Kita Berbeda Alam

Kita Berbeda Alam
Dukungan Semua Keluarga


__ADS_3

Hampir tiga puluh menit berlalu, Sherli tak kunjung mendapati tanda-tanda keluarganya akan membuka matanya. Termasuk Felix yang sedang berada didekapannya.


Tak tahan menunggu lebih lama lagi. Gadis itu berniat mengambil air untuk ia cipratkan kewajah mereka.


Perlahan kepala Felix ia letakkan di ubin marmer. Sherli segera bangkit menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.


Ia segera kembali menuju ruang tamu, dimana para keluarganya terbaring tak sadarkan diri.


Matanya tertuju pada tubuh Felix yang terbaring, gadis itu segera menghampirinya lalu berjongkok didepannya.


Sherli menuangkan sedikit air ditelapak tangannya, dan segera mencipratkan bulir air di wajah laki-laki yang sekarang berstatus sebagai suaminya tersebut.


Felix perlahan membuka matanya, ketika merasakan ada air yang membasahi wajahnya.


Saat matanya terbuka, ia disambut wajah Sherli yang terlihat cemas. Felix bangkit, dan segera memeluk lembut gadis itu.


"Syukurlah mahluk itu tidak membawamu, Sayang!"


Sherli menangis tersedu-sedu didada Felix. Ia benar-benar ingin meluapkan segala perasaan takut dan sedihnya pada pria itu sekarang.


"Keluarkan saja semuanya hingga kamu tenang! Aku akan menemanimu menjalani situasi sulit ini."


Felix semakin mengeratkan melukannya, memberikan ketenangan pada Sherli.


Setelah merasa tenang, Sherli melepaskan pelukannya dari Felix.


"Kak! Semua ini salahkku, semua orang menderita karena aku!" Sherli menangis tersedu-sedu.


Felix menangkup wajah gadis itu lembut. "Tidak, Sayang! Ini bukan salahmu, dari awal mahluk itu yang menghampirimu, kau hanya ingin berteman, aku tau itu."


"Tapi Kak! Ibunda Ratu bilang ini semua salahku, dan saat aku fikir memang benar. Kak Hongli murka karena aku meninggalkan dirinya." Sherli semakin pilu akan tangisannya.


"Tidak, Sherli! Ia hanya ingin memprovokasimu, agar kau bersedia kembali pada putranya," ucap Felix menengkan.


"Aku salah, Kak! Aku bersalah!"


gadis itu melepaskan tangan Felix. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dan kembali menangis.


"Sayang! Tenangkan dirimu! Semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang terluka, kita harus banyak berdoa dan berserah diri!" Felix mengelus lembut lengan istri kecilnya.


"Sekarang bantu aku menyadarkan orangtua kita!"


Sherli mengangguk pelan, ia segera menghapus airmatanya. Dan membantu Felix menyadarkan ayah, ibu dan mertuanya.


"Nak! Syukurlah kalian tidak terluka." Ayah Andre memeluk anak dan menantunya.


"Maafkan kami, Sayang! Kami kurang memperhatikanmu hingga kau menghadapi ini semua," sesal ibu Ruri meloloskan air mata.

__ADS_1


Wanita itu segera menghampiri putrinya yang baru saja melepas pelukannya dari sang ayah. Sherli menoleh pada wanita itu yang berhambur memeluknya.


"Tidak, Bu! Semua ini salahku, aku dari awal sudah tau jika dia adalah mahluk halus, namun aku tetap menerima pertemanannya hingga kalian juga menanggung akibatnya" ucapnya parau. Gadis itu kembali menangis pilu didekapan Ibunya.


Ibu Ruri melepaskan pelukannya, ia menangkup lembut wajah Sherli.


"Tidak, Sayang! Sudah jangan menyalahkan dirimu, kita akan selalu melindungimu."


"Iya, Nak! Kami akan selalu melindungimu, jadi jangan bersedih dan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi. Semua sudah ditakdirkan seperti ini, kita harus menghadapinya dengan kuat!" Mama Marta menghampiri menantunya.


"Iya! Kamu tidak salah atas apa yang terjadi, Nak menantu!" sahut papa Dave.


"Iya, Dek! Kita akan melewati ini bersama-sama!" sahut Afbi.


Sherli sungguh terharu atas dukungan mereka, ia menatap satu per satu keluarganya.


Kepalanya mengangguk pelan dan berkata, "Terimakasih." Sherli menunduk dan menangis haru.


"Lihatkan! Kami semua ada untukmu, kita akan hadapi bersama. Jadi jangan merasakan kesedihanmu sendiri, dan terus menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi." Felix mengelus lembut kepala Sherli.


Membuat semua orang tersenyum, melihat pasangan yang baru resmi menjadi suami istri secara agama itu.


***


Bibi Jen tidak meninggalkan kastil Hongli. Ia masih memantau keadaan disana untuk berjaga-jaga. Ia telah memberi tahu Felix untuk tidak mencemaskan dirinya.


Felix berencana membawa Sherli tinggal di apartemennya, untuk menghindari area yang menurutnya tidak aman saat ini.


Ayah Andre dan ibu Ruri pun menyetujui keputusan Felix. Mereka berfikir apa yang diucapkan Felix ada benarnya.


Sherli telah mengemasi sebagian barangnya. Keluarganya mengantarkan dirinya, menuju apartemen Felix. Mereka singgah hingga sore disana.


*


Felix dan Sherli segera membersihkan dirinya, dan telah mengganti bajunya dengan pakaian rumah.


Felix menuju kekamar membawa makanan diatas nampan.


Pria itu mengerti atas perasaan Sherli. Meskipun telah mendapat dukungan semua orang.


Namun, gadis itu tetap merasa cemas, terlebih Felix tidak menyaksikan saat Hongli akan membawanya dan ibunda ratu yang memperingatkannya. Seakan ucapan wanita itu terus berputar dikepala Sherli.


Felix membuka pintu kamarnya. Ia melihat Sherli sedang berbaring kearah jendela dengan tatapan kosong.


Pria itu tersenyum kecil. Dengan perlahan Felix menghampiri gadis itu.


"Sayang! Ayo makan malam dulu! Sejak siang kamu belum makan kan? " Sherli menoleh pada Felix.

__ADS_1


Ia tersenyum kecil lalu mendudukkan tubuhnya.


"Terimakasih, Kak! Maafkan aku, seharusnya ini tugasku," Sherli menunduk menyesal.


"Sudahlah! Aku disini ingin menjaga dan merawatmu. Aku tidak ingin kau kelelahan. Sekarang ayo kita makan!"


Sherli merasa terharu atas pengertian Felix. Ia memandang pria itu dengan berkaca-kaca.


"Iya!" gadis itu tersenyum, dan mengerjapkan matanya agar airmatanya tidak terjatuh.


Mereka segera makan malam.


*


Ditempat lain ....


Hongli memasuki kastilnya. Ia mendudukkan tubuhnya dikursi singgasana ibundanya.


Paman Robert disusul ibunda Calista segera menghampinya.


"Apa yanga akan kau rencanakan sekarang, Hongli?" Ibunda Calista mendudukkan tubuhnya di kursi dekat putranya.


"Aku akan tetap menikahi Sherli, Ma! Paman berkata aku bisa menyentuh Sherli dengan bebas disaat bulan purnama, dan itu bertepatan pada hari pernikahan kami. Aku ingin acaranya berjalan dengan lancar!" tegas Hongli.


"Apa kau tidak ingin merelakannya, Hongli? Dia telah menikah!" Hongli berdecak kesal mendengarkan ucapan ibundanya.


"Sudahlah, Ma! Paman berkata aku bisa menikahinya. Dan saat itu juga para keluarganya akan melupakan sosok Sherli! Masalah suaminya sekarang aku tidak perduli, jika perlu akan kusingkirkan dirinya. Persiapkan saja semuanya, atau aku akan berubah fikiran dan meratakan semuanya dengan tanah."


Hongli bangkit lalu meninggalkan ibunda juga pamannya.


Ibunda Calista terdiam melihat putranya berlalu, ia memandang Kakaknya yaitu paman Robert.


"Apakah ini akan baik-baik saja, Kak!" tanyanya cemas.


"Semoga saja begitu! Jangan katakan padanya jika ia hanya dapat menyentuh gadis itu pada malam bulan purnama saja, aku tadi membujuknya saat meraka melaksanakan pernikahan nanti, dia akan dapat menyentuh gadis itu bebas seperti biasanya." Ibunda Calista memandang tajam kakaknya.


"Jika ia tahu kita semua akan mendapat imbasnya, Kak!"


"Aku akan mencari cara lain nanti!" paman Robert bangkit meninggalkan ibunda Calista.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan like, coment , vote dan rate .

__ADS_1


Terimakasih atas dukungannya ❤.


__ADS_2