harus menjauhinya? Bukankah itu jahat? Terlebih ia memiliki perasaan kepadaku dan tidak masalah jika dirinya sakit tapi hatiku tidak terima kan hal itu, bukankah itu sangat tidak adil?" batinnya melamun.


Hongli mengetuk pintu kamar ibunda Calista.


"Ma? Sudah tidur?" ucap Hongli.


"Masuklah, Nak!" sahut ibunda Calista dari dalam.


Hongli mendorong pintu dan melihat ibunda Calista yang tengah membaca buku di kursinya.


"Ma? Aku pinjam baju tidur Mama untuk Sherli," ucap Hongli.


Ibunda Calista melihat kearah Hongli.


"Dia akan menginap? Ibu fikir kau sudah mengantarnya pulang?" ucapnya heran.


"Hehe aku yang memaksanya untuk menginap, Ma!" jawab Hongli garuk-garuh kepala.


Ibunda Calista hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan putranya. Ia segera bangkit dan mengambil satu pasang baju tidur baru dilemarinya.


"Ini." Ibunda Calista menyodorkan baju tersebut kepada Hongli. Hongli segera menerima baju itu lalu beranjak pergi dari sana.


"Nak?" panggil ibunda Calista, saat Hongli baru beberapa langkah akan keluar. Hongli kembali menoleh pada ibundanya.

__ADS_1


"Iya, Ma?"


"Sherli jangan disentuh dan jangan dirusak kehormatannya, jika kau benar mencintainya," ucap ibunda Calista.


"Iya, Ma! Hongli mengerti" jawab Hongli.


"Ya sudah cepat kembali kekamarmu!" Hongli mengangguk, ia segera berbalik dan kembali menuju kekamarnya.


Hongli mengetuk pintu kamarnya, ia masuk kedalam biliknya, pandangannya melihat kearah Sherli yang diam saja diatas ranjangnya.


"Sher, ini." Sherli sontak memandang Hongli yang membuyarkan fikirannya. Ia segera mengambil pakaian dari tangan Hongli.


"Terimakasih, Kak!" ucapnya. Ia melewati Hongli menuju ke ruang ganti.


"Baju di tempat ini rasanya berbeda ya, lebih lembut dan hangat sangat nyaman, tapi baju pesta tadi kenapa biasa saja?" pikirnya heran.


"Ya sudahlah lupakan! Aku ingin tidur sekarang," gumamnya pelan. Ia melangkahkan kakinya dari ruangan ganti tersebut.


Pandangan Sherli beredar karena tidak melihat sosok Hongli, sampai matanya tertuju pada ranjang diatas.


Ia segera mendekat lalu menjinjit untuk melihat Hongli yang ternyata sudah terlelap di atas ranjangnya. Ia tersenyum memandang laki-laki itu.


"Kak Hongli sangat imut jika tidur, Ia seperti anak-anak" ucap Sherli sambil cengengesan.


Ia segera membaringkan tubuhnya, dibawah ranjang Hongli dan segera tertidur.


Malam semakin larut, keheningan dan terpaan angin malam yang merasuk kedalam setiap bilik semua mahluk, memberikan suasana yang mendukung terlelap semakin nyenyak.


Namun, karena dinginnya malam itu, Hongli terbangun karena ingin buang air. Ia segera turun untullk menyelesaikan hajatnya.


Saat ia kembali dengan kondisi yang telah segar, ia kembali melangkahkan kaki menuju tangga tempat tidur.


Namun, saat akan menaiki tangga, pandangannya tertuju pada Sherli yang selimutnya berantakan, ia pun beranjak ingin membetulkan selimutnya.


Saat ia baru memegang selimutnya, Sherli yang awalnya terlentang bergerak memiringkankan tubuhnya, sehingga membuat baju yang agak kebesaran ia kenakan tersebut melorot hingga memperlihatkan bahu kirinya dan juga dadanya.


Hongli sontak membulatkan matanya, jantungnya berdegup kencang melihat pemandangan yang tidak pernah ia saksikan sebelumnya.


Tubuhnya terasa bergejolak, ingin rasanya ia menyentuh benda tersebut. Namun, seketika ia tersadar akan perbuatannya yang sangat tidak sopan saat ini, bahkan terlintas saat ia mengizinkan Sherli kepada orang tuanya, dan ucapan ibunya. Ia segera membenarkan selimut itu menutupi tubuh Sherli dan segera naik keranjangnya.


"Huft...." Helaan nafasnya.


Hongli mengelus dadanya yang masih berdegup dengan kencang.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan views.


Terimakasih yang telah membaca :).


__ADS_2